Dengan berat hati akhirnya Kevin menjawab, “baiklah. Namun saya meminta beberapa syarat.”
“Katakan saja Nak, yang penting kamu mau menikahi Icha.” Seno dengan terbuka menyetujui semua syarat yang akan diajukan calon menantunya itu.
“Saya tidak bisa membelikan Icha rumah, kebutuhan sehari-hari juga tidak bisa,” sebut Kevin dengan tegas. Ia tak ingin menjanjikan apapun pada istri barunya ini. Karena Kevin melakukan pernikahan dengan terpaksa.
“Tidak masalah, biar semua Bapak tanggung. Nak Kevin cukup nikahin Icha saja,” setuju Seno tanpa komplain.
“Bukankah kamu punya cafe!?” teriak Icha tiba-tiba. Perempuan itu menatap mata Kevin dengan tajam, setajam pisau yang ia pegang.
“Itu termasuk harta Dea, Cha. Aku tidak bisa memberikannya padamu.” Kevin berusaha menjelaskan, karena memanglah itu kenyataannya. Ketika Dea mengetahui pernikahaan ini, perempuan itu bisa merampas semua kekayaan yang dimiliki Kevin. Meskipun cafe adalah harta pribadi sebelum menikah, dan di dalam perjanjian mereka pembagian kekayaan hanya dilakukan selama menikah. Namun, Dea masih bisa merampas cafe itu.
“Tidak bisa! Pokoknya kamu harus memberikan cafe itu padaku Kevin!” kekeh Icha. Perempuan itu ingin memiliki cafe yang telah mereka rintis bersama-sama ketika memadu cinta di masa lalu. Namun, Kevin dengan gampangnya mengatakan jika itu adalah milik Dea. Padahal selama membangun cafe, Icha ikut andil mengelolanya hingga besar seperti sekarang.
Kevin hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Keegoisan Icha membuatnya semakin muak.
“Kalau begitu kamu bunuh diri saja!” bentak Kevin. “Aku tidak akan pernah menikahimu! Wanita tak tahu diri!” Dadanya kembang kempis menahan emosi, baru saja ia mencoba lapang d**a menikahi wanita yang penuh obsesi ini. Namun, dengan cepat rasa ikhlasnya menghilang seperti debu yang tak terlihat.
Icha terkejut mendengar bentakan Kevin.
“Diam kamu Icha!” kini Seno ikut memarahi Icha. Lelaki itu langsung merampas pisau itu dari tangan putrinya.
“Turuti semua kata-kata Kevin, dan cepat menikah!” Ia sudah lelah mengikuti drama anak semata wayangnya itu.
“Pak penghulu,” panggil Seno pada pria bertubuh gempal.
“Kita lakukan sekarang?” tanya penghulu.
“Iya,” jawab Seno. Dengan terpaksa Kevin menuruti permintaan Seno.
Perjanjian di atas kertas lengkap dengan materai ala-ala Dilan ini membuat hidup Kevin semakin rumit. Masalah bertambah satu persatu, kini ia harus menikahi mantan kekasihnya tanpa sepengetahuan keluarganya.
“Mas Kevin ada salah satu keluarga yang bisa menjadi saksi?” tanya penghulu.
“Saya Pak, saya kakak perempuan Kevin!” ucap Nina. Kevin langsung melebarkan pupilnya mendengar ucapan Nina. Perempuan itu tanpa diduga ikut dalam rencana Icha.
Akad pun dilakukan, kini Icha dan Kevin telah menjadi suami istri yang sah secara agama.
Rasa bahagia hanya terpancar di wajah Icha, impiannya telah tercapai. Sedangkan semua orang yang ada disana terdiam.
Kevin mematikan ponselnya yang terasa panas di dalam saki celananya. Sedari tadi ponsel itu sengaja ia nyalakan.
Ada beberapa pesan dari Dea,
[Mas sudah malam, Mama Papa lagi di rumah. Kapan kamu pulang?]
Setelah membaca pesan itu, Kevin langsung menjawabnya.
[Habis ini pulang. Bentar ya]
“Antar aku pulang,” perintah Kevin pada Nina.
“Mas! Mau kemana? Kita baru saja menikah masa kamu mau pergi,” cegah Icha.
“Mertuaku lagi di rumah. Aku harus pulang,” jawab Kevin dan langsung berdiri tanpa berpamitan dengan orang tua Icha.
“Tunggu Vin!” teriak Nina yang sibuk mencari kunci mobilnya.
***
Sesampainya di rumah Dea.
“Loh ada Nina,” ucap Nala yang terheran-heran melihat kedua menantunya bersama. Sangat disesalkan, Ibu mertuanya memergoki mereka di depan rumah.
“Hehe... Iya Ma,” kekeh Nina kaku. Ia langsung mencium tangan Nala. Kevin yang baru saja turun dari kursi kemudi langsung menghampiri mertuanya.
“Kok bisa bareng?” tanya Nala penasaran.
“I-itu tadi...”
“Tadi ban mobilnya Kevin bocor Ma, jadi Nina tebengin dia,” ngeles Nina. Kevin lagi-lagi dibuat tercengang oleh perempuan yang berdiri di sampingnya. Bagaimana bisa dia berbohong dengan mulus tanpa hambatan.
“Ohh gitu.” Nala mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masuk dulu yuk, Mama tadi bawa rica-rica bebek kesukaan Kevin. Ayo Nina,” ajak Nala.
“Ehh... Nina harus pulang Ma, Mas Levi sekarang pasti nunggu kepulanganku,” tolak Nina secara halus.
“Oh iya, hati-hati ya Nin,” jawab Nala. Nina langsung mencium tangan Nala dan masuk ke dalam mobilnya.
Kevin dan Nala pun masuk ke dalam rumah.
Dada Kevin berdetak kencang melihat David, ayah mertuanya. Lelaki itu menatapnya dengan tajam. Ia sudah berkali-kali mendapatkan tatapan tajam dari ayah mertuanya. Namun, hari ini lebih gahar dibanding sebelumnya.
“Darimana kamu?” suara bariton David memenuhi seluruh ruangan.
“E... dari cafe teman Pa,” jawab Kevin dengan gugup.
Ada beberapa pembicaraan lebih lanjut mengenai pertanyaan David. Mereka juga memulai makan malam itu, meskipun terasa seperti ruang interograsi, namun Kevin berhasil melaluinya dengan sangat baik. Dan Dea tidak tau jika ia sudah meminang Icha sebagai Istri sirinya.
FLASHBACK OFF#
Mengingat peristiwa itu membuat Kevin menyesali perbuatannya. Namun semua sudah terlanjur.
Ia sangat bersyukur memiliki dua istri karena dirinya menjadi seperti raja. Jika Dea tidak bisa melayaninya dia bisa datang ke Icha.
Selama tiga bulan ini ia sangat bersemangat menjalani hari-harinya. Namun kini sudah hancur, karena Dea sudah mengetahui jika dia memiliki istri lain.
Tinggal menunggu waktu sampai Dea menggugatnya ke pengadilan.
Namun ia tak khawatir dengan gugatan apapun yang diberikan Dea kepadanya, karena semua harta yang di atas namakan Dea kini berubah menjadi namanya.
Untuk harta pribadi sebelum menikah semua sudah diamankan Kevin dengan sangat baik. Sehingga Dea tidak mungkin merampas miliknya.
Lelah memikirkan konflik yang menimpa dirinya, tanpa sadar kelopak matanya tertutup, dan kesadarannya tergantikan oleh alam mimpi.
***
Keesokan paginya Dea bangun dengan mata sembab. Dirinya sudah bekerja keras menguras air matanya semalaman.
Jam dinding menunjukkan pukul 08.00 WIB. Ia sangat terkejut, dan hendak berlari menuju kamar mandi.
BRUKKK!!! Dia lupa jika kakinya masih sakit. Kini tubuhnya tersungkur di lantai.
“Aduhh...” Dea meringis merasakan denyutan di kakinya.
“Astaga Mbak Dea!” Mbok Lastri histeris melihat majikannya yang terjatuh.
“Mbok, tolongin Dea,” mohon Dea. Perempuan paruh baya itu langsung menolong Dea dan menidurkannya di ranjang.
“Makasih Mbok.”
“Iya Mbak, sebentar. Saya ambilkan dulu sarapannya. Tadi ada Mas Andre mampir trus bawakan makanan untuk Mbak Dea,” jelas Mbok Lastri.
“Kapan?” Dea sangat penasaran dengan kedatangan lelaki itu.
Mbok Lastri langsung menoleh ke arah majikannya.
“Tadi pagi Mbak, setengah tujuh an,” jawab Mbok Lastri berlalu keluar dari kamar.
Kepergian asisten rumah tangganya itu membuat pikiran Dea semakin banyak.
Kenapa Andre mengirimkan sarapan untukku lagi? Bukankah ini terlalu berlebihan?
Dea benar-benar tak bisa berpikir.
Drrttt... Drrttt...
Ponselnya bergetar di atas nakas, Dea melirik layar yang menyala itu.
“Mama Rita?”
Ia langsung menjawab telepon dari mama mertuanya.
“Assalamualaikum cantik!” sapa mertuanya semangat.
“Waalaikumsalam Ma,” jawab Dea.
“Bagaimana keadaanmu Sayang?”
“Alhamdulillah sudah baikan Ma.”
Bibir Dea tersungging ke atas, ia sangat senang mendapat perhatian dari Mama mertuanya.
“Alhamdulillah kalau gitu. Ini Papa sudah pulang, nanti sore Mama sama Papa mau ke rumah. Bolehkan?” tanya Rita di seberang telepon.
Dheg! Pertanyaan itu membuat otak Dea berputar dengan cepat. Ia baru saja mengusir suaminya, apa yang harus ia lakukan?