“Emm...” Dea bergumam. “Iya, gimana Sayang?” tanya Rita sekali lagi. Dengan hati yang gundah Dea akhirnya menjawab, “boleh kok Ma.” Jawaban yang sangat terpaksa, karena ia tak bisa menolak mertuanya. “Oke kalau begitu, tunggu Mama sama Papa ya Sayang. Obatnya jangan lupa diminum ya,” nasihat Rita. “Hehe iya Ma.” Ia sangat terpaksa menyetujui permintaan Rita. “Yaudah, kalau gitu teleponnya Mama matiin dulu ya. Assalamualaikum Sayang.” “Waalaikumsalam Ma.” Tutt... Sambungan telepon terputus. “Hahh...” helaan napas terasa begitu berat. Mau tidak mau dia harus menghubungi Kevin untuk segera pulang. “Mbak ini sarapannya,” kata Mbok Lastri memecahkan lamunan Dea. “Makasih Mbok.” Dea memakan sarapan itu hingga tandas, meninggalkan mentimun dan sambal. Setelah itu ia meminum obat yan

