Chapter Tujuh Belas

1398 Kata
            Malam itu Aster menangis hingga tertidur. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Kenapa hatinya terasa berkeping-keping. Menyesakkan. Lebih sakit dibandingkan terkena tembakan sekalipun. Banyak hal berputar dalam kepalanya. Terutama kata-kata dalam perdebatan kemarin. Masih dengan jelas terekam dalam ingatannya. Membuat matanya tidak bisa menutup untuk beberapa lama.             Sinar matahari menembus jendela kamar Aster. Menyorot tepat pada matanya yang membengkak. Rasanya dia sudah menelan sebuah bola besi yang kini mengganjal dalam hati. Tidak ada napsu untuk beranjak sarapan. Bahkan untuk membalikkan badan pun seakan tak ada tenaga yang tersisa.             Aster merasakan adanya serangga yang bersarang dalam dadanya. Menggerogoti perlahan hingga menyisakan sebuah lubang besar. Sebuah kekosongan yang memberikan rasa hampa.             Tidak ada gunanya aku terus terpuruk dalam kenangan. Aku tidak bisa terus seperti ini. Menangis tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Aku harus kembali tersenyum! Akan tetapi, Aster tetap tak bisa memaksakan diri untuk tersenyum. Semakin dipaksakan, semakin ingin air matanya meleleh. Dia memilih untuk diam. Banyak waktu luang yang bisa digunakan hingga perasaannya membaik. Tapi Aster sadar dia terlanjur membuat janji untuk hari ini. Dia tidak ingin membuat orang lain merasa kecewa.             Dengan sangat malas, Aster berjalan menuju kamar mandi. Dia memandangi sosok mengerikan di depan cermin. Seorang gadis dengan rambut berantakkan. Matanya sebam dan layu. Pelupuknya bengkak juga berair. Tidak ada cahaya kehidupan dalam matanya. Dia bergegas melepas rompi abu dari tubuhnya. Memandangi benda itu dan memeluknya erat. Bahkan semalam dia tidak sempat mengganti pakaian setelah sampai di kamar.             Entah berapa lama Aster berada di bawah kucuran air shower. Dia senang berada di sana, karena tidak harus mengetahui apakah air matanya sedang mengalir atau tidak. Yang jelas mereka akan langsung terjatuh, menyatu dengan air lainnya. Aster hanya berharap air laut tidak akan bertambah asin karena bercampur dengan air matanya.             Aster mengenakan baju yang terlipat rapi di atas meja kamar. Tampaknya para pelayan menaruhnya saat Aster masih tertidur. Pakaian itu memang bersih, namun sudah tak memiliki bau Nibbana. Orang lain pasti tidak akan mengerti bau seperti apa yang Aster maksud. Yang jelas hanya dia sendiri yang bisa merasakannya.             Tanpa sarapan terlebih dahulu, Aster memutuskan untuk langsung pergi. Waktu menunjukkan pukul sembilan. Dia bergegas berjalan menuju ke atap gedung tempat dia dan Okta mengobrol kemarin. Terlihat lelaki itu tengah tidur di atas tangannya sendiri sambil memandangi langit.             Aster menarik napas untuk menahan rasa sedihnya sesaat. Berjalan mendekat tanpa berkata apapun. Perasaan aneh seakan menahan kemampuannya untuk berbicara.             "Aster?" Okta bangkit setelah mendapati sebuah sosok yang menghalangi sinar matahari di atasnya. "Aku sudah menunggumu." Aster hanya tersenyum sembari duduk di samping Okta tanpa mengatakan sepatah kata pun. Lelaki itu menyadari air mukanya yang aneh. "Ada apa?"             "Tidak apa-apa." Aster menghela napas panjang. "Hanya mengalami hari yang buruk."             "Ingin cerita?"             Aster menggelengkan kepala. Dia tidak ingin kembali menangis karenanya.             "Kalau begitu ayo kita pergi, kemana pun kamu mau. Tempat apa yang ingin kamu kunjungi pertama kali?"             "Aku sedang tidak bisa menentukan ingin pergi kemana."             Okta mulai berpikir. "Kalau begitu, kita pergi ke pabrik makanan. Kamu sudah pernah ke sana?"             "Aku pernah pergi ke sana, tapi penjaganya bilang hanya pegawai yang boleh masuk."             "Ah, jangan bilang nenek tua berwajah seram itu yang mengatakannya?"             "Sepertinya memang dia."             "Dia hanya menggertak saja. Ayo kita ke sana!"             Aster berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali ceria di sepanjang perjalanan. Meski kenyataannya keadaan hatinya benar-benar buruk. Jauh lebih menyakitkan dibanding ditinggalkan oleh Edy sekalipun.             Aster sadar Okta menceritakan sesuatu sepanjang perjalanan. Tapi dia sama sekali tak bisa menangkap apapun yang dikatakan lelaki tersebut. Kepalanya kosong. Semua suara di sekitar berubah menjadi sebuah debuman di dalam kepala. Aster hanya mengangguk-angguk seakan mengerti. Padahal kenyataannya, dunia dalam kepalanya berubah menjadi penuh kebisuan.             Tidak berapa lama, wanita tua yang dipanggil dengan sebutan Len mendekat. Matanya menyoroti wajah Aster karena pernah melihatnya sebelum itu.             "Len, kami ingin melihat ke dalam," ucap Okta. Dengan mudahnya, perempuan itu mempersilahkan tanpa mengatakan apapun.             Semudah itukah? Mungkin karena Aster termasuk orang asing, oleh karena itu kemarin Len tidak bisa membiarkannya masuk.             Gerungan dari mesin-mesin besar terdengar nyaring. Terlalu banyak benda-benda canggih yang bergerak di hadapannya. Orang-orang bermasker dengan mantel putihnya sibuk mengatur mesin itu. Salah satu mesin di hadapan Aster berputar, dengan sayuran segar yang bergelantungan. Lengan-lengannya mencengkram sayuran tersebut saat keluar dari sebuah kotak kecil. Entah berasal darimana. Sepertinya masih terdapat ruangan lainnya di sana. Yang sedang Aster lihat saat ini hanyalah tempat untuk melakukan packing.             "Menakjubkan, bukan?" tanya Okta.             "Ya. Menakjubkan sekali!"             "Aku sangat senang mendengar suara mesin-mesin ini. Terdengar seperti sebuah nyanyian di telingaku."             "Sepertinya kamu akan senang tinggal di Oakland."             "Menurutmu begitu?"             "Ya." Aster berjalan mendekati salah satu mesin yang bergerak. Matanya menyusuri arah datangnya sayuran yang ada. "Bangunan sebesar ini pasti memiliki banyak sekali ruangan selain ini."             "Iya. Tapi maaf, aku hanya bisa membawamu hingga di sini. Aku pun tidak diizinkan untuk masuk ke bagian lebih dalam lagi."             "Tidak apa-apa. Terima kasih." Aster mulai bisa tersenyum seperti biasa. "Berarti ini saatnya kamu ikut denganku."             "Ke mana?"             "Ke tempat yang sudah kujanjikan kemarin. Ke istana!"             Sebenarnya Okta terlihat tidak tertarik. Tapi Aster menangkap ekspresi tersebut sebagai sebuah keraguan. Dia pikir Okta ingin sekali pergi ke sana namun terlalu segan untuk memasuki bangunannya.             Pada akhirnya, Aster tetap berhasil membawa Okta ke istana. Mereka berkeliling di dalamnya. Menyusuri tiap ruangan yang ada. Aster bergaya seakan dia adalah seorang pemandu wisata.             Perjalanan mereka berakhir di ruang makan. Kebetulan Aster belum sempat sarapan, dan bermaksud mengajak Okta untuk makan bersama. Saat itu Ratu Sasha menemuinya dengan sedikit panik. "Aster, darimana saja kamu? Waktu aku hendak mengajakmu sarapan, kamu sudah menghilang!"             "Aku hanya keluar sebentar, bu. Menjemput temanku."             Sasha menengokkan wajah kepada lelaki yang sempat luput dari perhatiannya. Dia sedikit terkejut. "Okta?"             "Ibu mengenalnya?" Aster tidak menyangka mereka berdua sudah saling mengenal. Meski seharusnya dia tidak perlu terkejut, mengingat Sasha dan Okta tinggal di dalam kota yang sama. Bisa kapan pun bertemu dengan mudah.             "Tentu saja." Sasha berjalan ke arah Okta dan merangkul bahunya. "Aku tidak menyangka kamu sudah berkenalan dengan kakakmu."             Aster membeku untuk beberapa saat. Berusaha mencerna kata-kata yang mendadak sulit dimengerti. "Kakak?" tanyanya pelan. Senyumnya perlahan menghilang. Masih berusaha mencerna arti dari satu kata yang didengarnya itu. Seakan dia mendapat sebuah kosa kata baru.             "Aku tidak menyangka kamu akhirnya pulang." Sasha memeluk Okta yang terlihat mulai tidak nyaman.             Aster mulai tersadar dari lamunannya. Dia yakin ibunya tidak sedang bercanda. Ditambah lagi saat melihat kedua orang di hadapannya mengobrol dengan akrab.             Kalau Okta kakakku, berarti Edy juga...?             Lalu David?             "Ta-tapi, Sarah bilang a-ku anak pertama yang ibu lahirkan?" suara yang keluar dari mulut Aster sedikit terbata-bata. Dia masih belum bisa menerima sebuah kenyataan yang baru saja didengar.             "Aster... Apa kamu lebih percaya kepadanya dibanding ibumu sendiri?"             "Tapi, Okta sendiri bilang dia lahir di sini! Dan, nama ayahku Thomas, bukan David!" sangkalnya.             Sasha menarik napas. "Kamu mendengar cerita tentangku tanpa mengetahui dari orang aslinya." Dia berjalan mendekati Aster. "Jika kamu ingin tahu. Aku lahir dan besar di sini. Setelah melahirkan Okta, aku bertengkar hebat dengan ayahmu. Aku pergi ke Nibbana, dan ayahmu mengejarku ke sana. Lalu kami memilikimu. Soal nama, aku dan Thomas memiliki alasan yang sama. Seperti yang pernah kuceritakan." Dihelanya napas sekali lagi.             "Sepertinya aku sudah terlalu banyak mengarang cerita. Maaf ya, Aster. Aku sudah membuatmu bingung." Sasha memeluk Aster yang masih berwajah penuh kebingungan.             Tolong katakan bahwa itu hanya candaan!             Gadis itu tak sanggup lagi berkata-kata. Hidup ini sudah terlalu banyak memberikan kejutan baginya. Dan juga menyimpan banyak sekali rahasia. Entah apa lagi yang akan ditemui olehnya setelah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN