Chapter Enam Belas

1221 Kata
            Aster berjalan penuh semangat menuju klinik. Sedikit bersenandung ria meski hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Ingin rasanya dia merebahkan diri di tengah ladang bunga. Mencurahkan isi hati kepada awan putih di atasnya. Andai saja saat ini dia sedang berada di Nibbana, batinnya.             Semua orang dalam ruangan rawat Simon memperhatikan si gadis berbaju merah muda saat masuk. Tampaknya ada aura negatif yang mengelilingi ruangan tersebut. Entah kenapa atmosfernya tidak senyaman sebelumnya. Tidak ada yang menyapa, ataupun membicarakan hal lain. Meski tidak tahu kenapa, tapi Aster harus bisa memendam kegembiraannya hanya untuk diri sendiri.             "Sepertinya ada yang sedang bahagia," akhirnya Simon memecah keheningan.             "Iya. Aku senang melihatmu sudah bisa duduk sekarang."             Aster berjalan mendekat ke arah kasur. Dia merasa ada yang berbeda dari diri Simon. Namun entah apa. Ada sesuatu yang terasa ganjil. "Ah!" dia sedikit berteriak, menyadari sesuatu tersebut. "Sejak kapan rambutmu dipotong?"             "Sejak kalian datang tadi pun sudah seperti ini."             "Karena sedari tadi kamu berbaring jadi aku tidak memperhatikannya."             "Padahal yang lain langsung sadar. Hanya kamu saja yang tidak peka. Yang ada dalam kepalamu memang hanya Edy." Simon menepuk pelan kepala Aster sembari bercanda. Tapi hal tersebut jelas seperti memercikkan bara api di atas tumpukan kertas. Suasana menjadi semakin suram. Aster bisa dengan jelas merasakannya.             Penyebab dari munculnya perasaan tersebut ternyata Alby. Amarahnya kembali tersulut berkat candaan Simon yang tidak tahu apa-apa. Dia bergegas pergi keluar klinik setelah agak membanting pintu ruangan.             "Kenapa anak itu?" tanya Simon terheran-heran. Sepertinya yang bersangkutan benar-benar tidak sadar ucapannya telah menyulut emosi seseorang.             "Bodoh," ucap Erik.             Aster yang merasa bersalah bergegas meminta izin untuk menyusul Alby. Tentu saja tidak ada yang akan melarangnya sekalipun dia tidak bertanya. Dengan sedikit terburu-buru, gadis itu berjalan, berusaha mengikuti langkah Alby yang sangat cepat. Mengejarnya hingga sampai di penginapan.             Alby berdiri menghadap jendela, membelakangi Aster yang baru saja masuk ke dalam ruangan.             "Alby?" sapa Aster pelan. Namun tidak ada jawaban apapun. "Alby. Maaf..."             "Maaf? Maaf? Hanya itu yang bisa kamu katakan?" potong lelaki yang marah itu sembari berbalik menatap Aster. Mata birunya sudah tak sejernih biasanya akibat emosi. Bahkan berhasil membuat gadis di hadapannya merasa sedikit takut.             "Maaf... maksudku, Okta orang yang baik. Kenapa kamu bersikap dingin kepadanya?"             "Huh!" Alby mendengus. Tertawa garing bercampur kesal. "Bahkan kamu sendiri tidak mengerti meminta maaf untuk apa." Dia memalingkan wajah menjauhi tatapan mata Aster.             "Aku mengerti. Kamu tidak suka jika aku dekat dengannya bukan?"             Alby berusaha mengatur napas. Terlalu banyak emosi yang berkumpul dalam hatinya. "Dengar Aster! Dia bukan Edy. Edy sudah mati. Dan aku tidak ingin kamu percaya begitu saja kepada lelaki itu, meskipun dia saudara kembarnya. Mereka bukan orang yang sama, Aster!"             "Kamu hanya terlalu menilainya berlebihan!"             "Biarlah! Aku sudah tidak memusingkan hal itu."             "Lalu apa yang membuatmu marah seperti sekarang?"             "Aku hanya tidak habis pikir. Entah kenapa aku rasa perasaanmu padaku tidak sama dengan apa yang kamu rasakan kepada Edy." Nada bicara Alby makin melemah.             "Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kamu terlalu berprasangka buruk, Alby. A-aku sama sekali tidak seperti itu."             "Apa buktinya?"             "Hah?" Aster tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan sederhana namun memiliki jawaban yang rumit.             "Apa buktinya?" ucap Alby lagi, menyebutkan kata-kata sama dengan lebih pelan.             Aster sedikit tergagap. Dia belum bisa berkata apa-apa. Entah karena bingung atau memang terkejut. Yang jelas hal itu membuat Alby semakin marah.             "Apa kamu tidak merasa? Kamu yang terlalu berprasangka buruk terhadapku. Selalu tidak suka saat aku dekat dengan seorang perempuan yang bahkan temanku sendiri. Sedangkan kamu, seenaknya mendekati lelaki lain tanpa memikirkan perasaanku sendiri."             "Hah?" Aster merasa tidak percaya mendengarnya. Dia bersuara dengan sedikit tertawa. "Apa kamu sedang membicarakan Tony, Simon, ataupun Okta? Perasaanku pada mereka tidak lebih hanya sekedar sayang kepada seorang sahabat. Mungkin pada kasus Okta aku hanya sedang merasa nostalgia, karena merasa bertemu kembali dengan Edy."             "Itu masalahmu," potong Alby.             "Apa? Apa masalahnya? Tidak bisakah kamu membedakan perasaan yang diberikan untuk teman, pacar, saudara? Aku bisa mengatur hal itu, Alby!" emosi Aster mulai terpancing karena perdebatan tersebut. "Tidak sama halnya denganmu kepada Thalita."             "Kenapa kamu membawa-bawanya ke dalam perdebatan kita?"             "Lantas, kenapa kamu membawa-bawa teman-temanku ke dalam perdebatan kita?             "Itu juga masalahmu, Aster! Lihatlah bagaimana pikiran burukmu itu mempengaruhi keadaan!" Nada Alby mulai kembali meninggi.             "Aku hanya menyatakan opini milikku. Atau lebih tepatnya disebut fakta!"             "Sekarang kamu mulai menghakimiku dengan khayalanmu itu."             "Kamu sendiri yang membuatku melakukannya."             Alby berdecak keras sembari memukul udara. Dia sedikit mondar-mandir sambil menekan dahinya yang mulai terasa pusing.             "Terserah, lakukanlah sesukamu! Jika kamu ingin tetap bersama laki-laki itu di sini, silahkan!"             "Semudah itukah kamu mengatakannya? Atau mungkin karena sudah ada orang lain yang kamu pikirkan?"             "Cukup, hentikan! Thalita tidak akan senang mendengarnya."             "Aku tidak menyebut namanya. Ternyata dugaanku memang benar, bukan?" Kemarahan Alby semakin memuncak. Dia berjalan dan berhenti tepat di depan wajah Aster. "Apa maumu sebenarnya? Kamu akan puas kalau aku mengatakan bahwa aku menaruh perasaan pada Thalita, begitu? Kamu akan berhenti berprasangka buruk jika aku melakukannya, hah?"             "Lakukan saja!"             "Aku tidak sedang menggertak."             "Terserah. Kamu bilang sendiri sudah tak peduli kepadaku. Aku pun tidak akan peduli lagi kepadamu!" Aster balas membentak.             "Oke, aku mengerti. Kalau itu maumu, anggap saja hubungan kita berakhir sampai di sini!"             "Itu lebih baik!" Aster berjalan cepat ke arah pintu keluar. "Terima kasih," ucapnya sebelum membanting pintu dengan keras, meninggalkan Alby seorang diri.             Aster mulai menangis, kakinya bergerak cepat secara otomatis. Dia tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang di sepanjang jalan. Yang dia inginkan hanyalah segera sampai di istana, agar bisa mengurung diri di dalam kamarnya.             Sedari tadi Erik diam di luar ruangan. Mendengarkan pertengkaran yang terjadi dari awal hingga akhir. Aster terlalu terburu-buru hingga tidak menyadari keberadaannya saat keluar ruangan. Sekarang dia masih tetap diam pada posisinya karena belum bisa masuk menemui Alby. Dia memutuskan untuk membiarkan sahabatnya itu seorang diri. Alby pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.             Lelaki berambut pirang itu membanting tubuhnya ke atas sofa. Dia menangis, meski tak bersuara. Namun, sesungguhnya dalam hatinya dia berteriak-teriak. Ada rasa puas telah melampiaskan kekesalannya. Tapi perlahan berubah menjadi penyesalan yang dalam. Emosi membuat semua perkataan yang keluar dari mulutnya tak bisa dikendalikan. Apa boleh buat, semua terlanjur terjadi. Dia tak bisa mengembalikan apa yang telah dia lakukan tadi.             Seumur hidup Alby selalu berhasil menahan emosinya seorang diri. Tidak ada yang bisa membuatnya berkeluh kesah hingga murka seperti tadi, kecuali Aster seorang. Kali ini dia sadar telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Meski mungkin esok hari dia sudah bisa kembali tertawa, tapi rasa sakit dalam hatinya tidak akan sembuh hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN