Chapter Lima Belas

2214 Kata
            Kerumunan orang yang berlalu lalang tak beraturan membuat pencarian Aster semakin sulit. Terutama berkat kehadiran orang bertubuh tinggi yang terkadang menghalangi pandangannya. Dia harus melompat agar tidak kehilangan sosok yang dicarinya untuk kali ini.             Sang lelaki berbelok ke jalan kecil di sebelah kiri. Aster pun mengikutinya. Dia akhirnya dapat lolos dari tempat yang sangat pengap tadi. Tapi lagi-lagi harus kehilangan buruannya. Aster meneruskan larinya, berusaha mencari-cari dengan cermat. Sementara sepasang mata memperhatikannya dengan seksama.             Kaki Aster masih belum menyerah. Dia tak lagi berlari, namun sekedar berjalan cepat. Kepalanya ditengokkan ke kiri dan ke kanan. Tanpa sadar seorang lelaki bertato sedang membereskan ikan di depannya. Mau tidak mau Aster harus membuat semua ikan itu berserakkan di atas tanah.             "Apa yang kamu lakukan?!" bentak lelaki itu.             Wajahnya sangat seram, badannya besar. Persis Dicky, si senior pelatih bela diri di akademi.             "Maaf. Aku sedang terburu-buru. Jadi tidak melihat Anda ada di sana."             "Sekarang barang daganganku kotor semua!"             Lelaki itu meraih bagian kerah baju Aster. Membuat tubuh gadis tersebut sedikit terangkat. Bahkan wajahnya makin mendekat ke arah mulutnya si pedagang yang bau. Aster sedikit memiringkan wajah agar tidak perlu mencium aroma busuk dari napas lelaki itu.             "Maaf, aku akan mencuci semuanya. Tapi, saat ini aku harus mengejar seseorang."             "Kau pikir aku akan mempercayai bualanmu itu dengan mudah, hah?"             "Lantas apa yang harus aku lakukan sebagai gantinya?" Aster mulai kesal karena waktu pencarian pentingnya harus semakin terulur.             Lelaki itu menampilkan wajah licik, memandangi tubuh Aster dari atas hingga ke bawah. "Bajumu kelihatannya bagus sekali. Aku ingin memintanya sebagai bayaran dari apa yang telah kamu lakukan barusan."             "Baiklah, setelah pulang aku akan kembali ke sini setelah berganti baju."             "Tidak! Aku menginginkan baju itu sekarang, dan saat ini juga. Buka bajumu di sini!" Genggamannya dilepas dari kerah Aster, membuat tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Lelaki itu tersenyum semakin licik. Memandangi Aster dengan mata kotornya.             "Kau sudah gila?!" Mana mungkin aku akan menuruti kata-katamu. Aster memilih untuk meneruskan jalannya. Melewati badan si lelaki penjual ikan itu.             Tampaknya si lelaki bertato tidak rela melepaskan mangsanya begitu saja. Tangan Aster dicengkram dengan sekuat tenaga. "Kamu mau melawanku, hah?" teriaknya lagi. Cengkraman tangannya terasa semakin kuat.             Aster tidak ingin mencari keributan di kota barunya itu. Tetapi situasi memaksanya untuk melakukan perlawanan. Baru saja dia hendak memukul perut lelaki di hadapannya itu, seseorang datang untuk menyelamatkannya.             "Kalau aku adalah kamu, pasti akan berpikir berulang kali untuk melakukan hal itu. Tampaknya dia tamu ratu." Seseorang berbicara di belakang lelaki penjual ikan itu. Namun Aster tidak bisa melihatnya, karena terhalang oleh tubuh besar di hadapannya.             Aster terbanting ke atas tanah. Si penjual ikan berbalik badan dengan marah. Namun mendadak dia tampak seperti terkejut, atau lebih tepatnya ketakutan. Dia bergegas berlari tanpa menghiraukan barang dagangannya.             Kini Aster bisa melihat jelas wajah dari sang pahlawan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya lelaki itu sembari membantunya berdiri.             Mulut Aster tak sanggup berkata-kata. Dia mulai menitikkan air mata. "Edy," ucapnya pelan sembari mengelus pipi lelaki itu. Orang yang bersangkutan tidak berkomentar apapun, meski wajahnya memancarkan raut kebingungan.             Tak berapa lama, Alby, Erik, Bianca, Johan, dan Thalita sampai di belokan. Mereka berlari saat melihat Aster ada di sana, mendekat ke arahnya. Tentu saja ekspresi yang sama terpancar dari wajah mereka semua. "Edy!" sahut mereka satu persatu. Merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat.             Si lelaki semakin kebingungan. "Ya?" jawabnya singkat.             Wajah itu, rambut itu, suara itu, semuanya persis dengan ciri-ciri dari Edy yang Aster kenal. Meski kini Edy yang dia temui sama sekali tidak mengenalnya.             "Maaf sebelumnya," lelaki itu mulai berbicara. "Sepertinya kalian salah orang."             Aster mulai merasa heran. Sebenarnya dia tahu persis bahwa lelaki tersebut bukanlah Edy. Mengingat Aster sendiri menghadiri pemakamannya langsung di Nibbana. Mungkin harapannyalah yang membuat semua seakan menjadi nyata. Aster hanya sedang berdelusi. Begitu pula dengan temannya yang lain.             "Maaf. Kamu benar, aku salah mengira orang." Tangan kanan Aster memegangi dahinya, sementara tangan kiri bertolak pada pinggang. Dia mencoba menghilangkan semua khayalannya itu.             "Tapi," tambahnya si lelaki. "Bagaimana kalian bisa tahu nama saudara kembarku?"             "Saudara kembar?"             Semua menjadi masuk akal. Tidak mungkin orang mati dapat bangkit kembali setelah dikubur dalam tanah. Hanya saja Aster tidak pernah menyangka Edy memiliki seorang saudara kembar.             Semua orang masih terdiam terpaku menatap kembaran Edy tersebut. Rasanya sangat nostalgia. Mereka sebenarnya ingin langsung berlari memeluknya, terutama Aster. Akan tetapi, mereka menahan diri karena tahu dia bukanlah Edy.             "Aku Okta." Lelaki tersebut memperkenalkan diri. Mengulurkan tangannya ke arah Aster.             Aster berbalik menjabat tangannya. Dengan sekejap seluruh tubuhnya seakan kebingungan harus bereaksi seperti apa. Dia bergerak seperti robot dalam keadaan pilot otomatis. Tatapan matanya kosong, entah apa yang dia pikirkan.             Apa katanya? Dia bukan Edy? Edy sudah mati, Aster. Tidak mungkin dia bisa bangkit kembali lalu tiba-tiba berada di tempat ini.             "Bagaimana?" tanya Okta.             Aster masih terlarut dalam pikirannya, hingga tak menyadari bahwa Okta telah mengatakan sesuatu.             "Bagaimana... apanya?"             "Okta mengajak kita untuk mengobrol bersama. Kamu pasti ingin menanyakan banyak hal, bukan?" Bianca menerangkan.             "I-iya. Tentu saja."             "Baiklah, aku akan membawa kalian ke sebuah tempat yang bagus."             Okta mengajak teman-teman barunya pergi ke atap sebuah bangunan di tengah kota. Salah satu tempat yang menjadi kesukaannya. Dan juga, termasuk tempat tertinggi yang ada di Dione, setelah istana sang ratu tentunya.             Dari sana pemandangan atas kota terlihat lebih dekat. Ikan-ikan di luar kaca seakan sengaja berkumpul di atas kepala mereka. Dua ekor ikan pari menari dengan gemulai. Menggantikan awan yang biasanya berarak menghalangi sinar matahari.             Aster duduk di samping Okta dengan berbagai pertanyaan yang ada dalam kepala. "Jadi, kamu benar-benar saudara kembar Edy?" Dia memulai percakapan.             "Apa wajahku ini terlihat menipu?"             Aster tertawa kecil. "Lalu kenapa kamu ada di sini?"             "Karena aku memang terlahir di sini," jelasnya. "Tapi saat aku masih bayi, ayah dan ibu bercerai. Mereka memutuskan untuk membawa salah satu dari kami. Dan, aku lah yang dipilih ibu. Beruntungnya, kami anak kembar. Jadi, sebenarnya tidak masalah siapa yang diambil siapa, yang membedakan kami hanyalah nama." Okta tertawa.             "Lalu, bagaimana bisa Edy tidak besar di sini?"             "Setelah perceraian, entah apa yang terjadi. Sepertinya ibu mengusir ayahku. Dan yang kutahu mereka menghilang. Ibu tidak pernah ingin mengungkit masalah itu. Jadi, tidak banyak yang kutahu."             Sepertinya David banyak menyimpan rahasia dalam dirinya. Aster menyesal karena tidak terlalu banyak berbicara dengan dia. Padahal jarak mereka selalu berdekatan saat Aster masih tinggal di panti. Namun, saat itu dia selalu berhasil menakuti gadis tersebut sebelum sempat didekati.             "Kamu tahu, ayahmu sudah menjadi walikota dari Oakland."             "Oakland?"             "Ya. Sebuah kota besi."             Okta terdiam sesaat. Tampak memikirkan sesuatu. "Aku sempat berpikir ayah sudah meninggal karena orang berpikir tidak ada tempat lagi selain Dione."             "Ya, semua orang di tempatku pun berpikir seperti itu." Aster menghembuskan napas.             "Lalu, bagaimana kabar Edy? Di mana sekarang dia tinggal?"             Senyuman mendadak hilang dari wajah Aster. Begitupula dengan teman-temannya yang menyimak sedari tadi. Aster tak kuasa mengatakan apapun lagi, karena air matanya pasti akan mendesak keluar. Jangan menangis, Aster! Jangan menangis!             "Edy gugur dalam perang." Alby menggantikannya untuk menjawab.             "Oh..." timpal Okta singkat. Tampaknya dia memilih untuk tidak membahas lagi mengenai saudara kembarnya itu. Terutama setelah melihat ekspresi kesedihan pada mata Aster yang mulai berkaca-kaca.             Setelah percakapan barusan berakhir, keadaan menjadi sangat hening. Atmosfer sekeliling mereka pun mendadak menjadi canggung. Tapi tidak ada satupun yang berani mulai berbicara.             "Sepertinya kita harus kembali ke klinik. Simon pasti bingung karena tadi kita langsung meninggalkannya begitu saja," saran Alby. Selain berusaha mengembalikan suasana seperti semula, entah kenapa dia tidak terlalu senang dengan kehadiran si saudara kembar Edy. Ada sebuah firasat buruk yang muncul dalam benaknya. Atau mungkin dia hanya sedang merasa cemburu. Takut jika orang itu merenggut Aster dari sisinya. Bahkan sejak pertama berkenalan pun perhatian Aster sudah berhasil tercuri.             "Astaga, aku hampir melupakannya!" sahut Johan sembari menepuk dahi.             "Ayo kita pergi kalau begitu." Bianca segera bangkit dari duduknya dan diikuti oleh yang lain.             "Sayang sekali. Padahal aku ingin mengajak kalian jalan-jalan," ujar Okta yang masih terduduk. Dia terlihat berharap teman-teman barunya itu bisa tinggal lebih lama lagi.             Namun, Alby yang sudah mulai tidak nyaman justru terlihat sebaliknya. "Ya, sayang sekali. Kami sudah merasa puas berjalan-jalan kemarin."             "Apa boleh buat. Sepertinya aku harus menghabiskan waktu seorang diri lagi."             "Kalau begitu, kalian duluan saja ke klinik. Masih banyak yang ingin aku tanyakan pada Okta," sahut Aster.             Alby sudah menyangka Aster akan bereaksi seperti itu. Dia tidak memberikan tanggapan apapun dan bergegas berjalan menuruni tangga. Erik dan Bianca saling pandang seakan sedang berbicara melalui telepati. Mereka berdua mengerti benar ada sesuatu yang terjadi meski tidak terlihat jelas. Tapi, mereka memilih untuk diam selama keadaan masih aman terkendali.             "Jangan terlalu lama! Simon pasti menunggumu," Bianca berbisik pada Aster sebelum menyusul yang lain.             Maka tinggallah dua orang yang tersisa di atas atap. Mereka belum mulai berbicara sebelum keberadaan teman-temannya yang lain menghilang di balik tangga. Sesaat Aster melirik untuk memperhatikan wajah Okta yang terduduk memandangi langit-langit. Meski telah mengetahui kenyataannya, tapi dia masih menganggap bahwa Okta dan Edy bukanlah orang yang berbeda. Berkat hal tersebut, dia mulai merasa nyaman karena merasa Edy kembali hadir di sisinya.             "Siapa Simon? Pacarmu?" tanya Okta.             "Hah? Tidak. Dia sahabatku, dan juga sahabat baik dari saudara kembarmu."             "Hmm..." Okta terdiam sesaat. "Entah kenapa aku merasa teman-temanmu itu tidak menyukaiku. Terutama lelaki berambut pirang tadi."             Perasaan Aster mendadak kurang terasa nyaman. Dia sama sekali tak mengharapkan teman-temannya terutama Alby membenci Okta karena dirinya. Begitu pula sebaliknya. "Oya? Mungkin hanya perasaanmu saja. Sebenarnya mereka orang-orang yang ramah," sanggah Aster sembari tersenyum.             "Ya. Mungkin hanya perasaanku saja. Apa mungkin mereka belum terbiasa karena aku mirip sekali dengan Edy?"             "Hmm, ya. Bisa jadi seperti itu."             "Oiya, aku ingin menanyakan sesuatu hal yang mungkin kurang sopan."             Aster tertawa kecil. "Apa itu?"             "Bagaimana kamu bisa mendapatkan baju itu? Kamu tahu, barang seperti itu tidak bisa kamu dapatkan sembarangan. Hanya orang-orang di istana yang mengenakannya."             "Ini pemberian ibuku." Dilihatnya baju merah jambu yang mengilat tersiram cahaya matahari itu.             "Ibumu?"             "Ya. Ratu Sasha."             Okta merasa bingung. Dia mengulangi kata-kata Aster karena merasa salah dengar. "Ibumu? Ratu Sasha? Maksudnya kamu anak dari Ratu Sasha?"             "Ya."             "Tapi..." ucapnya masih dengan nada tidak percaya.             "Mengejutkan, bukan? Sampai sekarang pun aku masih sulit percaya. Kami terpisah sejak lama, bahkan sejak kecil aku tidak pernah mengingat seperti apa wajah ibu. Tapi tidak disangka bisa bertemu kembali di sini."             "Sungguh suatu kebetulan."             "Kebetulan yang sepertinya memang sudah ditakdirkan. Meski aku belum tahu kenapa ibu berada di sini sementara aku tumbuh besar di Oakland."             "Hidup ini memang penuh kejutan, bukan?"             "Iya." Aster memandangi langit-langit kaca. "Mungkin kamu bisa main sesekali ke istana," tawar Aster. Berharap Okta mau menerimanya. Tapi lelaki itu tampak ragu.             "Umm, aku tidak yakin. Apa ratu mau menerima rakyat jelata di istananya?"             "Ya, tentu saja! Ibuku sangat ramah."             Okta kembali tertegun. Mempertimbangkan ajakan Aster. Padahal pilihannya hanya ada dua, menerima atau menolak. Dia merasa dalam kepalanya terdapat lebih banyak opsi selain itu. "Sepertinya akan menyenangkan," balasnya singkat.             Aster terlihat berseri-seri karena senang. Dia bergegas berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang roknya untuk menghilangkan debu yang menempel. "Kalau begitu kita lanjutkan jalan-jalan besok saja. Aku harus kembali ke klinik."             "Baiklah. Aku akan menunggu di depan bangunan ini."             Aster berjalan pelan sekali menuju tangga. Sambil terus melirik ke arah Okta yang terus memperhatikannya. Sesaat kakinya terhenti, enggan untuk pergi. Namun, Aster harus bergegas pergi sebelum teman-temannya merasa cemas.             Sebenarnya, dia sempat berpikir akan lebih baik jika Okta yang pergi terlebih dahulu sebelum dirinya. Akan tetapi, tempat mereka berada merupakan markas favorit Okta, tidak mungkin Aster mengusirnya begitu saja. Terpaksa dia yang menjadi tamu lah yang harus pergi dari sana.             Sesaat, Aster merasa sedikit takut. Takut tidak bisa melihat Okta lagi. Sama halnya seperti tidak bisa melihat Edy lagi. Hingga saat kepalanya tenggelam menuruni tangga, Aster masih merasa orang yang baru saja bertemu dengannya adalah Edy. Juga yang akan bertemu dengannya besok adalah Edy.             Edy...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN