Makhluk Bernama Mantan Itu Menyebalkan

1070 Kata
Merasa bersalah karena membuat kemejaku sedikit basah oleh ingusnya, Claudia kembali menjaga jarak. Padahal dia tadinya pede-pede aja menerima pelukanku. Gak sembarang orang ya bisa kupeluk. "Kamu gak usah belikan kemeja ya karena merasa bersalah, saya trauma." Ya, ingatan waktu ditolak Dewita masih membekas. Kami malah makin menghindar satu sama lain. Aku yang tidak bisa bersikap biasa saja saat melihatnya datang ke cafe atau saat membuang sampah. "Pak, kok ngelamun?" "Enggak. Kamu udah hubungi orang tua kamu?" Menggeleng. Dari ekspresinya sekarang, aku tahu kalau dia tak berani bilang, mungkin tidak ingin merepotkan keluarganya. Tapi gak mungkin juga kan dia harus hidup sendiri dalam keadaan seperti ini. Kata suster saja, jalannya kayak robot. Merasa bersalah, dan sudah jelas Claudia jatuh karena menjawab telepon dariku, akhirnya satu-satunya cara bertanggungjawab adalah mengajaknya serumah denganku. Bukan untuk berumah tangga, sama sekali bukan. "Kamu tinggal sama saya saja, mbok Lilis pasti banyak membantu." Kulihat lagi dahinya yang mengkerut sempurna. "Ya, kamu tinggal beberapa hari di rumahku, sampai kakimu sembuh. Saya sudah bertanya tentang bagian mana yang luka, maaf ya sekali lagi, Clau." terangku menjawab kebingungannya. Dia hanya tersenyum. Menarik selimut dan sedikit berbaring, memintaku menyuapi jeruk yang tadi sudah kukupas. Dasar, manjanya gak ketulungan. Karena terburu-buru ke sini, akhirnya aku keluar untuk ke kantin. Perutku sedikit lapar dan Claudia sama sekali tidak menyentuh makanan dari rumah sakit. Ia akan pulang hari ini, masih menunggu pemeriksaan untuk terakhir kalinya. Karena terburu-buru ke kantin, aku tidak sengaja menubruk seseorang. Seorang pria, dan herannya, dia seperti tak asing buatku. "Maaf," ucapku. "Ya." Berlalu begitu saja. Mungkin dia memang sedang ada urusan sampai tak sempat berbicara banyak, ah bukan urusanku juga. Aku memilih menu yang paling bisa dimakan saat sedang tak bernafsu makan. Apalagi kalau bukan bubur. "Bu, nasi rames sama bubur ayamnya satu, teh hangat dua plus gorengan." "Siap, Mas. Kasep pisan, di sini nganterin istri cek kandungan ya?" tebak ibu kantin asal. Apa tadi? Calon istri? Hahahaha, aku hanya bisa mengaminkan suatu saat nanti bisa menemani istriku cek kandungan. Pasti rasanya mengharukan. "Ini, Mas, pesanannya. Salam buat istrinya ya." Aku menerima bungkusan itu, garuk-garuk kepala karena tidak punya kesempatan menjelaskan keberadaanku ke sini karena apa. Ibu kantin kembali sibuk dengan pembeli. Rumah sakit ini lumayan dekat dari kantorku. Juga, tadi Iris sempat menelepon, pihak sana ingin berbicara ulang denganku. Beruntung proyek berikutnya tidak gagal, meksipun tidak besar setidaknya aku harus optimal saat bekerja. Saat membuka pintu ruangan Claudia, aku dikejutkan oleh sosok pria yang tadi tak sengaja kutabrak. Siapa dia? Salah satu mantannya kah? "Pak Adam," panggilnya. "Saya gak tahu kalau ada tamu. Saya keluar dulu, ini, bubur buat kamu, Clau, ada teh anget juga." Pria itu menilai sikapku yang seolah memberi perhatian pada Claudia, aku kembali menatap tajam ke arahnya. Enak aja, main tatap-tatapan! Dikira bakalan takut kali ya? "Terima kasih," ucap pria itu. Seolah dialah orang yang menjadi wakil Claudia. "Sama-sama." Aku tidak berhak di sini, kutatap lagi Claudia dan tersenyum kaku. Wajahnya tidak setenang tadi. Siapa sih pria ini? Ceklek. Tidak ada pilihan lain, aku makan sendirian di depan ruangan. Perasaanku tidak enak meninggalkan Claudia dengan seseorang yang tak kukenal. Kalau nanti dibius bagaimana? Lebih-lebih diamputasi, brrghhh! Ngeri! Dari dalam, Sama-sama kudengar percakapan mereka. Ya, dugaanku sepertinya benar. Pria tadi adalah mantan pacar sekretarisku yang entah ke berapa. "Kenapa bisa tahu gue ada di sini?" "Teman kantormu yang ngasih tahu. Sakit nggak? Mana yang sakit, Clau? Aku khawatir banget tadi." Ckck! Modus aja terus Bambang! Batinku kesal. "Jangan sentuh gue, Ben. Gue jijik dengan sentuhan lu. Dan gue tekanin, kita udah putus kan? Ingat gak sih?" Baru kali ini aku mendengar Claudia semarah itu. Apa hubungan mereka tidak baik? Apakah pria ini yang memutuskan Claudia hanya karena sekretarisku minta pulsa. Duh, lucu sekali. Oke, nguping pun berlanjut. "Ya karena aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Anggap saja, aku adalah salah seorang kenalanmu yang datang menjemput. Nanti pulangnya aku antar ya, jangan sama bosmu yang sok kegantengan itu." Wait, kenapa pria itu malah bawa-bawa aku ke dalam lingkaran hubungan mereka? Aku salah apa, Mama? "Gak mau! Gue gak masalah tuh dianterin sama pak Adam, orang ganteng yang gak pernah nyusahin kayak lu. Mendingan kamu keluar deh, dan bawa bunga itu. Lupa, gue alergi bunga dodol!" Tak ada jawaban. Sunyi. Tunggu, mereka ngapain? Jiwa kekepoanku naik beribu-ribu kali lipat. Pikiranku menduga yang tidak-tidak. Apakah pria itu menenangkan Claudia dan sekarang sedang emuah-emuah. What! Haruskah aku pergi? Bahkan nasi ramesku tak bisa kulanjutkan. Mood makanku juga biasa saja sejak tahu ada orang lain yang menganggangu sesi makan bersama dengan Claudia. "Minggir gak, gue bilang jangan sentuh aku, kampret! Luka yang udah lu beri, gak bakalan bisa diperbaiki. Cukup gue aja yang kena, cukup gue aja yang terluka, Ben!" Cukup. Aku tak tahan lagi, ini namanya kekerasàn dalam hubungan mantan. KDHM bukan KDRT ya! Aku akhirnya berani masuk. Kupindai antara Claudia dan si kunyuk itu. Aku harus pede. Aku lebih tinggi, lebih gagah daripada si Ben ini. "Maaf mengganggu. Tapi, sepertinya sekretaris saya sangat terganggu dengan anda. Bisa keluar?" "Jangan ikut campur. Lu hanya bosnya." "Lalu anda? Siapanya? Tempat sampah bukan?" Ben hampir menarik kerah bajuku, tapi aku hanya memegang lengannya dan memutarnya sampai pria itu kesakitan. Bersamaan dengan itu, seorang dokter membuka pintu dan membuatku terpaksa melepaskan si kunyuk. "Ini belum berakhir ya!" ucapnya. Dia menatap Claudia sekali lagi. Tapi sekretarisku acuh tak acuh. Sedangkan bu dokter diam di tempat, mungkin masih berpikir sebenarnya apa yang terjadi di sini. Maaf Bu, maaf merepotkan, batinku. "Lupa, bunganya nih!" ku lempar bunga pemberian Ben. Ya, nama pria itu akan kuingat karena dari dulu belum pernah ada orang yang berani menarik kerah dan hampir menonjokku. Belum tahu siapa Adam! "Maaf, Pak. Anda keluarganya?" "Bukan, Bu. Saya bosnya, bagaimana hasilnya? Tidak ada yang serius kan dengan luka-lukanya?" "Tidak ada. Dari hasilnya, Nona Claudia hanya kehilangan cairan. Dan sempat pingsan sebentar, kakinya sedikit terkilir karena tertimpa motor, tapi sejauh ini semuanya baik-baik saja. Mohon jangan beraktivitas yang berat-berat dulu ya. Juga, jangan lupa kalau sudah tiga hari, perbannya boleh dibuka. Saya permisi, semoga cepat sembuh, Nona Claudia." Bu dokter keluar setelah menerangkan tentang keadaan Claudia juga memberikan obat yang harus ditebus. Ruangan seakan lebih sepi dari sebelumnya, aku tahu Claudia malu dengan kejadian tadi. Malu karena pernah berhubungan dengan pria aneh model si kunyuk. It's okey, aku bisa merahasiakan tentang itu. "So, perlu kugendong, Clau, misal kamu susah jalannya? Atau pakai kursi roda saja?" Akhirnya dia berani menatapku. "Pakai kursi roda aja, Pak."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN