Sial! Sepertinya Claudia benar-benar berangkat siang. Aku tidak mempermasalahkan dia berangkat jam berapa, tapi lihatlah sekarang? Orang yang biasanya menyuguhkan kopi di meja kerjaku setiap hari bukan Claudia ataupun Rio, OB di kantorku. Melainkan racun mata.
"Diminum dong, Pak. Gak ada racunnya, tadi bu Claudia sudah mengirim pesan pada saya. Katanya harus menyiapkan kopi khusus yang ada di lacinya. Kan tinggal nyeduh aja," terangnya dengan intonasi manja. Brrghhh!
Aku sedikit melirik bawahanku. Dia-Sella, salah satu pegawai yang katanya terkenal lihai menggoda banyak pria. Harus diakui, jiwaku sebagai pria akan merasa kewalahan berhadapan dengan wanita model beginian.
Jalannya aja ala Syahrini maju mundur cantik. Selalu mengibaskan rambut, seolah ingin menunjukkan bahwa Sella memiliki leher yang indah untuk dipandang. s**t! Sepertinya mulai sekarang, aku harus memberitahu Claudia untuk tidak memberikan tugasnya kepada orang lain.
"Kamu boleh keluar. Dan jangan lupa kunci pintunya."
Sella menempelkan telunjuknya di bibir, memasang wajah imut. "Maksudnya, Pak Adam nyuruh aku kunci pintu dan nemenin Pak Adam di sini?"
"Bukan. Kamu keluar dari ruangan saya, dengan begitu otak saya tidak akan meledak melihat kamu. Jelas?"
Terusir dengan kasar, Sella langsung grak, maju jalan. Menggoyang-goyangkan bokóng dengan sengaja. Iya-iya, semok. Gak usah dikiri kanankan bisa nggak sih, Sis?
Ya Tuhan. Kenapa banyak sekali wanita yang berkeliaran di hidupku? Dan parahnya, mereka selalu saja membuat napasku mengkas-mengkis karena menahan gejolak yang membara. Mulai Vanya, teman kak Citra, dan sekarang Sella. Good job!
Tak ada pekerjaan yang benar-benar serius, akhirnya aku mencari kesibukan. Ya, membangunkan Claudia karena nanti jam 10 ada acara penting yang harus dihadiri kami berdua. Dia sering menjadi notulenku, apa pun yang dikatakan klien investor, pemegang saham dan audit memang selalu dicatat secara rinci dan detail. Ya, sebaik itulah pekerjaannya.
Drtttt..
Drttt..
Ah, apakah dia masih molor?
"Halo, Pak Adam? Saya sedang ada di jalan. Ada apa?"
Aku agak menjauhkan ponsel dari telingaku. Hampir saja gendang telingaku pecah karena mendengarnya berteriak. "Kamu sampai mana, Clau?"
"Hah, APA?"
Ya ampun, demi apa pun yang membahayakan di dunia ini. Kenapa suara Claudia terasa seperti bom atom yang siap meledak?
"Nanti kutelepon lagi." aku tahu dia sedang menyetir, bising jalan raya dan klakson dari pengendara lain terdengar jelas. Dia pasti sedang berada di jalan.
"Oke, Pak. Sebentar lagi saya sampai.. ah iya, tadi saya nyuruh...... Aaaaaa!"
Eh, kenapa Claudia berteriak. Dia bukan sedang bernyanyi atau latihan vokal. Harus diakui, suaranya enak didengar. Tapi teriakan tadi terasa seperti orang yang tidak sengaja jatuh. Ambigu sekali.
"Clau, hey! Kamu kenapa?"
Tut.. tut..
Sial! Sambungan terputus. Dan sialnya lagi, tak ada jawaban setelah kutelepon ulang. Ah, Clau, kenapa bikin khawatir sih?
***
Mendapat kabar Claudia dirawat di salah satu rumah sakit terdekat, membuatku menyerahkan rapat kepada managerku-Iris. Aku tidak bisa ke mana-mana karena Claudia tak sengaja menabrak tiang lampu pertigaan. Lucunya, dia sengaja oleng ke tiang tersebut hanya demi menghindari mamang bakso yang kebetulan berlawanan arah dengannya sayangnya tujuan mereka sama. Perempuan yang malang.
"Sus, pasien yang baru saja dirawat, Claudia Anastasya ada di ruang berapa ya?"
"Sebentar, ya, Pak."
Suster mengecek daftar pasien hari ini dan menyebut salah satu kamar. Aku dengan terburu-buru langsung ke sana. Naik lift. Membuka pintu ruangan dan tercengang.
Lagi. Saat ada yang mengkhawatirkannya, Claudia malah enak-enakan main game dengan ponselnya.
"Udah baikan?"
Melihatku datang, dia langsung tersadar dan menekan home pada ponsel. Memberi jeda untuk log out. "Bapak, maaf ya, tadi saya.."
Ucapannya terhenti karena tanganku tiba-tiba saja refleks memegang jidatnya. Syukurlah, tubuhnya tidak bereaksi apa-apa karena jatuh dari motor. Biasanya orang akan terlihat lemah karena jatuh dan gelimpangan di aspal.
"It's okey, Pak. Everything okay. Saya gak apa-apa."
Claudia dengan bangganya menunjukkan gigi gingsulnya. Cantik dan selalu saja cantik. Ah, cukup! Jangan salah fokus.
"So, tell me. Kenapa kamu bisa kayak gini? Bagian mana yang luka?" aku menarik salah satu kursi, bahkan berbaik hati mengupaskan jeruk yang tadi kubawa saat menuju ke rumah sakit.
Sepayah-payahnya aku menjenguk seseorang, aku tidak akan lupa untuk membelikan mereka sesuatu. Apalagi Claudia pasti butuh sesuatu yang bisa mengembalikan semangatnya. Senyum gratisku, misalnya.
"Begini. Tadi, waktu Pak Adam menelpon, kebetulan ponsel saya ada di dalam tas, saya berhenti sebentar dan menghubungkan dengan headset, lalu jalan lagi. Saya ingat kita ada pertemuan penting. Lalu rame banget di pertigaan. Saya benar-benar gak dengar dengan jelas apa yang tadi Pak Adam katakan."
Ah, aku jadi merasa bersalah karena membuatnya terpaksa menerima panggilanku dan hal ini malah terjadi padanya.
"Lalu, kenapa kamu gak mencari tempat untuk menepi dan menerima telepon dari saya sebentar, Clau, ketimbang bertelepon dalam keadaan menyetir. Bahaya, Clau. Untung saja, lukamu gak parah banget!"
Dia menggigit bibir bawahnya. Seakan tertekan dengan suaraku yang terdengar membentaknya. Aku tidak marah, hanya saja aku sangat merasa bersalah karena teleponku malah membahayakan nyawa seseorang.
Beruntung, Tuhan berbaik hati masih menyelamatkan nyawa Claudia. Coba tadi dia membentur aspal. Gagar otak, lupa ingatan dan lebih parahnya lagi tidak terselamatkan.
"Ya kan Pak Adam selalu on time. Gak pernah telat saat menghadiri rapat dengan orang penting. Saya yang bukan siapa-siapa pasti harus juga on time, kan?"
Sepertinya Claudia akan menangis. Dari nada bicaranya saja terdengar terbata-bata. Duh, bukan begitu maksudku.
"Eh, jangan mewek dong. Iya, iya. Maaf, oke?"
Parah. Rengekan suaranya makin membuatku membabi buta. Dari dulu, aku tidak pernah tahu caranya menjinakkan betina yang tersedu-sedu. Aku tipe adik yang tak pernah ribut dengan kak Citra. Ah, aku harus bagaimana?
"Don't cry, Clau. Sorry, harus bagaimana aku?"
"Sa..ya.. gak bisa.. berhenti nangis, kecuali dipeluk, Pak."
Menelan ludah, sedikit membasahi tenggorokan. Aku memang pernah memeluknya, dulu sekali saat perusahaan orang tuaku menjadi perusahaan terbaik dengan segala bisnisnya. Itu pun karena respon ucapan selamat. Tapi sekarang, memeluknya dengan sengaja. Bisakah?
"Huaaaaa! Pak Adam sih, Pak Adam gak tahu, betapa terburu-burunya saya tadi demi bisa sampai di.. kaa.. nn.. torr."
Aku terpaksa mendekat, merapatkan tubuh kami dan menenggelamkan kepalanya ke dalam bidang dadàku. Memberinya tepukan pelan di punggung. Ya, aku belajar dari internet. Semacam hug therapy. Pelukan yang bisa menyembuhkan dari rasa cemas.
Kami hanya diam. Benar-benar diam. Bahkan hanya ada suara detik jarum jam yang mengencang.
"Pak?"
"Hmm?"
Aku masih memeluknya. Aku takut melepaskannya bukan karena nyaman apalagi modus. Hanya saja nanti kalau mewek lagi gimana coba?
Dia tidak berbicara lagi. Mengubah posisi, sedikit lebih rapat. Mungkin, ini juga semacam penyemangat dari atasan untuk bawahan. Aku tahu selama ini Claudia cukup berjuang demi hidupnya. Tanpa keluarga, teman dekat, orang tersayang di dekatnya.
"Pak, kemeja bapak kena ingus saya gak apa-apa?" Claudia mendongak ke atas, aku menghadap ke bawah.
Secara tidak sengaja, mata kami sama-sama menilai kelebihan visual masing-masing. Ah, soal kecantikannya memang bukan bualan semata.