Kamu Cantik Hari Ini

1113 Kata
Benar-benar tidak terduga. Bisa-bisanya kak Citra berkenalan dan menyebut Claudia sebagai adik ipar, beruntung sekretarisku tidak mengambil pusing ucapannya dan mempersilakan kami masuk. Beberapa hari yang lalu, saat aku tidak sengaja mabuk dan berakhir dari sini, tapi terlalu terburu-buru keluar dari apartemennya, tidak sempat menilai banyak ruangan. Kali ini mataku memindai semua sudut, satu kata, rapi! Tak menyangka kalau Claudia memang orang yang memprioritaskan kebersihan. "Maaf ya, Pak, apartemen saya kecil," Claudia kembali keluar dengan menyuguhkan minuman. Dia belum mandi, belum ganti kostum, memakai kostum jogging yang sama dengan tadi. Awalnya kupikir Claudia ini tipe perempuan yang jarang bangun pagi saat weekend begini. "Gak apa-apa, Clau. Makasih ya, maaf loh pagi-pagi udah ngrepotin kamu." "Iya, maaf loh, tapi nanti juga terbiasa direpotkan sama dia." Kak Citra sejak tadi masih saja bersikap seolah Claudia ini pasanganku. Menyebalkan! Kami mengobrol sebentar, aku baru tahu kalau Claudia benar-benar tidak punya siapa-siapa di Bandung. Dan lebih parahnya lagi, aku merasa seakan bertanggungjawab harus menjaganya dari mara bahaya. "Mau, ya, Clau? Beneran, aku tuh gak bisa belanja sama Adam apalagi mas Reza. Mereka nyebelin kalau diajakin belanja, bosen! Mama juga pasti udah sibuk, jauh pula. Mau ya!" Aksi paksa-memaksa tak pernah gagal dari kak Citra. Kulihat sekretarisku yang mengangguk, izin harus mandi dulu karena tak mungkin pergi ke butik dengan penampilannya saat ini. Yeah, meskipun aku sama sekali tak keberatan masih menganggapnya masih cantik. Melihatnya masuk ke salah satu ruangan membuatku makin leluasa menilai setiap sudut, hanya ada beberapa ruangan, termasuk kamar tidur dan dapur. Sepertinya Claudia tipe perempuan yang mengusung gaya minimalis. "Kedip kali, Dam. Jangan kayak orang lagi ngehalu yang enggak-enggak." Dih, padahal aku melamun bukan karena memikirkan Claudia, sama sekali bukan. Aku refleks berjalan dan melihat satu persatu foto berbingkai di atas bifet dekat ruang santai. Banyak sekali foto masa kecil Claudia, dan memang sedari kecil dia termasuk golongan good looking. 15 menit berlalu, Claudia sudah selesai dengan urusannya. Berdiri di depan kami dengan senyuman paling menawan. Aku jarang melihatnya memakai pakaian biasa, terlalu terbiasa melihat Claudia dengan pakaian kerjanya. "Emang ya, kalau udah cantik dari orok mau pakai baju apa saja, tetap aja cantik, Dam. Gak bisa bayangin dia pakai dress wedding deh, beuh! Ngalahin Gigi Hadid kayaknya!" Aku tidak menanggapi ucapan kak Citra dan berjalan bersisian dengan Claudia, meminta maaf karena menyita waktunya untuk bersibuk ria di hari bebasnya. "Besok kamu boleh berangkat siang," ucapku. Menoleh, sedikit mendongak karena tubuh kami yang tingginya berbeda. "Kenapa, Pak? Tumben banget?" Hah, seakan aku ini jarang berbaik hati memberinya diskon hari kerja. "Ya nggak apa-apa, intinya aku sudah memberi penawaran yang terbaik ya." Anehnya, kak Citra malah duduk di belakang, mengajak Claudia untuk bersisian. Aku pastikan mereka pasti akan bergosip seperti perempuan pada umumnya saat berkumpul. *** Terlihat menunggu, tidak ada yang bisa kulakukan selain itu. Ya, dua makhluk aneh berwujud manusia sedang sibuk ria di dalam sana, padahal Claudia bukan tipe perempuan yang mudah akrab saat mengobrol dengan orang baru. Tapi pagi ini, nyatanya aku melihatnya haha hihi dengan kak Citra. Pamor kak Citra yang memang cerewet membuat mereka jadi cepat akrab. "Masnya mau mencoba? Ada juga model terbaru dari butik kami. Sepertinya mas sangat cocok mengenakannya." Arahan salah satu pegawai membuat badanku refleks terangkat dan mengikutinya. Daripada tidak melakukan apa saja, coba-coba boleh juga. Ada barisan tuksedo yang terlihat akan gagah saat mengenakannya. Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalam bilik dan berganti pakaian. Tak lama kemudian, aku melihat diriku sendiri di pantulan cermin. Betapa tampannya pria yang jomblo ini, sepertinya Tuhan cemburu kalau aku sibuk dengan makhluk lainnya. Makannya awet jomblo. "Pak Adam, tadi kak Citra.." Respon pertama saat Claudia melihatku memakai tuksedo, ada gua di dalam mulutnya. Ya, Claudia menganga lebar. Stop, jangan sok kegantengan, Dam! "Ganteng ya, aku?" tanyaku sendiri. Tanpa sadar Claudia kebablasan mengangguk. Tiba-tiba saja, seorang pria mungkin pengunjung lainnya masuk dan tidak sadar dengan adanya Claudia, yang notabennya beda gender dengannya. Ia pede-pede saja membuka baju dan celananya. Malas berganti di bilik yang sudah disediakan, gerah katanya. Aku refleks menutup pandangan Claudia, menggelamkan kepalanya dengan pakaian yang kupakai. "Hey, gak boleh nakal, Clau. Dia kayaknya udah punya istri. Jaga mata, hayo!" Claudia malah cekikikan, ikut memegangi tuksedoku dan sedikit mengintip. Aku terpaksa lebih merapatkan diri, jangan sampai pulang dari sini otaknya teracuni dengan pemandangan yang subhanallah untuknya. Akhirnya aku mengajaknya keluar dari ruang ganti pria, kak Citra sudah menunggu kami. Tersenyum bangga melihat kami yang seakan begitu dekat begini. "Duh, adem ngelihatnya. Ngapain aja sih di sana, ganti baju aja mesti dianterin," ledek kak Citra. Aku menggeleng mantap, memberi kejelasan agar tak bikin salah paham. "Claudia tadi cuma mencari keberadaanku, Kak." "Hehe sekalian cuci mata, ada pria yang tubuhnya beuh.. patut diraba-raba, Kak Cit," sambungnya. Kak Citra langsung kaget, membentuk huruf O dengan mulutnya. Aduh, Claudia ini, padahal aku sudah menutupi sikap beraninya malah ngaku sendiri. Harus kuakui, tubuh pria tadi memang oke, banget malah. Aku merasa kalah sebagai pria yang sepertinya lebih muda darinya. Jadi, seperti itu pria yang merobek hati Claudia? Pria seksi dengan tubuh atletis bak model-model majalah dewasa. "Aku udah bayar dressku, punyamu bayar sendiri, Dam. Ah iya, kamu juga coba dong, Clau. Masa cuma nemenin doang, santai nanti Adam yang bayar, ya kan, Dam?" Muka Cludia antusias, namun beberapa detik kemudian merasa tak enak denganku. "Tapi kayaknya gak usah deh, Kak. Pak Adam udah sering banget memberi aku hadiah saat ada proyek besar yang sukses. Lagian, tidak ada acara penting yang harus kuhadiri, pakaianku juga sudah banyak, masih layak pakai." Kagum dengan kesederhanaan Claudia, kak Citra malah merubah segalanya. Ia tetap memaksa Claudia untuk mencoba salah satu dress di sini, jadi sekretarisku akhirnya mau. "Ya udah, aku balik ke ruangan tadi, pakaianku masih ada di sana." Kami sama-sama masuk, berbeda ruangan. Cepat-cepat tanganku membuka kancing dan melepas apa saja yang menempel, kembali memunguti pakaian yang kukenakan sebelumnya. Selesai urusan, aku pun sekalian membayar tuksedo yang kurasa sangat cocok kupakai. Gak mau kalah dong sama mereka, tapi kok Claudia lama banget sih ganti bajunya. "Kak Cit, seribet apa sih dress yang dipilihnya? Kok lama banget gak keluar-keluar," kulirik jam tanganku, busyet! Ini adalah rekor terlama aku menghabiskan waktu hanya berbelanja. "Nah, itu dia! Wah, ya ampun! Geulis pisan kamu!" Aku mendongakkan kepala, menatapnya dari atas sampai bawah. Dress berwarna putih tulang dengan model kerah melintang dan menampilkan lengan gemulainya. Bahkan, dress yang dipilihnya terlihat simple tapi pas dan sesuai dengan tipe kulitnya. "Aku.. kelihatan aneh ya, Kak?" Kak Citra menggeleng, memberikan dua jempol seolah tak bisa berkata-kata saking terpananya. "Cantik kan, Dam?" Cukup terdiam mereka menunggu jawabanku. Aku mulai melihat Claudia lagi dan berkata, "Ya, cantik. Dia terlihat cantik dengan dress itu." Seketika, aku membasahi tenggorokanku seolah tak biasa memuji perempuan seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN