Apa lagi Rencana kak Citra?

1076 Kata
Aku menelan sendiri perkataanku. Claudia juga paham kalau wajahnya cantik, tapi sangat langka mendengar aku memujinya. Takutnya malah kebawa Ge-er dia. Kita masih makan dengan santai, Claudia tipe perempuan yang jarang sekali berlama-lama makan. Dia, perempuan paling apa adanya soal urusan makan. Meskipun tidak banyak betina di hidupku, kadang saat makan malam dengan beberapa pemilik saham, kebanyakan ada beberapa wanita yang cara makannya seperti Ratu Elizabeth, kalem banget cuy! "Oh iya, jangan bilang siapa-siapa Clau, soal semalam. Aku takut pamorku bakalan turun, fansku bakalan berkurang," candaku. Dia hanya mengangguk. Sudah tahu apa yang seharusnya dilakukan, "tenang saja, nanti juga bakalan terbiasa kok, Pak. Ditolak satu, tumbuh seribu. Pak Adam kan ganteng, jadi saya yakin bakalan banyak yang ngantri." Perkataannya memang benar. Everytime, everywhere, Kadang-kadang ada yang iseng meminta nomer ponselku. Baru pertama bertemu, kadang aku juga mendapat DM dari beberapa selebgram cantik. Tapi, aku tidak terlalu suka main sosmed, apalagi mengizinkan pacarku memamerkan kecantikannya di depan khalayak. "Saya permisi dulu ya, Pak. Sudah siang begini, kucing di apartemen pasti kelaperan." Aku tertawa renyah, "apa kabar Albino?" "Baik. Ngambek karena ada kucing tetangga dan saya nggak mengizinkannya bermain, gak percaya. Palingan mereka mau kawin, saya nggak siap punya cucu." Hahaha. Aku tertawa sekaligus miris, rasanya Claudia tengah menyindirku karena ditolak mentah-mentah oleh Dewita. Sial, kenapa hidup harus memalukan seperti ini? Melihatnya pergi, terkadang aku merasa benar-benar tak punya teman di kantor sendiri. Semua orang hanya berbicara padaku karena masalah pekerjaan. Menghormatiku karena aku bos mereka di sini. Sama-sama ingin pulang, aku melihat Dewita dari arah yang berbeda dengan Claudia. Dalam hati bertanya, sebenarnya yang baik siapa di antara mereka? Hatiku masih nyeri melihat Dewita terlihat biasa saja setelah menolakku secara terang-terangan. Apakah sesudah ini aku bisa bersikap biasa saja saat bertemu atau nongkrong di kafe tempat Dewita bekerja? *** Everytime, mataku tak pernah lepas dari laptop, komputer, data, berkas, map laporan. Ya, sesibuk itu aku di rumah. "Dam, mbak nginep di sini lagi ya?" suara kak Citra menggagalkan fokusku yang membalas file dari Claudia. Meskipun pekerjaannya di kantor sudah sibuk, terkadang dia harus merangkap banyak pekerjaan dari karyawan magang. Hebat, mau-maunya lembur padahal bukan ranahnya. Kak Citra kepo dengan pekerjaanku, melihat aku sedang melakukan apa dengan jari-jari kekarku. "Kenapa kepo banget sih?" pelototku menyembunyikan laptop. Padahal tak ada apa-apa di dalamnya. Hanya beberapa file yang harus kuperiksa satu-persatu. Mengangkat bahu, pada kenyataannya keberadaan kak Citra selalu saja menganggu adik satu-satunya yang masih setia jomblo sampai sekarang. "Mau curhat!" Aku kembali membuka laptop, berpindah tempat duduk dari tempat kerja ke sofa tunggal yang sering kubuat untuk tiduran. "Ya curhat aja. Biasanya kan langsung ngomong gak pakai lembek-lembek gitu." "Hadap sini dong, Dam! Gimana aku mau curhat kalau kamunya sibuk sama laptop, kamu bukan Tukul Arwana ya dikit-dikit kembali ke laptop!" rajuknya seperti anak kecil. Selain banyak maunya, kakakku yang super bawel ini memang tidak bisa diabaikan. Harus benar-benar didengarkan. "Yang fungsinya mendengarkan itu bukan mata, Kak, tapi telinga. Aku bisa sambil baca-baca laporan plus dengerin Kak Citra ngoceh." Akhirnya ia menyerah, mengatur napas dan menyentuh layar ponselnya. Kulirik sedikit wajah kak Citra yang ditekuk sempurna. Dasar, gitu aja ngambek! Tapi anehnya dia tetap curhat, kekesalannya adalah tentang harus memakai gaun apa di acara teman dekat suaminya yang sebentar lagi akan menikah. Ya ampun, cuma segitu doang permasalahannya? Lebih parahan aku kali yang sampai sekarang gak punya gandengan. "Bantuin Kakak dong, Dam!" "Ya gimana caranya? Aku bukan desainer, Kak, bukan ahli fashion. Kita beda gender, please," kesalku tak karuan. Wajahnya yang cengengesan membuatku curiga. Pasti ada udang di balik rempeyek. Kali ini, keusilan apa lagi yang akan diperbuat oleh kak Citra? "Gimana kalau kita ajak sekretaris cantikmu itu? Kalau dilihat-lihat, dia modis! Bodynya ulala trilili, aku sebagai sesama wanita aja ngiler. Masa kamu yang lekong sejati gak ada gitu hawa-hawa panas saat dekat sama dia?" Aku menggeleng mantap. Bukannya gak pernah, cuma memang dalam kamus hidupku, aku berusaha untuk tidak tergoda oleh Claudia-sekretaris pribadiku sendiri. "Skip topik, please. Bukan ide baik, semalam ini dia pasti udah tidur, Claudia selalu tidur awal. Gak pernah begadang, Kak," bohongku. Padahal kami, aku dan Claudia masih berkirim pesan lewat email. Aneh, dari w******p, Telegram, dan sekarang pindah ke email. Kami sering membahas hal-hal random. Sesama suka film horor dan misteri, teman yang asik untuk berbincang, bukan untuk goyang-goyang. Kembali kak Citra menatapku curiga. Kali ini, apa terorinya? "Kamu kok tahu jam tidurnya? Aku yang udah nikah aja gak sedetail itu tahu jam berapa suamiku tidur loh, Dam. Jangan-jangan.. kalian udah pernah skidipapap ya!" Kak Citra menutup mulut tak percaya, seolah aku benar-benar melakukan apa yang baru saja terbesit di pikirannya. Walaupun pada kenyataannya memang kami pernah seranjang bersama, tapi bukan untuk melakukan hal senonoh seperti itu ya? Aku pria beriman woi! "Gak! Enak aja, aku gak seroyal itu, ya nanti deh aku bilangin sama dia. Aneh, yang mau pergi siapa yang bawel siapa!" Mengepalkan tangan seolah mendapatkan kabar terbaik, kak Citra memang suka belanja. Dari segala hobi wanita pada umumnya. Untung suaminya kaya, hanya saja memang terlalu sibuk. Bahkan seandainya yang tidak tahu hubungan kami berdua, pasti mengira akulah suami kak Citra. Muka baby face, tubuh yang gak pernah di atas 50 kg, kak Citra adalah wanita yang suka dengan gaya Korea gitu, ramping kayak tiang listrik. *** Weekend. Hari ini seperti janjiku, aku akan mempertemukan kak Citra dengan Claudia-sekretarisku. Bukan memperdekat hubungan mereka dari adik ipar menjadi keluarga, bukan! Apalagi kalau bukan untuk mengajak Claudia menemani kakakku belanja. "Ini benar apartemennya kan, Dam?" Aku mengangguk sekali lagi, berharap Claudia tidak ada di apartemennya, atau sudah pindah tempat tinggal sekalian biar mereka tidak bertemu. Kak Citra menekan bel beberapa kali, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Claudia ada di dalam. Beuh, leganya, doa jomblo memang manjur. "Pulang aja, yuk!" ajakku penuh semangat. "Ih, telepon gih! Aku yakin dia bakalan angkat kalau itu dari kamu, kan kamu bosnya!" "Kalau weekend kita bukan atasan dan bawahan, Kak. Tapi teman," jawabku asal. "Teman tapi mesra gitu maksudmu?" Ah, makin absurd saja. Baru beberapa langkah balik badan dan meninggalkan halaman depan apartemen Claudia, perempuan itu datang dari arah samping, khas dengan kostum joggingnya. Dia mengenakan pakaian biasa, tapi entah mengapa terlihat anggun dan simple. Lupakan soal keringat yang semena-mena mengalir di pelipis dan lehernya. "Pak Adam? Ngapain pagi-pagi ke sini?" suara Claudia terlihat terburu-buru, dadanya naik-turun menandakan dia memang baru pulang dari lari pagi. Tanpa diminta, kak Citra mendekat dan mengajak Claudia berkenalan. "Halo, aku Citra, kakak kandungnya Adam tengil ini, senang bertemu denganmu adik ipar." What! Apa!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN