Gak Ada Kamu, Sepi

1048 Kata
Absen selama dua hari berturut-turut, aku merasa sangat payah menangani semua jadwalku sendirian. Apalagi banyak jadwal yang memang hanya Claudia saja yang mampu menghafalkannya di luar kepala. Anehnya, kita akan merasakan kehilangan seseorang saat orang itu tidak ada. True? "Setelah ini kamu gantikan Claudia ya, cukup jadi notulen saja. Catat hal yang benar-benar penting." Zara mengangguk, dia adalah pegawai magang yang katanya cukup bisa diandalkan. Hari ini kantor sudah cukup sibuk dan aku masih ragu-ragu untuk masuk ke ruang rapat bertemu klienku. Baru saja membuka rapat karena aku adalah tuan rumah dan wajah utama perusahaan, ruangan terbuka dan tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang sudah mulai kulupakan. Dewita, barista manis yang sempat menolakku lantaran menerima perasaan orang lain. Dewita ke sini untuk mengantarkan pesanan kopi yang dipesan Zara. Harus banget beli di situ? Dia tidak menyadari keberadaanku sebagai bos atau mungkin lupa sedang ada di mana. Fokusku entah pecah ke mana, padahal satu jam yang lalu hanya nama Claudia yang setia bertengger di pikiranku, sekarang ditambah Dewita. Dih, Dam. Dasar gak setia! Kubuka dengan salam, mengenalkan apa saja yang paling terdepan di perusahaan dan juga memberitahu pembaharuan setiap produk apa saja yang harus diperbarui. Juga membicarakan tentang bisnis lainnya. "Intinya, perusahaan saya mengedepankan yang namanya etika dan tanggungjawab. Anda bisa menghubungi sekretaris saya, Claudia." Sial. Kenapa aku menyebut nama orang yang tak ada. Ah, sebegitu kehilangannya kah sampai-sampai aku salah mengucap nama. "Karena hari ini dia tidak masuk, asisten saya, Nona Zara akan menerima keluhan dan usul kalian." Zara berdiri, membungkuk lalu mengenalkan diri secara pribadi. Aku sering membayangkan betapa sibuknya Claudia yang mencatat, berpikir mana bagian yang penting dan juga sibuk menjelaskan ulang padaku. Gila, ternyata sekretarisku lebih sibuk dari bosnya sendiri. *** "Kenapa sih kamu gak punya kaki tangan? Jaman apa coba, hari ini masih nyetir sendiri? Youre are boss, know?" "Biasanya ada sekretarisku yang selalu nyetir. Dia sakit belakangan ini." Aku sedang makan siang dengan Cleo, salah satu sahabat dari SMA yang sekarang lebih sibuk dengan bisnis homestay di Bali. Dia sering menawariku ke sana, mendapatkan setengah harga dan juga fasilitas terbaik. Masalahnya adalah terlalu ngenes liburan sendirian. Berjemur di pantai dengan status single, pasti orang-orang akan mengira aku sedang merenung karena patah hati. "Sekretarismu namanya Claudia bukan sih?" Aku refleks menangguk. Hari ini sudah lebih dari tiga kali aku mendengar nama Claudia. Kenapa dengan nama itu? "Kamu kenal sekretarisku?" Cleo ikut mengangguk, ia kembali usil dan mengedipkan mata saat ada kawula muda sepertinya mahasiswi yang lewat, dari dulu Cleo memang selalu begitu. Tebar pesona, sebar nomor WA, tahu-tahunya pacarnya ada di mana-mana. Pro! Dia pernah bilang sendiri padaku akan setia saat sudah nikah nanti. Dih, terus kenapa gak dicoba sekarang aja setianya? "Inget karena kamu pernah bikin story dan geger di semua alumni. Mereka mikirnya Claudia adalah pacarmu, Dam. Secara, sampai sekarang kamu masih setia menjomblo, atau emang gak niat nikah sih?" Pikiranku malah larinya ke mana. Aku sungguh lupa kapan memposting foto kami berdua. Karena jarang sadar kamera di setiap event, aku tak pernah benar-benar punya stok foto berdua. "Lupa. Aku jomblo keren, sampai sekarang gak pernah masuk ke hubungan orang. Emangnya cewe doang yang bisa jadi pelakor? Urusan aku nikah atau enggak, itu gampang. Aku masih normal kok, aku masih suka perempuan. Santai." Cleo menghentikan obrolan kami karena harus mengangkat telepon. Entahlah, kali ini pacar yang mana. Setidaknya Cleo pernah bilang, bisa kencan dengan tiga orang di hari yang sama. Bener-bener suhu! Aku ikut melihat notifikasi ponsel yang sepi kayak kuburan. Hanya ada pemberitahuan dari Lazada, Wikipedia, juga beberapa chat dari pihak keluarga. Seperti biasa, mama selalu tanya kapan aku pulang membawa calon mantu, minimal pacar. Mama sering resah mengetahui fakta bahwa anaknya masih haha hihi di dunia tanpa sadar usianya berapa. "Sorry lama. Sampai mana tadi? Ah iya, sekretarismu. Kamu gak pernah gitu punya perasaan something sama dia, secara Claudia kan cantik, menarik, multitalent dan juga ramah lagi. Paket komplit yang jarang wanita miliki di zaman sekarang." Aku curiga, saat Cleo membicarakan tentang kebaikan dari wanita yang keluar dari mulutnya begini. Aku tahu dia pasti sedang memasang taktik agar aku bisa mencomblangkan Cleo dengan Claudia. Aku tidak akan memberi celah di antara mereka berdua karena jangan sampai Claudia jatuh di tangan pria yang salah lagi. "Kalau kamu mau minta nomor wa-nya aku pasti nolak, dia itu cewek yang lurus, yang nggak tahu apa-apa dan nggak bakalan mau kamu apa-apain. So stop berpikir bahwa kamu bisa mendapatkan Claudia," tegasku. 'Hadapi aku dulu, Bro!' batinku tak terima. Bukannya cemburu, tapi terkadang aku merasa kasihan karena Claudia sering menangis tiba-tiba dan membicarakan hubungannya orang yang sering kandas di tengah jalan hanya karena Claudia masih menjaga kesuciannya dan tidak pernah ngamar ataupun check ini di hotel dengan mantan-mantannya dahulu. "Tapi kamu pernah gak punya niat terselebung gitu, yeah sebagai pria normal, mataku nih pasti bakalan mikir yang aneh-aneh kalau lihat cewek cakep, bodinya nyenengin lagi. Mata lu aman sampai sekarang?" "Enggaklah. Aku pria yang cukup terhormat, kami hanya sebatas rekan kerja saja. As you know, gak semua bos dan sekretaris punya hubungan spesial ya? Apalagi grepe-grepe gitu. Jangan sampai deh!" Lagi-lagi Cleo mengangkat telepon dari seseorang, kali ini suaranya beda. Entahlah, hebat sekali bisa mengatur waktu untuk bersenang-senang dengan banyak kaum hawa. Sedangkan aku masih stay cool dengan status jombloku ini. Adil gak sih? *** Sampai di depan kamar Claudia, aku mendekatkan telinga persis di depan pintu dan mencoba mendengar dengan teliti, menebak sendiri apa yang sedang dia lakukan. Sesibuk apa sampai Claudia tidak menjawab teleponku, bahkan aku spam dan menanyakan apa yang sedang dilakukan olehnya selama aku di kantor. Mendengar isak tangis dari dalam, jelas dong aku panik dan cepat-cepat mendobrak pintu. Dia kaget bukan main dan langsung menghentikan kegiatannya. "Kamu gak apa-apa? Kok aku dengar kamu nangis tadi?" Refleks aku meraba-raba kakinya, memastikan dia baik-baik saja. Takut sekali dianggap bos yang tidak tanggungjawab membiarkan sekretarisnya terluka dan sudah dibiarkan untuk beraktivitas. "I'm fine, Pak. Tadi cuma lagi sibuk nonton drakor aja sih, melllow ceritanya makanya saya nangis. Pak Adam telat banget pulangnya? Lembur?" "Iya, rasanya gak yakin deh bisa tidur dengan nyaman. Punggungku rasanya mau encok." "Nikah, Pak, biar bisa dipijit istri." "Aku nikah itu biar sakinnah, mawaddah, warahmah dan barokah, Clau. Bukan cuma bisa enak-enak doang. Kalau dapat bonus ya itu rejeki." Claudia tertawa mendengar jawaban absurdku. Lah, kan fakta?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN