Terbiasa ada kamu

1101 Kata
Mungkin karena aku lupa ada Claudia di rumahku, sepagi ini aku sudah berenang dan santai. Mumpung weekend kan? Aku baru menyadari kedatangannya yang duduk santai kayak di pantai, memandangiku yang asyik dan bergulat dengan air. Kakinya sudah lebih baik sekarang, cara jalannya pun sudah tak seburuk robot. Hanya saja, Claudia masih kuharuskan tetap di sini sampai nanti dia tidak kesusahan untuk jalan bebas ke mana-mana. "Pak, gak masuk angin?!" Claudia setengah berteriak padahal aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Segera aku mendekat dan memamerkan betapa sempurnanya aku yang sekarang, tidak kaku seperti di kantor. Perut kotak-kotak, dadà bidang idaman semua wanita. Ah, kayaknya selain jadi CEO utama, aku berhak menjadi model ternama yang wajahnya dipajang dan diiklankan di papan iklan sepanjang jalan. Melihatku yang begitu seksi seperti ini Claudia langsung menutup matanya namun jemarinya merenggang sengaja melihat aku meskipun dengan sedikit mata tertutup. Ini bukan pertama kalinya dia melihat aku bertelanjang dàda di hadapannya. "Kalau mau lihat mah lihat aja kali, Clau. Gak usah malu-malu, dipuas-puasin. Hitung-hitung sedekah kegantengan biar gak mubadzir." Aku mengusap sebagian tubuhku yang masih basah dan mengeringkan rambutku dengan handuk yang tadi sudah disiapkan oleh pembantuku. Karena tidak terlalu suka berkumpul dengan orang banyak ataupun memiliki circle pertemanan yang lebih luas, aku lebih memilih santai ataupun sekedar baca-baca di rumah. Membiarkan otakku rileks sejenak. Mungkin menghadapi banyak dokumen, tulisan dalam map, janji-janji para klien membuatku kadang Bosan dengan rutinitas. Masalahnya adalah aku jomblo, mau liburan juga sama siapa? Nonton sendirian bukan ide yang bagus. Mengajak kak Citra malah bikin kepalaku makin pusing. "Pak Adam, ternyata selain sok ganteng Anda juga narsis ya?" tuduhnya. Aku duduk dan membiarkan kursi yang kududuki basah, menyesap kopi yang sudah dingin. Ya, persis seperti hatiku saat ini. Bukannya ingat tentang kejadian di mana aku tolak Dewita, tapi aku hanya tak terima dengan nasibku yang payah. "Pak Adam, selain menikmati fasilitas di rumah, pak Adam ngapain kalau libur kerja?" "Gak ada." "Benar-benar gak ada?" tanyanya ulang. Mengangguk mantap. Memilih melihat seluruh ruangan. Baru sadar kalau tanaman hiasku mulai layu dan tidak tumbuh sempurna. Saking gabutnya, aku sering memilih berkebun dan mengoleksi tanaman hias yang harganya bikin geleng-geleng kepala. Mungkin sebagian orang akan menganggap hidupku monoton, aku juga sebaliknya, aku menganggap rutinitas orang lain tidak menarik selayaknya kehidupan yang aku jalani sekarang. "Kamu sendiri?" "Saya sih biasanya nonton Netflix, pak. Karaoke mandiri di rumah, regangin otot biar gak kaku karena sibuk ke sana-sini saat di kantor." Ah, ternyata Claudia sama sepertiku yang lebih menikmati hari weekendnya di rumah daripada menghabiskan seluruh uangnya dan memilih menikmati liburan di luar rumah. Bukannya perhitungan, hanya saja aku memang tidak memiliki orang spesial yang harus aku prioritaskan setiap weekend datang. Beda dengan orang-orang yang memiliki gebetan, calon pacar atau bahkan calon istri, mereka akan lebih memilih menikmati hari weekend dengan kencan ataupun nonton di bioskop atau semacamnya. "Nanti waktunya ganti perban kan? Sekalian periksa dan memastikan kaki kamu udah gak apa-apa." Claudia diam. Sedangkan aku berdiri dan memilih masuk ke dalam. Langkahku terhambat karena Claudia malah menangis, jelas dong aku panik. Apakah ajakanku tadi menakutinya? "Hey, Clau. Kamu kenapa?" Peduli setàn dengan rasa dingin di bagian pahaku karena terlalu lama memakai celana yang masih basah, aku jongkok di hadapannya dan menunggu responnya. Mencari tahu alasan sesungguhnya kenapa dia bisa sesedih ini. "Saya gak kenapa-kenapa kok, Pak." "Terus kenapa nangis? Aku nyakitin kamu? Kamu takut perbannya dibuka atau apa? Nanti aku suruh dokternya pelan-pelan deh." Claudia terus-menerus merengek, matanya sembab luar biasa dan aku masih tidak tahu apa kesalahan yang sudah aku lakukan kepadanya. Dia menatapku lurus, melihat mata kanan dan kiriku yang berkedip secara bergantian. Entahlah saat ini aku merasa jantungku jatuh di dasar karena tak pernah sedekat ini dengan Claudia. "Saya bersyukur saja karena punya bos sebaik Pak Adam. Mantan-mantan saya saja enggak pernah peduli tuh kalau saya sakit ataupun demam, tapi Pak Adam yang bukan siapa-siapa saya merasa sangat bertanggung jawab padahal kaki saya hanya keseleo aja." Reflesk tanganku mengelus puncak kepalanya karena tahu bagaimana rasanya sakit tetapi tidak ada yang memperhatikan. Aku berdiri lagi dan mengajaknya masuk ke dalam. Sesekali kulihat dia yang menatapku, tersenyum sekali lagi dan mengatakan terima kasih berkali-kali. Emang sebegitu bapernya ya? *** Segar setelah mandi, aku menunggu Claudia turun dari tangga karena wanita itu memang sering menolakku saat mencoba untuk membantunya berjalan. Dia memakai setelan sederhana, tidak resmi selayaknya pakaian bekerja. Ootd Claudia sangat berbeda dengan sosok Claudia saat di kantor, sekarang ini dia mengenakan kaos yang lebih longgar dari tubuhnya dan celana yang tidak terlalu ketat, menampilkan sisi Claudia yang berbeda, lebih friendly dan mudah didekati. Beda dengan sisi Claudia saat di kantor. Ia sering memasang wajah jutek kecuali denganku. Katanya sih sebagai gesture pertahanan agar tidak sembarang digoda oleh para bawahanku yang menganggap Claudia adalah cewek murahan. "Clau, kamu ke sini cuma pakai sepatu itu? Gak susah jalannya?" Dia melihat sendiri kakinya, sepatu yang kurasa sangat tidak nyaman dipakainya. "lupa bawa sandal, Pak." "Kenapa gak bilang? Aku sering banget lewat ke supermarket, minimarket, bahkan Swalayan, aku bisa saja membelikanmu agar kamu makin nyaman jalannya." "Memangnya harus banget bilang sama Pak Adam?" "Selama di sini, kamu adalah tanggungjawab ku." Dia tersenyum. Duh, padahal aku nggak niat buat baperin anak orang. "Kalau boleh minta, saya sangat kekurangan pakaian dalam, Pak, nanti bisa nggak kita mampir untuk beli? Nggak mungkin kan saya selalu pakai yang itu-itu aja soalnya. ." "Oke." jawabku cepat. Aku tahu apa yang dimaksud Claudia. Kadang, dulu sebelum kak Citra menikah, aku sering dipaksa ikut dengannya membeli pakaian dalam. So, apakah nanti aku bisa merasa biasa saja karena perginya dengan Claudia, wanita yang jelas-jelas bukan dari keluarga ataupun kerabat terdekatku? Baru saja keluar dari gerbang utama, aku kaget dengan kedatangan seseorang yang sangat tidak duga-duga, mama? papa? Kenapa mereka bisa sampai di sini dengan kondisiku yang tengah mengikatkan sabuk pengaman di badan Claudia. "Lagi apa kamu, Dam?" Aku gelagapan. Mampus, pasti mereka salah paham dengan barusan yang aku lakukan. Claudia pun memasang wajah gugup karena baru pertama kali ketangkap basah, padahal kami tidak melakukan hal-hal yang senonoh. "Ma, Pa. Kalian masuk dulu ya, soalnya aku mau ajak Claudia periksa ke rumah sakit." Bisa kulihat kalau sekarang wajah mama dan papa sangat kepo dengan urusanku yang tiba-tiba keluar dari rumahku sendiri dengan wajah yang sangat tegang. "Pak Adam! Saya malu!" pekik Claudia, menghentak-hentakkan kakinya, merasa telah melakukan kesalahan yang fatal. "Mereka nggak gigit kok, Clau. Kalaupun mereka mau ngapa-ngapain kamu kan ada aku. So, rileks aja dan fokus sama kesembuhan kakimu, oke?" Padahal aku belum menemukan alasan yang tepat karena pasti mereka mengira aku macam-macam dengan Claudia. Apalagi baru kali ini aku berdekatan dengan seorang wanita di depan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN