Ini Bukan Jaman Siti Nurbaya

1067 Kata
Sepulangnya dari rumah sakit, aku bersyukur lega karena kaki Claudia lebih cepat membaik dari dugaanku. Dan sekarang masalah satu-satunya di hidupku adalah apa alasan paling logis untuk pertanyaan orang tuaku nanti. Pasti mereka menyangka aku ada apa-apa dengan sekretaris pribadiku. Mereka bukan orang tua kekinian yang memaklumi pertemanan antara pria dan wanita. Yeah, meskipun mereka tahu sekretarisku adalah seorang wanita. Kadang saja, mama sering salah paham saat ada beberapa teman kak Citra yang main ke rumah dan bisa akrab padaku. Ya namanya tamu, harus diperlakukan layaknya RATU bukan? Wajah Claudia nampak pucat, sepertinya takut ditanyai macam-macam. Hadeh, lebih mendebarkan daripada ujian nasional. "Kamu deg-degan banget ya?" "Takut orang tua pak Adam salah paham. Jujur, banyak persepsi dan ada gosip bilang, pak Atmaja lebih menyeramkan dari anda." Aku menelan ludah. Jadi, selama ini orang-orang kantor sering menganggapku seram? Buta atau rabun sih, ganteng gini dibilang nyeremin. Sudah sampai di rumah, aku berjalan mendahului Claudia, dia juga berjalan sama lambatnya denganku. Seolah paham aku juga sama gugupnya dengan sekretarisku. "Duduk, Dam." Aura horor seakan terbaca di raut wajah papa. Aku sekali lagi membasahi tenggorokanku yang entah kenapa jadi kering gini. Air mana air? "Halo, Pak Atmaja. Saya Claudia, sekretaris pribadi pak Adam." Meskipun sebenarnya tidak punya keberanian, Claudia tetap memperkenalkan dirinya sendiri dengan elegan. Ia hanya takut dituduh macam-macam meskipun aku bisa menyanggah tuduhan papa. Kan emang kenyataannya begitu? Mama juga memasang tampang penuh tanya, penasaran dengan sosok wanita di sampingnya. Berdiri sejak tadi karena tidak ada yang menyuruhnya duduk. "Clau, kakimu nanti kram. Duduklah, mamaku gak bakalan apa-apakan kamu kok." Dia tersenyum malu-malu, sekali lagi menatap mama yang sepertinya menatapnya juga. Pandangan seperti orang yang bahagia, ah, aku tahu, tahu sekali kalau mama antusias aku dekat bahkan bepergian dengan seorang wanita. "Kamu cantik sekali, sudah punya pacar? Atau anak saya ini pacar kamu?" "Ma, kok nanyanya gitu? Dewita ini, ah maksudnya Claudia ini adalah sekretarisku. Ya, hanya sekretarisku. Nggak lebih, nggak kurang." Aku kesal dengan diriku sendiri, kenapa sampai hari ini nama Dewita masih setia nangkring di beranda pikiranku. Claudia juga mengangguk karena setuju dengan pernyataanku. Sepertinya Claudia memang mempermasalahkan seandainya orang tuaku menganggapnya kita punya hubungan lebih dari rekan kerja di kantor. "Sekarang kan banyak yang berhubungan meskipun bilangnya kerja. Mama rasa, Claudia ini sangat sesuai dengan tipe ideal kamu. Kamu memangnya gak suka sama anak saya, Clau?" Dia menatapku dan mama secara bergantian. Seolah tanda bahwa harus diselamatkan dari ujian lisan. Tahu betul, dari dulu, di manapun, kapanpun, aku dan Claudia sering terjebak skandal. Padahal, kami gak pernah benar-benar kencan. Saling kirim pesan ucapan selamat malam, makan, mengumbarkan perhatian aja kayaknya gak pernah. Demi menyelamatkannya, aku mengalihkan pembicaraan. "mama dan papa tumben mampir ke sini, apa ada masalah di rumah?" "Kamu tuh masalahnya, sampai sekarang gak nikah-nikah. Mama tuh pusing tahu, Dam. Banyak banget antrian ibu-ibu arisan mama yang menawarkan anaknya, anak tetangganya, keponakannya sama mama. Mereka tertarik jadikan kamu calon mantu." Claudia sempat melipat bibir, tertawa. Sial, pasti sekarang wanita itu tengah mengejekku karena dijodohkan. Ini jaman android, Ma! Bukan purba apalagi Siti Nurbaya. Aku pernah mempertegas mama, bahwa aku juga punya goals soal pernikahan. Masa bodoh aku akan menikah di umur berapa. Aku hanya akan menikah saat mental dan finansialku lebih dari siap. Kubawa Claudia ke kamar, sempat mencegah mama saat ingin ikut ke kamar Claudia. Pasti modus mau pendekatan dengan wanita yang sudah diberi label calon mantu. "Pak, orang tua pak Adam lucu ya? Ngebet banget pingin punya cucu. Mamiku aja gak segitunya, padahal saya yang cewek loh." "Clau, umurku udah 30-an. Beda sama kamu, meskipun patokan umur nikah pria dan wanita beda, tapi kan gak selamanya jadi tolak ukur kan?" Dia masih tertawa. Aku tidak peduli tanggapannya apa terhadapku. Entah menganggap aku gak laku, sampai-sampai mama menjadikan aku topik utama di setiap pertemuan arisannya atau malah menganggapku perjaka tua. Capek tertawa, Claudia menyemangatiku untuk tidak galau hanya karena tuntutan soal pernikahan. Aku kembali menemui orang tuaku, mereka berbincang-bincang dengan mbok Lilis. Pembantu yang memang menemaniku, mbok Lilis juga adalah orang kepercayaan di keluarga kami. Jogja adalah rumah pertamaku, di saat memang benar-benar aku harus pulang. Di sana aku dilahirkan, dibesarkan bahkan bisa sampai sesukses ini. Usaha papa memaksaku untuk stay di Bandung dan mengurusi salah satu cabang perusahaannya di bidang produk tertentu dan juga akses travel untuk para wisatawan yang akan berkunjung. Bandung memang candu, banyak tempat dan destinasi keren. Juga tak lupa menyediakan home stay, cafetaria juga perpustakaan dengan menyambung tempat nongkrong. "Mama baru tahu kamu seberani ini. Jadi, wanita tadi tidur di sini? Kalian gak bakalan ngelakuin hal yang gak diinginkan kan?" "Ma, aku berani sumpah. Aku gak bakalan manfaatin situasi ini demi kesenanganku. Lagian aku gak senang loh ya, aku hanya harus bertanggungjawab karena Claudia sakit dan terluka karena aku." "Awas aja sampai kamu berani nyentuh dia, papa sunatín punya kamu sampai habis." Aku bergidik ngeri, memegang pusaka kehebatanku. Katanya minta cucu, terus kalau habis buatnya gimana coba? *** Mungkin terlalu lama bosan hanya haha hihi di rumahku, Claudia merasa harus pulang ke apartemennya hari ini. "Pak, lihat, kaki saya udah gak kenapa-kenapa. Iya sih, kalau melangkah gini, rasa nyerinya masih ada. Tapi selebihnya, saya gak apa-apa kok. So, saya boleh pulang ya?" Bukannya aku caper agar bisa lama-lama dengan Claudia, tapi aku merasa harus menjadi tanggungjawabnya selama kakinya masih sakit. "Tapi kamu berangkat sama saya setiap kerja." "Loh, kok gitu? Motor saya kan gak kenapa-kenapa, cuma lecet sedikit aja." "Ya saya yang kenapa-kenapa, Clau. Ih, kamu ini." Frustasi. Aneh sih, kenapa aku heboh gini hanya karena akan ditinggal pergi sekretaris pribadiku. Dia garuk-garuk kepala tidak mengerti. Mungkin merasa tidak masalah. Intinya, Claudia memaksa akan pulang hari ini. Memang sih, dia sering tidak enak hati saat di rumahku. Lebih banyak meminta bantuan mbok Lilis. Padahal bukankah dia mengenalku lebih lama? Aku sudah memasukkan beberapa setelan di koper mininya, ingat saat kemarin mengantarkan dia membeli pakaian dalam. Sial, kenapa pipiku panas gini sih? "Pak, kok ngelamun?" "Hah, mana ada?" "Tadi, barusan. Gak usah mikirin saya, I'm fine, Pak Adam. Saya gak bakalan kenapa-kenapa di apartemen saya." "Dih, pede banget. Saya gak mengkhawatirkan kamu kok," protesku. Aku memikirkan lagi tentang kejadian absurd paling memalukan. Karena sejak hari itu, aku jadi tahu ukuran dadànya. Stop, Adam! Buang pikiran kampretmu itu! Nyebut, Dam, Nyebut! ____ Jangan lupa tap love ya, teman-teman. Biar saya tambah semangat nulisnya. Cerita ini hanya terbit di Dreame dan Innovel, saya tidak akan ikhlas sampai matipun tulisan saya diperjualbelikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN