Kepulangan Claudia menjadi tanda tanya besar kenapa sampai jam segini aku masih sibuk mengaktifkan ponselku. Padahal Adam Aryadi Atmaja adalah pria yang tidak melulu berkutat pada gadget. Hanya terpaksa menggunakannya saat menerima panggilan mendadak. Telpon mama adalah panggilan paling kuikhlaskan, meskipun sesibuk apa aku saat itu.
Ya, dulu aku hanya pernah kesleo saat masih SMA, dan kurasa aku memang tidak tahan dengan rasa sakitnya. Kecemasanku saat ini adalah hanya karena tak mau sampai sekretarisku kenapa-kenapa.
"Mas Adam mau ke mana?"
Siapa lagi kalau bukan mbok Lilis, satu-satunya wanita yang tak pernah kularang memanggilku 'Mas'. Yeah, dari kecil aku sudah banyak merepotkan beliau bahkan sampai sekarang.
"Keluar sebentar, Mbok."
"Oh gitu. Tapi, serius mas Adam mau keluar dengan pakaian begitu?"
Aku menilai sendiri bagaimana penampilanku sekarang. Sial, kenapa mempermalukan diri sendiri sih?
Bagaimana bisa, pria setampan dan se-cool aku memakai piyama tidur bermotif bintang dan bulan, sialnya lagi adalah kado saat kak Citra belanja diskon di Lazadà juga nyaman untuk dipakai.
Bukannya buta mode, hanya saja kalian pasti punya baju atau jaket kesayangan yang meskipun norak tapi tetap nyaman saat mengenakannya. Dan piyama ini adalah salah satunya.
Aku buru-buru ganti baju, mengenakan sweater hitam dengan mode leher yang menggulung sampai atas, merangkap blazer big size sampai siku juga celana jeans longgar.
Meskipun hujan, bukan masalah. Daripada aku tidak bisa tidur semalaman dan meeting di kantor malah keteteran. Sekali lagi aku tekankan, aku hanya tidak suka Claudia kenapa-kenapa dengan rasa sakit pada kakinya.
***
Apartemen mini Claudia sangat unik. Dia mengusung gaya aesthetic dengan full warna putih dan coklat tua. Sudah kutekan bel sejak sepuluh menit yang lalu, senyap. Kulirik lagi jam tanganku, masih terlalu dini untuk tidur.
Hujan, menjadi jawaban karena mungkin Claudia sudah tertidur. Baru saja berbalik badan dan berlari ke mobil, aku kaget pria di rumah sakit kemarin keluar dari apartemen Claudia. Apakah mereka baikan?
"Kenapa sih kamu nolak lagi? Clau, kamu gak percaya sama aku? Lagian, mantan kamu banyak. Gak mungkin kan kamu cuma pegangan tangan doang sama mereka?"
"Kalau iya emang kenapa? Mau ngatain gue cupu! Biarin, musnah aja lu ke kandang singa! Dasar predator!"
"Dasar gak asyik. Padahal aslinya murahan, apa aku harus bayar biar kamu gak merasa rugi?"
Tanpa sadar, kemarahanku memuncak, membentuk piramida yang mana aku tak sanggup merobohkannya. Keterlaluan, tidak sepatutnya Ben yang merupakan mantan Claudia mengatakan hal se-mainstream itu. Aku bahkan agak menepi karena hujan makin deras saja.
Plak!
Aku kaget, membungkam mulut karena tak menyangka Claudia berani menampar mantan kampretnya. Bagus, Clau, lanjutkan, aku dukung!
Sejak tadi mereka tidak menyadari keberadaanku. Padahal aku hanya berdiri sekitar 8 meter dari mereka berdua. Oke, tak masalah. Lumayan kan nonton drama romansa di depan mata, live!
Mungkin banyak yang bertanya kenapa aku sebagai pria dan juga bos Claudia tidak melerai mereka. Yeah, aku hanya ingin melihat pria itu ditampar, ditendang atau apa saja agar kapok. Bukankah semua wanita akan berubah wujud saat dikata-katai murahan?
Ben benar-benar pergi, sempat melirik dan mengkerutkan dahinya. Mungkin sama kesalnya karena aku lagi-lagi hadir di antara mereka. Oke, aku saat ini memang bukan siapa-siapa bagi Claudia, tapi it's me boss. Lebih berkuasa dibanding siapa pun.
Claudia sempat menimpuk punggung Ben dengan remote TV-nya. Barulah dia sadar ada aku di hadapannya.
"Pak Adam? Sejak kapan pak Adam ada di sini?"
Tanganku memungut remote yang tadi melayang di udara, memastikan tidak rusak. Mungkin fungsinya akan sedikit berubah.
"Remote kamu. Gak apa-apa? Kamu diapakan sama dia?"
Claudia tidak menjawab, malah mementingkan apakah remote itu rusak atau tidak. Hello, apakah Claudia juga tidak peduli betapa cemasnya aku hingga rela ke sini dalam keadaan hujan begini?
Dia menyuruhku masuk. Aku hanya beberapa kali masuk ke tempat tinggal Claudia. Dia wanita yang rapi, lebih rapi daripada kak Citra yang bahkan sampai sekarang sering sembarangan melempar bra-nya ke sudut ruangan. Dasar, wanita gila!
"Mau minum apa, Pak? Teh aja kali ya, mumpung dingin-dingin gini."
Bertanya sendiri, menjawab sendiri. Sebagai tamu, aku hanya menganggukkan kepala dan menunggu sekretarisku kembali. Lima menit kemudian, aku cukup lega karena cara jalan Claudia tidak seperti robot.
"Diminum, Pak. Nanti kalau kurang manis ambil sendiri ya gulanya. Capek bolak-balik, tapi ngelihatin saya manisnya bakalan pas kok."
Dia meringis, menunjukkan deretan giginya. Oke, baiklah. Saran yang bagus, karena aku tahu Claudia memang punya lesung pipi sepertiku, memberi kesan cantik alami pada wajahnya.
Masih malu-malu karena ketahuan berdebat dengan mantan pacarnya. Entahlah, mungkin dia benar-benar baikan, atau tidak?
"Pak Adam lagi ngebatin soal saya dan masalah barusan ya?"
"Pede."
"Hanya menebak. Soalnya, tampang bapak sekarang ini sudah seperti orang yang pusing memikirkan bagaimana cara keluar dari ruangan rapat. Tidak sabar. Iya kan, Pak?"
"Sejelas itu ya?"
Claudia mengangguk, memainkan jari-jarinya. Mungkin dia juga sama pusingnya berhadapan dengan pria sekampret Ben.
"Sebelum saya menjelaskan sesi curhat, saya penasaran. Kenapa pak Adam bisa sampai di sini? Hujan-hujan begini?"
Aku masih memegang cangkir teh di tanganku, melihat ada gambar bunga tulip yang tercetak. Dulu sekali, saat aku pergi ke Belanda demi menemani papa, Claudia sempat meminta tolong membelikan apa saja yang berbentuk tulip. So, aku membelikannya cangkir dan bunga tulip palsu. Tidak menyangka sampai sekarang dia masih menyimpannya.
"Karena aku punya kaki, Clau, punya mobil. Kakiku bisa jalan, mobilku juga gak mogok. Wajar kan aku bisa sampai di sini, hm?"
Jawaban paling bodoh. Tentu saja aku tidak mau menyulitkan diri dengan memberitahu bahwa aku khawatir dengan keadaannya sekarang. Bisa-bisa dia kege-eran.
Karena dari pertama kenal sampai sekarang, harus kuakui Claudia punya benteng yang kokoh. Tidak pernah sekalipun meminta waktu berdua, seperti wanita-wanita kenalanku dulu.
Bukannya sok ganteng, hanya saja, memang seperti itu kenyataannya.
"Memastikan kamu baik-baik saja. Tadinya sih mau pulang, tapi terjeda karena lihat kalian bertengkar. Kamu diapain sama dia? Apakah kalian putus karena....?"
Tidak. Aku tidak sampai hati mengatakannya. Apa benar mantan kampretnya tadi meminta lebih pada Claudia. Meskipun dunia sudah tidak tabu akan séks bebas, tapi bagiku kehormatan wanita adalah segalanya. Beda lagi kalau sudah sah.
"Yeah, saya memang gak pernah lebih dari pegangan tangan, pelukan, kiss scene pun hanya beberapa kali dan tidak pernah lama. Dunia ini memang udah terlalu terbuka, tapi tidak dengan saya, Pak. Saya gak mungkin kan menahan seseorang untuk stay sama saya dengan menjual tubuh saya? Karena bagi saya, tubuh saya adalah hak saya seutuhnya."
Aku mengangguk setuju. Kupikir Claudia akan meraung karena patah hati, perkataan Ben tadi sangat keterlaluan, pria model begitu kurasa sangat tak pantas bersanding dengan Claudia.
"Bagus, kamu sekarang jauh lebih pemilih ya? Haha, ajaranku ada gunanya juga. Keren kamu, Clau." pujiku dengan tak sadar tanganku sudah mengelus bagian rambut belakangnya.
Wait, kenapa aku jadi kebiasaan menyentuhnya?