Gak Usah Balikan

1077 Kata
Satu hal yang ada di pikiranku sekarang adalah kenapa Ben datang kemari? Sepertinya alasan meminta hal lebih meskipun sudah tak pacaran bukan alasan yang masuk akal. Yeah, aku juga tahu modus-modus pria saat ngajak balikan. "Kamu kenapa bisa nerima tamu kayak dia sih? Bahaya, kamu ini wanita loh, Clau. Meskipun aku tahu, kalau saat kamu ngamuk mendadak jadi wonder women. Tapi ya balik lagi, Ben badannya lebih gede lebih kamu. Inget, kamu harus lebih hati-hati sekarang." Sepertinya aku merasa seperti ayah yang sedang memarahi anaknya. Claudia hanya mengangguk pelan sambil memanggil seseorang. Jadi, dia tidak tinggal sendiri. Dugaanku salah, ternyata Claudia tidak menyembunyikan seseorang. Hanya panggilan sayang terhadap hewan peliharaannya. Ya, kucing persia lucu, berbadan gembul dan berbulu lebat. Claudia memanggilnya Bona. "Usia berapa?" "Jalan 8 bulan, udah sebesar ini. Alasan utama saya membiarkan Ben masuk adalah, Bona adalah anak kami." "Anak kami?" Aku menelan ludah, rasanya terdengar aneh. Bagaimana bisa dua manusia memanggil kucing adalah keturunan mereka. Apakah zaman sudah berubah? Melihat wajahku yang heran, Claudia memangku Bona, kucing itu menurut, menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangan. Dih, emang ada masalah apa sih sampai segitunya? "Jadi, pas kita jadian itu saya sama dia memang sepakat beli kucing. Ben hampir setiap hari ke sini, saya terbiasa dengan kehadirannya. Sampai-sampai hubungan kami toxic, dia sering menuntut hal-hal di luar ekspektasi." Bona melompat lagi, kali ini aku agak menghindar karena Bona menjilati sepatuku. Dikira ikan kali ya? Bagiku, hubungan toxic adalah sampah yang tidak bisa dibuang sekaligus. Harus dibasmi sedikit sampai sedikit agar tidak terlalu berat di salah satu pihak. Meskipun aku benar-benar tidak pernah pacaran atau memiliki kekasih, setidaknya aku masih punya akal sehat. Bagaimana bisa seorang pria meminta hak yang bukan ranahnya. Oke, mungkin aku saja yang cupu karena masih perjaka. Ciuman saja tidak tahu bagaimana rasanya. Cemen kamu, Dam! "So, dia ngajak kamu tidur. Sorry, telingaku terlalu peka mendengar perdebatan rumit kalian." Claudia mengangguk lagi. Tidak malu mengakui pemaksaan tentang mantan pacarnya. Namanya Ben, pria yang mungkin usianya masih jauh di bawahku. Kata Claudia, dia adalah musisi tetap di sebuah cafe ternama di Bandung. Aku penasaran, aku juga punya suara yang lumayan. Tapi sampai sekarang aku belum pernah menyanyikannya untuk seseorang. "Jujur, Pak. Saya memang kuno, saya kolot dan membosankan. Makanya sampai sekarang saya sering diputuskan hanya karena mantan-mantan saya permintaannya aneh-aneh." "Gak kuno kok, mungkin aku lebih kuno dari kamu." "Masa sih, Pak? Bukannya banyak wanita yang mengajak anda berkencan? Ada lebih dari 5 wanita yang datang ke kantor, dan di antara mereka bahkan mengaku sebagai pasangan anda. Lalu, kak Citra juga bilang anda pernah beberapa kali dijodohkan." Sial. Sudah sejauh mana kak Citra membeberkan rumitnya kisahku dengan beberapa wanita pun temannya. Aku sebenarnya tidak masalah dengan usia, tapi terkadang saat aku menyanggupi kencan buta satu di antara mereka, tetap saja hasilnya tidak sesuai perkiraanku. Aku pernah kencan buta, nonton, dinner ataupun keliling Bandung. Hasilnya sama saja, tidak benar-benar fokus pada kencan yang kujalani. Malahan sering bosan karena mereka beraneka ragam sifatnya. Ada yang penuh ragu-ragu saat mengatakan sesuatu, makannya terburu-buru, dikejar waktu dan sama sekali tidak bicara pun ada, hanya mengangguk saja saat kutanya. Tentu saja aku bosan. Mana ada kencan model begituan? Aku hanya meminta satu hal sederhana soal pasangan. Ingin berpasangan dengan wanita yang tidak merasa aku ini masalah, tapi anugrah. Bisakah kutemukan seseorang seperti itu? Kembali pada kisah Claudia dan Ben. "So, selama ini pak Adam gak pernah, hmmmm?" Claudia menggantung pertanyaannya. Clau, Clau, gak enak tahu digantung kayak jemuran. "Enggak pernah. Beruntunglah nanti saat aku mengajak wanita menikah, aku pria yang terlahir suci dan menggemaskan, kayak kucing kamu." Dia tertawa, sesekali melihat ke arah jendela. Memastikan bahwa hujan sedikit mereda. Ah, aku sampai tak sadar sempat kehujanan. Untungnya blazerku cukup tebal dan hangat. Sehangat senyum Claudia sekarang. Merasa tak enak karena sudah malam, akhirnya aku pamit. Claudia masuk ke kamarnya dan mengambil payung hitam. Kami berjalan berdua di bawah teduhan payung menuju mobil. Mungkin Claudia tidak mau kehujanan. Aku buru-buru masuk, kubuka kaca jendela dan melihatnya masih berdiri. "Dia tahu kode sandi apartemenmu?" "Siapa?" "Ben, siapa lagi, masa iya Bona?" "Ah, itu. Enggak sih kayaknya. Kenapa, Pak?" "Ganti, siapa tahu dia memata-mataimu kan? aku yakin, pria seroyal itu pasti tidak menyerah dengan keinginannya. Baginya kamu sasaran empuk, Clau." Sekretarisku tersipu malu. Aku juga tidak merasa sudah menyihirnya dengan kata-kata manisku. "kok senyum sih, aku gak ngasih perhatian lebih, cuma mau kamu aman saja. Tahu kan, susah nyari sekretaris serapi kamu." Claudia hanya mengangguk lalu berjalan dan berhenti tepat di depan pintu apartemennya, melambaikan tangan dan memantauku untuk benar-benar pergi. *** Bersyukur rasanya masih bernyawa sampai hari ini. Aku sedikit mengeluh dengan tumpukan berkas di mejaku. Gila, rasanya sudah seperti maraton bekerja tiga hari tiga malam. "Pak Adam, laporan tanggal 27 November sudah siap diserahkan? Saya sudah mengingatkan via chat semalam." Aku tidak menjawab, tapi segera mencari dokumen yang dimaksudkan Ulie, salah satu pegawai HRD yang memang selalu bertanggungjawab pada pegawai pendatang. Kebetulan sekali, hari ini ada sesi interview penerimaan mahasiswa magang. Aku membuka peluang bagi mereka yang punya bakat khusus di bidang design karena tim di perusahaanku kekurangan staf. "Sudah. Kamu siapkan saja ruangannya, cukup beberapa orang saja. Diatur sesuai urutan kapan mereka mengirimkan data diri, oke? Sepuluh menit lagi saya sampai." Ulie mengiyakan perintahku. Kurebahkan sebentar punggung yang sudah butuh belaian ini. Membayangkan ada sentuhan pijatan plus-plus dari istri, pasti makin betah di kantor. "Pak Adam, boleh saya masuk?" ucap Claudia dari balik pintu kaca ruanganku. Sudah sering bersamanya, aku sampai-sampai hafal apa yang dia bicarakan meskipun sebenarnya suaranya tidak terdengar karena tersekat kaca. Sudah dua hari ini Claudia berangkat kerja, dia juga sama sibuknya denganku. Memilah pertemuan mana yang harus diutamakan, cabang mana yang harus dikembangkan, produk mana yang harus paling awal dipublikasikan, keuntungan mana yang harus aku diskusikan dengan para petinggi perusahaan. "Apa, Clau?" Aku memangku dagu, memainkan bolpoint yang harganya sama mahalnya dengan skincare Claudia. "Hhhhmmmm, saya diganggu Ben lagi, Pak." ucapnya ragu-ragu. Mungkin seharusnya yang aku tanyakan adalah kenapa dia memberitahuku, terus aku harus apa? Berlagak jadi superhero bertopeng emas dan menjadi pahlawan tanpa tanda jasa? Seharusnya aku memang bersikap begitu bukan? Tapi nyatanya tidak, nyatanya sekarang aku malah sama paniknya dengan Claudia. "Kali ini dia ngapain?" "Dia memaksaku membuang Bona atau menjualnya. Dan saya gak bisa jauh-jauh dari Bona. Cuma kucing itu satu-satunya teman yang saya punya di Bandung." Ya Tuhan, kupikir masalah yang sama. Tanpa pikir panjang, aku pun menawarinya permintaan. "aku akan membelinya, tapi kamu harus merawatnya dengan datang ke rumahku setiap hari."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN