Mengangkat anak?

1098 Kata
Nyatanya, kupikir merawat Bona semudah di bayanganku. Ini adalah weekend, dan aku sebisa mungkin menikmati hari liburku dengan bersantai di rumah. Untung sekali gak ada kak Citra di sini, setidaknya telingaku akan aman seharian. Aku adalah pria yang menyukai kedamaian. Merasa baik-baik saja saat berada di tempat yang sepi, apalagi sejuk. Bandung salah satu tempat di mana aku bisa mengalahkan segala masalah yang berkaitan dengan kantor dan juga kisah hidupku. "Den, ada tamu. Sepertinya wanita yang pernah menginap di sini." Ah, bisa ketebak itu adalah Claudia. Dia memang berjanji padaku untuk datang tiap hari karena sudah menitipkan kucingnya di sini. Daripada dia diancam terus-terusan oleh Ben, mantan pacar yang banyak maunya itu, mendingan dia menitipkan si sumber masalah di rumahku. Aku memang bukan pecinta hewan, tapi sifat perbinatanganku tidak usah diragukan. Aku sering memberi makan kucing-kucing di jalanan yang kadang kelaparan atau tidak sengaja terlempar ke got. "Wah, sepertinya Bona betah di sini ya, Pak?" ucapnya sembari mendekat. Aku sedang duduk tenang, membaca buku bisnis, sembari menikmati kopi buatan mbok Lilis. Kulirik penampilannya kali ini, jauh lebih manusiawi. Setidaknya Claudia tidak memakai pakaian minim yang akan memperlihatkan paha mulusnya. Bukannya aku mata keranjàng, hanya saja, hormonku masih di atas kata normal. Aku pun sudah biasa bertemu dengan banyak wanita yang pakaiannya seperti kurang bahan. Claudia mengeluarkan sesuatu dari tote bag yang dia bawa, sepertinya makanan kucing. Dengan penuh perhatian dia mengulurkan tangannya ke arah Bona. "Ben sudah tidak ke apartemen kamu lagi kan?" "Enggak, Pak. Sepertinya dia salah paham, tapi syukur deh. Saya malah merasa aman dengan kesalahpahamannya." Aku mengkerutkan kening tak mengerti, maksudnya apa? "what? Apa yang membuat dia salah paham? Salah paham apa memang?" Claudia masih sibuk mengelus Bona, selayaknya seorang mama muda yang bertemu dengan anaknya. Kangen yang mungkin saja tak mampu diutarakan. "Maaf banget, Pak. Saya bingung cara ngejelasinnya, tapi, saya ngaku kalau kita punya hubungan." Sekretarisku melipat bibir, ragu. Takut aku akan marah dengan keputusan asalnya, padahal, menurutku tidak buruk-buruk amat. Selama aku butuh Claudia sebagai sekretarisku, aku tidak merasa terbebani dengan apa pun yang diakuinya tentang kita. Toh, ini bukan pertama kali ada yang salah paham tentang kita. Lebih dari sepuluh orang yang menuduh kalau aku dan Claudia lebih dari kata atasan dan bawahan. Ah, lucu sekali mereka. "It's okey, Claudia. Selama itu membuat dia tidak mengganggu kamu lagi itu tidak masalah. Toh, aku jomblo nggak akan ada yang cemburu." Claudia bernapas lega, ikut duduk agak menyerong. Kini tatapannya tengah fokus padaku yang masih sibuk dengan mengaduk kopi. "Pak Adam kenapa betah jomblo sih?" Aku terbatuk-batuk mendengar pertanyaannya, "bukannya kamu tahu alasannya?" Dari dulu, saat aku masih sangat payah mengelola perusahaan Claudia memang sudah bersamaku sampai sekarang. Dan hari ini mungkin dia memberanikan diri untuk bertanya kenapa aku masih sendiri dan sangat santai dengan status lajangku. Aku sengaja mempelambat waktu, menyeruput kopi hitam yang kubeli dari kedai tempat Dewita bekerja. Meskipun tidak bertemu dengannya langsung sih. "Karena, dari dulu aku kan nyaman sendiri. Kamu tahu kamu aku sedikit introvert kepada orang-orang?" Merasa aneh, Sepertinya Claudia tidak percaya dengan jawabanku. Kepalanya sedikit menyerong, dengan wajah penuh minat. Jujur itu membuat aku sedikit tidak nyaman. "Rasanya, aneh sih, Pak. Pak Adam ganteng, mapan, juga banyak skill. Kemampuan juga gak usah diragukan, rasanya aneh aja masih jomblo. Minimal pernah nge-date lah, ini mah enggak." Sialan. Ejekan Claudia seakan membusur panah sampai ke sel-sel tulangku. Mungkin, di zaman serba milenial seperti sekarang, jomblo adalah masalah yang sangat memprihatinkan. Bersama siapa pun, pasti di otak mereka selalu penasaran kenapa seorang pria tampan bernama Adam sampai sekarang tetap saja single. Aku juga punya rasa ingin kencan buta, diperhatikan oleh pasangan, merasakan gugupnya saat saling tatapan, dan juga bisa melihat notifikasi ponsel dengan ucapan kalimat sayang. "Nanti juga, kalau sudah waktunya aku bakalan punya pacar, Clau. Iya deh iya, soal pacar kamu memang juara. Mantan kamu banyak, tapi Clau, Mulai sekarang kamu harus lebih rinci pilih soal pria. Minimal yang punya pandangan buat nge-halalin kamu." titahku. "Memangnya, sekarang aku haram ya, Pak? Pakai harus dihalalin segala?" candanya. Claudia sengaja memancing kesabaranku dia memang sering bercanda. Padahal saat di kantor Claudia terkenal dengan sebutan killer woman. Selalu membuat lawan bicaranya selalu kalah, karena dia memang cerdas saat melawan argumen orang. Melihat dia terus menertawakan pernyataanku tadi, aku tak tahan dan menarik kursi yang didudukinya sampai-sampai membuat wajahnya tak sengaja tersentuh oleh rambutku. Karena tak peduli oleh wajahnya yang seketika merona, aku tetap mendekat. Kubisikkan kata tepat di telinganya, "halal di sini adalah, di mana seorang pria bisa menyentuhmu kapan saja, tak terbatas waktu dan aturan. Claudia, meskipun aku enggak pernah pacaran bukan berarti bosmu yang katanya tampan ini gak sanggup ngehalalin kamu." Dia mendaratkan tangannya tepat di dadàku, mendorong agar aku segera menyingkir dari hadapannya. Ya, inilah Claudia. Meskipun cerewet dan selalu bikin pusing, tapi dia punya pesona dan aura yang membuat siapa pun termasuk aku menyukainya. "Pak, please deh! Jangan mudah modusin orang, pamali. Kan Pak Adam sendiri yang bilang gak bakalan mau nikah sama saya, saya juga punya pendirian sendiri kok kalau saya juga nggak mau nikah sama orang kaya pak Adam." Dia kembali fokus dan menggendong Bona, sudah seperti anak sendiri. Sepertinya, sentuhanku tadi memang tak pernah mempan membuatnya terpancing ataupun tergoda. Adam, kamu sangat payah! *** Ya, seperti biasa. Selain weekend, pekerjaanku hanya di kantor. Bertemu orang-orang di sana termasuk Claudia. Kulirik Bona yang membuntuti persis di kakiku. Sepengetahuanku, kemarin dia tidak lengket seperti ini denganku. "Boy, aku harus berangkat kerja. Mamamu sibuk dan akan mampir ke sini nanti setelah pulang kerja. So, kamu betah-betah ya di rumah." Aku berjongkok dan mengelus bulunya, ada kalung yang mengendur, terukir nama Bona. Aneh, sejak kapan aku menyebut Claudia sebagai mama? lalu, siapa papanya? Ben? No, aku sangat tidak setuju semisal mereka berpasangan kembali. Toh, sekarang Ben tahunya aku adalah pacarnya Claudia. Dan anehnya aku merasa tidak terganggu sama sekali dengan pernyataan itu. Kalau ditanya apakah aku menyukainya, aku akan menjawab sebagai pria biasa. Oke aku akui kalau dia memang menarik, dan tentu saja aku menyukainya. "Den, tadi mbok Lilis sudah siapin bekal." Suara pembantuku membuat lamunanku terpecah, aku segera mengenyahkan pikiranku semisal menjadi kandidat pria yang mendekati sekretarisku sendiri. "Loh, kok dua kotak?" tanyaku heran. Terkadang, aku memang meminta mbok Lilis untuk membuatkan bekal, apalagi aku tak ingin setiap hari ke kedai tempat Dewita bekerja, karena aku sering diajak beberapa teman di kantor ke sana. Sepertinya, alasan aku membawa bekal makanan adalah alasan paling logis untuk menolak ajakan mereka. "Oh, yang satunya buat non Claudia. Hehe." Mbok Lilis berlalu begitu saja, tidak menunggu apakah responku setuju. Tapi tak masalah, tak perlu alasan untuk bersikap baik terhadap seseorang bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN