Aku Juga Bisa Perhatian

1070 Kata
Buru-buru sampai ke ruang kerja, dari dalam ruangan aku melihat Claudia yang tengah fokus pada komputernya. Jujur saja, dia memang sangat berbeda 360° saat tengah bekerja, terlihat lebih manusiawi dan serius. Sangat berbeda saat tengah diajak mengobrol apalagi masalah percintaan. Selalu saja agak lebih plin-plan, mungkin efek sakit hati selalu membuat beberapa orang ngeblank. Aku pun juga begitu dulu, saat masih menyimpan rasa dengan Dewita. Aku memanggilnya lewat telepon, mengkode agar dia masuk ruangan. Ada titipan dari mbok Lilis, takutnya makanan buatan beliau akan cepat dingin. "Ada apa, Pak Adam? Bukankah rapatnya dilaksanakan nanti setelah makan siang?" tatapnya yang terlihat agak awut-awutan. Baru kali ini dia lupa menguncir rambut, namun beberapa pria akan menganggap Claudia terlihat sangat seksi. "Sini sebentar, aku ada sesuatu untuk kamu." Wajahnya langsung sumringah karena memang, kata 'sesuatu' terdengar ajaib untuknya. Claudia mendekat, memasang mimik menunggu diberi kejutan. Tanganku mengulurkan bekal nasi dari mbok Lilis, yang memang sama persis dengan makananku. Ah, rasanya seperti kembaran saja. Dia seolah tak percaya mendapatkan bekal makanan, layaknya anak SD yang antusias menerima bekal dari salah satu temannya. Memang sih, urusan makan, Claudia juaranya. "Pak ini...?" "Dari mbok Lilis, bukan dariku. Ya kali, aku mau repot-repot membuatkan makanan untukmu. Pagi-pagi ke dapur, potong-potong cabe. Stop, jangan mengkhayal yang halu-halu." ungkapku realistis. Yeah, terlepas kita adalah rekan kerja terbaik, aku tidak ingin sepersen pun memberi harapan pada Claudia. Jangan sampai kebaikanku selama ini disalahartikan. Cukup, aku hanya bosnya. Dan dia adalah sekretarisku. Only that. Claudia pun merasa setuju, memilih membuka dan mulai memakan makanannya. Tidak merasa bersalah dan mengganggu aku yang notabennya memang belum membuka bekal makanan milikku. Mungkin karena saking biasanya dia makan denganku, minder pun pasti tidak terasa. Claudia sudah terlanjur terbiasa adanya aku di sisinya. Cara makannya memang enak dipandang, bahkan aku yakin, siapa pun yang melihatnya saat ini akan ikutan kenyang. Claudia tidak pemilih makanan, wanita omnivora, dan kadang saja saat makan denganku dia tidak jijik makan sisa makanan kami. Haruskah aku bersyukur punya partner kerja terbaik berwujud Claudia? *** Mataku terus terpaku pada pak Viktor, salah satu tamu terbaikku. Ya, dia memang sering memberikan penawaran saat ada job dari kenalannya untuk memakai jasa villa kami sebagai tempat suatu event. Kadang saja, gara-gara direkomendasikan, villa yang belum dua tahun dibangun semakin dikenal banyak orang. "Kali ini sih temanya ala anak muda, khas party to night, Pak Adam. So, saya ingin memakai villa pak Adam khusus malam hari, ada pertemuan khusus dengan salah satu model. Lumayan booming dan trending di media. Sebentar," imbuhnya. Pak Viktor mencari file komputernya dan mengarahkan pada layar. Menampilkan foto seorang model yang baru-baru ini dikenal masyarakat sebagai bintang kesayangan emak-emak. Namanya Eric Sebastian, pria yang memang sekarang mengambah dunia model. Dulunya sih, aku tahu dia adalah bintang iklan minuman stamina. "Pak Adam kenal dengan Eric?" tanya Fandy, manager perusahaan. Aku mengangguk. Meskipun aku ini tidak begitu update tentang dunia millenial, aku gak buta-buta amat kali, aku aja tahu kalau Lesti-Billar nikah dan trending di Youtubé. Akhirnya pihak perusahaan kami setuju, setidaknya dengan ini, Villa Atmaja Family's akan semakin dipandang baik. Bagaimanapun juga, ini adalah target bulan ini di otakku, aku ingin semua usaha papa maju. Dan syukurnya, semesta selalu setuju dengan usahaku. Pak Viktor menyalamiku, beliau adalah salah satu kenalan papa yang kini juga menjadi kenalanku. Meskipun usia kami memang tidak bisa dikatakan cocok untuk berteman, nyatanya, pak Viktor sangat profesional dan tidak membeda-bedakan. Ruangan ini kembali sepi, tadi memang hanya ada sekitar 7 orang yang ada. Dan kini, hanya ada aku. Ah, dugaanku salah. Mataku menangkap Claudia yang tengah mengambil minuman dari dispenser. Aneh, ruangan ber-AC kenapa kepanasàn? "Kamu habis jalan-jalan di gurun, kok kehausan gitu?" Aku ikut berjalan ke arahnya, bukannya ingin dekat dengannya, aku juga haus. Apalagi, tadi minuman di dekatku memang sudah habis. Dia belum sempat menjawabku. Dan, kurasa dia sengaja membuatku mengantri minuman. "Ah, leganya. Pak Adam mau saya ambilkan?" alisnya naik turun, menantangku. "Iya. Tapi sedikit saja," Claudia memencet tombol, memberikan gelas kaca. "silakan diminum, pak bos." Aku minum, dengan masih melihatnya senyam-senyum. Nah, gini nih yang membuatku curiga. Tatapan seperti ini adalah tatapan Claudia yang biasanya sedang jatuh cinta. So, kali ini dengan siapa? Pria belahan dunia mana yang membuat si kelap kakap yang mahir jatuh cinta terperangkap? Apa pak Viktor? No, gak mungkin. Aku sangat tahu selera Claudia. Apa Fandy? Enggak, aku pun tahu Fandy sudah bertunangan dengan Cecilia, rekan satu timnya. "Kamu lagi kesem-sem sama siapa?" "Kok Pak Adam tahu?" jawabnya malu-malu. "Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk gak tahu apa-apa tentang kamu. Clau, ingat kan, nasihatku? Jangan gampang kerayu sama buaya." Dia malah berjalan menuju pintu, seakan enggan menganggap nasihatku sebagai bentuk kepeduliaan. Toh, aku hanya berniat menasihati, bukan peduli. "Jujur, Eric itu salah satu artis pendatang baru yang fotonya jadi koleksi di galeri ponsel saya, Pak. Dan tadi, saya seneng banget, akhirnya kita gak bekerja sama dengan orang-orang aneh." "Aneh?" Claudia mengangguk. "Iya. Pak Adam ingat, Kejora Management? Iya sih, tahu kalau itu agensi baru. Tapi, artisnya songong banget. Makan harus ala-ala Jepang, mereka lupa ya, Indonesia dulu dijajah sama negara mana?" Aku tersenyum dengan leluconnya. Ingat sekali saat Claudia ngambek dan tak mau mengikuti jalannya kontrak dengan Kejora management. Agensi yang berasal dari Jakarta. Seingatku, kebanyakan artis ataupun model dari mereka memang banyak maunya. Ah, kali ini aku setuju dengan Claudia. "So, kamu mau bilang kalau ini adalah kesempatanmu untuk bisa berkenalan atau bahkan dekat dengan Eric?" tanyaku langsung ke intinya. Lagi-lagi, sekretarisku memamerkan giginya. Mengacungkan dua jari, tanda peace. Oke, ini sih betulan kalau Claudia menjadikan Eric adalah sasaran kandidat pacar selanjutnya. Gila sih, gampang sakit hati tapi gampang jatuh cinta pula. "Pak, do'ain saya ya. Dari dulu, orang tua saya ingin banget anaknya bisa punya suami yang mapan, tapi kan pak Adam gak mau sama saya. Ya udah, mumpung ada angin segar di depan mata, sekalian dong diembat. Kalau jodoh ya itu rejeki plus banyak bonus buat saya. Saya permisi ya, Pak. Fighting!" Claudia sudah menutup pintu, aku sedikit tersenyum. Mengaminkan doa kecilnya, tapi, tidak dengan hatiku yang sedikit tidak dia mendapatkan pria yang tidak kutahu seluk-beluknya. Aneh, apa yang terjadi dengan perasaanku? Kenapa dari dulu aku sedikit saja tidak pernah rela kalau ada pria menyakiti wanita itu? Rasanya, aku ingin mencari jawaban tapi takut memulainya dari mana ataupun mengawalinya seperti apa. Yang bisa kulakukan pada Claudia ketika dia kecewa karena dihancurkan oleh pria yang salah adalah mengatakan kalau kalau kalau dia akan selalu baik-baik saja setelahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN