Jangan Pulang Kampung Dulu

1054 Kata
Kekaguman Claudia terhadap Eric semakin menjadi-jadi, bahkan saat ikut makan siang dengan beberapa kenalan perusahaan, bisa kurasakan tatapannya tengah mendambakan seseorang. Apakah sebegitu menariknya pria yang umurnya sama denganku itu? Kenapa di dunia ini tidak ada yang membully-nya padahal dia juga masih lajang? Dunia selalu pilih kasih! "Lagi pms kamu, Dam?" Aku terpengarah mendengar panggilan kak Citra. Ya, dia sedang mampir ke ruang kerjaku, mengganggu, memberi pengaruh tentang istri ataupun saran kencan buta. Hampir setiap bertemu, selalu pembahasan itu-itu saja yang diangkat. Membosankan. "Gak juga, banyak pekerjaan. Gak usah nambah-nambahi beban." "Kan Kakak cuma nanya. Siapa lagi coba wanita yang bakalan merhatiin kamu selain aku?" "Please, skip topik. Aku sangat tahu kalau Kak Citra akan membahas tentang pernikahan lagi. Again? Sorry, gak mempan." Kak Citra terlihat menikmati milshakenya, memesan dari tempat Dewita bekerja. Di sana memang tidak hanya kopi saja sih. Kabar baiknya, aku sudah lebih berani berhadapan ataupun semisal berpapasan dengannya. Kupikir, efek ditolak sebelum berkencan akan sakit. Tapi nyatanya, sampai hari ini aku tidak menangis. Pantang bagiku menangisi seseorang yang memang belum punya peran penting. "Kak, tahu model Eric nggak?" "Tahu. Yang badannya kayak Gong Yoo itu kan?" "Gong Yoo?" Sebentar. Terdengar tak asing. Ah, ya ampun. Aku baru ingat, pria yang menjadi pemeran di film Train To Busan. Gila, enggak! Aku sama sekali gak setuju. Kalau dibandingkan denganku, baru aku setuju. "Kurus gitu. Bagusan aku ke mana-mana kali. Cewe tuh memang selalu pilih yang good looking doang." "Kata siapa? Gini ya, Dam. Tahu kenapa cewe kalau pacaran pilih yang dari tampang doang? Karena, bagi mereka disakitin cowo ganteng itu gak rugi. Masih ada manis-manisnya dikitlah. Ya kali, udah sakit hati, cowonya burik. Kan double apes." Kak Citra ada benarnya juga. Setidaknya akan ada perasaan lumayan lebih baik karena merasa perjuangan para cewe menenangkan hati mereka sendiri akibat pria tampan. Aku kembali fokus, membiarkan kak Citra dengan kuku-kuku lentiknya yang entah memakai apa. *** "Apakah tidak sebaiknya menggunakan latar dengan tema serba putih? Bukannya ini ide buruk, tapi warna merah di malam hari terkesan menantang." tolak Eric. Model itu memang datang sendiri ke tempat kami, Villa Atmaja. Villa yang memang masih dalam tahap pembangunan. Hanya menampilkan aset di bagian depan. Bagian belakang Villa masih jauh dari kata indah. Tapi karena Bandung adalah kota yang sejuk, mendamaikan setiap pendatang. Villa ini terasa menjadi tempat untuk sekedar merileksasikan otak. "Ini hanya saran sih. Soalnya, even yang digelar memang outdoor prom night. So, pasti pak Adam tahulah apa yang ada di otak saya." "Kita seumuran, pak Eric. Mungkin, kalau tidak keberatan anda bisa bicara santai dengan saya." "It's okay. Jauh lebih baik malah. Bagaimana kalau, Adam?" "Terdengar enak. Haha." tawaku palsu. Dari tadi, aku melihat banyak pegawai di sini yang curi-curi pandang ke arah Eric. Seolah tengah melihat Lee Min Ho di sini. Dasar, lihat yang bening aja, jelalatàn. Pun tak ketinggalan dengan tatapan Claudia. Bahkan, kulirik dia yang sengaja membidikkan kameranya ke arah Eric. Dia nggak tahu kalau memotret orang tanpa izin adalah tindakan kriminal? Setelah deal, pak Victor, Eric dan asistennya pergi dari hadapanku. Aku tetap memasang wajah sok sempurna, seolah sangat antusias bekerja sama dengan model juga aktor paling hits seperti dia. "Kamu sampai kapan mau ngelihatin orang yang udah masuk ke mobil?" tanyaku ke arah Claudia yang masih gigit jari dengan kepergian Eric. Claudia berdeham. Malu karena ketahuan. Detik berikutnya, dia berjalan terlalu cepat. Terburu-buru karena menerima telepon. Di Villa ini, hanya ada beberapa pegawai yang kukenal. Bahkan, dari semuanya, aku masih sering melihat tag name yang tertempel pada pakaian seragam mereka. Kuikuti Claudia, setidaknya aku masih punya kewajiban untuk mengajaknya makan siang. Kuperhatikan dia yang tetap berdiri, mengangguk-angguk, mengiyakan semua perintah dari seseorang yang menelponnya. "Oke, Ma. Nanti Clau lihat dulu deh jadwal. Mama sih, dadakan. Kan rencanaku pulang dua minggu, masa aku harus libur selama itu? " "Bosmu pasti ngerti, Sayang. Kamu ini anak mama yang jarang ada di rumah. Pulang cuma pas mama sakit, kamu udah nggak sayang lagi sama mamamu ini? Jangan kerja terus. Nikah, kamu harus mikirin itu juga." Ternyata tidak cuma aku saja yang dituntun perihal pasangan. So, kenapa semua orang tua sangat takut anaknya jomblo? "Ma, Clau sangat capek banget. Oke, Clau bakalan pulang. Tapi, jangan ungkit masalah nikah ya? Karena apa, sampai sekarang hati Clau itu belum pernah bisa sepenuh hati sama satu pria." "Anak mama mau jadi buaya betina?" "Bukan itu. Mama ih, jahatnya. Maksud Clau, belum ada yang sampai nyaman banget. Mikir masa depan bersama. Nanti deh, Clau juga punya cita-cita jadi seorang istri, punya keluarga dan anak. See u, mama. Salam ke kak Afgan ya, miss level more." Klik. Nada terputus membuatku sadar, sejak tadi aku sudah tak sopan mendengar obrolan antara anak dan ibu yang sedang kangen-kangenan. Ah, ralat. Maksudku, seorang anak dan ibu yang mendiskusikan tentang perihal suami. "Kasus kita sama ya?" Claudia menoleh. Kaget. Dahinya mengkerut, seolah bertanya sejak kapan aku ada di belakangnya. "Aku sejak tadi di sini dan maaf, tak sengaja mendengarkan percakapan tentang orang tua yang menuntut kamu masalah merried. So, nasib kita sama, Clau. Kamu gak sendirian." Masih memasang muka sebal. Seolah malu rahasianya didengar, dia mendekat dan refleks memukul lenganku. "Ih, iseng. Gak sopan tahu, Pak. Ya namanya cewe, usia 20 an pasti ditanya gak jauh-jauh soal nikah. Tapi, tetap ya. Saya marah sama pak Adam yang udah nguping." "Silakan. Saya juga marah sama kamu karena memotret Eric diam-diam. Gak baik mengambil gambar seseorang tanpa izin, Clau." Bukannya merasa bersalah, atau khawatir akan kulaporkan. Claudia malah nyengir kuda. "habisnya, mubadzir aja. Ih, gak nyangka dia lebih ganteng dilihat dari dekat. Apalagi besok pas acara. Beuh, pakai tuksedo, tubuhnya wangi. Jalannya penuh kharisma." "Dia gak ada apa-apanya tuh sama Masimo di film 365 days." "Ya ampun, Pak Adam nonton film itu?" Aku menangguk. Iya sih, agak panàs dan penuh adegan ranjang. Tapi, tidak terlalu menggairahkan. Hanya saja, bagiku aktor prianya memang tampan. Aneh bukan? Pria tampan memuji pria tampan lainnya? Tapi memuji Eric? No, aku gak setuju sama sekali. "Pasti Pak Adam tontonannya yang begituan ya?" tuduhnya macam-macam. Bahkan, jari telunjuknya mengarah ke arahku. "Clau. Film kayak gitu, gak terlalu tabu. Oh iya, kamu tadi mau pesan tiket kereta. Mendadak ya acaranya? Kamu mau pulang ke kampung halaman?" Tatapannya berubah. Seakan tak ikhlas untuk sekedar bilang iya. Harus diakui, di balik kecerewetannya, Claudia selalu tak pernah bisa bertopeng di hadapanku. Dia, hanyalah dia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN