Bab 10

1994 Kata
"Biasalah. Mereka kan selalu benar," ucap Icha. "Iya. Tapi kan harusnya mereka berpikir. Mereka menghukum muridnya, tapi lupa dengan kesalahannya sendiri. Mereka seperti tak punya perasaan. Andai saja peran kita bisa berganti dengan mereka walau cuma satu jam saja, mungkin mereka akan tersadar apa yang salah tentang tindakan mereka selama ini," ucapku panjang lebar lagi. "Iya juga sih. Tapi kenapa jadi dramatis kayak gini, ya? Haaaa.... gue tahu. Lo sama Daniel kan habis dihukum Pak Handoko," ucap Icha. "Cih, itu juga salah lo," ucapku menyalahkan. "Kok jadi salah gue?" protes Icha. "Iya lah. Coba aja semalem gue gak nginep di rumah lo dan gak lo suruh pulang waktu shubuh tadi, mungkin gue gak akan telat sampai ke sekolahnya," balasku. "Heleh, kayak biasanya gak telat aja," ucap Icha. "Tali suka kan, dihukum bareng Daniel?" goda Icha. Sial! Kenapa Icha membahas soal itu di depan banyak orang? Ah, menyebalkan sekali memang sahabatku yang satu ini. Aku tak menjawab. Bola mataku bergerak mencari bahan untuk kujadikan pengalihan pembicaraan, dan beruntungnya tak butuh waktu lama aku pun mendapatkannya. "Woi, lo yang di pojokan," panggilku tanpa adanya unsur kesopanan sedikitpun. "Gue?" tanya Dendi menunjuk dirinya sendiri. "Ya lo lah. Masa tikus got," jawabku. Sontak itu menimbulkan tawa dari teman-teman yang lain. "Hmm... ada apa Shela sayang?" tanyanya lembut. "Lo berani gak main catur sama gue?" tantangku. Ya, sebenarnya Dendi kini sedang bermain catur bersama Arif, salah satu anggota geng usil pojokan juga. Aku terpaksa menantangnya bermain catur demi menyudahi pembicaraanku dengan Icha. "Eh, dijawab dulu. Malah mau main catur," ucap Icha. "Halah, nanti aja," ucapku. "Woi, lo berani gak, sih?" tanyaku pada Dendi. Kulihat Dendi yang nampak mempertimbangkan tantanganku itu. Ia membicarakan hal itu pada Arif. Entah apa hal yang ia bicarakan itu, aku pun tak tahu. Aku hanya bisa menunggu dengan sabar sambil terus berusaha mengabaikan ocehan demi ocehan dari Icha. "Ya, hayuk, lah," ucap Dendi. Aku tersenyum. Mungkin baru kali ini aku menghadiahkan senyuman kepada manusia super resek yang bernama Dendi itu. Kakiku melangkah dengan sendirinya untuk menuju ke arah Dendi. Sebuah pojokan yang tiap harinya kusebut tempatnya para setan, dan sekarang aku akan menjadi bagian dari mereka. "Woi Shel, pembicaraan kita belum selesai!" teriak Icha, tapi tetap tak kuhiraukan. *** Bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Aku berjalan sendirian untuk menuju kantin. Hatiku menolak untuk bersama Icha, karena aku tahu gadis blasteran itu nantinya pasti akan menanyakan semua tentang hubunganku dengan Daniel, dan entah kenapa aku sangat malas menanggapinya. Beruntungnya tadi aku diselamatkan oleh sang manusia usil yang paling kubenci di kelasku. Dia bersama papan caturnya telah membuatku bisa lolos dari introgasi si gadis blasteran itu. Dan kini mau tidak mau aku harus tetap menghindarinya. Walau kutahu aku tidak bisa lama-lama menghindar dari dia, tetapi setidaknya untuk kali ini saja aku bisa melakukan hal itu. Rasanya hari ini aku sangat kesal. Mungkin karena penat akibat dihukum oleh Pak Handoko tadi pagi. "Mbak, nasi pecel satu, bungkus," pesanku pada Mbak Ika. Suasana kantin saat ini cukup ramai. Banyak murid yang berebutan untuk terlebih dahulu memesan. Sementara tak sedikit pula dari kalangan murid laki-laki yang sedang menjalankan misi rahasianya, yaitu menggoda sang penjaga kantin cantik itu. "Iya, sebentar, Shel," jawab Mbak Ika sambil sibuk melayani para pembeli. "Gue dulu, Mbak," ucapku. Sontak aku langsung dihadapkan dengan lirikan tajam para pembeli yang lain, terutama yang perempuan. "Apa lihat-lihat? Nggak terima?" tanyaku pada salah satu dari mereka yang nampak sangat culun. "E-enggak apa-apa kok, Shel," jawabnya agak ketakutan. "Nah, gitu kan enak," ucapku sambil menepuk-nepuk bahunya. Tak lupa aku juga memberikan senyum termanisnya. Aku sebenarnya kenal dengan si gadis culun itu. Tidak, lebih tepatnya hanya sekedar tahu. Dia juga masih kelas 10. Hanya saja kami berbeda kelas. Aku tidak tahu namanya, tapi sepertinya dia tahu namaku. Bukan maksudku untuk bertindak keras kepada orang yang tidak bersalah sepertinya. Andai suasana hatiku sedang baik, kupastikan aku tidak akan melakukan hal itu. Tapi sekali lagi, itu kalau tidak khilaf. Saat kubentak si gadis culun yang tak punya keberanian itu, yang lainnya hanya memutuskan untuk diam melihat apa yang aku lakukan. Aku tidak peduli itu. Menurutku itu malah bagus. Dengan begitu aku tidak perlu mengeluarkan tenagaku lagi untuk melawan mereka semua. "Mbak, yang enak ya, buatnya!" perintahku pada Mbak Ika. Kulihat penjaga kantin yang cantik jelita itu menampakkan raut wajah kesalnya. "Iya, iya. Nggak usah bawel, deh," ucapnya. Aku tertawa kecil melihat ekspresi Mbak Ika yang nampak kesal itu. Tak ingin membuatnya semakin kesal, aku memutuskan untuk menunggu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Akan tetapi lagi-lagi proses menungguku itu diganggu oleh para makhluk tidak tahu diri yang disebut dengan laki-laki. "Hey, makin cantik aja," ucap seorang laki-laki yang merupakan kakak kelas, tapi lagi-lagi tak kuketahui namanya. "Hm, Lo juga, makin jelek aja, sih," balasku. Mungkin itu sangat terdengar tidak sopan. Akan tetapi itulah cara ajaibku untuk menghentikan godaan para lelaki di awal. Anggap saja, mereka belum sempat berjuang, tapi sudah tidak ada semangat untuk berjuang akibat hinaanku itu. Bahkan aku tidak peduli jika yang Melakukan hal demikian adalah cowok dengan ketampanan wajah di atas rata-rata. Selama ia tidak aku sukai, ya akan kusebut jelek. Untuk si cowok kali ini, harus aku akui kalau sebenarnya dia lumayan ganteng. Dia juga anak orang kaya yang tiap harinya selalu berangkat menggunakan motor yang sangat mewah. Hanya saja aku tidak tahu namanya. "Hahaha, damagenya nggak ngotak," ucap salah satu temannya. "Berisik lo!" Kulihat saja pertengkaran singkat mereka. Dan aku baru tersadar bahwa sedari tadi tidak ada yang berani membuka suara selain aku dan orang-orang itu. "Nih Shel, dan ini air mineralnya, sebotol," ucap Mbak Ika sambil menyodorkan sebungkus nasi pecel dan sebotol air mineral. "Tahu aja Mbak, kalau gue butuh ini," ucapku sambil memegang botol air mineral itu. "Biasalah." "Oh ya sudah, gue juga biasalah," ucapku sambil menirukan gaya bicara Mbak Ika. "Biasalah apa, Shel?" tanya Mbak Ika. "Biasalah, ngutang," jawabku tanpa malu. Sang penjaga kantin yang cantik itu menghembuskan napas pelan akibat mendengar jawabanku itu. "Anak orang kaya kok ngutang," ucapnya. "Makanan dari hasil ngutang itu rasanya jauh lebih enak dibanding makanan dari hasil beli pakai uang sendiri," balasku. Seperti biasa, setelah menjawab ucapan Mbak Ika, akupun langsung pergi meninggalkannya. Entah bagaimana ekspresi Mbak Ika setelah itu. Entah bagaimana pula perasaan si cowok yang sudah kuhina tadi. Apakah ia marah atau justru malah sadar diri. Apakah juga setelah kepergian ku ia diejek oleh teman-temannya atau tidak. Dan juga aku tidak tahu tentang apa yang akan diperbincangkan oleh para gadis di kantin itu. Mungkin setelah aku pergi, mereka semua langsung membicarakan tentang aku. Akan tetapi, sekali lagi aku tak peduli akan hal itu. Sekarang yang kupedulikan hanyalah tentang perutku. Rasa lapar ini, seolah-olah cacing-cacing di dalam sana sedang mengadakan demo besar agar aku segera makan. "Hmmm.... Makan di mana, ya?" tanyaku pada diri sendiri sambil berekspresi sok imut. Bola mataku bergerak liar untuk menemukan tempat terbaik yang nantinya akan kudatangi. "Ah, rooftop aja, lah," ucapku lagi. Rofftop sekolahan. Tempat di mana aku sering menghabiskan waktuku selama sekolah. Tempat itu pula yang sering kudatangi ketika aku begitu jenuh dengan pembelajaran. Sunyi dan menenangkan. Itulah yang kurasakan saat berada di sana. Aku merasa bisa menjelma di sana. Sebagai CCTV yang bisa mengawasi hampir seluruh area sekolahan, bahkan juga jalanan kota metropolitan. Aku juga merasa sedang menjadi manusia paling berkuasa selama berada di sana. Manusia paling besar yang tidak ada yang bisa menandinginya. Di bawah sana semuanya kecil. Disentil sedikit pasti sudah terkapar. Sungguh bayangan yang tidak masuk akal. Aku berjalan pelan menaiki setiap anak tangga yang sudah tersedia untuk menuju ke arah rooftop. Selama di perjalanan, tentu banyak sekali yang menyapaku, terutama para kaum laki-laki. Akan tetapi kebanyakan dari mereka hanya menyapa, tak berani untuk menggoda. Hanya satu dari 10 anak laki-laki di sekolahan itu yang berani menggodaku. Walau posisiku masihlah seorang adik kelas, tapi rasanya aku adalah penguasa sekolahan ini. Bahkan para kakak kelas yang notabenya adalah para perempuan, hanya sedikit yang berani menentangku. Tak ayal hal itupun akhirnya berujung pada pertengkaranku dengan dia. Ah, sial! Aku melupakan sesuatu. Ini masih waktu istirahat. Pantas saja rooftop ini sangat ramai. Mereka bahkan tak peduli dengan panas, dan dengan gembiranya bersenda gurau di sana. Memang sebenarnya ada naungan di sana. Akan tetapi tidak di semua areanya. Hah, mereka sungguh mengusik ketenanganku. "Oi Shel. Dicariin dari tadi, ternyata ke sini juga." Aku langsung disambut oleh seorang gadis cantik yang merupakan teman sekelasku, namanya adalah Nita. "Iya nih. Gue kira tadi lo udah kabur dari sekolahan, eh ternyata masih ada di sini," lanjut Sinta, teman sekelasku juga. "Astaghfirullah. Gue udah tobat kali, Sin," jawabku sok alim. "Heleh, gaya lo. Palingan besok juga kabur lagi," tebak Nita. "Kalau gue kabur lagi, ingatlah bahwa saat itu gue sedang khilaf. Pokoknya kalau gue ngelakuin hal yang buruk, itu hanyalah kekhilafan gue. Aslinya sih gue ini baik hati, pinter, rajin menabung pula," ucapku panjang lebar. Mereka berdua saling pandang, seolah-olah sedang mengabaikan aku yang jelas-jelas sedang menjadi lawan bicaranya. "Iyain aja biar senang," ucap Nita pada Sinta. "Iya," ucap Sinta. "Cih," decakku. Selain Icha, ternyata aku juga punya dua teman menyebalkan seperti mereka. Tapi tak apa. Setidaknya dengan begitu ada dua kandidat lagi yang akan masuk daftar teman yang bisa kupercayai selain Icha. Ya, mereka adalah Nita dan Sinta. "Eh, ngomong-ngomong, Icha mana?" tanya Sinta. "Mana gue tahu," jawabku ketus. "Hadeh, kan biasanya sama Lo terus," ucap Sinta. "Iya, tapi hari ini bukan biasanya," balasku. Sontak hal itu membuat Sinta dan Nita menampakkan raut wajah malasnya. "Sudahlah, Sin. Abaikan aja!" ucap Nita. "Ngomong-ngomong lagi, itu apa yang Lo bawa?" tanya Nita sambil menunjuk ke arah bungkusan nasi pecel dan sebotol air mineral yang kubawa. Aku meratapi nasi dan airku dengan tatapan sendu, berharap agar keduanya tidak masuk ke mulut Nita dan Sinta. Kutahu itu hanyalah harapan, tapi aku ingin itu jadi kenyataan. *** Aku, Nita dan Sinta akhirnya duduk di tempat biasa aku tempati. Tempat yang ternaungi oleh atap, serta dari sini pula nampak hampir seluruh area sekolahan, tak lupa juga jalanan kota Jakarta. Aku membuka bungkusan nasi pecelku. Bau sedap mulai menyengat ke rongga hidungku. Sungguh nasi pecel buatan Mbak Ika memang tak ada tandingannya. "Mau?" tawarku pada mereka berdua. "Nggak, nggak usah," tolak mereka hampir bersamaan. "Yaaaa... Padahal ini banyak banget, lho," ucapku. Padahal dalam hati aku sangat bersyukur ketika mereka menolak tawaranku. "Nggak, nggak, terima kasih. Gue masih kenyang," tolak Nita. "Gue juga," lanjut Sinta. "Oh, ya sudahlah," ucapku. Segera kusendok nasi itu dan memakannya dengan lahap. Kedua perempuan itu hanya menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. Entahlah, entah pertanyaan apa yang ada di dalam hati mereka, sekali lagi aku tidak begitu peduli tentang itu. "Lo aneh deh, Shel," ucap Nita. "Aneh gimana?" tanyaku sambil terus mengunyah gumpalan nasi itu. "Ya aneh. Lo kan anak orang kaya raya. Tapi kenapa selera lo rendahan? Masa orang kaya makannya nasi pecel terus tiap hari?" ungkap Nita. Aku menghentikan aktivitas makanku. Tak kujawab dulu pertanyaan yang dilontarkan Nita kepadaku. Segera kuminum air yang sudah tersedia di dalam botol itu untuk melarutkan makanan yang baru saja kumakan. "Oke, sekarang gue ganti yang nanya," ucapku setelah minum. Nita hanya mengangkat sebelah alisnya. "Orang kaya itu manusia, bukan?" tanyaku. "Ya manusia, lah," jawab Nita yakin. "Adakah manusia yang dilarang makan nasi? Termasuk juga nasi pecel?" tanyaku lagi. "Enggak sih," jawab Nita sambil garuk-garuk kepalanya. "Nah, kan? Ya udah, ngapain dipermasalahkan?" ucapku. "Lagipula, yang orang kaya itu orang tua gue, bukan gue. Gue hanya ikut mempergunakan kekayaan mereka. Aslinya gue ini miskin. Gue bahkan belum bisa cari duit sendiri walau itu cuma seribu rupiah," lanjutku agak dramatis. Nita dan Sinta terdiam meratapi kata-kataku. Mungkin mereka merasa tak percaya jika gadis sepertiku bisa berbicara sebijak itu. Jangankan mereka, bahkan aku sendiri saja, sang pemilik raga ini juga merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan itu. Seolah-olah, rangkaian kata itu muncul dengan sendirinya di benakku dan disampaikan lewat mulutku. Namun itu semua benar adanya. Aku baru saja mengucap kata-kata seperti itu. Mau tidak percaya, tapi inilah kenyataannya. Apakah arti semua ini? Apakah itu memang anggapanku yang sebenarnya? Heh, bahkan akupun tak tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN