Bab 9

2003 Kata
Sial. Aku mengumpat entah ke siapa. Yang pasti sekarang ini aku benar-benar merasa sangat kesal. "Ngapain sih, lo ngikutin gue?" tanyaku kesal. "Kan udah abang bilang, kalau abang cuma mau kenalan," jawabnya santai. Tatapan mata itu. Entah kenapa tatapan itu seketika langsung membuatku ingin cepat-cepat menjauh dari dia. Ditambah lagi kini aku sedang berada di jalanan sepi yang bahkan tak ada satupun rumah warga di pinggir jalan. Hanya deretan pepohonan dan semak belukar lah yang nampak di samping kanan dan kiri jalan. Kubayangkan jika nanti aku dibawa oleh dia ke arah sana, akan jadi apa aku nantinya. Sungguh aku sudah mulai khawatir. Aku memilih untuk segera kabur. Akan tetapi nasib sial malah menimpaku. Lelaki itu dengan cekatan memutar kunci motorku ke arah 'off'. Seketika itu juga motorku langsung mati. Kurasa ia memang sudah berpengalaman dalam hal ini. Dia benar-benar penjahat kelas kakap. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung mrnghadangku dan memaksaku untuk turun. Aku mencoba untuk tetap tenang dan terus menampakkan kegalakanku pada lelaki yang satu itu. "Ada apa, sih?" tanyaku tak santai. Dia tersenyum. Bukan, itu bukan senyum yang tulus. Kurasa itu adalah senyuman genit dari seorang lelaki yang akan berbuat yang tidak-tidak pada perempuannya. "Cantik," ucapnya. Tangannya tiba-tiba menggenggam erat kedua tanganku. "Iiihhhh, gak usah pegang-pegang deh, lo!" ucapku sambil langsung melepaskan genggaman tangan itu. "Jangan galak-galak, dong!" pintanya. Kedua tangannya berusaha kembali untuk menggenggam tanganku. Tapi aku berhasil mengelak. Kulihat sekeliling, dan seketika itu sebuah pertanyaan masuk di benakku. Ada apa dengan jalanan ini? Kenapa dalam keadaan yang seperti ini suasananya malah sesepi ini? Ah, entahlah. Sekarang yang terpenting adalah tentang bagaimana caraku untuk lolos dari lelaki itu. Lelaki itu tiba-tiba lebih mendekat ke arahku. Tatapan itu lagi-lagi membuatku semakin khawatir. Ia kemudian mencengkeram kedua bahuku dengan kedua tangannya. "Sok jual mahal banget, sih." Kali ini nada suaranya berubah dingin dan tak menampakkan sedikitpun senyumannya. "Di sini kita cuma berdua, sayang," ucapnya lagi sambil berusaha membelai rambutku, tapi berhasil kutepis. Mendapat respon yang buruk dariku, tatapannya semakin dingin. Ia kembali mencengkeram kedua bahuku lebih kuat. Itu cukup untuk membuatku tak bisa melarikan diri. Oh Tuhan, munculkanlah seorang pahlawan yang bisa menolongku. Tugaskanlah malaikatmu untuk membebaskan aku dari belenggu si b***t ini. Tak lama berselang, akhirnya apa yang aku harap-harapkan pun datang. Seorang pengendara motor yang wajahnya belum aku ketahui karena tertutup oleh helm yang ia kenakan. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan agak tinggi ke arah kami, dan.... "Mas, Mbak, cepat pergi dari sini! Di sana ada tawuran, dan sebentar lagi mau menuju ke sini," ucapnya tak santai setelah ia melepas helmnya. "Jangan bercanda lo!" bentak si lelaki itu. "Terserah Masnya. Kalau masih mau hidup, lebih baik cepat-cepat pergi dari sini. Mbaknya juga." Ia kembali mengenakan helmnya. Dengan ketakutan super tinggi, lelaki yang hampir melakukan hal yang tidak-tidak kepadaku itu langsung menaiki motornya dan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Rupanya ia benar-benar sangat ketakutan. Heh, dasar pengec*t! "Terima kasih ya, Niel," ucapku. Ya, sang pengendara motor yang menyelamatkanku tadi tidak lain adalah seorang Daniel. Itu juga alasan mengapa aku tidak takut sedikitpun dengan berita adanya tawuran itu. Karena aku tahu itu hanyalah trik yang digunakan Daniel untuk mengelabuhi lelaki itu. Sungguh hebat kau Danielku. Bahkan tanpa lewat kekerasanpun, ia sudah bisa menyelamatkan aku dari bahaya. Akan tetapi ada satu hal yang membuatku bertanya-tanya. Dari sekian banyaknya manusia, kenapa sang kuasa mengirim Daniel untuk menolongku? Apakah ini pertanda kalau dia jodohku? "Iya," jawabnya singkat tanpa melepas helmnya. "Ya udah, bareng aja yuk, ke sekolahannya," ucapku. Ia tak menjawab. Ya seharusnya aku tahu, Daniel memang seperti itu orangnya. Dan aku juga cukup peka dengan maksudnya. Ia ingin aku jalan duluan. Biarlah dia yang menjagaku dari belakang. Aku tersenyum manis ke arahnya. Kemudian tanpa banyak bicara lagi segera kulajukan motorku dengan kecepatan sedang. Daniel setia menjagaku dari belakang. Nampaknya di balik sifatnya yang seakan tak peduli sedikitpun ke aku, ternyata ia juga sangat perhatian. Motor kami terus melaju. Hingga pada akhirnya, gerbang sekolah itu sudah nampak di depan mata. Sialnya, gerbang itu sudah tertutup atau bahkan terkunci. Oh tidak, kenapa aku harus menyebutnya 'sial'? Bukankah ini sudah menjadi kebiasaanku hampir tiap hari? Biasanya kalau keadaan sudah seperti ini, aku masih bisa masuk dan nantinya akan mendapat hukuman ringan dari salah seorang guru. Atau jika aku sedang sangat malas, aku akan putar balik dan menuju ke cafe yang agak jauh dari sekolahan itu. Akan tetapi saat ini ceritanya berbeda. Ada Daniel yang kini sedang bersamaku. Tidak mungkin jika aku melakukan hal seperti itu. Bisa hancur reputasiku di hadapannya nanti. "Sudah dikunci nih, Niel," ucapku. "Iya," ucap Daniel. Bahkan dalam keadaan seperti inipun ia masih bisa bersikap setenang itu. "Ah, gue tahu. Naik dinding samping sekolahan aja," ucapku. "Lo mau ninggalin motor lo?" tanya Daniel dingin. "Hmm... iya juga, ya." Aku memposisikan diriku layaknya seseorang yang sedang memikirkan sesuatu. Kulihat Daniel hanya menghembuskan napas pelan, berusaha untuk tetap tenang dalam situasi ini. Ia kemudian mulai turun dari motornya dan melangkah ke arah gerbang. Sesuatu ia lakukan pada pintu gerbang itu. Otakku masih belum bisa menangkap tentang apa yang ia lakukan. Aku pun hanya bisa melihatnya dari belakang. Dan tiba-tiba, pintu gerbang itu terbuka. "Lihat! Cuma diselot, bukan digembok," ucapnya. Seketika itu juga aku langsung menyadarinya. "Eh, hehehe, aku gak tahu," tawaku. Tak lupa aku juga menggaruk-garuk belakang kepalaku. Daniel kemudian kembali ke arah motornya, begitupun juga aku. "Makanya gak usah banyak tingkah!" ucapnya dingin diiringi dengan senyum meremehkannya. "Ya kan biasanya juga digembok, Niel. Mana gue tahu kalau sekarang cuma diselot," ucapku membela diri. Daniel tak memperdulikan aku. Ia terus menuntun motornya menuju parkiran. Akan tetapi baru juga beberapa meter memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah teriakan terdengar sangat menggema di telingaku. "Shela! Daniel!" teriaknya. Ya, itu suara teriakan Pak Handoko. Pak Handoko jelas kenal sekali dengan kami. Aku yang berstatus sebagai siswi ternakal, dan Daniel yang berstatus sebagai murid terpintar. Mungkin itulah yang membuat kami berdua terkenal. Tapi kenapa baru akhir-akhir ini aku mengenal Daniel? Ah, entahlah. Mungkin itu sudah jalan takdir yang diberikan oleh sang kuasa. "Shelania Putri Artasyah! Kamu lagi. Sekarang pakai ajak-ajak Daniel pula," ucap Pak Handoko. Aku menampakkan cengiran tak berdosaku pada Pak Handoko, sedangkan Daniel masih memasang wajah tenang nan dinginnya. "Ya maaf, Pak," ucapku. "Maaf, maaf. Bisanya cuma minta maaf terus," ucap Pak Handoko. Aku terdiam, mendengarkan setiap kata omelan yang disampaikan oleh Pak Handoko kepadaku dan juga Daniel. Daniel pun sedari tadi hanya berdiam diri tanpa ada niatan sedikitpun untuk melakukan suatu pembelaan. *** Nasib sial akhirnya menimpa kami berdua di kala Pak Handoko menghukum kami dengan hukuman lari 10 kali keliling halaman sekolah. Sebenarnya aku agak sedikit menyesali. Kenapa hari itu aku berbicara kalau aku melakukan kesalahan, maka aku pantas untuk dihukum sebagaimana para murid lainnya. Dan kini aku benar-benar mendapatkannya. 10 kali putaran telah kami selesaikan. Napasku benar-benar terengah-engah. Diiringi dengan tetesan demi tetesan keringat yang membuatku merasa tidak nyaman. "Sudah kan, Pak?" tanyaku pada Pak Handoko. "Sudah? Ini baru hukuman yang pertama. Hukuman yang kedua, kalian harus membersihkan sampah di seluruh area halaman sekolah ini," ucap Pak Handoko. "Yah, Pak. Saya capek, Pak," keluhku manja. "Salah kamu sendiri. Cepat lakukan, atau akan saya beri hukuman tambahan!" ancam Pak Handoko. Mau tidak mau, akhirnya aku dan Danielpun mulai melakukan apa yang diperintahkan oleh Pak Handoko. Sebenarnya aku agak sedikit kesal dengan Daniel. Kenapa dengan lelaki itu? Kenapa ia tak membantah sedikitpun? Ah, mungkinkah ini memang sifatnya? Untuk hukuman yang satu ini, ternyata Pak Handoko memilih untuk tak mengawasi kami. Akan tetapi, tetap saja kami harus menyelesaikan hukuman itu walau tanpa pengawasan. "Sorry ya, gue udah bikin lo ikut dihukum kayak gini," ucapku. "Iya," jawab Daniel masih tetap dalam mode tenangnya. Tangannya terus bergerak untuk memunguti sampah-sampah yang berserakan. "Hmm.... lo baru kali kedua dihukum, ya? Pertama yang kemarin, dan yang kedua saat ini?" tanyaku. "Iya," jawab Daniel. "Lo udah sering dihukum?" tanyanya. Entah kenapa hatiku merasa bahagia ketika ia mau memberikan pertanyaan kepadaku. "Sering banget. Bahkan hampir setiap hari malahan," jawabku dengan bangga. "Heh." Daniel memberikan senyum meremehkannya. Ia kemudian mulai menatap tajam ke arahku. "Jangan karena lo anak orang kaya, lo anggap sekolah hanya sebagai permainan. Orang tua lo susah-susah nyari duit, salah satunya demi untuk menyekolahkan lo. Mereka berharap lo bisa menjadi orang yang berilmu suatu saat nanti. Dan lo dengan mudahnya merusak harapan mereka," ucap Daniel panjang lebar sambil menatapku tajam. Ia kemudian melakukan aktivitas memunguti sampah lagi. Sumpah, seorang Daniel berbicara panjang lebar adalah hal yang sangat langka bagiku. Dan hari ini aku menyaksikan hal langka itu. "Lo ternyata perhatian juga ya, sama gue," ucapku. Daniel terdiam sejenak, kemudian ia memberikan senyum meremehkannya lagi. "Nggak usah GR!" ucapnya. Senyumku tiba-tiba merekah, dan entah mengapa hati ini menuntun kakiku untuk melangkah mendekati dia sedekat mungkin. Aku menatapnya yang sibuk membersihkan sampah dengan senyuman manisku. Ia mungkin tak memperdulikanku, tapi aku juga tak peduli akan hal itu. "Kalau dilihat-lihat, ternyata lo ganteng juga, ya. Cuma kurang perawatan aja," ucapku memujinya. Ia nampak memperhatikanku, tapi tak sedikitpun aku melihat dia salah tingkah. "Hahaha.... lucunya," ucapku lagi sambil sedikit menjambak rambutnya yang bergelombang. Ia mengerang kesakitan karena jambakanku itu. Sebagai pembalasan dari tindakanku itu, ia melemparkan dedaunan kering ke wajahku. Tak kusangka ia mau merespon. Namun setelah itu ia kembali menyibukkan dirinya dengan memunguti sampah-sampah lagi. Aku juga masih bingung, apa itu memang bentuk responnya, atau malah itu hanyalah refleksnya saja. Waktu terus berjalan. Sampah-sampah di halaman pun sudah hampir kami bersihkan semuanya. Kini hukuman kami akan segera berakhir, dan itu tandanya kebersamaanku dengan Daniel juga akan segera berakhir untuk sementara. "Oh ya, gue boleh nanya sesuatu?" tanyaku. "Apa?" tanya Daniel balik. "Itu yang lo bawa ke sekolah, motor lo?" tanyaku. "Bukan," jawab Daniel singkat. "Lalu?" tanyaku lagi. "Punya tetangga gue," jawabnya. "Ooo...." Aku manggut-manggut mengerti ketika mendengar jawabannya. Tak lama kemudian Pak Handoko pun datang dengan gaya berjalan seperti seorang satpam. Heh, itu sungguh tak keren. "Gimana? Udah selesai?" tanyanya. "Sudah, Pak," jawab kami berdua serentak. Sontak kami pun saling berhadap-hadapan. Cukup lama kami berhadap-hadapan, akhirnya aktivitas kami disudahi oleh suara Pak Handoko yang menyebalkan itu. "Sudahi dulu dramanya. Sekarang kalian berdua silahkan masuk kelas masing-masing," perintahnya. "Iya Pak," jawabku. Kali ini Daniel memilih untuk diam. Pak Handoko segera pergi meninggalkan aku dan Daniel. Lagi-lagi kami hanya berduaan, tapi suasananya tetap seperti aku sedang seorang diri. Kenapa? Karena Daniel tetap saja tak mau berbicara jika aku tidak mengawalinya. "Ya sudah, gue masuk kelas dulu, ya," ucapku pada Daniel. "Iya," jawabnya singkat. "Oh iya. Nama gue Shela. Lo harus ingat ini baik-baik, ya," pintaku. "Hmmm," balasnya. Sungguh aku benar-benar sulit memahami sifatnya. Baru juga tadi ia cerewet dan menceramahiku, kini ia kembali dalam sifat dinginnya lagi. Tapi tak apa. Hari ini ia sudah menampakkan kepeduliannya padaku, dan itu membuatku merasa bahagia. Aku bingung, kenapa baru kemarin sang kuasa memperkenalkan seorang Daniel kepadaku? Kenapa tidak dari dulu, saat di mana aku dan dia masih sama-sama berstatus sebagai murid baru? *** Aku berjalan santai menuju ruang kelasku tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Entah suatu keberuntungan atau apa, ternyata di kelasku sedang tidak ada kegiatan belajar mengajar alias jam kosong. "Oh Shela sayangku. Dari mana saja sih? Kok keringetan kayak gitu?" tanya Dendi, salah satu atau bahkan pemimpin geng usil pojokan. "Sudahlah, abaikan saja!" Aku ingin menjawab apa yang ditanyakan oleh Dendi, tapi segera dicegah oleh Icha. "Hahaha.... jangan cemburu dong, Cha," ucap Dendi dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. Sama sepertiku, Icha memang sering kesal jika harus berhadapan dengan Dendi dan gengnya. Ia ingin membalas perkataan Dendi barusan, tapi kali ini aku yang berbalik mencegahnya. "Sudahlah, abaikan saja!" ucapku. Dia pun menurutinya. Aku segera duduk di kursi yang berada di samping Icha. Tak kuperdulikan teman-teman lain yang heboh beraktivitas sendiri-sendiri. Wajar saja, ketika kelas sedang jam kosong, maka beginilah jadinya. "Nih gurunya ke mana?" tanyaku pada Icha. "Entahlah, mungkin belum datang," jawab Icha. "Hufff...." Aku menghembuskan napas pelan. "Kalau si guru yang datang terlambat, kenapa dia gak dihukum? Bukankah guru itu panutan kita? Dia datang terlambat, kita juga boleh datang terlambat dong. Mau jadi apa generasi negeri ini kalau panutannya saja sudah kayak gini?" ucapku panjang lebar penuh dengan emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN