Bab 8

1997 Kata
Tanpa berbicara sepatah katapun, dirinya langsung melajukan motor itu hingga pada akhirnya pengelihatan ini sudah tak bisa menjangkau keberadaannya. "Ya ampun... tuh orang apa es batu sih?" tanya Icha setelah sekian lama tak mau membuka mulut. "Daniel emang gitu orangnya," sahutku. "Oh ya, ngomong-ngomong nih pintu gerbang rumah lo dikunci?" tanyaku. "Gak lah, tinggal masuk aja. Pak Seno mungkin juga masih jaga," jawab Icha. "Oh ya sudah sana bukain!" perintahku. "Cih, malah ngelunjak. Tuan rumah kok disuruh-suruh," protes Icha. "Bukannya gitu. Kan gue juga harus masukin motornya. Apa lo mau gantian? Gue yang bukain gerbangnya, lo yang masukin motor gue," tanyaku. "Hufff... nggak, gue buka gerbang aja," tolak Icha sambil turun dari boncengan motorku. Setelah itu ia berjalan dengan malas menuju ke arah pintu gerbang rumahnya. Selepas Icha membuka pintu gerbang rumahnya, aku pun langsung melajukan motorku pelan untuk kumasukkan ke halaman rumah Icha. Kulihat Pak Seno yang terbangun dari tidurnya di pos satpam. Mungkin karena ia mendengar suara mesin motorku. "Hai Pak, kebangun ya?" sapaku. "Iya Non," jawabnya sambil menganggukkan kepalanya. "Pak, ini tolong nanti gerbangnya dikunci, ya." Kali ini giliran Icha yang berbicara. Ia meminta satpam rumahnya itu untuk mengunci pintu gerbang rumah. "Siap Non Icha," jawabnya. Begitulah kehidupan orang kaya. Penuh dengan kebebasan. Mau apa-apa tinggal menyuruh meski sebenarnya dirinya bisa melakukannya sendiri. Aku masih duduk di atas motorku sembari menunggu Icha selesai berbincang-bincang dengan satpamnya itu. Walau bagaimanapun juga tidak mungkin jika aku masuk ke dalam rumahnya langsung, sementara dirinya masih berada di luar rumah. Senakal apapun aku, tidak mungkin aku melakukan hal tidak sopan seperti itu, kecuali kalau sedang khilaf. "Yuk Shel, masuk!" ajaknya. *** Hanya sekedar pemberitahuan. Rumah Icha memang sangat besar nan luas. Interiornya juga cukup memukau dan bisa membuat siapa saja yang melihatnya terpesona akibat panoramanya. Bahkan harus aku akui bahwa rumahnya itu lebih bagus dari rumahku. Fasilitasnya juga sangat lengkap. Bahkan di area samping rumah terdapat sebuah taman mini yang sangat indah. Tak hanya itu, di lantai atas terdapat sebuah teropong yang sering digunakan oleh Icha untuk memantau keadaan dari atas. Sungguh itu benar-benar sangat menakjubkan. Sayangnya hal yang demikian itu tak bisa membuat Icha sepenuhnya bahagia. Aku tahu ada satu hal yang harusnya menjadi kunci dari kesempurnaan kebahagiaannya, yaitu kebersamaan dengan keluarga. Selama ini ia selalu kesepian. Aku tahu itu. Mungkin jika soal kebahagiaan, aku masih jauh lebih bahagia daripada dia. "Nih teropong buat apa, sih? Ada-ada aja lo, pakai beli barang kayak gini segala," ucapku sambil memegangi teropong milik Icha. "Entahlah. Tapi saat gue kesepian, tiap malam gue selalu memandangi sang bintang melalui teropong itu. Dan entah mengapa, setiap kali gue melakukan hal itu, kesepian yang gue rasain itu hilang seketika," jawab Icha. Senyumannya terlukis indah di raut wajah datarnya itu. "Iyakah? Jangan-jangan lo salah gunain nih teropong buat memantau cowok-cowok ganteng yang lewat depan rumah lo," tebakku. "Itu betul juga, sih," jawab Icha sambil tertawa kecil. "Tapi... gue lebih suka memandang bintang-bintang di langit sana yang bisa mengobati kesepian gue daripada cuma memandang cowok-cowok ganteng yang mungkin bisa membuat gue terluka," lanjut Icha. Kulihat raut wajah itu berubah menjadi sendu. Aku tahu ia sedang menghayati perkataannya itu. Rasa kasihanku kepadanya mulai menggelora. Tapi aku tak ingin menunjukkan bahwa aku sedang mengasihani dia, karena dia sangat membenci hal itu. Ya, Icha memang tipe orang yang tak mau dikasihani. Dalam arti dikasihani secara berlebihan. Kalau sewajarnya saja, ia masih bisa menerimanya. "Kalau gitu, lo nanti nikah sama cowok yang namanya Bintang aja. Biar kesepian lo itu bisa terobati," candaku. "Gila lo. Ya gak gitu juga kali, sistemnya," protes Icha. Aku menanggapinya dengan tawa kecilku. "Oh ya, Cha. Gue boleh pinjam teropong lo?" tanyaku. "Ya, pakai aja," jawab Icha mempersilahkan. Sudah kesekian kalinya aku berkunjung ke rumah Icha, tapi baru kali inilah aku tertarik dengan teropong yang ia punya. Mungkin karena penjelasan panjang lebar dari dia tadi hingga membuatku tertarik dengan benda itu. Aku langsung memakai benda itu dan mulai melihat-lihat area sekitar melaluinya. Sungguh inilah alat hebat yang pernah diciptakan oleh sang manusia. Dari jarak yang begitu jauh, sesuatu yang dilihat dari benda yang namanya teropong itu terlihat sangat dekat. "Wuih, Cha, lihat tuh di depan rumah lo. Gila, ganteng banget tuh cowok," ucapku. "Mana, mana?" tanya Icha sambil merebut teropong itu dariku. "Benar juga lo. Tapi ngapain malam-malam gini ada orang yang masih berkeliaran?" tanya Icha bingung. Pasalnya sekarang ini waktu memang sudah larut malam. "Kuntilanak kali, tuh," jawabku asal. "Mana ada kuntilanak. Kuntilanak kan perempuan," sangkal Icha. "Siapa tahu lagi alih genre," ucapku. "Genre, genre. Gender kali," ucap Icha membenarkan. "Nah itu maksud gue. Siapa tahu lagi alih gender," ulangku. "Heh, ngawur aja lo," ucap Icha. Aku kembali melihat seseorang itu lewat teropong. Kini posisi si cowok ganteng itu sudah mulai mendekati tepat di depan pintu gerbang rumah Icha. Kalau dipikir-pikir, tak mungkin jika cowok itu adalah makhluk halus. Tentang kenapa ia masih berkeliaran pada malam-malam begini, bukankah hal itu wajar saja bagi seorang lelaki? "Woi, mau ke mana lo?" tanya Icha ketika melihatku mulai melangkah pergi. Langkahku yang agak tergesa-gesa itupun akhirnya terhenti karena pertanyaan dari gadis itu. "Nyamperin tuh cowok. Mau buktiin dia itu kuntilanwk atau bukan," jawabku. "Sumpah gue gak paham sama otak lo yang dangkal itu, Shel. Mending kalau dia itu hantu. Kalau dia ternyata manusia beneran, dan nanti dia malah akan ngapa-ngapain lo, gimana?" tanya Icha. "Kalau dia mau ngapa-ngapain gue, nanti malah gue yang akan ngapa-ngapain dia," balasku tak mau kalah. "Aaaa! Terserah lo aja lah, Shel. Tapi gue gak mau nolongin kalau nantinya ada apa-apa sama lo," ancam Icha. Aku hanya memberikan jempolku sembari menampakkan senyuman di paras cantikku ini. Tanpa membuang banyak waktu lagi, mulai kulangkahkan kaki ini dengan cepat menuruni tangga. Sampai di lantai bawah, kutambah kecepatan gerakku. Beruntung pintu rumah belum terkunci. Dengan begitu aku cuma tinggal membukanya tanpa harus repot-repot lagi. Kulihat juga pintu gerbang itu masih terbuka. Kurasa Pak Seno belum sempat untuk menutupnya atau mungkin malah lupa dengan tugasnya itu. Akan tetapi tak apa. Itu malah bagus untukku. "Non Shela, mau ke mana?" tanya Pak Seno sedikit berteriak ketika aku berlari. "Keluar Pak, sebentar," jawabku tanpa menghentikan lari ini. Sampai di depan pintu gerbang, kulihat lelaki itu sudah berada beberapa meter jauhnya melewati sana. Postur tubuh yang kekar itu nampak begitu keren di mataku hingga membuatku ingin sekali secepatnya memanggil dia. "Oi, Mas!" panggilku sedikit berteriak. Lelaki itu menoleh, kemudian dengan langkah santainya ia mulai berjalan untuk menghampiriku. Tangan kanannya menutupi mulutnya. Itu sungguh menambah kekerenannya. Kuakui, gayanya memang keren, tapi entah mengapa ketertarikanku ke dia tidak sebesar dengan ketertarikanku ke Daniel. "Ada apa Mbak, panggil saya?" tanyanya. Aku hampir tertawa saat itu juga. Karena apa? Karena itulah saat-saat di mana aku dapat melihat wujud dia yang sebenarnya. Di balik penampilannya yang keren, rupanya ada satu hal dari diri lelaki itu yang membuat para kaum hawa langsung mundur untuk mengaguminya. Itu adalah karena giginya yang mrongos dan mulutnya yang agak lebar. Pantas saja sedari tadi ia selalu menutupi mulutnya itu. Aku bingung antara harus tertawa atau malah takut. Pikiranku tiba-tiba mengarah pada urban legend di Jepang tentang hantu mulut robek. Akan tetapi ini Indonesia. Tidak mungkin jika ada hantu mulut robek di sini. Lagipula, dia kan laki-laki. "E... e... nggak apa-apa, Mas. Maaf, salah orang," jawabku. Dengan kecepatan kilat, aku langsung berlari masuk. Tak lupa pintu gerbang rumah Icha pun aku tutup. Sial sekali untuk malam ini. Beruntungnya kejadian itu tak terjadi di tempat sepi yang jauh dari pemukiman penduduk. Bisa-bisa aku diapa-apain sama tuh lelaki. Aku kembali berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Lebih tepatnya menuju kamar Icha. Saat sampai di sana, kulihat gadis blasteran Prancis-Indo itu sedang tertawa terbahak-bahak yang kuyakini dia sedang menertawaiku. "Gimana? Ganteng, gak? Hahaha," tanya Icha sambil terus tertawa. Kalau saja dia bukan sahabatku, mungkin sedari tadi sudah kuhajar dia. "Hahaha, iya ganteng," jawabku sambil ikut tertawa sembari tanganku menggaruk-garuk belakang kepala yang sebenarnya tak gatal. "Tapi mulutnya lebar," lanjutku. Icha ikut tertawa bersamaku. Bukan, lebih tepatnya ia sedang menertawaiku. Bukannya aku maupun Icha bermaksud menghina fisik lelaki itu. Akan tetapi aku dan Icha ini tetaplah manusia biasa yang tak luput dari dosa. Dengan begitu, rasa ingin menghina itupun selalu muncul dengan sendirinya meski sebenarnya hati tak mau melakukannya. Kalau kupikir-pikir, Danielku masih jauh lebih menarik daripada lelaki manapun. Lelaki yang baru saja kukenal itu sungguh telah membuat hati ini melemah. "Gue pinjam teropong lo lagi, ya," ucapku pada Icha. "Mau buat nyari cowok lagi?" tanya Icha. Aku menatap ke arah Icha sembari menghembuskan napas pelan. "Gue males. Gak ada satu cowokpun yang menarik di mata gue," jawabku. "Oh ya? Daniel?" "Itu pengecualian," jawabku. "Lo beneran suka sama si Daniel?" tanya Icha. "Kalau soal itu.... entahlah," jawabku ragu. Tentu saja. Karena sampai saat inipun aku masih ragu dengan rasaku. "Kok entah?" Lagi-lagi Icha terus saja menanyaiku. "Nggak tahu. Sudahlah, gue pinjam teropong lo, ya," ucapku. Tanpa menunggu persetujuan darinya, segera kugapai benda yang bernama teropong itu. Aku mengarahkannya ke atas. Lebih tepatnya ke arah langit malam yang penuh dengan gugusan bintang indah serta sang rembulan yang masih setia menyinari langit malam. "Cha, menurut lo, dari semua bintang yang ada di langit sana, manakah bintang terindah yang paling lo suka?" tanyaku sambil terus melihat sang bintang melalui teropong. "Menurut gue semua bintang itu indah. Tapi ada satu bintang yang paling indah, yaitu bintang yang paling terang sinarnya," jawab Icha. "Oh ya?" tanyaku lagi. "Iya. Gue pernah berpikir, kalau gue jadi bulan, maka orang tua gue adalah bintangnya. Sedangkan sang langit adalah orang-orang yang peduli sama gue. Tanpa bintang, bulan tidak akan bisa bersinar. Makanya gue suka dengan bintang yang paling terang," jelas Icha. Aku manggut-manggut mengerti. Selain itu aku juga akhirnya tahu bahwa Icha memang sangat merindukan kasih sayang kedua orang tuanya. Sekarang, tugasku sebagai sahabatnya adalah berusaha untuk mengurangi kesepiannya itu. *** Malam itu terasa sangat membahagiakan. Bukan karena Daniel maupun yang lain. Tapi karena di malam itu aku bisa melihat sahabatku satu-satunya itu bisa keluar dari zona kesepiannya. Namun pagi ini, aku harus kembali menjalani hari yang menyebalkan. Aku pernah berpikir, buat apa sekolah? Sekolah itu cuma membuat stres dan juga menyita banyak waktu. Lebih baik kuhabiskan masa mudaku untuk bermain dengan sepuasnya. Lagipula, percuma sekolah tinggi-tinggi kalau kelakuannya masih buruk. Misal saja ketika dengan orang yang lebih tua, tidak ada sopan-sopannya sama sekali. Lalu orang yang berpendidikan tinggi kebanyakan akan muncul sifat sombongnya dan akan meremehkan orang yang berpendidikan di bawahnya. Dan aku sangat membenci hal itu. Dengan sangat terpaksa dan tanpa semangat sedikitpun, kukendarai motorku dengan kecepatan super pelan. Memang inilah kebiasaanku sehari-hari. Ketika berangkat sekolah, aku merasa menjadi manusia yang paling santai. Meskipun nanti aku akan terlambat, aku tidak peduli akan hal itu. Kecuali jika mata pelajaran pertama adalah pelajarannya Pak Handoko. "Hai cantik." Di saat aku lagi asyik-asyiknya mengendarai motor kesayanganku, tiba-tiba tepat di sampingku muncul seorang lelaki SMA dengan mengendarai motor mewahnya. Kalau kulihat-lihat, dia berbeda sekolah denganku. Wajahnya cukup tampan. Penampilannya juga lumayan keren, tapi harus kuakui bahwa aku benar-benar sangat risih dengan kehadirannya. "Apa lo?!" tanyaku tajam. "Eits, jangan marah-marah dong, cantik. Nanti cepat tua, lho," ucapnya. "Gak usah banyak bacot lo!" ucapku. Pandanganku mengarah tajam kepadanya sambil sesekali aku menoleh ke depan untuk melihat jalanan. "Galak amat, sih. Abang kan cuma pengen kenalan aja sama kamu," godanya. Tak ingin meladeni si genit itu, segera kulajukan motorku dengan kecepatan tinggi. Lelaki sang menggodaku tadi itupun sudah tak terlihat lagi dari jangkauan mataku hanya dalam waktu beberapa detik. Saat sampai di jalanan yang cukup sepi, kupelankan laju motorku. Kupastikan sekali lagi tentang keberadaan lelaki itu, dan benar saja, tidak ada satupun kendaraan di belakang motor yang kukendarai. Jujuraku sangat lega melihat keadaan yang demikian. "Hufff.... heh, gue dilawan," ucapku menyombongkan diri. Namun tak berselang lama kemudian, kembali kudengar suara mesin motor dari arah belakangku. Dari suaranya, kupastikan bahwa motor itu dilajukan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dan sialnya, aku seperti tidak asing dengan suara itu. Kutolehkan kepalaku ke belakang, dan ternyata.... "Hai cantik, kok tadi kabur, sih. Tenang aja! Abang gak akan apa-apain kamu kok," ucap lelaki itu padaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN