***
Sudah beberapa hari ini aku tak begitu berusaha untuk mendekati Daniel. Bukannya apa-apa, aku cuma tidak mau terlihat agresif dan malah akan membuat Daniel semakin tak suka denganku. Aku tidak mau jika hal itu sampai terjadi. Kalaupun aku harus menahan diriku untuk tidak selalu berada di dekatnya asal aku tidak dibenci olehnya, itu juga pasti akan kulakukan. Namun bukan berarti aku tidak mendekat ke Daniel. Tiap hari aku juga selalu berusaha untuk bertemu dengannya. Hanya saja selama bersamanya, aku cuma bertindak layaknya aku adlah temannya, bukan seorang perempuan yang menyukai seorang laki-laki.
Bahkan dari kejadian Ryan menguncinya di toilet itu, aku belum sempat menanyakan kepadanya tentang apa yang ia lakukan setelah itu. Apakah ia membalas? Atau mungkin tidak. Karena jika ia membalas, pastilah urusannya akan menjadi semakin panjang. Secara menurutku Ryan hanyalah lelaki manja yang bisanya cuma bergantung pada kekuasaan orang tua.
Namun apapun itu, aku tetap ingin tahu jawabannya dari mulut Daniel langsung. Tebakan bisa saja salah, tapi kalau langsung mendengarkan penjelasannya dari sang narasumber, itu tidak akan pernah salah, kecuali kalau dia bohong.
"Shel, ke kantin yuk!" ajak Nita waktu istirahat.
"Lo duluan aja, Nit. Gue mau ke perpustakaan, sebentar," ucapku.
"Wih, tumben rajin," ucap Nita. Saat ini memang tinggal aku dan Nita yang berada di kelas. Icha, Sinta, Dina, Rosa dan yang lain sudah keluar sedari tadi secara sendiri-sendiri entah mau ke mana.
"Ya jelas, gue gitu, lho," ucapku.
Padahal sebenarnya pun tujuanku ke perpustakaan bukanlah untuk membaca, melainkan ingin menemui seseorang yang kuyakini akan selalu pergi ke sana. Ya, semoga saja benar.
"Hahaha, mau belajar, ya, persiapan ujian?" tanya Nita.
"Iyalah, kandidat peringkat satu gitu, lho," jawabku.
"Hahaha, iyain ajalah. Hitung-hitung menghargai halunya teman," kata Nita.
"Cih, gue serius ini. Lihat saja nanti, siapa yang akan mendapat peringkat satu," ucapku sungguh-sungguh.
"Lo?" tanya Nita.
"Ya Pasha lah, kalau gak ya, Icha. Ya kali gue, aljabar aja gak paham-paham," ucapku jujur. Nita ketawa.
"Jangan merendah, gue yakin kalau Lo bisa," ucap Nita setelah tertawa. Tentu ucapannya itu membuatku agak bingung.
"Bisa apa?" tanyaku.
"Bisa dapat peringkat satu," jawab Nita.
"Beneran?" tanyaku sambil sedikit tersenyum.
"Iya, dari bawah. Hahaha." Dia menjawab sambil tertawa, kemudian berlari kecil untuk menjauh dariku.
Nita sialan! Dia sudah melarikan diri sebelum aku membalas ejekannya. Jika itu adalah sebuah pertarungan, maka bisa dianggap Nita itu adalah sang pecundang, karena ia berlari sebelum pertarungan selesai. Beruntungnya ini hanyalah candaan sang teman, yang jikalau diakhiri dengan melarikan diri pun tidak apa-apa.
***
Perpustakaan menjadi tujuanku di saat istirahat pertama ini. Banyak pasang mata yang menjadikanku pusat perhatian ketika aku masuk ke perpustakaan. Aneh, kah? Tentu saja. Siapa yang tidak merasa aneh ketika seorang Shelania Putri Artasyah masuk ke perpustakaan. Bahkan kurasa para guru pun akan merasakan hal yang sama seperti itu.
Mereka tak ada yang berani menyapaku. Karena apa? Karena sekolahan ini unik. Siswa yang masuk ke perpustakaan kebanyakan adalah para siswa culun yang juga penakut. Mungkin hanya ada sedikit dari mereka yang pemberani, itupun aku tidak mengenalnya.
Aku melihat Daniel yang duduk santai di kursi yang agak jauh dari tempatku berada kini. Ia sedang membaca sebuah buku tebal yang kuyakini adalah novel. Ini benar-benar sebuah keajaiban untukku. Padahal hanya tebakan, tapi ternyata menjadi kenyataan. Daniel memang berada di sini, dan betapa beruntungnya aku.
"Heh, ternyata dugaan gue bener," ucapku pada diri sendiri sambil tersenyum.
Seperti trik-trik yang sudah biasa aku lakukan, aku tak langsung mendekatinya. Segera kuambil beberapa buku, mungkin sekitar 7 buku yang kutumpuk dan berniat untuk kubawa ke sebuah meja yang berada di dekat Daniel. Namun asal kalian tahu, tujuanku bukan itu.
Aku bersusah payah membawa 7 tumpukan buku itu. Berat memang, tapi aku harus bertahan. Sesampainya di dekat Daniel, aku sengaja menjatuhkan tumpukkan buku itu untuk mencari perhatian Daniel.
"Aduh," keluhku sambil memunguti buku-buku yang terjatuh.
Aku sedikit melirik Daniel yang nampaknya juga tertarik dengan kejadian aku sengaja menjatuhkan buku-buku itu. Harapanku semakin menjadi-jadi. Aku sudah membayangkan tentang bagaimana nantinya Daniel akan membantuku memunguti buku-buku yang terjatuh itu. Layaknya adegan di film-film, itu pasti sangat romantis.
"Gak sekalian aja sama rak-raknya, bawanya." Ia berucap, ucapan dengan nada khas Daniel tapi dengan kosakata yang lebih banyak.
Aku mendongak, melihat ke arah Daniel. Kali ini harapanku pupus. Daniel memang tak bisa romantis, atau memang tak ingin bertingkah romantis ke aku, aku tidak tahu.
"Daniel, ya makanya dibantuin, dong," ucapku.
"Bukan urusan gue," jawabnya. Parahnya, pandangannya ia alihkan lagi ke buku tebal itu.
"Ya apa salahnya sih, bantuin," ucapku lagi.
"Gak usah manja," jawabnya tanpa melihatku.
"Hadeh, Daniel, butuh bantuan bukan berarti gue manja," ucapku.
"Hmmm."
Lelaki yang satu ini, apakah tidak ada kata lain selain 'hmmm'? Sumpah, lama-lama aku muak dengan kata itu. Tapi anehnya aku tidak pernah muak dengan sang pengucap kata itu. Entahlah, malahan aku teringin untuk dekat dengannya terus walaupun ia selalu tampil menyebalkan ketika bersamaku.
Ketujuh buku itu sudah kutumpuk kembali, dan kini kutaruh di atas meja yang berada di depan Daniel. Aku juga duduk di kursi yang berada di depan Daniel. Kini jarak antara aku dan dia pun hanya terhalang oleh meja, dan pandanganku agak sedikit terganggu dengan tujuh tumpukan buku itu.
"Lo tiap istirahat ke sini?" tanyaku pada Daniel. Tanganku meraih salah satu buku yang berada di tumpukan paling atas.
Ketika k****a, itu ternyata adalah buku novel yang berjudul 'Arti Sebuah Persahabatan'. Judulnya cukup menarik bagiku, tapi isinya pastilah malas banget aku membacanya.
"Iya, kenapa?" Ia menjawab sembari bertanya.
"Ya nggak apa-apa. Pantes aja gue jarang lihat Lo ketika istirahat pertama kayak gini," jawabku.
"Oh."
Tadi 'hmmm', sekarang 'oh'. Dasar Daniel.
"Oh ya, gue boleh nanya sesuatu?" tanyaku.
"Nanya apa?" tanya Daniel balik.
Kuhela napasku pelan. Kupersiapkan diriku untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan menjadi jawaban seorang Daniel atas pertanyaan yang kuberikan. Mungkin jawabannya akan mengesalkan seperti biasanya, tapi tidak mustahil juga jika jawaban yang ia berikan itu sama seperti yang aku harapkan. Entahlah, aku hanya bisa menantikannya nanti setelah pertanyaan ini terlontarkan.
"Waktu Lo dikunci di toilet waktu itu, Lo bales mereka, nggak?" tanyaku.
Aku sebenarnya agak ragu untuk menanyakan hal itu, tapi rasa penasaran ini telah mengubah segalanya, dan memaksaku agar tetap melakukannya.
Setelah ia mendengar hal itu, ia tak langsung menjawab. Pandangan datar nan dingin ia hidangkan tepat di depan mataku. Dia selalu saja seperti itu. Tak tahukah dia kalau berekspresi seperti itu bisa membuatku agak takut?
"Enggak," jawabnya singkat.
"Hufff.... Syukurlah kalau Lo gak bales," ucapku sambil menghela napas pelan.
"Kenapa emang?" tanya Daniel.
"Nggak apa-apa, lupain aja," jawabku.
"Oh."
Setelah itu, aku dan dia sama-sama terdiam. Sekilas nampak banyak pasang mata dari kaum culun itu sedang menatapku yang berduaan dengan Daniel, tapi ketika aku melihat ke arah mereka, mereka langsung mengalihkan pandangannya dari menatapku. Mungkin mereka takut.
"Oh ya, katanya Lo pernah berantem." Aku kembali membuka percakapan setelah teringat akan suatu hal.
"Kapan?" tanya Daniel.
"Nggak tahu, mungkin waktu Lo dipanggil ke ruang guru bersamaan dengan gue waktu itu," jawabku. Jujur akupun ragu itu benar atau salah.
"Oh, iya," jawabnya.
"Kenapa?" Aku bertanya.
Siapa yang tidak penasaran jika manusia yang kelihatannya tak ada sedikitpun keberanian untuk melawan para pembullynya itu mengaku bahwa dia pernah berantem. Aneh, bukan? Kalau ia memang penakut dan pecundang, tak akan mungkin ia berani melawan meski pembullyan itu sudah sangat keterlaluan. Akan tetapi jika ia memang pemberani, kenapa di beberapa kejadian lainnya ia lebih memilih untuk diam? Aku yakin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
Aku merasakan bahwa kini dia sedang menahan kesal. Bukan kepadaku, tapi kukira karena ia teringat dengan kejadian yang aku tanyakan itu. Apapun itu, pasti kejadian itu sangat menyakitkan untuknya hingga membuatnya tak bisa menahan kesabarannya lagi.
"Dia menghina bapak gue. Dia bilang bapak gue gelandangan. Dia bilang gue dan keluarga gue gak pantes hidup di dunia ini. Dia juga menghina ibu gue yang sudah meninggal. Karena itu gue marah," jawabnya panjang lebar sambil berusaha terus menahan amarahnya.
"Keterlaluan banget dia itu," ucapku setelah mendengarkan penjelasan dari dia. Ia diam saja.
"Terus gimana tuh, lanjutannya?" tanyaku.
"Gue berantem sama dia," jawabnya. Aku sadar bahwa dia kini bersikap terbuka kepadaku. Tapi entah bagi dia. Mungkin dia tak sadar dan semua ini cuma pelampiasan kesal yang tak bisa ia lampiasin ke siapapun.
"Menang?" tanyaku.
"Iya," jawabnya singkat.
Andai dia tahu bahwa ketika mendengar dia bisa memenangkan pertarungan yang entah dengan siapa itu, hatiku bersorak ria seakan sedang merayakan kemenangannya itu. Tapi yang dia lihat dariku hanyalah senyuman manis khas Shelania. Selebihnya, hanya aku dan Tuhan yang tahu.
"Hebat," pujiku. Ia diam.
"Oh ya, emang dia yang berantem sama Lo itu siapa, sih? Waktu itu gue denger, dia anaknya donatur besar sekolahan ini. Emang siapa?" tanyaku.
"Kenapa?" tanyanya.
"Kenapa gimana?" tanyaku balik. Tentu aku bingung dengan pertanyaannya itu.
"Kenapa nanya gitu?" ucap Daniel.
"Oh, cuma pengen tahu aja," jawabku.
"Lo gak perlu tahu," ucap Daniel.
"Gue perlu tahu, Niel," sahutku penuh penekanan.
Bukannya apa-apa, aku cuma ingin tahu siapa saja yang berani membully Daniel. Apa mungkin orang yang berantem dengan Daniel hari itu juga Ryan? Aku berpikir seperti itu, tapi tetap saja tak menemukan titik terangnya sebelum aku mendapat jawaban dari Daniel tentang siapa orang itu. Akan tetapi masalahnya, kurasa ia tak akan mau memberitahu aku. Pastinya karena beberapa alasan yang tidak aku ketahui.
Kutunggu ia beberapa saat sampai mau bicara, tapi ia hanya diam saja. Kurasa benar, ia tak mau memberitahukan tentang siapa yang sudah ia ajak berkelahi waktu itu. Mungkin ia menganggap bahwa itu privasinya, dan ia tak ingin memberitahukan kepada siapapun termasuk aku. Kalau seperti itu, ya sudah.
"Baiklah, jika Lo gak mau ngasih tahu, gak apa-apa," ucapku. Akhirnya aku menyerah.
"Oh ya, katanya Lo juga pernah dihina sama teman-teman cewek Lo." Aku berbicara lagi ketika mendadak teringat dengan ucapan Mbak Ika di kantin waktu itu.
"Iya," jawab Daniel.
"Terus Lo?" tanyaku sambil mengangkat sebelah alisku.
"Ya gitu," jawabnya.
"Lo cuekin?" tanyaku.
"Iya," jawabnya.
"Hahaha, terus mereka gimana?" tanyaku. Aku merasa bahwa itu adalah hal yang lucu. Terbayang tentang bagaimana mereka sudah susah-susah mencari kata-kata hinaan, tapi dengan begitu mudahnya direspon Daniel dengan sikap cueknya.
"Gak gimana-gimana. Diam aja, sambil melihat gue pergi," jawabnya.
"Hahahaha." Aku tertawa lagi.
Kau tahu, Daniel? Sikap kamu yang seperti inilah yang sangat ingin aku lihat setiap harinya. Tapi, kenyataan ini membuatku agak sedih, Daniel. Sikap kamu yang seperti ini hanya bertahan beberapa saat, dan akan kembali lagi ketika kamu sedang tidak sadar dengan sikapmu sendiri.
Daniel memang seperti itu, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk membuatku bahagia. Aku berani taruhan, tak ada gadis lain yang sedekat ini dengan dia. Bukan karena dia yang tidak bisa merawat diri, tapi karena sikapnya yang begitu dingin hingga membuat para gadis jadi frustasi untuk mendekatinya.
Tapi aku tidak. Aku suka tantangan. Daniel adalah tantangan. Karena itu berarti aku juga suka dengan Daniel. Aku ingin menaklukkan hatinya dan mendapatkan cintanya. Itulah tujuanku. Selain itu aku juga ingin mengeluarkan dia dari belenggu penderitaan yang sudah semakin keterlaluan untuknya. Semoga saja, semoga aku bisa melakukan itu semua.
"Oh ya, gue boleh nanya lagi?" tanyaku.
"Apa?" tanya Daniel.
"Kalau Lo sebenarnya berani membalas perlakuan mereka, seperti kejadian saat Lo berantem itu, kenapa Lo gak melakukannya juga kepada orang-orang yang sering bully Lo?" tanyaku. Dia diam sejenak.
Aku tahu ada alasan tersendiri kenapa Daniel tidak mau membalas perlakuan mereka. Asumsiku, ia tak mau menambah masalah jika harus membalas. Akan tetapi waktu itu ia berani berantem dengan seorang anak donatur besar. Itu berarti seharusnya ia juga berani membalas perlakuan yang lainnya tanpa memperdulikan risikonya, bahkan kepada Ryan sekalipun.
"Lo udah berapa kali nanya soal ini?" tanyanya kepadaku, dan seketika itu juga aku sadar bahwa pertanyaan itu memang sudah banyak kali aku lontarkan ke Daniel.
"Belum juga 10 kali, Niel, masih sedikit lah, itu," jawabku santai.
"Heh." Dia tersenyum meremehkan.
"Jadi, gimana? Apa jawabannya?" tanyaku.
"Kenapa Lo selalu ingin tahu soal gue?" Dia malah menanyaiku balik.
"Kenapa malah balik nanya? Jawab dulu pertanyaan gue, Daniel!" pintaku.
"Kenapa Lo selalu ingin tahu soal gue?" tanyanya lagi.
Kalau Daniel sudah seperti itu, maka satu-satunya cara untuk mengganti kata-kata yang ia ucapkan hanyalah dengan menjawab pertanyaannya itu. Anggap saja itu seperti pertanyaan paksaan yang mau tidak mau harus dijawab oleh orang yang ditanyainya.