Bab 35

1595 Kata
"Ya.... Gue ingin tahu aja," jawabku agak ragu. "Tidak mungkin," sangkalnya. "Tidak mungkin gimana?" tanyaku. "Nggak mungkin jika Lo cuma ingin tahu aja. Pasti ada alasan lain," ucap Daniel. Aku berpikir. Sebetulnya apa yang ia katakan memang benar, tapi mulutku tak mampu untuk mengatakannya. Mengatakan bahwa aku peduli kepadanya dan juga mencintainya. Entahlah, aneh saja jika seorang perempuan yang mengawalinya. Aku ingin Daniel yang bilang ke aku bahwa dia mencintaiku suatu saat nanti. Memang, aku pernah bilang suka ke dia, tapi tak pernah sekalipun bahwa aku bilang cinta ke dia. Ingatlah, suka dan cinta itu berbeda, walaupun ada sedikit kesamaan arti di antara keduanya. "Hufff.... Iya, Lo benar, ada alasan lain kenapa gue selalu ingin tahu soal Lo. Itu karena gue peduli sama Lo. Lo mungkin gak akan percaya orang kayak gue bisa memiliki sifat peduli, tapi itulah kenyataannya," jawabku. "Dan gue benci dengan orang yang sok berkuasa hanya karena mereka merasa harkat dan martabat mereka lebih tinggi dari orang lain, sehingga mereka melakukan penindasan dan pembullyan. Heh, bagi gue mereka itu hanyalah sampah masyarakat yang tak pantas hidup berlama-lama di muka bumi ini," lanjutku penuh penghayatan. Kalau dulu, di zaman penjajahan ada yang namanya sumpah pemuda, maka sekarang aku juga bisa menemukan kata yang hampir sama. Cuma bedanya, ada satu huruf yang tidak sama. Dulu ada sumpah pemuda, dan sekarang ada sampah pemuda. Sangat memalukan. "Gitu, ya?" tanya Daniel. "Iya," jawabku. "Nah, sekarang, jawablah pertanyaan gue yang tadi. Tentang kenapa Lo lebih memilih untuk tidak membalas orang-orang yang telah membully Lo, padahal Lo juga pernah melakukan pembalasan itu kepada seseorang," ucapku. Kring! Kring! Kring! Sial! Bel sekolah itu telah berdering sebanyak tiga kali, tanda bahwa jam pelajaran sudah akan dimulai lagi. Daniel belum sempat menjawab pertanyaanku dan kurasa untuk kali ini ia tak akan mau menjawabnya. Aku yakin sekali kalau ia akan memanfaatkan bunyi bel itu sebagai alasan untuk lolos dari menjawab pertanyaanku. "Gimana, Niel?" tanyaku. "Sudah masuk, gue ke kelas dulu," ucapnya datar, tepat seperti apa yang aku pikirkan bahwa ia akan mengucapkan hal semacam itu. "Jawab dulu lah, Niel!" paksaku. "Lo gak dengar bel?" tanyanya dingin sambil menatapku. "Iya deh, tapi nanti jawab, ya," pintaku. "Iya," jawabnya sambil melangkah pergi. Penasaran? Tentu saja. Apa jawaban yang akan ia berikan jika seandainya waktu istirahat masih lama. Apakah ia akan menjawab tentang hal yang sesungguhnya, atau justru jawabannya akan berisi kebohongan. Entahlah, aku akui, sekarang ini dia telah sukses untuk membuatku penasaran. Selamat Daniel, selamat atas prestasimu dalam mengaduk-aduk rasaku. *** Lagi-lagi gagal, entah kapan ini akan berhasil. Tantangan yang satu ini adalah tantangan terberat sepanjang hidupku yang harus bisa kutaklukan. Aku sudah mulai menemukan titik terangnya meski harus kembali merasakan kegagalan. Daniel mulai hangat kepadaku walau sifat dinginnya juga tak bisa terlepas dari dia. Dia agak sedikit terbuka tentang perasaannya tadi. Jujur aku senang, senang sekali. Oke, ini baru seminggu lebih dari semenjak aku mengenal Daniel. Jika rasaku saja sudah menjadi seperti ini, kurasa setidak suka apapun Daniel kepadaku, dan secuek apapun dia kepada orang lain, pastilah di hatinya sudah muncul sebuah perasaan yang sama denganku. Mungkin hanya satu perdelapan dari rasaku, dan itupun tak bisa ia tunjukkan secara terang-terangan. "Lo dari mana aja, tadi?" Icha bertanya kepadaku ketika kami berada di kelas. "Dari perpustakaan," jawabku jujur. "Serius!" kata Icha. Kudengar dari nada bicaranya, itu bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan perintah untuk menyuruhku menjawab dengan serius. "Iya, gue dari perpustakaan, tadi," jawabku lagi. "Heh, mimpi apa Lo?" tanyanya. "Mimpi kalau gue sedang bermimpi dan di dalam mimpi itu gue mimpi kalau gue sedang mimpi," jawabku gak jelas. "Apaan sih?" ucap Icha. "Hahaha.... Lo mau tahu, apa yang gue lakuin di perpustakaan?" tanyaku. "Apa?" tanya Icha. Aku melihat ke arah sekeliling, terutama si penghuni bangku belakangku yang terkadang suka menjadi pendengar yang tidak diundang. Oleh karena itulah sekarang aku harus berhati-hati agar hal ini tidak di dengar oleh mereka. "Gue nyamperin Daniel tadi, di perpustakaan," bisikku ke Icha. "Hahaha.... Serius, Lo?" tanya Icha. "Ya iyalah," jawabku, tapi kali ini tidak dengan berbisik, melainkan berbicara biasa tapi dengan nada yang pelan. "Eh, Lo juga bisa jatuh cinta beneran, ternyata," ucap Icha agak keras. "Syuttt!" Aku langsung menyuruh Icha agar memelankan suaranya. "Apa? Si Shela jatuh cinta?" tanya Dina dengan hebohnya. Ya, dialah yang tadi kusebut sebagai pendengar tak diundang. Bersama Evi, ia sering sekali melakukan misi dalam menguping setiap pembicaraan dari teman-temannya, terutama pembicaraan mereka yang berada di bangku depannya. Sialnya, tempat itu adalah tempat yang kuhuni bersama Icha. Aku kesal dengan Icha yang terlalu keras dalam berbicara. Aku juga kesal pada Dina yang bertanya soal itu hingga membuat hampir seluruh penghuni kelas langsung menjadikanku pusat perhatian. Aku juga kesal pada si Evi yang mencie-ciekan aku. Mereka bertiga memang pantas jika harus disebut teman-teman laknat. "Eee.... Maksud gue, Shela itu kemarin jatuh sama si Cinta saat naik motor," ucap Icha. "Bukan jatuh cinta?" tanya Dina memastikan. "Ya nggak lah. Shela jatuh cinta? Hahaha.... Bisa masuk tujuh keajaiban dunia, entar," ucap Icha. Aku sebenarnya kesal dengan apa yang dia katakan, tapi apapun itu, ia sudah membuatku lolos dari situasi ini. "Yah... Penonton kecewa, deh. Teman-teman, Shela gak jadi jatuh cinta, nih," ucap Dina seakan-akan sedang mengumumkannya pada seluruh penghuni kelas. "Yaaaa...." Entah berapa orang merespon perkataan Dina, seakan menunjukkan kekecewaannya. Itulah teman-temanku. Kau tahu? Menjadi murid yang populer itu ada enaknya dan ada juga tidak enaknya. Saat kau memiliki teman-teman gila seperti ini, pastilah kau akan menjadi bahan pembicaraan walaupun itu sebenarnya cuma berasal dari hal yang kecil. Tapi aku bersyukur, bersyukur bahwa mereka masih bisa menghargai sesama. Andai teman-teman sekelasku mirip dengan teman-teman sekelas Daniel, mungkin sudah sejak lama aku memutuskan pindah kelas. Aku tahu, walaupun seandainya aku memiliki teman-teman yang seperti teman-teman sekelas Daniel, aku tetap tidak akan terbully. Akan tetapi aku pasti tidak akan tahan hanya karena melihat sikap mereka. Pastilah tiap harinya aku selalu ingin memukuli mereka. Mereka yang sombong dengan harta kekayaannya, mereka yang suka menindas dan membully, mereka yang suka pamer, dan juga mereka yang suka bergosip yang buruk-buruk tentang orang lain. Aku muak dengan semua itu. *** Seminggu lagi, tepatnya di hari Senin yang akan datang adalah hari di mana ujian akhir semester akan dimulai. Dengan begitu masih ada waktu seminggu mulai hari ini untuk mempersiapkannya. Guru-guru pelajar pun semakin mengebut dalam menyampaikan bab-bab yang masih tersisa. Layaknya sistemnya para siswa sok pintar yang melakukan kebut semalam, para guru pun melakukan hal yang hampir sama, tapi bedanya mereka melakukan sistem kebut seminggu. Aku berusaha menjadi murid yang lebih baik. Dalam seminggu ini, pokoknya kuusahakan untuk mengikuti setiap mata pelajaran yang akan disampaikan oleh para guru. Bukan aku takut dengan persyaratan ujian itu, melainkan aku hanya ingin menghargai usaha para guru yang menerapkan sistem kebut seminggu itu. Terserah di dalam kelas nanti, entah aku mau tidur, berbicara sendiri atau apapun itu, terserah aku. Setidaknya aku tetap berada di dalam kelas ketika pelajaran sedang berlangsung. "Oke anak-anak, sebelum ibu jelaskan, silahkan dicatat dulu." Itu adalah suara Bu Rini, si guru kimia. "Iya, Bu," jawab kami. Kalau di matematika yang paling kubenci adalah tentang al-jabar karena harus menghitung huruf, maka di dalam pelajaran kimia juga ada bab yang paling kubenci. Itu adalah bab di mana aku diharuskan menghitung unsur-unsur yang berada di alam. Hidrogen ditambah oksigen, hidrogen ditambah karbondioksida, ah, aku benar-benar tak paham dengan semua itu. "Nanti kalau ujian, gue contekin!" bisikku ke Icha. "Enak aja Lo," jawab Icha. "Halah, pokoknya contekin! Permintaan gue gak bisa diganggu gugat," paksaku. "Lo kan juga udah nyatet tuh. Ya dibuat belajar, biar nanti waktu ujian gak perlu nyontek," ucap Icha pelan. "Nyontek lebih enak," balasku. "Heh, gak kebiasaan banget Lo, gak mau usaha," ucapnya. "Nyontek juga usaha," balasku. "Terserah Lo lah, pusing gue," ucap Icha mulai nyerah. "Minum obat," ucapku. "Ya," jawab Icha singkat. Aku tertawa pelan. Ada lagi peristiwa yang terjadi di hari ini. Itu adalah saat di mana jam pembelajarannya Bu Mirna dimulai. Sekali lagi aku akan bilang bahwa dia adalah guru fisika di kelasku. Guru yang sudah kuanggap sebagai musuh bebuyutanku karena sering menghukumku. Aku sebenarnya malas ikut pelajarannya, tapi seperti yang sudah kujelaskan di atas tadi, bahwa aku hanya menghargai usaha mereka yang sedang menerapkan sistem kebut seminggu. "Eh, tumben kamu ikut pelajaran saya, Shel," ucap Bu Mirna setelah ia masuk ke kelas. Sekarang kau tahu sendiri, kan, kenapa aku tidak suka dengan Bu Mirna sekaligus apa yang ia ajarkan? "Hadeh, Bu, jadi serba salah saya," ucapku. "Ya, ibu senang kamu mau ikut pelajaran ibu, tapi tumben aja, gitu," ucapnya. "Hufff.... Saya gak mau ikut pelajaran ibu kan memang gara-gara ibu," ucapku menyalahkan. "Kok gara-gara saya?" protes Bu Mirna. "Ya gara-gara ibu yang sering menyinggung saya kayak gini, makanya saya malas ikut pelajaran ibu," jawabku. Kulihat teman-temanku sedang berusaha menahan tawanya, termasuk juga Icha. "Jadi, seharusnya di ujian akhir semester nanti, saya tetap boleh ikut ujian biarpun persentase masuk saya di bawah batas yang sudah ditentukan. Kan ini juga gara-gara ibu," lanjutku. Kalau kamu tidak percaya aku bisa seberani itu terhadap Bu Mirna, ya tidak apa-apa. Tapi, kau harus tahu bahwa keberanian seorang murid melawan gurunya muncul akibat ulah sang guru itu sendiri. Contoh kecil saja, aku tak pernah melawan Bu Maya, karena ia tak pernah membuatku marah. Aku juga tak pernah melawan Bu Rini meski apa yang ia ajarkan benar-benar membuatku pusing, karena Bu Rini pun selalu sabar dalam menghadapi sikapku. Aku memang tak ingin diperlakukan istimewa. Tidak dihukum meski sudah melakukan hal yang salah. Heh, aku benci hal itu. Akan tetapi aku juga tidak ingin diperlakukan seperti yang Bu Mirna perlakukan ke aku. Itu saja. Mungkin kau akan menyebut bahwa aku ini orang yang banyak permintaan, tapi itulah aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN