Bab 36

1379 Kata
Bu Mirna memilih untuk diam. Ia memang tak begitu pandai berdebat, salah jika ia harus menjadikanku sebagai musuh. Aku tersenyum karena merasa telah menang. Sebetulnya, walaupun aku tidak diperbolehkan untuk ikut ujian matematika pada hari yang akan datang, itu tidak menjadi masalah buatku. Aku cuma ingin membuat Bu Mirna terpojok. Sumpah, itu sangat seru. Kalaupun nanti ia menuruti permintaanku, ya bagus. Akan tetapi kalau tidak, ya tidak apa-apa. Palingan aku cuma akan membahasnya nanti tentang masalah itu saat aku sudah naik kelas 11. Itupun kalau guru fisikanya masih tetap dia. *** Di jam istirahat kedua, masih di hari yang sama, aku berencana untuk menemui Daniel lagi demi menanyakan tentang hal tadi lagi. Namun, tak kunjung kutemukan dirinya. Di perpustakaan, tidak ada. Di kantin, juga tidak ada. Di kelasnya pun tidak ada. Bahkan aku sudah mencarinya di seluruh penjuru kelas, tak terkecuali kelas-kelas 12 yang sudah kosong karena sudah ditinggal oleh para penghuninya. Namun tetap, tak kutemukan dia. Ke mana ia pergi? Di mana ia kini berada? Aku bertanya pada diriku sendiri yang pastinya tak akan bisa memberikan jawaban yang pasti. Ia seakan hilang dari bumi. Apa mungkin ia sengaja menghilang untuk menghindari aku? Oh iya, aku lupa. Ada satu tempat yang belum sempat aku datangi. Tempat itu adalah rooftop sekolahan ini. Daniel mungkin berada di sana, semoga saja. Akan tetapi ia jarang datang ke sana. Tempat itu seakan-akan telah dikhususkan untuk para kalangan atas. Daniel yang dianggap rendah oleh orang-orang, tak mungkin jika berani datang ke sana. Bukan, bukan tidak berani, kurasa karena ia cuma tidak ingin terjadi keributan jika ia datang ke sana. Tapi selalu ada kemungkinan di setiap hal kecil sekalipun. Aku akan tetap ke sana meskipun nanti yang kudapat hanyalah ketiadaan Daniel. Jika hari sedang panas begini, pasti di rooftop sana hanya ada sedikit orang, atau bahkan tidak ada sama sekali, atau juga cuma ada Daniel seorang. Kuharap tebakanku yang terakhir itu yang terjadi. Segera kulangkahkan kakiku dengan cepat menaiki setiap anak tangga untuk menuju rooftop sekolahan. Aku tidak ingin bel tanda masuk akan menggagalkan lagi untuk aku bisa mendapatkan jawaban dari Daniel tentang pertanyaan ini. Mungkin kau berpikir bahwa pertanyaan yang akan kulontarkan ke Daniel ini adalah pertanyaan yang tidak penting. Walau aku tak tahu jawabannya pun tak apa-apa. Akan tetapi bagiku, aku butuh jawaban itu untuk mengobati rasa penasaranku. Aku tak ingin terus-terusan menderita, hanya karena penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Daniel. Dengan perjuangan yang lumayan melelahkan, ketika aku harus melewati satu persatu dari anak tangga untuk menuju rooftop, akhirnya kini aku sudah sampai di sana. Dan ternyata, tebakanku yang terakhir tadi benar-benar terwujud. Di sana nampak Daniel yang sedang berdiri memandang ke arah bawah. Namun tiba-tiba pikiranku menjadi kalut, berpikir yang tidak-tidak tentang apa yang akan dilakukan oleh Daniel. Di rooftop bagian belakang sekolahan sana ia berdiri, dan tidak ada seorangpun di sekitar kecuali aku. Aku tak tahu apa yang aku takutkan ini benar atau salah. Akan tetapi kalau aku lihat di film-film, apa yang sedang dilakukan oleh Daniel saat ini adalah ciri-ciri orang yang ingin melakukan bunuh diri. Bukankah hidup dia penuh dengan penderitaan? Jadi kukira, itulah alasan bagi dia untuk melakukan bunuh diri. "Daniel, jangan!" teriakku menghentikan dia. Aku berlari kecil ke arahnya saat dia menoleh ke aku. Tatapannya yang tajam membuat aku tegang seketika. Namun tak juga kuhentikan langkah kakiku demi untuk menggagalkan aksi bunuh dirinya. "Jangan bertindak bodoh, Daniel! Gue tahu Lo sudah banyak merasakan penderitaan, tapi bukan itu caranya untuk mengakhiri penderitaan Lo. Lo harus berpikir jernih, Niel. Lo pikir dengan Lo mengakhiri hidup lo, semua masalah Lo akan berakhir? Tidak, Niel. Bahkan nanti Lo akan dihadapkan dengan banyak penderitaan lagi," ucapku panjang lebar. Aku hampir saja meneteskan air mata karenanya. Daniel diam saja sambil terus memandangku. Aku jadi teringat dengan ucapan kakekku yang sudah meninggal. Beliau dulu pernah bilang ke aku, waktu aku bertanya kepadanya. Saat itu kira-kira umurku baru 8 tahun. "Kek, kenapa orang itu loncat dari atas gedung, Kek?" tanyaku waktu itu sambil menunjuk ke arah televisi yang sedang menampilkan adegan bunuh diri. Tentunya ucapanku waktu itupun tak seperti apa yang aku tulis. Namanya juga anak kecil, pastilah belum lancar dalam berbicara. "Itu namanya bunuh diri, Shela cucuku," ucap kakekku. "Ooo... Bunuh diri ya, Kek?" tanyaku. "Iya. Perbuatan itu gak boleh ditiru, ya. Karena dia itu nanti pasti akan masuk ke dalam neraka," ucap kakekku. "Ooo.... Berarti dia nanti masuk neraka ya, Kek?" tanyaku lagi waktu itu sambil menunjuk ke arah televisi. "Iya.... Makanya, seberat apapun masalah yang akan Shela hadapi nanti, jangan pernah mengeluh, apalagi sampai bunuh diri seperti itu. Shela gak mau kan, dibakar di neraka?" ucap kakekku waktu itu. "Enggak mau Kek, panas," jawabku. Aku tak bisa mengingat semuanya, karena kejadian itu sudah lama berlalu. Tapi yang kuingat, waktu itu aku benar-benar mendengarkan ucapan kakekku dengan seksama, seakan waktu itu bagiku, itu adalah hal yang sangat menarik. Tak kusangka aku masih mengingatnya setelah hampir 10 tahun waktu berlalu, walaupun tidak semuanya. Oke, kembali lagi ke masalah Daniel yang kuduga ingin melakukan bunuh diri. Aku tak akan membiarkan hal itu sampai terjadi. Daniel tak boleh melakukannya. "Lo bilang, Lo gak selemah apa yang orang lain lihat, tapi kok Lo mau melakukan hal bodoh seperti ini. Hal bodoh yang hanya dilakukan oleh orang-orang lemah," ucapku, berharap ia terpancing dengan ucapanku dan tak jadi melakukan bunuh diri. "Payah ah, Lo," tambahku. Dia lagi-lagi menatapku dengan tajam. Aku diam, dan menyandarkan tubuh ke pembatas. Aku tetap berusaha bersikap tenang untuk menghadapi sikap Daniel sekaligus untuk mencegahnya melakukan bunuh diri. "Yang ingin bunuh diri, siapa?" tanyanya tajam. "Lah, kan Lo tadi mau bunuh diri," jawabku. "Heh." Untuk kesekian kalinya aku harus melihat senyum meremehkannya. "Nggak usah sok tahu!" lanjutnya. "Hmmm.... Gue bukannya sok tahu, kan Lo tadi emang mau loncat dari atas sini," ucapku. "Siapa yang ingin loncat?" tanyanya dingin. "Ya Lo, lah, tadi," jawabku. "Heh, dasar manusia aneh," gumamnya pelan, tapi aku masih bisa mendengarkan. "Gue gak aneh, Niel. Kalau gue aneh, gue gak mungkin mencegah Lo agar tidak jadi bunuh diri," ucapku. "Gue bukan ingin bunuh diri," sahutnya cepat. Matanya memandang tajam ke arahku. Di saat itulah aku baru tersadar kalau sebenarnya tadi Daniel tidak sedang ingin bunuh diri. Bayangan burukku itulah yang seolah-olah memaksa otakku untuk menganggap bahwa yang dilakukan Daniel tadi adalah tindakan orang yang akan melakukan bunuh diri. Untungnya, hal itu bisa hilang di kala Daniel berucap bahwa ia tidak sedang ingin bunuh diri. Tatapan yang penuh dengan kesungguh-sungguhan itu benar-benar membuatku langsung percaya bahwa apa yang ia ucapkan itu adalah suatu kebenaran. "Ooo.... Tapi kenapa di sini sendirian? Udah tuh pakai acara berdiri di tepi, pula," ucapku. "Itu terserah gue," jawabnya ketus. "Hah, baguslah kalau Lo gak mau bunuh diri," ucapku sambil bernapas lega. "Oh ya, tentang pertanyaan gue tadi, Lo belum jawab," ucapku lagi. "Yang mana?" tanya Daniel. Itulah Daniel. Aku yakin ia tidak sedang benar-benar lupa pada hal itu, secara dia adalah murid yang sangat pintar. Aku merasa dia sengaja melakukan hal itu. Mungkin bukan kepadaku saja, tapi kepada semua orang. "Yang di perpustakaan," jawabku. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya. "Tentang kenapa Lo yang tidak membalas perlakuan orang-orang yang telah membully Lo," lanjutku. "Oh," respon Daniel. "Kok 'oh' doang?" Aku memprotes. "Terus?" tanyanya. "Ya jawab!" perintahku. "Kenapa gue harus jawab?" tanyanya. "Ya karena...." Aku menghentikan ucapanku sejenak, mencari alasan yang tepat untuk menjawabnya. "Karena Lo udah janji mau jawab. Kan, tadi Lo bilang kalau gue mau jawab pertanyaan dari Lo, Lo juga mau jawab pertanyaan dari gue," lanjutku. "Gue gak pernah bilang janji," ucap Daniel. "Orang yang berjanji, tak perlu ngucapin kata 'janji', kan?" tanyaku. Ia terdiam. Kusanderkan tubuhku lagi. Kedua tanganku kulingkarkan di depan dadaku sambil menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Daniel. Tak lupa kupersembahkan pula senyuman manisku untuk menambah semangatnya dalam merangkai kata-kata yang akan ia gunakan untuk menjawab pertanyaanku. "Kenapa Lo segitunya ingin tahu soal hal ini?" tanya Daniel dingin. "Lah, malah balik nanya. Gak nepatin janji, ih," ucapku. "Jawab dulu!" ucapnya. "Ya kan gue udah jawab, tadi, waktu di perpustakaan. Tak mungkin, kan, kalau Lo lupa?" ucapku. "Hmmm." "Nah, ingat, kan? Sekarang jawab pertanyaan gue," ucapku. Dia terdiam. Aku yang melihat tingkahnya pun jadi ragu tentang apakah ia mau memberikan jawaban atau tidak. Kuharap ia mau, tapi apapun yang nanti ia putuskan, itu juga hak dia. Aku tak punya hak untuk memaksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN