"Jawab Niel!" ucapku lagi. Kukira aku sudah agak sedikit memaksa Daniel untuk menjawab.
"Lo pasti sudah tahu jawabannya," ucapnya pelan.
"Belum, kan Lo belum bilang," jawabku cepat.
"Sekarang, dunia yang diisi oleh orang-orang bodoh ini hanya bergantung pada uang. Dengan uang, dia akan kuasa. Mereka yang tidak mempunyai banyak uang akan ditindas dan diperlakukan secara semena-mena." Ia berucap. Awalnya dia memandang kosong ke arah lain sebelum kemudian pandangannya diarahkan tajam ke arahku.
"Jalan satu-satunya untuk mereka yang tidak ada kuasa hanyalah diam, menerima perlakuan tidak enak dari orang yang berkuasa. Walaupun itu sangat menyakitkan. Melawan hanyalah cara terburuk yang akan membuat masalah menjadi semakin besar hingga dia yang tidak ada kuasa itu semakin tertindas. Lo paham maksud gue, kan?" lanjut Daniel panjang lebar yang diakhiri dengan pertanyaan.
Aku mengangguk paham. Rupanya alasan kenapa ia tidak mau membalas adalah karena ia tidak ada kuasa apa-apa. Di dunia yang kejam ini, uang menjadi yang segalanya. Dengan banyak uang serta punya kedudukan tinggi, bahkan ketika dirinya yang bersalah pun pasti akan dibenarkan. Itulah yang mungkin ditakutkan oleh Daniel.
"Iya," jawabku.
"Tapi kenapa hari itu Lo berani membalas?" tanyaku. Maksudku waktu Daniel berantem dengan seseorang yang merupakan anak dari donatur besar sekolahan ini.
"Dia menghina orang tua gue. Siapapun dia, gue gak peduli jika sudah melibatkan nama orang tua gue di dalam penghinaan dia," jawabnya. Wajahnya terlihat sangat serius. Jika kau melihatnya langsung, mungkin kau akan ketakutan.
"Sudah gue jawab. Sekarang, gak usah nanya apa-apa lagi sama gue," lanjut Daniel. Aku diam.
Aneh kau, Daniel. Meski kamu selalu menyuruhku untuk tidak bertanya apa-apa lagi kepadamu dan tentangmu, aku tidak akan menurutinya. Mungkin setelah kau mengatakan hal seperti itu, aku akan bilang 'iya', atau paling tidak akan mengangguk. Akan tetapi selang waktu satu jam saja sejak aku menjawab, aku pasti akan mengkhianati jawabanku itu. Jika itu yang sering terjadi, maka maafkan aku.
Kini ia berjalan entah mau ke mana. Mungkin mau turun dan menuju kelasnya ataupun ke perpustakaan lagi. Dia berjalan pelan meninggalkan aku yang masih terpaku di tempat semula, yang hanya bisa memandang dia dari belakang. Namun, entah kenapa ia kemudian berhenti, tapi tak berbalik untuk menghadapi.
"Bagi gue orang-orang kaya hanyalah si manusia sialan yang bisanya cuma menghancurkan kebahagiaan orang lain," ucapnya dengan penuh kesungguhan, kemudian pergi.
Bagai disambar oleh halilintar, tubuhku lemas seketika. Pasalnya, dia tadi telah menyebut orang-orang kaya sebagai sumber penghancur kebahagiaannya, dan sialnya, aku adalah salah satu bagian dari orang-orang kaya. Itu berarti, ia juga menganggap bahwa aku ini juga merupakan sumber penghancur kebahagiaannya. Aku sedih, sungguh, aku tidak sedang bercanda.
Di saat Daniel sudah mulai bisa bersikap terang-terangan ke aku, aku malah mendapat pengakuan mengejutkan sekaligus menyakitkan dari dia. Aku bingung, apa aku harus menyerah atau tetap lanjut untuk bisa mendapatkan cintanya. Aku takut, jika aku terus lanjut, maka aku bisa saja malah semakin menghancurkan kebahagiaannya. Akan tetapi jika aku menyerah, itu berarti ada beberapa hal yang akan hilang dalam duniaku. Pertama, dicintai oleh Daniel, dan yang kedua adalah aku tidak akan bisa menciptakan dunia yang lebih indah untuk Daniel. Mungkin dia selamanya akan jadi seperti Daniel yang sekarang. Daniel sang pembenci dalam diam. Daniel sang pendendam tanpa bisa melawan. Ah, aku tak ingin Daniel terus-terusan jadi seperti itu.
Tapi aku tentu butuh waktu, butuh waktu untuk memutuskan tentang hal terbaik yang harus kulakukan nantinya. Aku tak mau gegabah dalam memutuskannya. Ini tentang perasaan, tentang hati dan tentang kebahagiaan seseorang. Aku jadi ingat sebuah kalimat yang pernah k****a di buku tulis milik mamaku. Sebuah kalimat yang berbunyi....
"Hati memang tidak bisa melihat, tidak dapat mencium, mendengar, meraba ataupun berbicara. Tapi hati bisa merasakan, merasakan apa yang organ tubuh lain gak bisa rasakan."
Meski cuma sepenggal, tapi kalimat itu benar-benar mempunyai makna yang luar biasa. Mamaku sungguh hebat dalam berkarya, hingga dirinya bisa menciptakan kata-kata seindah itu. Jiwa sastranya memang tak perlu diragukan lagi. Itulah mamaku.
***
Daniel membenci orang-orang kaya. Kukira itu juga alasan kenapa ia tak pernah mau berdekatan dengan aku. Padahal aku tak pernah ada kesalahan apapun ke dia. Aku tahu, di balik seseorang yang membenci sesuatu, pasti ada alasan kenapa ia membenci hal itu. Demikian pula Daniel. Kurasa dulu ada sebuah peristiwa kelam yang tak pernah bisa ia lupakan sampai saat ini. Sebuah peristiwa yang ada hubungannya dengan seseorang yang kaya raya. Aku tak tahu apa itu.
Di ujung hari yang sudah mulai menggelap ini, kuhabiskan waktuku untuk memikirkan Daniel seorang. Aku tak dapat protes kepada otakku yang selalu menggambarkan wajah seorang Daniel. Kata-katanya yang tadi ia ucapkan di rooftop, itu juga terus terngiang-ngiang di benakku. Aku tak bisa menghapusnya dengan mudah. Bahkan mungkin, jika aku mengalami lupa ingatan sekalipun, kata-kata itu masih tetap terkenang.
Sebab Daniel, aku perlahan demi perlahan sudah mulai bisa menjadi perempuan yang sebenarnya. Dari beberapa hari ini aku selalu belajar memasak dengan Bi Darmi hingga akhir-akhir ini aku sudah lumayan mahir dalam kegiatan masak-masak. Kau tahu, bagaimana aku yang dulu? Jika kau melihatku, mungkin kau akan menganggap bahwa aku ini bukanlah seorang perempuan. Aku suka hal-hal yang menantang, bahkan sampai sekarang pun masih. Bedanya semenjak aku kenal dengan Daniel, hal semacam itu agak aku kurangi.
Aku sadar, sikapku ini sudah sedikit berubah menjadi lebih baik. Teman-teman sekolahku pun pasti merasakannya. Hanya saja mereka tak berani membicarakan hal itu jika ada aku. Kalau di belakangku, mungkin saja mereka membicarakannya.
Malam hari pun tiba. Kini tiba saatnya waktu makan malam. Aku, Papa dan Mama sudah duduk di kursi ruang makan. Si Bibi alias Bi Darmi masih sibuk menyiapkan semuanya dan menaruhnya di meja makan. Aku sebenarnya ingin membantu, tapi entahlah, rasanya mendadak malas.
Di depanku ada sepasang kekasih yang selalu kupanggil dengan sebutan Papa dan Mama. Tiba-tiba aku jadi ingin bertanya sesuatu kepada mereka, tapi kurasa lebih baik menanyakannya nanti setelah acara makan malam ini selesai. Memang sudah menjadi tradisi keluargaku bahwa ketika sudah berada di ruang makan, dan sepiring makanan sudah terhidang, kita diharamkan untuk berbicara. Itulah keluargaku, tapi aku senang dengan semua itu dan tak sedikitpun merasa keberatan. Walau aturan yang dibuat, seolah-olah adalah sebuah paksaan yang mau tidak mau harus dilaksanakan.
Di ruang makan itu, aku makan bersama dengan Papa, Mama dan juga Bi Darmi. Kalau kamu mau tahu tentang apa yang aku inginkan, aku teringin sekali punya saudara perempuan. Akan tetapi takdir berkata lain yang mengharuskan aku menjadi anak tunggal di keluarga Artasyah.
Selepas makan, Bi Darmi mulai beres-beres dan mencuci seluruh piring serta peralatan lainnya yang kami gunakan untuk makan, tadi. Papa juga pamit pergi ke ruang kerjanya dulu. Katanya ada kerjaan yang harus diselesaikan. Maklum lah, orang sibuk. Mama masih tetap berada di depanku yang hanya terpisahkan oleh meja makan. Kini saatnya lah aku melontarkan sebuah pertanyaan untuk dia.
"Ma, Shela mau nanya," ucapku. Sontak Mama pun langsung memandang tajam ke arahku.
"Nanya apa, Shel?" Mama yang bertanya.
"Emmm.... Dulu waktu masih muda, Papa itu orangnya gimana sih, Ma?" tanyaku ke Mama.
"Waktu masih muda, ya?" Mama terlihat sedang berpikir, seolah-olah sedang mengingat masa lalunya.
"Iya, Ma," ucapku sambil senyum.
"Oh iya, ini. Jadi, dulu papa kamu ini orangnya cuek banget kalau sama cewek-cewek. Bahkan lebih cenderung gak mau bergaul sama cewek-cewek. Sampai-sampai nih ya, Shel...." Mama tiba-tiba menggantung ucapannya sambil menahan tawa.
"Papa kamu ini dibilang suka sejenis sama kawan-kawannya," lanjut Mamaku.
"Hah, kok bisa, Ma?" tanyaku juga berusaha menahan tawa.
"Ya iya, Shel. Gara-gara sifatnya itu," jawab Mama. Aku tertawa pelan.
Papa dan Mamaku dulu memang berkuliah di kampus yang sama. Wajar saja jika mereka lebih mengenal satu sama lain. Beda cerita dengan aku dan Daniel yang meski bersekolah di sekolahan yang sama, tapi belum bisa mengenal satu sama lain.
"Pokoknya gitu lah, Shel. Pokoknya Papa kamu ini cuek banget sama cewek," ucap Mamaku.
"Hahaha.... Papa tampan gak, Ma, waktu masih muda?" tanyaku lagi.
"Kalau dibilang tampan sih, ya tampan. Banyak yang suka tuh, sama Papa kamu," ucap Mamaku.
"Termasuk Mama?" tanyaku. Mama tersenyum.
"Banyak cewek yang ngejar-ngejar Papa kamu dulu. Hingga entah karena risih atau apa, suatu hari papa kamu tampil seperti gelandangan, tahu nggak?" Lagi-lagi ucapan Mama diiringi dengan tawa.
"Gelandangan gimana, Ma?" tanyaku.
"Iya. Jadi waktu itu, Papa kamu sengaja tampil gitu demi menghindari cewek-cewek yang selalu ngejar-ngejar dia. Rambutnya yang biasanya rapi, dibuat acak-acakan. Pakaiannya yang biasanya bagus-bagus, waktu itu dia sengaja pakai pakaian yang jelek. Pokoknya gitu deh, mama lupa detailnya," ucap Mamaku.
"Ada-ada saja Papa nih," ucapku.
"Iya, Shel. Mungkin sampai seminggu Papa kamu berpenampilan kayak gitu. Tapi berkat itu, cewek-cewek yang tadinya ngejar-ngejar dia jadi mundur satu-persatu," ucap Mama.
"Mama juga?" tanyaku.
"Mama sih masih menyukai dalam diam, waktu itu. Mama gak mau lah jadi cewek yang agresif kayak yang lainnya. Merendahkan harga diri itu, namanya," ucapnya. Mendengar hal itu, aku jadi malu pada diriku sendiri.
"Tapi Ma, masa cuma karena gitu aja, cewek-cewek bisa sampai mundur buat deketin Papa?" Aku bertanya. Entahlah, aku merasa aneh saja dengan cerita dari Mama.
"Ya nggak tahu juga sih, pemikiran mereka. Tapi kalau gak salah, waktu itu Papa kamu juga sempat mengaku bahwa ayahnya, alias kakek kamu itu perusahaannya mengalami kebangkrutan," jawab Mama.
"Papa bilang gitu?" tanyaku.
"Iya. Mungkin karena itu jugalah sehingga membuat mereka mundur. Bahkan karena itu juga, beberapa teman Papa kamu juga mulai menjauh dari Papa kamu," jelas Mama.
"Ya, bisa dibilang, sambil menyelam minum air, lah. Niat awal melakukan itu hanya untuk menghindari cewek-cewek, eh Papa kamu akhirnya jadi tahu mana teman yang tulus dan mana teman yang cuma memandang kekayaan saja," lanjut mamaku. Aku manggut-manggut mengerti.
Awalnya aku agak tidak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh Mama. Mana mungkin, seorang Papa yang kukenal sebagai lelaki yang berwibawa mau-maunya mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Akan tetapi, jika kulihat dari raut wajah Mamaku, nampaknya ia tidak sedang bercanda.
"Emmm.... Jadi, yang Mama suka dari Papa itu apa, dulu?" tanyaku langsung ke inti.
"Ya karena sikap cuek yang terkadang juga lucu itu yang membuat Mama tertarik," jawab Mama.
Entah ini suatu kebetulan atau apa, apa yang terjadi pada Mama dan Papaku bertahun-tahun yang lalu kini terjadi lagi padaku dan Daniel. Aku ibarat Mama yang mengejar Papa hanya karena tertarik untuk menaklukan hati si pria cuek itu, dan Daniel ibarat Papa, sang manusia cuek yang aslinya sangat baik. Ini seperti bom waktu, yang dipasang di zaman Papa dan Mama waktu masih remaja, dan meledak di saat aku remaja.
Aku tak percaya reinkarnasi. Lagipula, Papa dan Mamaku juga masih hidup, mana mungkin jiwanya bisa bereinkarnasi. Akan tetapi, kesamaan ini membuatku ingin berpikir lebih jauh lagi. Sifat-sifat Papa yang hampir sama dengan Daniel. Mungkin bedanya cuma Papa agak humoris dan hidup tanpa tertindas, sedangkan Daniel selalu ditindas dan sifatnya itu murni sangat dingin, hampir tak ada canda di hidupnya.
Aku juga. Sifat ini seolah-olah mirip dengan Mama. Mama menyukai hal yang menantang, aku juga. Bagi Mama, Papa adalah sebuah tantangan waktu ia masih remaja dulu, dan bagiku Daniel juga sebuah tantangan yang harus kutaklukan. Cuma bedanya, terletak pada cara menyampaikan rasa suka dan cara untuk menaklukkannya. Mama lebih cenderung menyukai dalam diam, dan tidak seagresif diriku.
"Kalau Shela juga suka cowok seperti Papa, gimana, Ma?" tanyaku. Maksudku, orang itu adalah Daniel.
"Ya bagus. Harusnya sih gitu," jawab Mama. Aku senyum.
"Eh, emang kamu sudah mulai suka-sukaan, sekarang?" tanya Mamaku. Aku lagi-lagi cuma tersenyum.
"Malah senyum," lanjut Mamaku.
"Gak tahu, Ma. Ya udah, Shela ke kamar dulu aja, ngantuk mau tidur," ucapku ke Mama sambil beranjak dari kursi yang kududuki.
Mama tak sedikitpun melakukan usaha untuk mencegahku pergi. Mungkin ia sedang tidak fokus dengan keadaan sekitar karena pikirannya yang dipenuhi dengan pertanyaan seputar diriku. Tentang apakah putri semata wayangnya ini sedang menyukai seseorang, ataupun tentang siapa orang yang sedang disukai oleh putrinya itu. Jika tebakanku itu benar, dan aku mampu menjawab, maka pasti akan kujawab, 'iya, namanya adalah Daniel'. Akan tetapi inilah diriku, seorang perempuan yang susah untuk mengungkapkan kalau tidak berawal dari keceplosan.
Tapi biarkan saja diriku seperti itu. Bukankah malah akan lebih baik? Jika jiwa Mama melekat ke dalam jiwaku, maka akupun seharusnya harus mencintai Daniel dalam diam, sama seperti apa yang mama lakukan ke Papa dulu. Aku tak tahu, apa benar hanya dengan diam bisa menaklukan hati seseorang?