Kini aku duduk di singgasana suci berlapiskan kasur yang empuk. Aku tak ada niatan untuk pergi keluar rumah. Kenapa? Tentu saja karena cuaca yang tidak mendukung. Malam ini sang bintang dan bulan memang tak bisa terlihat. Hal itu karena tertutup oleh mendung tebal yang mungkin itu adalah pertanda akan turunnya hujan.
Aku duduk sambil memegang buku milik mama yang tadi kuambil dari sofa di ruang tamu. Buku yang bertuliskan banyak sekali puisi dan juga kata-kata mutiara karya mama sendiri. Tidak juga sih, sebenarnya, di samping setiap puisi yang mama tulis di buku itu, ada juga puisi karya Kahlil Gibran. Jujur aku mulai suka untuk membacanya, padahal dulu aku paling malas kalau harus disuruh membaca, kecuali jika disuruh membaca komik.
Jder!
Suara guntur mulai terdengar. Itu mengingatkan aku pada kejadian di pagi hari itu lagi. Ah, menakutkan. Untungnya aku kini berada di rumah bersama keluarga, jadi agak lebih tenang rasanya.
Kuhiraukan suara-suara mengerikan itu. Mataku bergerak liar mengikuti setiap huruf yang tertera di buku tulis milik Mamaku itu. Tak lupa mulutku komat-kamit membaca setiap kata yang ada. Aku terkadang tersenyum karenanya. Kau tahu? Mama bukan hanya pandai membuat kata-kata bijak yang penuh makna maupun puisi yang indah. Akan tetapi, Mama juga pandai dalam membuat kata-kata lelucon, yang terkadang juga ia jadikan sebagai quotes.
"Jika dirimu butuh obat penenang, maka do'a adalah obat penenang yang paling ampuh untukmu. Jika itu masih tidak berfungsi juga untukmu, maka matilah! Mungkin itu bisa membuatmu tenang."
Itulah sepenggal kata-kata yang Mamaku tulis dalam bukunya. Aku tak bisa menyebut itu sebagai kata-kata bijak. Aku juga tak bisa menyebut itu sebagai lelucon. Jika k****a berulang-ulang, kata-kata itu berada pada tingkatan yang sama, antara lelucon dan kata-kata bijak.
Kubuka kembali halaman selanjutnya. Ada puisi karya Kahlil Gibran di sana, dan di sampingnya adalah puisi karya Mamaku yang berjudul, 'Tangisan Ibu Pertiwi'. Itu adalah puisi tentang negeri ini. Tentang tanah Indonesia yang seolah-olah sedang menangis karena ulah manusianya sendiri. Bahkan pandanganku dan mama tentang negeri inipun juga sama.
Tangisan Ibu Pertiwi
Tanah moyangku sedang berduka
Melihat kelakuan manusianya
Manusia yang tidak punya hati
Manusia yang ingin menang sendiri
Apanya yang disebut negeri zamrud khatulistiwa
Kalau hutan rindang nan rimbun dibakarnya
Apanya yang dijuluki negeri maritim
Kalau lautan yang begitu luasnya diabaikannya
Ini negeri ibu pertiwi
Negeri sejuta mimpi
Bagi mereka yang sadar diri
Yang punya Budi pekerti
Inilah negeri ibu pertiwi
Negeri di mana keadilan jarang ditegakkan
Inilah yang disebut tanah anarki
Tanah di mana banyak terjadi penderitaan.
Kubaca sajak-sajak indah dari puisi ciptaan Mamaku. Tentang negeri yang menurutnya sedang berada di ujung tanduk. Tentang bumi pertiwi yang sudah tak pantas untuk dihuni. Tentang tanah air yang mungkin nanti akan menenggelamkan tuannya.
Mama benar, aku setuju dengan apa yang ia tulis di dalam puisinya. Bagiku itu bukan sekedar puisi, tapi juga ungkapan hatinya pada keadaan negeri ini yang aslinya. Kurasa mamaku cocok jika harus menjadi aktivis yang bergerak di bidang sastra.
Entah mengapa hatiku tergerak lagi untuk membaca huruf demi huruf yang mama tulis di buku tersebut. Mendadak aku jadi suka membaca, dan tak kuketahui dengan jelas apa alasan sebenarnya kenapa aku bisa jadi seperti itu.
Suara petir mulai terdengar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, rintik-rintik air pun turun untuk membasahi bumiku tercinta, menemani malamku yang sunyi di singgasana suci ini. Kutaruh dulu buku milik Mama di atas kasur, kemudian kakiku bergerak melangkah ke arah jendela kamar yang sedari tadi memang masih terbuka. Aku pun langsung menutupnya untuk mencegah air hujan supaya tidak bisa masuk ke kamarku. Tapi sebelum itu, kulihat keadaan di luar sana. Sepi, hening, sunyi dan entah harus disebut apa lagi, aku tak bisa mengungkapkan semuanya.
Aku kembali lagi ke singgasana suciku dan mulai untuk membaca buku karya sang malaikat tak bersayap yang selalu kupanggil dengan sebutan 'Mama'. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, ataupun bait demi bait, dan juga lembar demi lembar k****a dengan sungguh-sungguh. Kau tahu, kurasa aku mulai menyukai sastra.
Aku suka membaca kata-kata mutiara yang kuyakini itu adalah karya Mamaku sendiri, bukan hasil menjiplak dari manapun juga. Itu sungguh memberikan nilai yang berarti bagi setiap insan yang membacanya. Kalau kau ingin tahu bunyinya, kira-kira seperti inilah....
"Masa lalumu hanyalah sebuah kenangan yang tak kan terlupakan. Masa depanmu adalah kematian. Akan tetapi, masa kini mu adalah tempat di mana ada sebuah impian yang harus kamu perjuangkan."
Ada juga yang entah harus kusebut apa. Menurutku, ini bukan quotes. Ah, entahlah, aku tak mau memberikan sebutan jika nanti hasilnya adalah sebuah kesalahan. Inilah kata-katanya....
"Hai, kau, pertiwiku. Bangkitlah segera! Agar rakyatmu tidak lagi menderita. Kau, Nusantaraku, persatukanlah kami seperti zaman penjajahan dulu. Agar tidak ada lagi perselisihan di antara kami. Kau, negeri zamrud khatulistiwaku, menghijaulah seperti dulu, sehingga dunia masih mau menyebut kau sebagai paru-paru dunia."
Lagi-lagi tentang negeri Indonesia ini. Mamaku benar-benar merasa peduli dengan keadaan negeri ini. Di saat yang lain sedang sibuk memikirkan untuk menambah harta kekayaan, mamaku masih sempat-sempatnya memikirkan keadaan negeri ini.
Mama juga pernah bilang ke aku, dia sangat benci para tikus berdasi, sang pemakan uang rakyat. Mama pernah bilang ke aku dengan sangat kejam tentang hukuman yang pantas diberikan kepada para tikus berdasi itu. Katanya, mereka harusnya jangan hanya dipenjara ataupun hanya ditembak mati. Itu hukuman yang sangat ringan menurutnya. Akan tetapi, mamaku ingin, mereka diberikan hukuman penyiksaan dulu sebelum akhirnya dibunuh.
Kau tahu apa yang dikatakan mama tentang penyiksaan itu? Mama bilang, mereka harus dikelupas kulitnya sampai habis, hingga tinggal tulang, daging dan urat-urat beserta ototnya dengan darah yang mengalir deras. Setelah itu, di sekujur tubuh yang kulitnya sudah dikelupas itu disiram air perasan jeruk nipis. Mama juga bilang, kuku-kuku mereka harus dicabut paksa tanpa menggunakan bius. Sumpah, aku ngeri ketika mendengarnya. Nampaknya di dalam jiwa si wanita cantik seperti mama pun ada sedikit jiwa psikopatnya.
Mungkin mama benar, hukuman seperti itulah yang pantas diberikan kepada para tikus berdasi. Namun yang menjadi pertanyaannya, adilkah hukum di negeri ini? Tidak. Hukum memihak kepada mereka yang kuat, dan menghancurkan para rakyat kecil. Ya, walau aku tergolong orang besar, dalam arti keturunan orang besar, aku merasa hal seperti itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.
Itulah kenyataan, tapi biarlah. Hanya kesadaran dari masing-masing orang lah yang bisa mengubah itu semua. Ah, aku jadi ingat kenapa Daniel membenci orang-orang kaya. Aku yang bahkan tak pernah merasakan apa yang Daniel rasakan pun kini bisa memahaminya. Ya, aku setuju dengan Daniel yang membenci tindakan seperti apa yang dilakukan oleh para tikus berdasi itu. Akan tetapi aku tidak setuju dengan dirinya yang membenci semua orang kaya, karena tidak semua dari orang kaya punya perangai yang buruk.
Daniel, mungkin ia pernah menjadi korban dari keserakahan seseorang yang harusnya sudah kaya raya. Karena tidak mungkin jika ia bisa sebenci itu kalau ia tidak pernah menjadi korban. Biasanya, pemikiranku adalah sebuah kebenaran, tapi entah untuk yang ini, aku tidak tahu.
***
Malam itu adalah malam yang cukup spesial buatku walaupun berada dalam kesendirian dan kesunyian. Berkat karya sastra yang mama tuangkan di dalam buku tulisnya itu, aku jadi semakin tahu tentang sesuatu yang telah dilupakan oleh banyak orang. Dan di malam itu pula, harus kuakui bahwa aku sudah mulai menyukai sastra.
Jika separuh jiwa Mama sudah bereinkarnasi ke jiwaku, mungkin tentang aku yang mulai menyukai sastra itu memang benar. Aneh juga jika orang sepertiku suka dengan hal begituan. Seorang wanita jalanan yang tiba-tiba suka dengan dunia sastra. Agak sedikit aneh, sih.
Pagi ini telah menghilangkan momen yang spesial di malam itu. Malam sunyi yang hanya ditemani oleh suara rintik hujan dan juga suara hati mama yang seakan keluar di kala kata-kata ciptaannya di dalam buku tersebut k****a. Seperti kata Mama, masa lalu hanyalah kenangan yang tak kan terlupakan dan masa kini, ada sebuah impian yang harus kuperjuangkan. Kau tahu impian apa yang harus kuperjuangkan? Tentu saja impian untuk menaklukan hati seorang Daniel.
"Nanti berangkatnya bareng Mama aja atau mau berangkat sendiri?" tanya mamaku sesaat setelah sarapan.
"Lah, kan arah sekolah mama sama sekolahan Shela beda, Ma," ucapku.
"Kan Mama bisa nganterin kamu dulu, Shel," ucap Mamaku.
"Emmm.... Shela berangkat sendiri aja lah, Ma. Nanti mama malah telat entar kalau harus nganterin Shela dulu," ucapku.
"Ooo.... Ya sudah kalau gitu," kata Mama.
Bukannya apa-apa. Aku mempunyai banyak alasan yang tak dapat kuucapkan langsung ke Mama kenapa aku tidak mau dianterin. Tapi akan kutulis di sini tentang berbagai alasan tersebut. Pertama, karena aku bukan si gadis manja yang ketika pulang dan pergi sekolah harus dianterin. Kedua, aku lebih suka naik motor dibandingkan naik mobil. Bagiku, naik motor itu memberikan sensasi yang sangat berbeda. Sensasi yang tidak akan pernah didapatkan ketika naik mobil. Ketiga dan yang terakhir, karena aku tidak mau berangkat sepagi ini. Menurutku, jadwal berangkat mamaku itu terlalu pagi. Jelas aku merasa kepagian. Mama selalu berangkat dari rumah itu jam 06:15, sedangkan aku jam tujuh kurang seperempat baru berangkat dari rumah. Bukankah itu perbedaan yang cukup jauh? Oh ya, kalau ada yang bertanya tentang di mana Papaku di pagi hari ini, jawabnya adalah Papaku sudah berangkat sedari tadi. Bahkan tadi hanya sarapan roti.