Kembali lagi ke mamaku. Sebenarnya bukan kali ini saja ia menawari aku untuk berangkat sekolah bersamanya, tapi ini udah ke sekian kalinya dan tak ada satupun dari penawaran itu yang aku terima. Alasannya ya itu tadi. Selama penolakanku tak menyakiti hatinya, sepertinya itu tidak menjadi masalah. Bayangkan jika hanya karena itu, mamaku jadi sakit hati. Lalu dia murka dan berdo'a kepada sang kuasa supaya aku dikutuk jadi batu. Bisa-bisa aku jadi Malin Kundang season kedua, entar.
"Mama berangkat dulu, ya." Mama berpamitan kepadaku yang masih berada di ruang makan sembari sibuk memainkan ponsel.
"Iya, Ma. Hati-hati," jawabku.
Beginilah rutinitasku setiap harinya. Setelah sarapan, aku tak langsung berangkat sekolah, dan malah memilih untuk memainkan ponsel terlebih dahulu sampai batas waktu yang telah ditentukan tiba. Terkadang aku juga sampai ditegur oleh BI Darmi, disuruh agar cepat-cepat berangkat, tapi tetap aku tidak menuruti ucapannya dan masih menunggu batas waktu itu tiba.
"Non, udah jam setengah tujuh lebih nih, kok belum berangkat." Baru juga kubahas, eh Si Bibi sudah menjalankan tugasnya untuk mengingatkan aku supaya segera berangkat.
"Iya Bi, sebentar lagi," jawabku.
"Eh, nanti telat lho, Non," katanya.
"Ya gak apa-apa," jawabku.
"Kalau dihukum?" tanya Bi Darmi.
"Ya dijalani dong, Bi," jawabku tenang.
"Hmmm.... Kan sebentar lagi ujian sekolah, Non. Non Shela ya harus belajar dengan sungguh-sungguh, biar nanti nilainya bagus-bagus. Jangan sering telat," ucap Bi Darmi panjang lebar.
"Ih, Si Bibi udah kayak guru aku aja," ucapku sambil sedikit tertawa.
"Iyakah, Non?" tanya Bi Darmi dengan wajah polosnya.
"Iya, Bi," jawabku.
"Ya sudah, kalau begitu, Shela mau berangkat sekarang aja lah, Bi," lanjutku.
"Nah gitu dong, Non," ucap Bi Darmi.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
Sama seperti Mama yang tidak setiap hari menawarkan untuk mengantarkan aku ke sekolahan, Bi Darmi juga tidak setiap hari mengingatkan aku supaya segera berangkat ke sekolahan. Mungkin ada jadwalnya sendiri-sendiri tentang kapan ia harus melakukan hal itu dan tentang kapan ia cukup berdiam diri. Mungkin saja seperti itu. Setiap manusia kan pasti punya titik lelahnya.
***
Di sepanjang perjalanan menuju ke sekolahan, kata-kata Mama yang tertulis di buku itu selalu terngiang-ngiang di benakku. Setiap kali kulihat jalanan Kota Metropolitan dan orang-orangnya, aku ingin sekali membanding-bandingkannya dengan Kota Metropolitan di zaman dulu. Tak berguna lagi kah budaya antre sehingga tiap harinya jalanan mengalami kemacetan? Ah, jangankan antre, bahkan mungkin rasa persatuan dan kesatuan dalam diri mereka pun telah hilang.
Bung Karno juga pernah bilang, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
Kurasa apa yang terjadi saat ini adalah gambaran atas kata-kata Bung Karno. Lihatlah, Nusantara yang seakan sudah terpecah belah. Lihat pula rakyat-rakyatnya yang miskin rasa persatuan. Menyedihkan sekali, andai aku bisa mengubah itu semua, tapi rasanya itu adalah hal yang paling mustahil untuk aku lakukan. Seorang manusia sepertiku ingin mengubah negara sebesar ini? Heh, bahkan mengubah diri sendiri saja aku masih kesulitan, apalagi harus mengubah negara.
Biarkan Nusantara bercanda dulu tentang keadaannya. Siapa tahu, suatu saat nanti ia bisa bangkit dan berubah menjadi negara yang paling hebat sedunia. Semoga saja, dan aku sangat mengharapkan hal itu terjadi. Biarpun hal itu bisa terwujud di saat aku sudah tidak ada di bumi ini lagi, aku mungkin akan bisa tersenyum di alam sana.
Hariku berjalan seperti biasanya. Ketika aku sudah sampai sekolahan, tentu mata pelajaran yang begitu rumit dan menyebalkan lah yang menjadi makananku. Kulupakan dulu Nusantara, menggantinya dengan memikirkan rumus-rumus beserta setiap kata yang harus kuhapal untuk menghadapi ujian akhir semester nanti.
Masih sisa 6 hari, dimulai dari hari ini untuk mempersiapkan diri menjelang ujian akhir semester. Kau tahu? Inilah kali pertama aku bisa merasa sedikit peduli dengan yang namanya ujian akhir semester maupun ulangan harian ataupun semacamnya. Sebelumnya, jangankan belajar, membuka buku saja malasnya minta ampun.
Aku tak bisa memastikan entah faktor apa yang tiba-tiba membuatku agak sedikit berubah seperti ini. Mungkin karena Daniel, tapi bisa saja juga karena coretan tinta di buku milik Mamaku itu, atau ini memang datang dari diriku sendiri yang sadar akan keadaan negeri ini hingga membuatku benar-benar ingin mengubah kebiasaan burukku.
Oke, mengenai hal apa yang terjadi hari ini selama sekolah, kurasa tak perlu diceritakan lebih detail lagi, karena menurutku tak ada hal yang istimewa di hari ini. Hanya saja, ada sedikit perbedaan dari hari-hari sebelumnya. Aku tidak berusaha untuk mendekati Daniel. Itulah yang membuat aku menganggap bahwa hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
"Shel, gue balik duluan, ya," ucap Icha berpamitan ke aku ketika pulang sekolah.
"Naik apa Lo?" tanyaku.
"Gak tahu, mungkin taksi," jawab Icha.
"Heh, lagian Lo, katanya orang kaya, punya mobil pribadi yang mewah, kok gak diantar jemput," ucapku.
"Heh, antar jemput, kayak bocah aja. Ya mana gue mau," ucap Icha dengan percaya dirinya.
"Halah, bilang aja kalau gak ada yang mau antar jemput Lo," ucapku.
"Hehehe.... Itu juga benar sih," kata Icha.
"Udah ah, gue mau balik dulu," ucap Icha.
"Iya, hati-hati," kataku.
Bukannya aku tak punya inisiatif untuk menawarkan Icha tumpangan untuk pulang. Sebenarnya aku juga sudah menawarinya tadi, tapi Icha tidak mau. Aku juga nggak mau memaksa.
Aku juga nggak tahu alasan sebenarnya kenapa ia lebih memilih naik taksi daripada diantar jemput. Padahal Pak Seno yang merupakan seorang satpam di rumahnya pun juga bisa menyetir mobil, tapi aku hanya pernah melihat Pak Seno mengantarkan Icha ke sekolah entah cuma dua atau tiga kali saja. Mungkin alasan Icha juga sama denganku. Ia tidak mau terlihat seperti gadis manja.
Keadaan sekolah yang mulai sepi membuatku ingin cepat-cepat memacu kendaraanku untuk segera keluar dari area ini. Akan tetapi tiba-tiba sepasang mata ini menangkap sesuatu yang menarik. Di sana terlihat tiga lelaki yang terlihat sedang menarik paksa seorang lelaki, dan yang paling membuatku ingin langsung ke sana adalah ketika aku tahu seorang lelaki yang sedang ditarik paksa itu adalah Daniel.
"Daniel," ucapku. Aku segera turun dari motor yang belum sempat kustarter.
Mereka terlihat membawa Daniel ke arah belakang sekolah. Pastilah saat ini Daniel sedang berada dalam situasi yang buruk, dan akan bertambah buruk lagi di detik-detik yang akan datang.
Aku berlari mengejar mereka. Namun tak langsung kuhampiri mereka dan berdiri seperti pahlawan kesorean di depan Daniel untuk melindunginya. Tidak, walau bagaimanapun juga, aku sadar bahwa aku cuma seorang perempuan. Kutahu tenagaku tak cukup kuat untuk melawan mereka.
Aku merayap di tembok-tembok sambil terus mengawasi pergerakan mereka. Ya, setelah melihat dari jarak yang agak dekat, aku yakin bahwa itu benar-benar Daniel, dan tiga lelaki itu, entahlah, aku tidak kenal.
Brugh!
Daniel dilempar oleh mereka di tumpukan sampah yang berada di belakang sekolah. Dia diam dan tetap berada pada posisi jatuhnya, sedangkan aku hanya bisa mengintainya dengan amarah yang menjadi-jadi.
"Gue denger-denger, Lo lagi berusaha deketin Ara," ucap salah satu dari tiga lelaki itu. Kurasa dia adalah pemimpinnya.
Daniel diam, masih dengan posisi jatuhnya serta pandangan yang begitu dinginnya. Ia tak berniat menjawab sedikitpun pertanyaan dari lelaki itu.
Lelaki yang bertanya itu kemudian menghampiri Daniel yang masih terjatuh. Ia kemudian menarik kerah baju Daniel dengan begitu kuatnya.
"Jawab!" gertaknya.
Daniel masih diam, bahkan tatapannya itu tak menandakan bahwa ia ketakutan. Aku jadi berpikir dua kali untuk merasa kasihan kepadanya.
"Hajar aja Bro kalau masih diem," usul salah satu dari mereka. Sontak itu membuat hatiku menjerit karena takut. Terbayang jika Daniel yang sedang sendirian harus melawan tiga orang sekaligus.
"Lo denger gak, apa kata dia? Jawab!" gertaknya lagi.
"Tidak," jawab Daniel santai. Seperti biasa, itu adalah jawaban yang singkat, jelas dan padat.
Dasar Daniel, kukira hanya pada situasi yang biasa saja ia bisa bersikap sedingin itu, tapi ternyata aku salah. Dalam keadaan yang bisa dibilang sedang mengancam nyawanya pun, ia masih bisa bersikap seperti itu.
"Halah, bohong tuh Bro, pasti," ucap lelaki yang lain.
"Jangan berani bohong sama gue, Lo!"
"Terserah aja kalau gak percaya," ucap Daniel masih dalam mode tenangnya.
Aku percaya, bahwa apa yang dituduhkan oleh lelaki itu kepada Daniel adalah suatu ketidak benaran. Katanya Daniel mendekati perempuan yang bernama Ara. Aku nggak tahu secara pasti Ara mana yang dia maksud. Akan tetapi jika Ara yang dimaksud itu adalah Ara teman sekelasnya Daniel, jelas aku tidak percaya jika Daniel mau mendekatinya. Kenapa? Karena Ara adalah anak dari orang yang juga kaya raya. Selain itu, sikapnya yang menurutku agak sombong, jelaslah membuat Daniel malas untuk mendekatinya, meskipun dia cantik. Lagipula, sikap Daniel yang secuek itu pada para gadis, mana mungkin ia bisa mendadak mau mendekati seorang gadis.
Aku yakin jika itu adalah kesalah pahaman, atau mungkin ada yang membuat adu domba tentang hal itu, atau mungkin juga ketiga lelaki itu cuma mempergunakan hal tersebut hanya karena mereka ingin membully Daniel. Entahlah, entah mana yang benar, yang pasti saat ini aku sangat ingin menolong Daniel.
Namun, tubuh ini entah kenapa terasa seperti ada yang menahannya. Bukan rasa takut yang menahanku. Sekali lagi, seorang Shelania tidak pernah takut pada kejahatan. Akan tetapi, hati kecilku seakan menyuruhku untuk tetap berada di sini, melihat bagaimana ekspresi Daniel jika ia diperlakukan seperti itu. Apakah nantinya emosinya akan keluar, atau malah ia tetap bisa mempertahankan kesabarannya. Jujur aku ragu dengan kemampuan berkelahi milik Daniel, sungguh. Ditambah lagi, musuh yang kini berada di depannya bukan hanya satu, melainkan tiga. Jika saja hal ini benar-benar berakhir dengan perkelahian, aku tak dapat membayangkan lagi tentang keadaan Daniel. Pasti dia akan babak belur.