Bab 40

1266 Kata
"Jawabnya biasa aja! Lo berani sama gue?" Aku tersentak di kala suara itu terdengar begitu menekan. Kulihat kembali di sana lelaki yang tak kukenali itu semakin mencengkram kuat kerah baju Daniel dengan ekspresi wajah yang dipenuhi emosi, sedangkan Daniel, sudahlah, gak perlu ditanyakan lagi tentang apa yang ia lakukan. Tatapan tenang itu menggambarkan bahwa jiwanya bukan jiwa pecundang. Raut wajahnya yang datar tanpa ekspresi membuat dia seperti seorang pemberani. Kalau saja ia sudah menunjukkan ketakutannya sedari tadi, aku pasti sudah akan datang untuk melindunginya. Aku ingat bahwa ia benci jika dirinya dilindungi, apalagi dilindungi oleh seorang perempuan sepertiku. Aku tahu bahwa ia pasti akan merasa terhina jika aku melakukannya. Iya, itu juga alasanku untuk tidak mendekat, dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk membantunya hanyalah dengan mengintip apa yang ketiga lelaki itu lakukan kepadanya sembari merekam merekam kejadian itu dengan ponselku. "Heh, ini akan menjadi bukti jika seandainya Lo yang harusnya benar, tetap disalahkan, Niel. Lo tenang aja," batinku sambil memulai rekaman. Maaf Niel, aku cuma bisa melakukan ini. Kau harus tahu, bukannya aku tak mau membantumu dengan cara langsung pergi ke sana seperti kejadian waktu itu. Aku takut jika aku melakukan hal itu lagi, kau akan marah ke aku. Aku tidak mau hal itu sampai terjadi, Niel. Semoga kau memahaminya. Sambil merekam, beribu kata maaf kuucapkan di dalam hatiku ketika mata tak berdosa ini diharuskan untuk melihat Daniel yang sedang menderita. Betapa hinanya ia di mata ketiga lelaki sialan itu sampai-sampai dengan teganya mereka membuang Daniel ke tempat sampah. Lelaki sialan itu kini menjauhkan tangan kotornya dari kerah baju Daniel. Namun, kurasa ia tidak semata-mata ingin mengakhiri pembullyannya itu. Tangannya itu bukan cuma dijauhkan dari kerah baju Daniel, tapi ia juga merebut sesuatu dari Daniel. "Bro, kalung," ucap lelaki itu sambil menunjukkan kalung yang ia rampas dari Daniel. Pantas saja Daniel seperti merasakan sakit di lehernya. "Hahaha.... Buruk amat," sahut salah satu temannya. "Mungkin nemu di tempat sampah kali, Bro," sahut yang lain. Daniel yang tadinya bersikap tenang, entah kenapa untuk saat ini ia mengambil sikap yang berbeda. Raut wajah itu, raut wajah yang menandakan kemarahan yang luar biasa. Gawat, jika Daniel sampai marah dan memilih untuk berkelahi, maka hancurlah badannya itu. Aku takut, sungguh. "Kembalikan!" Daniel berbicara dengan nada yang sangat dingin dan juga menekan. "Apa?" tanya lelaki itu sambil berpura-pura tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Daniel. "Kembalikan!" Daniel kembali mengulangi kata-katanya. "Hah, apa? Gue gak denger," ucapnya lagi. "Gue bilang kembalikan, anjing!" gertak Daniel. Baru kali ini aku mendengar bahwa Daniel bisa berbicara kasar. Nada bicaranya yang terkadang tenang kini sudah berbeda jauh. Aku merasakan ia sudah diselimuti oleh emosi yang sangat besar. Sebenarnya aku tak paham kenapa ia bisa semarah itu. Bukankah biasanya apa yang teman-temannya perbuat ke dia jauh lebih buruk? "Wah, sialan! Berani-beraninya dia ngatain kita gitu," ucap lelaki itu. "Udah, hajar aja, Bro!" ucap yang lain. "Heh, Lo mau kalung ini kembali?" ucap lelaki itu sambil memperlihatkan kalung itu ke Daniel. Daniel diam, menatap dengan penuh emosi. "Nih," ucapnya sambil membuang kalung Daniel ke tumpukan sampah yang sudah menggunung itu. "Sampah pantesnya juga dicampurkan dengan sampah," lanjutnya. Andai aku bisa mengumpat sekarang, pastilah aku sudah mengumpati mereka bertiga dengan kata-kata terkotor yang tak pernah aku ucapkan selama ini. Akan tetapi, aku harus tetap diam demi terjalannya sebuah misi mulia ini dengan lancar. Kulihat Daniel yang menggertakkan gigi atas dan bawahnya. Emosinya terlihat bertambah berkali-kali lipat untuk saat ini. Dia tidak salah. Jika hal semacam itu terjadi padaku pun, aku juga pasti akan merasa emosi, bahkan mungkin jauh lebih besar. "Anjing!" umpat Daniel. Dan inilah saat-saat di mana aku sangat ketakutan. Daniel bergerak menuju ke arah mereka bertiga dengan kedua tangan yang mengepal kuat, dan.... Prokkk! Sebuah pukulan menyakitkan berhasil ia lancarkan ke arah pipi si lelaki pembuang kalungnya itu. Kemudian, ia bergerak untuk menyerang dua sisanya, dan hasilnya sungguh mengejutkan, Daniel berhasil membuat mereka berdua tersungkur. Kalau boleh kugambarkan, Daniel yang saat ini sudah seperti pembunuh berdarah dingin yang kapan saja bisa melakukan pembunuhan. Kedua tangannya masih mengepal kuat, menunggu mereka bertiga bereaksi. Meski emosi, ternyata seorang Daniel tak mau mengambil sikap seorang pecundang yang terus menyerang ketika lawan sudah tak berdaya. "Sialan Lo, Anjing!" umpat lelaki pembuang kalung itu. Ia maju sendirian menyerang Daniel, sedangkan dua lainnya memilih untuk menunggu saat-saat yang tepat untuk ikut menyerang. Kau tahu apa yang terjadi setelahnya? Ternyata apa yang aku ragukan pada diri seorang Daniel itu salah besar. Kehebatan berkelahinya sungguh jauh di atas kehebatan berkelahi lelaki pembuang kalung itu. Daniel berkali-kali memukuli wajah, perut dan diakhiri dengan sapuan kaki yang membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Aku bisa bernapas lega karenanya, hingga tiba-tiba setelah itu, kedua orang lainnya ikut bergabung. Kini ada satu orang melawan tiga orang. Jelas ini bisa disebut keroyokan. Itu hanya tindakan dari seorang pengecut dan pecundang. Aku kembali dilanda ketakutan. Sambil merekam, tanganku bergetar. Bagaimana mungkin satu orang bisa mengalahkan tiga orang sekaligus. Oke, aku akui aku memang meragukan Daniel dari awal. Namun untuk kali ini, aku merasa keraguanku itu benar-benar akan terjadi. Daniel tak akan bisa menang jika harus melawan mereka bertiga sekaligus. Daniel berada di tengah-tengah mereka ketika mereka mulai mengepung. Anehnya, di wajah laki-laki bernama Daniel itu, tak sedikitpun ada aura ketakutan. Yang ada hanyalah kebencian dan perasaan ingin terus-terusan memukul. Daniel, ah, menyeramkan sekali dia saat ini. "Lo harus menang, Niel," batinku meski hati merasa ragu. Aku sebetulnya tak tega kalau harus melihat pertarungan yang akan terjadi itu. Tapi apalah daya, aku harus melihatnya. Entah bagaimana hasilnya aku harus tetap menjaga mataku agar tidak terpejam. Ketika mereka bertiga melakukan serangan secara bersamaan, Daniel berhasil menghindari satu persatu dari serangan mereka. Setelah itu ia melakukan serangan balasan, tentunya ke arah si lelaki yang paling ia benci untuk saat ini, siapa lagi kalau bukan si pembuang kalungnya. Prokkk! Lagi-lagi terdengar suara tulang yang beradu. Kepalan tangan Daniel harus mencium lagi pipi kiri lelaki itu. Tak hanya itu, ia melanjutkan serangan itu berulang kali sambil berteriak seperti orang kesetanan. Sumpah, Daniel seperti orang yang sedang kesurupan untuk saat ini. "Haaaaa!" teriak Daniel penuh emosi sambil terus memukul. Pukulan membabi buta yang dilancarkan oleh Daniel berhasil membuat sang musuh tak berkutik sama sekali. Serangan itu akhirnya diakhiri dengan tendangan telak ke arah perut yang membuat musuh jatuh tersungkur. Napas Daniel terdengar begitu ngos-ngosan. Namun, sekali lagi, terjadi tindakan pengecut dari mereka. Di mana akhirnya Daniel dapat diringkus oleh dua orang lainnya. Tangan kanan dan kirinya dikunci dengan kuat. Ia mencoba meronta-ronta untuk melepaskan, tapi tidak bisa. "Bro, bangun Bro. Cepat hajar dia!" ucap salah satu dari mereka ke seseorang yang kini sedang meringis kesakitan di dalam jatuhnya. Daniel masih meronta-ronta, tapi seberapa keras pun usaha dia untuk melepaskan, tetap saja tidak bisa. Aku benar-benar merasa menjadi seseorang yang tidak berguna saat ini. Di sana, orang yang kucintai sedang dalam masalah besar, tapi aku tak mampu untuk hanya sekedar pergi ke tempat itu. Aku memang menyedihkan. Apanya yang preman sekolahan, bahkan menolong orang yang kucintai saja aku tidak bisa. Lelaki yang tadinya terjatuh, kini sudah berdiri lagi sambil memegangi perutnya. Dia dengan senyum liciknya mulai mendekat ke arah Daniel. Kali ini, mataku mulai memanas. Air mata yang jarang sekali kukeluarkan, kini seolah-oleh sedang meminta untuk dikeluarkan. Tak sanggup rasanya jika melihat Daniel dihajar habis-habisan. "Woy sampah! Lo pikir ini gak sakit?" ucap lelaki itu sambil menunjuk perutnya. "Sakit tahu," lanjutnya sambil langsung memukul ke arah perut Daniel dengan keras. Daniel berteriak kesakitan. Aku diam sambil menutup mata sekejap. "Gimana? Sakit? Mau lagi?" tanyanya berbondong-bondong. "Sudah, habisi saja, Bro," ucap lelaki lain mengompor-ngompori. "Heh, bagaimana dengan yang ini," ucap lelaki itu. Ia mengarahkan pukulannya ke pipi Daniel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN