Betapa kejamnya mereka. Bertindak kejam, tapi dengan cara seorang pecunda*g. Dasar menyedihkan. Jika saja dunia tahu tentang tindakan memalukan mereka, bisa saja mereka sudah terbuang dari bumi ini. Mungkin ke planet mars, atau bahkan ke Pluto.
Aku yang sedari tadi merekam tak mampu lagi menahan agar mataku tidak terpejam. Aku tak sanggup melihat Daniel yang terus-menerus dihajar sampai babak belur. Rekaman pun kumatikan dan kututup mataku menggunakan tangan kiriku.
Aku menangis. Seorang Shelania sampai menangis adalah suatu hal yang tidak masuk akal. Akan tetapi inilah yang terjadi pada diriku saat ini. Sial, air mata ini bahkan keluar semakin deras seiring dengan tak mampunya hati ini menahan sakit ketika mendengar jeritan memilukan dari Daniel yang dipukuli habis-habisan.
Aku ingin segera ke sana sekarang untuk menghentikan mereka agar berhenti menyakiti Daniel. Akan tetapi lagi-lagi bayangan tentang Daniel yang akan semakin membenciku jika aku nekat datang untuk menolongnya terus menghantuiku. Satu lagi, aku harus mempertahankan bukti kejahatan mereka bertiga yang sudah tersimpan di ponsel ini. Jika aku datang ke sana sekarang, bisa saja mereka menghilangkan bukti itu.
Aku menangis dalam rasa kasihan. Aku mengumpat dalam heningku. Aku mencela dalam kemarahan di hatiku. Aku terdiam, membeku dan tak bisa melakukan apa-apa untuk dia yang kucinta. Aku pecundang yang tak pantas untuk disayang. Meski aku punya alasan yang kuat untuk aku tetap bertahan di posisiku, tapi tetap hati ini ingin sekali mencela diri sendiri.
"Sudah Bro, kasihan. Kalau dia mati malah nambah masalah lagi, entar," ucap salah satu lelaki yang memegangi Daniel.
Mendengar ucapannya, aku jadi tersadar bahwa aku harus segera pergi dari tempat ini sebelum mereka selesai dengan urusannya. Kulihat keadaan Daniel dulu sebelum pergi. Ia lemas, terjatuh dalam tumpukan sampah itu. Kasihan sekali dia. Para pecundang itu benar-benar keterlaluan.
Berat sekali kaki ini kugunakan untuk melangkah. Ingin sekali aku tetap berada di sini untuk hanya sekedar melihat keadaan Daniel. Akan tetapi, aku harus pergi, menghindari mereka bertiga agar tidak melihatku kalau sedari tadi aku di sini sambil menyaksikan semua yang mereka perbuat ke Daniel.
Aku berlari kecil dengan air mata yang masih sedikit menetes. Samar-samar kudengar kata-kata terakhir yang bisa kudengar dari konflik mereka.
"Heh, sampah memang pantasnya juga ditempatkan dengan sampah."
Memang sialan mereka itu. Sebenarnya siapa yang sampah? Di mataku, sampah yang sebenarnya adalah mereka yang beraninya main keroyokan. Pengecut, pecundang, ah, kenapa aku jadi sangat ingin mengumpati mereka seperti ini?
Aku berlari tak tentu arah, ke manapun, asal bisa lolos dari pengelihatan mereka nanti. Kebetulan, kelas 11 IPA B masih terbuka, dan aku pun masuk ke dalamnya. Beruntungnya, tak ada orang di sana. Aku pun langsung menutup pintu kelas itu.
Aku bersembunyi sambil hatiku terus mengumpati mereka bertiga. Rasa khawatir pun tak kunjung hilang dari dalam diriku mengingat keadaan Daniel yang begitu parah, tadi. Ku tenangkan diriku. Kuatur napasku dalam-dalam agar aku bisa tenang dalam situasi seperti saat ini. Aku harap tidak terjadi hal yang serius pada Daniel. Aku meyakinkan diriku sendiri. Daniel itu kuat. Dia tak mungkin mengalami hal buruk hanya karena pukulan dari orang-orang menyedihkan seperti mereka.
"Aduh, motor gue," ucapku pada diri sendiri ketika mengingat motorku masih terparkir di parkiran.
Situasi tegang kembali melanda jiwaku. Aku khawatir jika mereka bertiga nanti mengetahui bahwa masih ada motor yang terparkir di parkiran yang tidak lain dan tidak bukan adalah motorku. Walau kemungkinannya kecil jika mereka menyadari bahwa aku telah melihat semuanya, tapi hal seperti itupun harus kuwaspadai.
Entahlah, aku cuma bisa berharap halaman sekolah yang luas ini dapat mengganggu pengelihatan mereka sehingga mereka tak mampu melihat keberadaan motorku. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin jika aku menyembunyikan motor sebesar itu. Tidak mungkin juga jika aku memutuskan untuk pura-pura pulang. Justru jika itu terjadi, dan mereka berhasil memergoki aku, itu akan menimbulkan kecurigaan pada diri mereka. Dan satu lagu, aku tidak mau menggunakan cara yang hampir sama dengan yang pernah aku lakukan ke Ryan dan teman-temannya.
Dari jendela kelas ini, kulihat mereka bertiga yang berjalan beriringan sambil bersorak ria merayakan kemenangannya. Jujur aku merasa muak dengan tingkah mereka dan ingin segera meluapkan amarahku di depan mereka. Bersembunyi sebenarnya bukanlah cara yang dimiliki oleh seorang Shelania. Seorang Shelania harusnya pantang untuk bersembunyi. Seorang Shelania seharusnya langsung turun tangan menghadapi sesuatu yang tidak ia sukai. Tapi kini, aku harus melakukan hal yang tak sepantasnya aku lakukan, yaitu bersembunyi. Entah harus berapa kali aku bilang bahwa aku ingin langsung menghadapi mereka. Akan tetapi alasan demi alasan terus menghantuiku agar aku tidak melakukan hal itu.
Kalau kalian bertanya tentang ke mana si penjaga sekolah, alias Pak Yudi, jawabnya adalah pada jam segini, biasanya ia pulang ke rumahnya dulu yang tak jauh dari sekolahan ini. Nanti dia akan balik lagi, tapi tak bisa kupastikan kapan itu akan terjadi.
Karena itulah, aku tak mengharapkan apa-apa supaya Pak Yudi bisa datang menolong Daniel. Tidak sama sekali. Aku tahu bahwa hal itu tidak akan terjadi meski tidak mustahil. Harusnya, satu-satunya malaikat penolong untuk Daniel hanyalah aku, tapi aku malah seperti ini.
Lama aku mengamati pergerakan ketiga pemuda itu dengan pikiranku yang kalut, akhirnya mereka bertiga pun sudah keluar dari area sekolahan ini dengan masing-masing mengendarai motor. Mereka tak curiga dengan adanya motorku. Memang sih, seorang pecundang tidak akan bisa berpikir lebih jauh tentang ke depannya. Sejenak, aku bisa menghembuskan napas lega.
"Hufff.... Gue harus menemui Daniel, sekarang," ucapku pada diri sendiri.
Segera kutinggalkan kelas itu hingga kembali kosong tak ada penghuninya. Aku berlari pelan untuk menuju belakang sekolahan, tempat di mana Daniel dihajar habis-habisan oleh mereka bertiga.
Namun, baru saja aku mau memunculkan diri untuk langsung menemui Daniel, ternyata lelaki itu sudah berdiri dengan memegangi area perutnya sambil mencari sesuatu yang menurutku adalah kalungnya. Ya, kalung yang tadi dibuang oleh lelaki biadab itu.
Aku memutuskan untuk kembali mengintip dari balik tembok. Kulihat Daniel yang seakan tak peduli dengan kotor. Ia terus mencari kalungnya di tumpukan sampah yang sudah menggunung itu. Rasa kasihan kembali menjalar di hati kecilku.
Kuamati terus pergerakan Daniel yang begitu memaksanya untuk menemukan kalung itu. Timbul pertanyaan di hatiku. Sepenting itukah kalungnya? Kalau iya, apa yang membuat dia menganggap bahwa kalung itu penting? Padahal dari pandanganku, kalung miliknya itu sudah teramat buruk. Bukan perak, emas ataupun berlian. Itu hanyalah kalung biasa yang mungkin bisa saja dibeli dengan harga kurang dari 50 ribu. Tapi, kenapa ia sampai segitunya berusaha untuk mencarinya? Bahkan ia sampai berani melawan tiga orang sekaligus dan juga rela babak belur hanya demi kalung seperti itu.
Ah, aku tiba-tiba teringat akan sesuatu. Daniel adalah tipe orang sabar yang tidak akan membalas kecuali jika saat keluarganya terhina. Kalung itu pasti pemberian salah satu dari keluarganya. Bapaknya, ibunya, ataupun anggota keluarganya yang lain. Ya, aku yakin sekali.
Sial, air mata ini tak dapat kubendung lagi. Mendadak seorang preman sekolahan jadi cengeng seperti ini. Hanya gara-gara melihat Daniel yang mati-matian membela harga diri keluarganya. Daniel, jika seandainya nanti aku juga jadi bagian dari keluargamu, apa kamu juga akan melakukan hal seperti ini ketika aku terhina?
"Daniel," ucapku lirih.
Masih tak berani menghampirinya. Kutaruh tas yang sedari tadi kucangklong di pundakku. Aku duduk berlutut, menyaksikan perjuangan Daniel yang begitu besarnya. Nampaknya ia juga tidak tahu bahwa aku sedang mengawasinya.
Lama sekali ia mencari. Terhitung dari saat aku sampai di sini, sudah setengah jam berlalu. Daniel terus mencari, dan aku hanya mengawasi tanpa melakukan apapun. Luka-lukanya itu pasti terasa sangat menyakitkan, tapi dia masih bisa segigih itu. Keinginanku untuk segera menghampirinya selalu saja terhalang oleh sesuatu yang bernama alasan. Alasan bahwa Daniel tak pernah butuh bantuanku, dan aku ingin melihat dulu sampai ia akhirnya sadar bahwa ia tetap memerlukan sebuah bantuan. Hingga pada akhirnya....
"Hah, sial!" teriaknya penuh frustasi.
Aku tersenyum simpul, inilah saatnya aku muncul di hadapannya sebagai seorang pemberi bantuan serta sebagai seorang penyemangat dan pemberi nasehat agar dia tidak menyerah.
"Jangan menyerah semudah itu, Niel," ucapku yang langsung muncul dari arah belakangnya.
Ia pun menghadap ke arahku. Kulihat banyak sekali memar di wajahnya. Ia juga terlihat kusut, seperti orang yang sedang frustasi berat.
"Ngapain Lo di sini?" tanyanya dingin.
"Gue? Tentunya mau bantu Lo, lah," jawabku.
"Heh." Dia tersenyum meremehkan.
"Gak perlu," lanjutnya sambil membalikkan badan.
Aku mendecak sebal karenanya. Nggak emosi, nggak biasa, sikap Daniel ke aku masih juga seperti itu. Bukankah itu terlalu menyebalkan?
"Gue tahu, Lo dipukuli habis-habisan sama tiga cowok itu. Gue juga tahu, bahwa kalung Lo yang sangat berharga itu dibuang di tumpukan sampah itu. Gue melihat pertarungan kalian, tadi. Gue tahu semuanya soal kejadian yang tadi telah terjadi." Aku berbicara, mengungkapkan semua yang ingin aku ungkapkan ke Daniel.
"Maaf gue gak bisa datang membantu dan hanya cuma bisa melihat, tadi. Lo tahu karena apa? Karena gue yakin Lo pasti akan meresponnya kayak gini. Gue gak tahu alasan kenapa Lo seakan gak suka sama gue, Niel. Karena itu tadi gue memilih untuk diam. Gue takut jika sok-sokan menolong, itu malah akan membuat Lo semakin tidak suka sama gue," lanjutku panjang lebar, tapi masih dengan spasi dan tanda baca yang benar, mungkin.
Daniel terpaku di tempat. Ia yang sedari tadi tak menengok sedikitpun ke arahku, kini ia menoleh.
"Sudah?" tanyanya ambigu.
"Sudah, apa?" tanyaku balik karena merasa tak paham.
"Ngomongnya," jawabnya.
"Sudah," jawabku.
"Baguslah," ucapnya, kemudian melakukan pencariannya lagi.
Untuk kedua kalinya di hari yang sama, Daniel kembali menguji kesabaranku lagi. Tidak bisakah hatinya sedikit terketuk karena kata-kataku? Ia seakan menganggap ucapan panjang kali lebar kali tinggiku itu hanya seperti angin yang sedang berlalu.
"Gue bantu, ya," ucapku sambil tersenyum kecil memandangnya. Kini posisiku sudah berada tepat di sampingnya. Tak peduli jika yang sekarang kuinjak ini adalah tumpukan sampah yang menjijikkan.
"Gak usah," tolaknya untuk yang kedua kalinya.
"Kenapa?" tanyaku lembut.
"Kotor," jawabnya singkat yang membuat aku tersenyum lagi.
"Hmmm.... Gue gak takut kotor. Nih, lihat," ucapku sambil menghentak-hentakkan kaki yang masih berlapiskan sepatu ke tumpukan sampah yang kuinjak.
"Gak takut, kan?" tanyaku kemudian. Ia diam.
"Jadi boleh, ya, gue bantu?" tanyaku lagi.
"Terserah," jawabnya ketus sambil kembali mencari.
Aku bersorak bangga memuji diriku sendiri. Akhirnya Daniel mau menyerah dengan apa yang ingin aku lakukan. Ya meskipun butuh perjuangan ekstra keras untuk meluluhkan hatinya, sih.
Kau tahu, aku sebenarnya merasa jijik dengan sampah-sampah ini. Kuakui itu. Bahkan mungkin Daniel sendiri pun juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia harus menemukan kalung berharganya itu di tumpukan sampah menjijikkan ini. Akupun begitu. Segera kuabaikan tentang pemikiran itu. Segera kutahan rasa mualku setiap kali mencium bau sampah. Aku tidak boleh membuat Daniel kecewa. Aku telah memaksanya agar aku diperbolehkan untuk ikut mencari kalungnya di tempat menjijikkan itu, masa aku harus tumbang hanya dalam waktu yang bahkan belum sampai lima menit?