Bab 42

2004 Kata
"Hei Daniel." Sambil melakukan pencarian, aku ingin berbincang-bincang dengan Daniel. Dengan begitu, setidaknya perasaan mual ini bisa sedikit terobati. "Hmm," balas Daniel. "Apa luka-luka di sekujur tubuh Lo itu gak sakit?" Tanyaku. "Sakit," jawab Daniel singkat. "Kalau gitu, kenapa gak diobati dulu?" usulku. "Gak ada waktu," jawab Daniel. "Tapi kalau terus begini, itu bisa jadi lebih parah lho, Niel," ucapku lagi. Daniel menghentikan pencariannya. Ia kini menoleh ke arahku dengan tatapan dinginnya itu. Kurasa dia akan marah kepadaku. "Rasa sakit kalau selalu dimanja, malah akan jadi semakin keterlaluan," ucapnya. Aku bersyukur, apa yang aku takutkan tidak benar-benar terjadi. Daniel tidak marah kepadaku. Ia hanya mengucap kata-kata yang sangat menyentuh hatiku. Katanya rasa sakit tidak boleh dimanja. Kalau dimanja, rasa sakit itu malah akan semakin keterlaluan. Oke, baiklah, akan kuingat kata-katanya selalu. Akan kucatat di dalam otak berkapasitas kecilku ini. "Gitu, ya?" responku. "Iya," jawabnya. "Oh, ya. Tentang kalung itu, memangnya sebegitu berharganya kah kalung itu untuk lo, sampai-sampai Lo bertindak kayak gini?" tanyaku. "Sudahlah, jangan banyak nanya! Kalau niat Lo di sini cuma ingin nanya-nanya, sebaiknya sekarang Lo jangan ada di sini," ucap Daniel dingin. Meski kata-katanya itu terdengar santai, tanpa ada sedikitpun bentakan, tapi arti kata-kata itu seolah-olah dia sedang mengusirku untuk pergi dari sini. "Baiklah, gue diam," ucapku. Dia masih terbawa emosi akibat kejadian tadi. Alangkah baiknya jika aku tidak menambah perasaan emosinya. Biar bagaimanapun juga, aku mengerti tentang bagaimana perasaan seseorang yang sedang dalam emosi. Pastilah kata-kata biasa dari orang lain yang seharusnya tidak menyakitkan untuknya pun bisa membuat dia marah. Gini-gini aku juga sering merasakannya. Hari sudah semakin sore, namun kalung itu tak kunjung kami temukan. Tumpukan sampah yang terlalu banyak ini benar-benar begitu menyebalkan. Benda kecil semacam kalung, pastinya akan sulit untuk ditemukan. Ah, ini benar-benar menguras banyak tenaga. Sementara itu, aku tak tahu apa Pak Yudi sudah kembali ke sini atau belum. Jika ia mengunci pintu gerbang, maka tamatlah motor kesayanganku. Kenapa aku bilang gitu? Karena jika pintu gerbang sudah terkunci, motorku tidak akan bisa kukeluarkan dari area sekolahan ini. Kalau tentang aku, itu gampang. Aku bisa saja keluar dengan cara melompat lewat tembok sekolahan yang tidak terlalu tinggi, tapi kalau motor, sudah tidak ada harapan lagi. Berharap si penjaga sekolah alias Pak Yudi itu menyadari bahwa masih ada orang yang berada di area sekolahan ini. Rasa lelah mulai menjalar ke sekujur tubuhku. Mata ini semakin malas untuk memandang tumpukan sampah yang menjijikkan itu. Bau-bau tidak sedap ini membuatku ingin segera meninggalkan tempat kumuh ini. Namun hatiku lagi-lagi tetap memaksaku untuk bertahan di sini. Apa karena cinta? Tentu saja iya. Tapi bukan itu saja. Ada banyak hal yang membuatku tetap bertahan di sini meski ragaku sangat tidak menginginkannya. Berjuang menegakkan keadilan, itu salah satu hal yang kumaksud. Aku tidak mau jika keadilan hanya akan berpihak kepada mereka yang kuat, dan menindas yang lemah. Aku tidak mau jika hanya karena seseorang itu lemah, ia tidak punya seorang pun teman untuk menemaninya dalam keterpurukan. Menurutku, itu sangat tidak adil. Karena itulah aku tetap berada di sini untuk menciptakan keadilan bagi Daniel dengan cara terus menemani dan membantu dia dalam melakukan pencarian terhadap kalung berharganya itu. Ada hal lain lagi, itu adalah rasa kasihan. Tentu saja, meski sikap Daniel yang benci dikasihani, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia memang pantas mendapatkan hal itu. Lalu, aku juga mengerti perasaan Daniel. Bagaimana perasaan dia saat sesuatu yang berharga bagi dia itu hilang. Aku mengerti itu. Bahkan jika sesuatu itu merupakan benda yang sangat buruk sekalipun, selama ia menganggap bahwa benda itu sangat berharga, maka ia akan terus mempertahankannya agar tetap ada. Itulah yang dilakukan Daniel saat ini. "Daniel, kasihan sekali, dia. Sebenarnya, ada apa dengan kalung itu sampai ia sengotot ini untuk mendapatkannya kembali, sih?" batinku. Jujur tak pernah aku melihat perjuangan seseorang sekeras ini hanya untuk benda seperti itu. Akan tetapi itulah yang terjadi pada Daniel saat ini. Melihat perjuangan kerasnya itu, jiwaku tergerak untuk lebih semangat dalam membantunya. Tak lama berselang, tiba-tiba aku melihat sesuatu di antara bungkus plastik snack dan botol bekas minuman. Aku mencoba mengambilnya, dan ternyata sesuatu itu adalah.... "Daniel, sudah ketemu," ucapku heboh. Daniel yang berdiri agak jauh dariku pun langsung menghampiriku dan melihat benda yang kutemukan. Ya, itu adalah sebuah kalung. "Ini kalung gue." Dia berkata, dan kemudian tersenyum sampai memperlihatkan deretan gigi putihnya. Baru kali inilah aku bisa melihat senyum tulus seorang Daniel. "Dari mana Lo nemuinnya?" tanyanya, masih dengan senyumannya. "Tuh, di samping botol minuman tuh," jawabku sambil menunjuk dengan menggunakan isyarat mata. "Terima kasih, ya," ucapnya. Apa? Apa aku tidak salah dengar? Seorang Daniel yang super cuek, mau-maunya bilang terimakasih ke aku. Aku bingung dan tak menjawab ucapan terima kasih nya itu. Tingkah lelaki yang kini berada di depanku ini benar-benar berubah drastis dari hari-hari sebelumnya. "Sama-sama," jawabku agar tidak membuat kebahagiaannya hilang begitu saja. Kau tahu sendiri, kan? Jika aku bertanya kepada Daniel tentang tumben ia bisa mengucap "terimakasih", mungkin saja itu akan merusak suasana hatinya yang kini sedang berbahagia. "Ya udah, gue pulang dulu, ya. Udah sore banget nih," kataku. Kulihat jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 16:20. Ah, ternyata lama juga kegiatan pencarian ini aku lakukan. Daniel tak menjawab. Ia sibuk dengan kalung kesayangannya itu. Dia langsung memakainya lagi. Meski ucapanku tidak direspon olehnya, jujur aku merasa senang karena telah berhasil membuat dia bahagia. Sebelum berbalik, kusempatkan tersenyum kepadanya terlebih dahulu. Ya, biarpun dia tidak melihat. Kebahagiaan itu jelas nampak sekali dari indra pengelihatanku. Ternyata, kebahagiaan itu dapat ia peroleh lewat sesuatu yang sederhana. Hanya karena kalung yang sudah usang itu bisa diketemukan, ia bahkan bisa merasakan kebahagiaan seperti itu. Sungguh gampang sekali untuk membuat dia bahagia. Tak perlu diberi barang-barang mewah, atau disuruh liburan ke Jepang dengan gratis. Daniel hanya butuh sesuatu yang sederhana. Itu sudah cukup untuk membuat dia bahagia. Akupun berbalik, berencana untuk pergi meninggalkan Daniel dan kebahagiaannya di tempat ini. Aku senang, benar-benar sangat senang. Namun ketika aku berjalan beberapa langkah untuk menjauh dari dia, tiba-tiba ada suara seseorang yang membuat langkahku terhenti. "Tunggu!" Suara itu, suara yang datang dari arah belakangku, dan aku yakin kalau itu adalah Daniel. Aku pun berbalik lagi, dan kujawab ucapannya. "Iya, Daniel," ucapku merespon ucapan Daniel, tadi. "Gue anter Lo pulang," ucapnya sambil memandangku lekat. "Eh, gak usah, Niel. Gue bisa pulang sendiri, kok," tolakku halus. "Gue anter Lo pulang. Udah terlalu sore kalau seorang gadis kayak Lo pulang sendirian," ucapnya. "Hmmm, ya udah, deh," ucapku mengalah. Aku mengiyakan saja penawarannya. Sebenarnya dari awal aku sudah senang ketika dia bilang mau mengantarkanku pulang. Itu benar-benar saat-saat yang sangat langka di mana seorang Daniel mau menunjukkan kepeduliannya. Aku juga merasa agak aneh dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah ke aku, tapi ya sudahlah. Kami berjalan beriringan untuk menuju ke tempat di mana motorku terparkir, yaitu di parkiran sekolah. Selama perjalanan, kami hanya saling diam. Aku juga masih merasa canggung kepadanya. Namun beberapa saat kemudian pun akhirnya aku tak tahan dengan kesunyian itu. "Oh, ya. Lo tadi bilang kalau Lo ingin nganterin gue pulang karena gak baik kalau gadis kayak gue pulang kesorean kayak gini. Itu maksudnya apa, ya?" tanyaku sambil terus melangkah. "Gak ada," jawab Daniel singkat dan cepat. "Gadis kayak gue, ya?" ucapku pada diri sendiri. "Cantik, kah?" Kali ini kuhentikan langkah kakiku. Daniel juga. Aku lalu menatap Daniel sambil menampakkan senyum termanisku. Dia diam. Aku tahu dia sedang mencari jawaban untuk bisa keluar dari situasi yang kuciptakan ini. Aku ingin tertawa ketika melihat raut wajahnya yang seakan bingung mau menjawab apa. Biar bagaimanapun juga, Daniel itu sosok manusia yang sangat tertutup, tak terkecuali tentang perasaannya padaku. Bukannya menjawab, dia malah melanjutkan langkah kakinya, dan dengan teganya melangkah mendahului langkah kakiku. Heh, perhatian macam apa yang kayak gini? Aku mengejarnya, tapi memilih untuk tidak melanjutkan pembicaraan yang tadi. Takutnya Daniel malah akan merasa tidak nyaman. Aku hanya senyum-senyum tidak jelas sambil terus menatapnya dari samping. Hingga tak lama kemudian kami sampai di parkiran. "Oh, ya, Lo gak bawa motor?" tanyaku ketika tersadar hanya ada motorku di parkiran luas itu. "Nggak," jawab Daniel singkat. "Naik angkot, tadi?" tanyaku. "Iya," jawab Daniel. "Terus?" tanyaku lagi. "Terus apa?" tanya Daniel balik. "Terus, kalau Lo nganterin gue pulang, Lo nanti pulangnya gimana?" tanyaku. "Itu masalah kecil. Gue nanti bisa naik angkot," jawab Daniel. "Lo gak usah mikirin itu," balas Daniel. "Tapi, Niel. Gue takut malah ngerepotin Lo, entar," ucapku. "Enggak. Anggap saja sebagai balas budi karena Lo udah nemuin kalung gue," ucapnya. Aku merasa telah menjadi pahlawan dalam hidupnya hanya karena aku berhasil menemukan kalungnya itu. Dia bahkan bisa berubah lebih hangat karena hal demikian. Kalau ada hari yang melelahkan, menyakitkan tapi juga menyenangkan, mungkin akan kujawab bahwa hari yang dimaksud itu adalah hari ini. Hari di mana aku dan daniel bisa menjadi lebih dekat. Dan lihatlah! Keadaan sekolah yang sepi seperti inipun tak membuatnya punya pikiran buruk untuk berbuat macam-macam kepadaku. Jangankan begitu, menyentuhku saja tidak. Entah jika itu adalah lelaki lain. *** Ini adalah kali kedua di mana aku dibonceng oleh Daniel. Dengan luka-lukanya yang sepatah itu, dia masih saja mau bertanggungjawab atas keselamatanku. Sungguh dia adalah pria sejati. Aku tak ingin lagi membahas luka-luka itu ke dia, karena aku takut menyinggungnya. Bagiku, ucapannya kala di belakang sekolahan tadi sudah cukup. "Gue mau nanya sesuatu, boleh?" tanyaku ke Daniel. Tentu itu adalah ciri khas dari seorang Shelania ketika ingin mengajukan pertanyaan. "Apa?" sahut Daniel. "Lo kelihatan sayang banget sama kalung itu. Sampai-sampai, karena itu Lo berani bertaruh nyawa, dan juga rela kotor-kotoran demi itu. Sebenarnya, apa yang istimewa dari kalung yang Lo pakai ini?" tanyaku. "Ini adalah pemberian dari ibu. Jauh sebelum ibu meninggal, dia sudah memberikan kalung ini pada gue. Cuma ini satu-satunya benda yang selalu bisa mengingatkan gue pada ibu. Gue merasa ibu selalu bersama gue ketika memakainya," jawab Daniel panjang lebar. Nah, kan? Ketika seorang Daniel sudah berani mengambil risiko yang besar seperti tadi, serta mengeluarkan amarah yang begitu menakutkan, itu berarti ada seseorang yang telah melakukan penghinaan kepada salah satu dari anggota keluarganya. Dia itu mungkin masih tidak peduli pada dirinya sendiri, tapi kalau sudah tentang keluarga, barulah semuanya akan tahu tentang siapa Daniel yang sesungguhnya. Kemarahan itu begitu menakutkan. Aura wajah yang sama dengan pembunuh berdarah dingin yang sering kulihat di film-film turut menghiasi raganya. Aku jadi ingin menyaksikan reaksi para pembully saat mereka melihat betapa menyeramkannya seorang Daniel ketika sedang marah. "Jadi, itu kalung pemberian dari ibu Lo, ya?" tanyaku. "Iya," jawabnya. "Kenapa? Jelek, ya?" tanyanya. "Iya," jawabku jujur. "Tapi, seperti apapun wujud benda yang diberikan oleh orang tersayang, itu akan terasa sangat berharga, kan? Tidak peduli mewah ataupun sederhana, yang penting adalah kenangannya. Apalagi, jika benda itu adalah benda pemberian dari orang tersayang yang sudah tidak ada di bumi ini lagi," lanjutku panjang lebar. Aku sangat menghayatinya, ditambah lagi dengan ketika aku mengingat sosok kakekku yang sudah meninggal. Beliau memang tak memberikanku benda kenangan apapun, tapi beliau memberikan aku kata-kata sekaligus pelajaran hidup yang tidak pernah dan tidak akan pernah aku lupakan selamanya. "Hmmm. Gue juga boleh nanya sesuatu?" tanya Daniel meniru gayaku. "Boleh. Apa?" jawab sekaligus tanyaku. "Lo kenapa harus berbeda?" tanyanya ambigu. "Berbeda? Maksudnya?" tanyaku bingung. "Lupakan saja! Itu tidak penting," ucapnya. Aneh, dia yang ingin bertanya, tapi dia sendiri yang ingin aku melupakan pertanyaannya itu. Akan tetapi, apa maksudnya? Apa maksudnya menyebutku berbeda? Berbeda dari apa? Ah, Daniel. Kau selalu membuatku terjebak dalam kebingungan. Di sela-sela kebingunganku, tiba-tiba aku teringat bahwa seharusnya saat ini Daniel harus bekerja. Bukankah dia menjadi karyawan di toko buku jika siang sampai sore hari seperti ini? "Niel, Lo bukannya harus kerja?" tanyaku. "Iya," jawabnya singkat. "Terus, gimana. Lo sudah pasti telat lah, nih," ucapku. "Tak apa. Kalung pemberian ibu lebih berharga dari pekerjaan. Pekerjaan bisa dicari, tapi ke mana gue harus mencari kalau kalung ibu gue hilang?" jawab sekaligus tanyanya. "Ya di tumpukan sampah lah, Niel. Kan tadi hilangnya juga di sana," jawabku dengan polosnya. "Heh." Kutahu apa yang dikatakan Daniel itu bukan mengarah pada para lelaki b******k yang membuang kalungnya di tumpukan sampah. Akan tetapi aku hanya ingin mencairkan suasana supaya bisa menciptakan tawa atau setidaknya senyum untuknya. Kalau bibirnya tidak bisa melakukannya, setidaknya hatinya yang akan melakukannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN