Bab 43

1480 Kata
Senyuman itu, senyuman tulus pertama yang diperlihatkan Daniel kepadaku. Kukira Daniel tak pernah bisa mengekspresikan sesuatu yang disebut senyum, tapi nyatanya di hari ini aku melihat kebenarannya. Kebenaran bahwa sebenarnya lelaki sedingin Daniel pun masih bisa melakukan hal itu. Sikapnya yang hangat juga sudah membuat kebahagiaanku bertambah. Di hari ini, ia berbicara banyak kepadaku, dan di antara banyaknya pembicaraan itu, ada beberapa saat di mana Daniel mengucapkan banyak kata ke aku. Ia bahkan dengan terang-terangan menceritakan tentang apa yang ia rasakan di dalam hatinya. Ini memang bukan sifat Daniel yang sebenarnya, tapi kurasa aku lah yang sedikit mengubah sikapnya itu. Kuharap selamanya sikapnya akan terus seperti itu, hingga pada saatnya nanti, aku bisa menaklukan hatinya. Motor terus melaju sampai akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumahku. Daniel memang sudah tahu letak rumahku karena dia pernah mengantarkan aku pulang kala itu. "Sudah sampai," kata Daniel. "Iya," jawabku. Ia kemudian turun dari motor dan mengizinkan aku mengambil alih kemudi motor. Nampaknya tugas dia sudah berakhir sampai sini. Setelah ini dia pastinya akan pulang, atau jika tidak, dia langsung pergi ke toko buku untuk bekerja. "Gak mau mampir dulu?" tanyaku. "Enggak," jawabnya. "Oh iya ya. Lo kan harus kerja," kataku sambil cengar-cengir. Ia agak sedikit memperlihatkan senyumannya. "Gue pulang dulu," pamitnya. "Mau naik apa?" tanyaku. "Angkot," jawabnya singkat. "Oh ya. Malam itu saat Lo nganterin gue pulang, Lo juga kembali ke warung kopinya naik angkot?" tanyaku ketika teringat kejadian tempo hari. "Heh, Lo gak perlu tahu soal itu," jawabnya. Meski sikapnya yang sudah semakin hangat, tapi Daniel tetaplah Daniel. "Cih, ya udah deh. Lo beneran mau naik angkot?" tanyaku memastikan. "Iya," jawabnya. "Hmmm, atau gini aja, Lo gue anterin pulang dulu, terus setelah itu Lo gantian anterin gue pulang," usulku tak jelas sambil cengar-cengir. Aku cuma ingin menunjukkan bahwa aku ini sebenarnya orang yang humoris. Aku ingin Daniel tahu soal itu. Ada satu harapan di mana aku sangat ingin membuat Daniel tersenyum lagi. Tapi sepertinya, humorku kali ini terlalu receh buatnya. Kau tahu apa yang ia lakukan? Ia hanya memandangku dengan wajah datar tanpa ekspresinya. "Bercanda?" tanyanya. "Hehehe.... Iya, nggak lucu, ya?" ucapku cengengesan. "Enggak," jawabnya. "Jujurnya," ucapku sambil bertingkah layaknya orang yang sedang kecewa berat. "Heh, ternyata Lo itu masih kekanak-kanakan, ya?" ucap Daniel padaku. "Hahaha.... Iya sih, kayaknya," jawabku. Tentu, karena aku pun menyadarinya. "Gue balik dulu," ucap Daniel. "Lah." Aku bingung dengan apa yang akan dia lakukan. "Kenapa?" tanyanya. "Gak. Aneh aja, tiba-tiba Lo pamit mau balik," jawabku. "Gitu?" tanya Daniel. "Iya," jawabku. "Hmmm. Sekali lagi terima kasih. Gue juga udah balas Budi sama Lo. Jadi kita impas," ucap Daniel. "Okelah, tidak masalah," balasku. Dia langsung berbalik, berniat untuk segera pergi dari hadapanku. Seiring dengan keadaan napasku yang lega karena sikap Daniel yang berubah drastis, aku juga merasa khawatir padanya. Luka-lukanya itu, aku takut itu akan menjadi semakin parah. "Daniel," panggilku ketika ia berbalik dan sudah berjalan beberapa langkah. "Apa?" tanyanya sambil menoleh. "Hati-hati," ucapku. "Iya," jawabnya, kemudian meneruskan jalannya. Kutatap raga Daniel sampai hilang dari pandanganku. Jika kau berpikir aku tidak tega, itu memang benar. Aku sangat tidak tega kalau Daniel harus repot-repot karenaku. Tapi ya, bagaimana lagi? Ini semua keinginan Daniel sendiri yang katanya sebagai bentuk balas budi karena aku telah menemukan kalungnya tadi. Padahal sebenarnya pun, kalau seandainya ia tidak membalas budi, itu juga tidak menjadi masalah buatku. Daniel sudah hilang dari pandanganku. Entah setelah ini dia mau pulang naik apa, aku tidak mau menebaknya lagi. Kemungkinan terbesarnya adalah naik angkot. Aku segera memasukkan motorku ke halaman rumah, dan sesegera mungkin masuk rumah. Ketika aku membuka pintu, tiba-tiba perasaan aneh menjalar di hatiku. Ada sesuatu yang seperti aku lupakan, tapi aku tak tahu apa itu. Otakku terus berpikir seiring dengan langkah kakiku yang semakin dalam memasuki rumah. Sekeras apapun aku berpikir, tetap saja sesuatu itu tak bisa kuingat. Namun aku yakin sekali kalau ada sesuatu yang kelupaan. Setelah bersih-bersih badan dulu di kamar mandi, dalam arti tanpa melakukan kegiatan mandi, aku pun langsung menuju dapur yang tentu ada Bi Darmi di sana. Aku mau makan, setelah itu akan belajar memasak dengan Bi Darmi. "Lho, Non Shela baru pulang?" tanyanya sesaat setelah aku masuk dapur, masih dengan mengenakan seragam sekolah. "Hehehe.... Iya, Bi. Tadi ada masalah sedikit di sekolahan, tapi sudah selesai kok," jawabku. "Masalah apa, Non?" tanyanya. "Masalah apa, ya? Shela lupa, Bi," jawabku sambil sok mengingat-ingat tentang masalah apa yang terjadi di sekolahan, tadi. "Kok lupa sih, Non," protes Bi Darmi. "Hahaha.... Udahlah, Bi, gak usah dibahas, Shela mau makan nih, laper," ucapku mengalihkan pembicaraan. "Iya Non," jawab Bi Darmi. Bi Darmi menyiapkan sepiring nasi untuk aku makan nantinya. Aku menunggu, tentunya sambil terus memikirkan apa yang telah aku lupakan itu. Sumpah, aku yakin telah melupakan sesuatu, tapi aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali. "Nih, Non," ucap Bi Darmi sambil memberikan sepiring nasi dengan lauk-lauknya sekaligus. "Terima kasih, Bi," ucapku dan bersiap untuk makan. "Oh ya, Non. Tas sama sepatunya gak ditaruh sembarangan lagi, kan? Nanti kalau nyonya tahu bisa marah, lho," ucap Bi Darmi. Dan aku langsung terkejut. Aku memang sering sekali meletakkan tas maupun sepatu di sembarang tempat. Kalau Bi Darmi sempat melihat hal itu sebelum Mama pulang, aku masih beruntung. Akan tetapi jika Bi Darmi tidak melihat dan Mama sudah terlanjur pulang, maka ia pasti akan ngomel ke aku, dan di saat itulah ku hanya bisa menjalankan tugasku sebagai pendengar yang baik. Tapi, bukan itu yang menjadi masalahnya. Aku tak begitu mempermasalahkan jika seandainya Mama marah-marah ke aku akibat tas dan sepatu yang kutaruh sembarangan. Ada satu hal lagi yang lebih besar dari itu. Sial, inilah yang dari tadi aku lupakan. Akhirnya aku bisa mengingatnya lewat perantara Bi Darmi. Aku langsung berdiri dari kursiku, berlari menuju pintu depan. Tak jadi makan, ya sudahlah, yang penting masalah ini segera terselesaikan. Lapar bisa kutahan, tapi tentang yang satu ini tidak bisa. Aku harus sesegera mungkin menyelesaikannya. Tidak peduli jikalaupun aku harus menahan rasa lapar. Heh, bahkan sesendok nasi pun belum sempat masuk ke mulutku. "Non Shela, mau ke mana?" tanya Bi Darmi ketika aku berlari. "Ke sekolahan, Bi," jawabku sambil terus berlari. Kau tahu, apa yang sebenarnya terjadi, dan hal apa yang aku lupakan itu? Itu tidak lain dan tidak bukan adalah tentang tas sekolahku yang tidak sengaja aku tinggal ketika menjadi pahlawan penyelamat untuk Daniel, tadi. Ah, bodoh, sungguh bodoh. Jika saja tertinggalnya di dalam kelas, aku tidak perlu lagi repot-repot untuk kembali lagi ke sekolahan seperti ini. Akan tetapi ini tertinggalnya di tempat di mana kejadian itu berlangsung. Aku tidak mau jika seandainya aku tidak mengambilnya saat ini, dan besok tas itu ditemukan oleh mereka. Itu pasti akan menciptakan kecurigaan besar pada mereka. Aku berlari secepat kilat menembus pintu depan rumahku. Segera kunaiki motor kesayanganku dan kulajukan dengan kecepatan penuh. Bukannya apa-apa, jika pintu gerbang sekolah sudah terkunci, maka habislah sudah. Aku mungkin bisa saja untuk mengambil tasku yang berada di dalam, tapi tentu itu akan menggunakan cara repot dengan memanjat dari dinding sekolahan. Selain itu, aku tidak mau jika harus disangka sebagai maling. Di sebuah pertigaan jalan raya, tiba-tiba aku seperti dipanggil oleh seseorang. Tidak, entah aku atau siapa yang dia panggil, karena tak menyebutkan nama. "Oi." Begitulah panggilan itu terdengar di telingaku. Timbul pertanyaan di benakku, tentang siapa yang memanggilku. Tadi aku terlalu fokus pada jalanan depan dan tak sempat untuk melihat ke arah lain. Nampaknya pula, seorang pemanggilku itu telah tertinggal di belakang. Karena penasaran, aku pun memutuskan untuk kembali. Keadaan jalan raya yang memang tak begitu ramai membuatku mudah untuk melakukan putar balik. Aku ingat, suara panggilan tadi terdengar di sebuah pertigaan, tentu jaraknya tak terlalu jauh dari tempatku berada kini. Aku kembali lagi dengan banyak pertanyaan yang masih menghantui. Siapa yang pemanggil itu? Anehnya aku mempunyai firasat yang kuat bahwa dia benar-benar memanggilku, bukan orang lain. Ketika aku sudah sampai di tempat itu, di situlah akhirnya aku tersadar tentang siapa yang tadi memanggilku. "Daniel," ucapku ketika melihat lelaki berseragam sekolah yang berdiri di tepi jalan. "Lo mau ke mana?" tanya Daniel. "Ke sekolahan," jawabku. "Mau apa?" tanyanya. "Mau ngambil tas. Tadi ketinggalan waktu gue ngintip Lo yang lagi nyari kalung Lo. Hehehe," jawabku sambil cengar-cengir. Dia meresponnya dengan senyuman meremehkan. Jujur sebenarnya pun aku ada rasa sedikit kesal sama Daniel. Kenapa dia tidak mengingatkan aku tentang tasku, tadi? Ah, mungkin dia gak tahu. Ya, mungkin saja. "Lo sendiri, belum balik?" Aku balik bertanya. "Belum dapat angkot," jawabnya. "Beli aja gimana? Biar lebih gampang," ucapku. Maksudku adalah membeli angkot. "Bercanda?" tanyanya dengan wajah datar tanpa ekspresi. "Hehehe.... Lo susah amat sih, diajak bercandanya," ucapku. Ia diam. Sejenak terjadi keheningan di antara kami berdua. Hanya suara mesin kendaraan bermotor serta suara angin yang berlalu lah yang terdengar di indra pendengaran kami berdua. Hingga pada akhirnya aku membuka suara. "Eee.... Ya udah, gue duluan, ya, takut nanti Pak Yudi sudah ngunci gerbangnya," ucapku sambil bersiap menyalakan mesin motor lagi. "Tunggu!" ucapnya, membuatku mengurungkan niat. "Ada apa?" tanyaku. "Biar gue anter," jawabnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN