Aku terkejut. Seorang Daniel untuk kedua kalinya di hari yang sama menawarkan dirinya untuk mengantarkan aku di suatu tempat yang ingin aku tuju. Perasaan ini, entah, aku tidak bisa menggambarkannya. Yang pasti ini adalah perasaan bahagia yang teramat sangat. Walau aku tak tahu apa motif Daniel mau melakukan hal ini untuk aku, tapi aku benar-benar sudah sangat bahagia karenanya.
Akan tetapi, aku mengerti pada keadaannya. Ia sedang terluka, dan ia juga harus bekerja. Aku tidak ingin merepotkannya lagi dengan membiarkan dia untuk mengantarkan aku mengambil tas di sekolahan, walaupun itu harus mengorbankan kebahagiaanku. Aku pernah bilang bahwa aku memahami dirinya. Jadi, aku tidak boleh bersikap egois dengan memperbanyak kebahagiaanku tanpa memperdulikan apa yang terjadi pada Daniel nantinya. Walaupun ini adalah permintaan dari dia sendiri.
"Eh, nggak usah, Niel. Lo kan harus kerja," ucapku.
"Udah terlanjur telat," jawabnya sambil menuju ke arah motorku.
"Tapi kan...." aku menggantung ucapanku.
"Sudah, kalau ingin cepat, nggak usah membantah," sahutnya sambil bersiap menaiki motorku. Entah kenapa aku secara refleks bergerak mundur, seakan memberinya ruang untuk memboncengkan aku.
"Walau bagaimanapun juga, ini masih tanggung jawab gue," lanjutnya setelah sudah berada di atas motor.
Kalau sudah begini, aku hanya bisa pasrah dengan keadaan hati yang berbunga-bunga. Daniel yang kemarin masih bersikap dingin kepadaku, kini sudah berubah menjadi Daniel yang hangat dan juga perhatian. Tapi aku tak tahu ke depannya akan bagaimana. Apa mungkin sikapnya akan kembali dingin seperti semula, atau tetap bertahan di titik ini, aku tak tahu. Jika ini hanyalah bentuk dari kebahagiaan dia yang bisa mendapatkan lagi kalungnya berkat aku, mungkin cuma saat ini saja ia bisa jadi seperti ini, selanjutnya ia akan berubah seperti semula. Sungguh sangat disayangkan.
"Lagi-lagi gue ngerepotin Lo, ya," ucapku waktu masih berada di atas motor saat perjalanan menuju ke arah sekolahan.
"Tidak apa-apa," jawabnya. Kalau biasanya, mungkin ia cuma akan menjawab "hmmm".
"Maaf, ya," ucapku meminta maaf, karena merasa bersalah kepadanya.
"Kenapa?" tanyanya. Ia masih terus fokus menjalankan motor.
"Karena gue yang lupa, Lo harus repot-repot lagi nganterin gue ke sekolahan, padahal Lo lagi terluka kayak gini. Ditambah lagi, harusnya Lo kan kerja," jawabku.
"Hmmm.... Jangan dibahas lagi! Gue gak mau ngejawab dengan kata-kata yang sama," ucap Daniel.
"Hmmm.... Oke deh," ucapku pasrah.
Tuh, kan? Perkataan Daniel yang sudah mulai panjang lebar itulah yang menandakan sikapnya ke aku jadi semakin hangat. Entahlah, dulu aku sangat mengharapkan hal ini terjadi, tapi ketika aku sudah mendapatkannya, aku merasa aneh. Seolah-olah dia bukanlah Daniel yang kukenal. Maksudku, aku juga masih suka sama dia. Hanya saja mungkin aku butuh proses untuk memaklumi perubahan sikapnya ini.
"Gue boleh nanya?" kataku kemudian.
"Iya," jawabnya.
"Orang-orang tadi siapa?" Maksudku adalah tiga lelaki pengecut yang menghajar dia habis-habisan.
"Temen-temen gue," jawabnya.
"Orang-orang kayak gitu Lo sebut temen?" tanyaku.
"Kalau gue sebut musuh, nggak enak," jawabnya.
"Iya juga, sih," kataku sambil garuk-garuk kepala.
Oh ya, aku memang tak memakai helm untuk saat ini, demikian pula Daniel. Aku tak peduli jikalaupun harus ditilang polisi. Katanya juga helm itu untuk keamanan kepala. Karena itulah, aku tidak memakainya. Kenapa? Karena aku ingin membuktikan kebenaran kata-kata yang orang lain bilang, bahwa aku orangnya sangat keras kepala.
"Oh ya, tadi Lo sampai berantem kayak gitu, apa gak apa-apa, tuh?" tanyaku lagi.
"Gak apa-apa," jawabnya. Aku pun menghembuskan napas lega.
"Syukurlah," ucapku.
"Palingan besok cuma disidang, dan akhirnya disalahkan," ucap Daniel lagi.
"Heh?" Aku terkejut mendengarnya.
Bagaimana tidak terkejut, ketika mendengar pengakuan dari Daniel yang begitu yakinnya. Ia yakin bahwa esok hari dirinya lah yang akan disalahkan atas kejadian ini. Daniel memang yang terluka, tapi dia juga telah melukai. Bisa saja musuh-musuhnya itu mempergunakan itu sebagai alat untuk memfitnah Daniel. Memang, pengecut tetaplah pengecut.
"Memangnya mereka bertiga, siapa?" tanyaku.
"Temen-temen gue," jawab Daniel.
"Eh, maksud gue, apa mereka itu anak-anak dari orang besar, semacam DPR atau apalah gitu?" tanyaku memperjelas.
"Nggak tahu," jawab Daniel.
"Kok nggak tahu," protesku.
"Gue tahu, mereka itu anak-anak dari orang kaya," jawab Daniel. Tidak bisa dipungkiri, memang sekolahan itu adalah tempat untuk mayoritas anak-anak orang kaya.
"Oh, terus kenapa?" tanyaku.
"Dunia hanya berpihak pada mereka yang kuat," jawab Daniel.
"Lo juga kuat. Tadi gue lihat Lo bisa ngalahin mereka satu persatu sebelum akhirnya dikeroyok," ucapku.
"Bukan kuat soal itu, tapi soal ekonomi," jawab Daniel yang langsung membuatku terdiam.
"Orang kaya hanyalah para makhluk sialan," lanjutnya. Aku diam lagi, karena aku merasa perkataan Daniel itu tertuju padaku juga. Aku juga anak orang kaya, kan?
"Tidak semua orang yang kaya raya kayak gitu, Niel," ucapku lirih. Kali ini dia yang terdiam.
Aku jadi sedih, ketika mendengar pengakuan Daniel yang untuk kesekian kalinya tentang pandangannya terhadap para orang kaya. Ya, itu sungguh sangat buruk di matanya. Aku jadi berpikir, apa pandangannya ke aku juga seburuk itu?
Tapi, tadi dia sempat bertanya kenapa aku berbeda? Ya, mungkin yang dia maksud adalah berbeda dalam hal sikap. Dalam arti sikapku dengan sikap para orang kaya lainnya. Syukurlah kalau dia menyadarinya. Ini sedikit membuatku lebih lega sekarang. Aku berharap pandangannya terhadapku akan berbeda dengan pandangannya terhadap orang kaya lain yang bersikap buruk kepadanya.
Tak lama kemudian, motor yang dikendarai oleh Daniel dan olehku akhirnya sampai di depan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia. Eh, maksudku sampai di pintu gerbang sekolahanku. Entah sebuah kebetulan atau apa, tepat ketika kami sampai di sana, Pak Yudi terlihat akan mengunci gerbang itu. Kalau di dalam permainan sepak bola, ini sudah seperti berada di detik-detik akhir sebelum sang wasit membunyikan peluit panjang tanda pertandingan berakhir.
"Eh, Pak, jangan kunci dulu!" ucapku ke Pak Yudi.
Ia pun menoleh ke arah kami dan membuat ekspresi seperti orang yang sedang terkejut.
"Loh, Shela, Daniel, kalian mau ngapain?" tanya Pak Yudi kepada kami.
"Itu, Pak, tas saya tadi ketinggalan, hehehe," jawabku sambil tertawa cengengesan.
"Haduh, ada-ada saja kamu ini. Masa tas sampai bisa ketinggalan. Ya sudah, sana ambil," ucap Pak Yudi.
"Hehehe, namanya juga manusia, Pak. Manusia kan tempatnya salah dan dosa," jawabku.
"Iya, iya, sudah, sana ambil!" perintah Pak Yudi.
"Baik Bos," ucapku sambil memberi hormat. Sontak hal itu direspon dengan tawa kecil oleh Pak Yudi, sedangkan Daniel hanya diam.
Aku pun segera masuk ke dalam area sekolahan, demikian pula dengan Daniel. Namun tiba-tiba suara Pak Yudi mengagetkan kami yang baru sejengkal memasuki area sekolahan.
"Eee mau ke mana kamu?" tanya Pak Yudi.
"Lah, masih nanya. Saya kan udah bilang kalau saya mau ambil tas saya yang ketinggalan, Pak," jawabku.
"Bukan kamu, tapi Daniel," ucap Pak Yudi.
"Oh.... Daniel ya ikut saya lah, Pak, ngambil tas," jawabku.
"Nggak boleh!" ucap Pak Yudi tegas.
"Lah, kenapa, Pak?" tanyaku.
"Bagaimanapun juga, kalian kan laki-laki dan perempuan. Gak baik jika kalian nanti berduaan di dalam sekolahan sana. Nanti takutnya malah terjadi hal yang tidak diinginkan," jawab Pak Yudi.
"Ya elah, Pak, kirain apaan. Tenang aja! Daniel gak akan macam-macam sama saya, kok," ucapku.
"Tetap gak boleh. Lagipula, kalian kan pacaran, bisa saja nanti tiba-tiba dapat suatu godaan. Hingga kalian ngelakuin hal yang tidak dibenarkan," ucap Pak Yudi, ah, si guru yang satu ini pikirannya benar-benar terlalu jauh.
"Kami nggak pacaran, cuma teman," sahut Daniel. Sontak hal itu membuatku langsung menoleh ke arahnya.
Aku pun baru tersadar bahwa tadi Pak Yudi sempat menyebut aku dan Daniel adalah sepasang kekasih, tapi hal itu secepatnya disangkal oleh Daniel ketika aku tidak menyadarinya. Jadi, Daniel hanya menganggap aku sebagai teman biasanya, ya? Tapi, bagiku itu sudah cukup. Dengan melihat sikapnya yang seakan menganggap aku adalah musuh, dengan mendengar pengakuan dari dia bahwa dia telah menganggapku teman, itu sudah menjadi sesuatu yang menakjubkan untukku.
"Bener, Pak, kami cuma teman," ucapku memperkuat ucapan Daniel tadi.
"Please, Pak! Tolong izinin juga Daniel buat menemani saya kembali ke dalam sekolahan ini, Pak. Lihat tuh, sepi banget. Saya takut, Pak," ucapku memelas.
"Oke, biar bapak aja yang menemani," ucap Pak Yudi menawarkan diri.
"Eh, jangan! Bukankah bapak juga seorang laki-laki, sedangkan saya perempuan. Lalu apa bedanya dengan saya dan Daniel yang pergi?" sangkalku.
"Ya sudah, biar bapak dan Daniel aja kalau gitu, yang pergi," usul Pak Yudi.
"Emangnya bapak sama Daniel tahu letak tas saya ada di mana?" tanyaku.
"Ya tinggal dikasih tahu dong, Shel," pinta Pak Yudi.
"Percuma, Pak," jawabku.
"Percuma gimana?" tanya Pak Yudi.
"Sebenarnya saya juga lupa tas saya itu ketinggalan di mana, hehehe. Seingat saya, pokoknya bukan di kelas. Kalau bapak tetap maksa mau ngambilin, ya gak apa-apa, sih, tapi maaf jika nanti bapak akan kecapekan gara-gara harus muter-muter buat nyari tas saya," ucapku panjang lebar.
"Hadeh, jadi pusing bapak. Ya, sudah, silahkan masuk, bapak tunggu di sini aja," ucap Pak Yudi yang akhirnya menyerah. Aku tersenyum penuh kemenangan.
Aku pun masuk, demikian juga dengan Daniel. Kini kami berjalan beriringan sembari diawasi oleh CCTV bernyawa dari seseorang yang kini berada di luar pintu gerbang sekolahan itu. Dalam pikirku, gak apa-apalah diawasi. Bukankah jarak pandang seorang manusia itu tak seluas jarak pandang sang kuasa? Nanti jika ada tembok yang menghalangi, pastilah Pak Yudi tak akan bisa memantau kami lagi.
"Mau ngambil tas aja ribet," ucap Daniel membuka pembicaraan di tengah perjalanan.
Ini juga sesuatu yang cukup menarik dan juga langka, di mana seorang Daniel tiba-tiba mau untuk memulai pembicaraan.
"Hahaha.... Iya," jawabku.
"Padahal tinggal masuk bertiga kan, bisa," ucap Daniel. Sungguh hal itu langsung membuatku merasa harus mencermati kata-katanya.
"Hahaha.... Harusnya gitu kan, ya? Emang Pak Yudi itu kapasitas otaknya terlalu kecil, mungkin," jawabku.