Bab 45

1551 Kata
Padahal, jika aku harus mengaku, sebenarnya apa yang diucapkan Daniel tadi sama sekali tak terlintas di pikiranku. Akan tetapi aku mencoba untuk terlihat pintar di depannya dengan cara pura-pura sudah mengerti tentang apa yang ia katakan itu. Biar bagaimanapun juga, aku harus menjaga reputasiku sebagai seorang gadis pertama di sekolahan ini yang bisa sedekat ini dengan dia. "Heh, bukankah Lo juga baru kepikiran?" tanya Daniel. "Eh?" Aku dibuat kaget olehnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu bahwa aku juga baru kepikiran tentang hal itu? Apa dia bisa membaca pikiran seseorang? Ah, tidak mungkin. Hal semacam itu cuma ada di dalam dongeng saja. Mana mungkin di dunia nyata ada orang yang bisa membaca pikiran. "Lupakan saja. Ayo kita cepat-cepat cari tas gue. Nanti takutnya Lo pulangnya kemalaman," ucapku mengalihkan pembicaraan sambil mempercepat langkah untuk mendahului langkahnya. Aku jamin, tingkahku yang sekarang ini pasti membuat Daniel merasa bahwa ada keanehan di dalam diriku. Aku yakin di dalam hatinya ia juga senyum-senyum sendiri meski ia terlihat masih sangat kaku. Aku mempercepat langkahku menuju belakang sekolahan dengan Daniel yang berjalan beberapa meter di belakangku. Aku masih malu jika harus mengingat hal yang tadi. Jangankan untuk berhenti sejenak untuk menyamakan langkahku dengan Daniel, bahkan untuk menengoknya saja aku merasa tak berani. Aku hanya bisa meliriknya menggunakan ekor mataku. Karena itulah aku bisa tahu bahwa dia masih setia berjalan di belakangku. Di depan sana terpampang jelas sebuah benda yang aku cari. Ya, itu adalah tas sekolahku. Benda itu masih berada di tempat ketika aku menaruhnya tadi. Aku pun langsung mengambilnya dan mencangklongkannya di pundakku. Dengan senyum kegembiraan, akhirnya kali ini aku berani menghadap ke arah Daniel. Itupun karena aku tidak sengaja dan juga tidak sadar. "Heh, dasar cewek aneh," ucap Daniel. Entah karena apa ia menyebut aku seperti itu. Mungkin karena aku yang tersenyum seperti itu. "Ih, aneh gimana, sih?" tanyaku. "Nggak," jawab Daniel. "Cih, dasar cowok aneh," balasku. Ia diam saja. Seusai aku mendapatkan tasku kembali, kami pun langsung bergerak untuk menuju gerbang sekolah lagi dan nantinya akan dilanjut dengan pulang ke rumah. Di tengah-tengah perjalanan, aku berkata pada Daniel. "Hei Daniel, jika Lo besok benar-benar tetap disalahkan, gue harap Lo mau melawan," ucapku tanpa memandangnya. "Gak bisa," jawab Daniel tegas. "Gue pastiin, semua akan tahu kebenarannya meskipun awalnya Lo tetap disalahkan. Jadi gue harap, sebelum kebenaran itu terungkap, Lo mau melakukan perlawanan," ucapku. "Melawan, sama aja akan memperbesar masalah," ucap Daniel. "Lo jangan bodoh, Daniel. Gue gak tahu Lo ada trauma apa di masa lalu hingga membuat Lo kayak gini. Tapi jika Lo memposisikan diri Lo terus-terusan di posisi orang yang bersalah, apa itu gak malah membuat para pembully Lo semakin gencar untuk membully Lo?" ucapku. Ia diam. "Gue memang gak pernah ada di posisi Lo, Niel. Tapi gue tahu tentang perasaan yang Lo rasakan, walau mungkin tidak sepenuhnya. Karena itu gue minta, Lo bisa melakukan perlawanan," lanjutku. Ia masih diam. "Bukankah tadi Lo juga berani melawan, kenapa gak diteruskan saja?" ucapku lagi. Dia masih terdiam dengan tatapannya yang masih sangat tenang. Ia seakan tak peduli dengan apa yang aku katakan, tapi aku yakin bahwa kata-kataku itu ia dengarkan dengan seksama. Entah kenapa aku bisa seyakin ini. Mungkin karena insting seseorang yang sedang dalam masa mencintai. "Lo gak akan tahu apa yang gue takutin," ucap Daniel tiba-tiba yang membuatku kaget. "Yang Lo takutin? Maksudnya, Lo takut jika mereka akan menggunakan nam besar orang tua mereka untuk menjatuhkan Lo lebih dalam lagi?" tanyaku sambil memandangnya lekat. "Bukan," jawabnya. "Bukan?" Aku bingung dengan jawabannya. "Lalu apa?" tanyaku. "Tidak semuanya tentang diri gue bisa Lo ketahui. Meski gue masih merasa berhutang budi tentang kejadian tadi, gue gak bisa ngasih tahu Lo semua tentang gue," jawab Daniel panjang lebar. Oke, akhirnya aku mendapat jawabannya, kenapa ia jadi mendadak hangat sama aku. Ternyata ia masih merasa berhutang budi tentang kalung itu. Aku tersenyum singkat ketika mendengarnya. Baguslah jika ia merasa berhutang budi. Maksudku, dengan begitu sikapnya ke aku pastilah akan hangat untuk ke depannya. Aku tak butuh dia membalas budi untukku. Aku hanya perlu ia bisa bersikap seperti ini kepadaku. Itu sudah cukup, walaupun sebenarnya aku sedikit merasa aneh dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini. "Terserah apapun ketakutan Lo itu, pokoknya besok Lo harus ngelawan. Gue janji akan mengungkap kebenaran itu. Walau bagaimanapun juga, gue ini saksi dari kejadian itu. Lo tentunya sudah tahu, kan?" ucapku. "Jadi tenang saja. Ingat bahwa kebaikan itu akan selalu menang melawan kejahatan. Tapi ingat juga, jika si pemilik kebaikan itu selalu mengalah pada si pemilik kejahatan, maka kata-kata itupun akan berubah," lanjutku. Aku membenarkan perkataanku sendiri. Jika selama ini orang-orang menganggap kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan, tapi jika kebaikan itu terus mengalah, maka mau tidak mau perkataan itu harus diubah. Jadinya kejahatan akan selalu menang melawan kebaikan. Aku tak tahu apa yang ditakuti oleh Daniel hingga membuat dia sampai seperti ini. Padahal tadi ia baru saja menunjukkan keberanian yang teramat besar tanpa ada sedikitpun ketakutan yang terlihat dari dalam dirinya. Namun sekarang ia seperti orang yang baru sadar pada kesalahannya dan tidak ingin membuat kesalahan itu semakin besar. Tak apa, mungkin kata-kataku yang tadi nantinya bisa membuat dia berubah pikiran untuk selalu mengalah. Semoga saja harapanku terwujud. Besok, jika para lelaki sialan itu mengadukan hal ini kepada kepala sekolah bersama orang tuanya, maka aku tinggal memberikan rekaman di ponselku ini sebagai barang bukti bahwa Daniel tidak bersalah. Ah, rasanya ini seperti hal yang sangat mudah untuk kulakukan. Setelah percakapan panjang yang terkadang berakhir dengan diam itu, kami pun kini sudah berada di di luar pintu gerbang sekolahan ini. Kulihat Pak Yudi yang masih setia menanti dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Bola matanya menyorot penuh selidik ketika aku dan Daniel baru saja keluar dari area sekolahan. Ia pasti curiga dengan apa yang kami lakukan di dalam sana, padahal sebenarnya pun tak terjadi apa-apa antara aku dan Daniel. Hanya terjadi pembicaraan itu, dan tak ada sentuhan sedikitpun antara kulitku dengan kulitnya. Memang pikiran Pak Yudi saja yang terlalu jauh. "Kalian tadi gak ngapa-ngapain, kan?" tanya Pak Yudi dengan sorot tajam. "Nggak ngapa-ngapain gimana? Ya jelas ngapa-ngapain lah, Pak," jawabku. "Hah?" Pak Yudi terkejut mendengar pengakuanku. "Iya, tadi kami kan muter-muter nyari tas, Pak," ucapku. "Oh, gitu?" ucap Pak Yudi. "Iya, Pak," jawabku. "Ya sudah, kalau begitu, saya dan Daniel pamit mau pulang, Pak. Terima kasih telah mau memberi waktu untuk kami dan maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan untuk bapak," ucapku sok sopan. "Hahahaha." Pak Yudi malah ketawa. "Kenapa, Pak?" tanyaku. "Enggak, aneh aja kalau kamu ngucapin hal kayak gitu," jawab Pak Yudi. Aku hanya mendecak sebal. *** Daniel kembali mengantarkan aku pulang. Kalau boleh jujur, aku sangat kasihan ke dia. Hari sudah menjelang petang, nanti dia pasti akan sangat kerepotan jika ingin pulang menuju rumahnya setelah mengantarkan aku. Aku memang merasa bersalah atas hal itu. Tapi Daniel seakan tak memperbolehkan aku untuk merasa bersalah lewat sikapnya itu. "Harusnya Lo gak usah anterin gue lagi, Niel," ucapku saat berada di perjalanan. "Kenapa?" tanya Daniel. "Ya, gue gak mau kalau nanti Lo kerepotan, pulangnya," jawabku jujur. "Gitu?" tanya Daniel. "Iya, hari sudah petang, mungkin sudah nggak ada angkot, entar," ucapku. "Lalu, bagaimana cara Lo pulang, nanti?" tanyaku. "Sudah gue bilang, gak usah peduliin masalah itu," ucap Daniel. "Ya nggak bisa gitu, lah. Lo kayak gini kan juga gara-gara gue," ucapku merasa bersalah. "Hufff." Daniel menghembuskan napas lewat mulutnya. "Kalau Lo nggak mau gue bantu, kenapa Lo selalu berusaha untuk bantu gue?" tanya Daniel dingin. "Gue gak mau punya hutang budi apa-apa sama orang lain," lanjut Daniel. Aku diam. Daniel ini benar-benar seperti orang yang memiliki kebiasaan membalas budi orang lain dengan cara instan. Aku juga berpikir, mungkin jika ada orang hampir mati karena mengorbankan nyawa untuknya, maka suatu saat nanti Daniel juga pasti akan membalasnya dengan mengorbankan nyawanya. Tidak peduli jika ia akan mati sekalipun, yang penting balas budi itu bisa terwujudkan. Itulah Daniel. Dan kurasa, setiap kebaikan yang orang lain berikan kepadanya, ia pasti akan membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar. Tapi tidak menutup kemungkinan, setiap kejahatan yang orang lain berikan kepadanya, mungkin ia juga akan membalasnya dengan kejahatan yang lebih besar. Hanya saja pembalasan itu ia lakukan dengan caranya sendiri. Itu hanya asumsiku semata. Untuk kebenarannya, aku juga tidak tahu. Daniel memang pembenci, tapi sepertinya dia bukan pendendam. Daniel memang terkadang emosian, tapi sepertinya juga ia tidak tegaan. Entahlah, semua tentang Daniel yang tercakup di memori otakku belum begitu banyak. Aku akan terus berusaha untuk mencari tahu lebih banyak tentangnya. Sang mentari semakin memposisikan dirinya di ujung barat sana. Sang malam sebentar lagi akan menghilangkan masa kejayaannya. Dunia akan gelap. Sementara itu, dua manusia yang tak lain adalah aku dan Daniel masih berada dalam perjalanan pulang ke rumahku. Hanya sebentar lagi, kira-kira beberapa meter lagi motor ini akan sampai di depan pintu gerbang rumahku. Tapi bukan itu yang kupikirkan. Aku masih memikirkan tentang nasib Daniel nantinya. Ia pasti akan kerepotan ketika ingin pulang. Ah, aku tiba-tiba teringat akan sesuatu. Bukankah mamaku pastinya nanti sudah berada di rumah? Ini adalah ide yang paling cemerlang menurutku. Aku tinggal meminta Mama untuk mengantarkan Daniel pulang, setelah itu urusannya pasti akan beres. Akan tetapi, lagi-lagi, yang menjadi pertanyaannya adalah maukah Daniel menerima tawaran itu? "Gue pamit pulang dulu," ucap Daniel ketika ia merasa tugasnya sudah selesai. "Eh, bentar, Niel," cegahku. "Tunggu di sini sebentar!" pintaku ke Daniel. Setelah itu aku langsung berlari kecil masuk ke dalam area rumahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN