Kalian pasti sudah tahu tujuanku untuk apa. Tentu untuk meminta Mama supaya mau mengantarkan Daniel pulang. Meski aku tahu Mama belum kenal dengan Daniel, aku tidak peduli. Bukankah saat itu Mama juga memaksa aku untuk mau les dengan orang yang tidak kukenal, yakni Dio. Lalu, salahkah bila kali ini aku melakukan hal yang sama? Menurut pemikiranku, tentu saja itu tidak salah.
Aku berlari masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam ataupun apa. Segera kudapati Mamaku yang duduk santai di sofa sambil menonton TV. Aku mendekatinya, bermaksud untuk membicarakan hal itu sesegera mungkin.
"Ma," panggilku.
"Shela! Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang." Mama langsung merespon ucapanku dengan sedikit menampakkan kekesalannya.
"Dari sekolahan, Ma. Tas Shela tadi ketinggalan. Untungnya ada yang nemenin Shela waktu di sekolahan tadi. Udah tu, dia sampai nganterin Shela pulang, pula. Tuh dia masih ada di depan," ucapku.
"Oh, ya?" tanya Mama sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, Ma," jawabku.
"Siapa?" tanya Mama.
"Teman," jawabku.
"Cowok atau cewek?" tanya Mama.
"Cowok dong," jawabku sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Kalau cowok, Mama jadi ragu kalau dia cuma teman," ucap Mama.
"Ya, betul sekali, Mama. Tapi memang dia cuma teman Shela. Hanya saja Shela suka sama dia, tapi entah kalau dia," ucapku jujur.
"Heh, Mama ingin tahu, siapa sih, dia itu?" ucap Mama.
"Kalau mau tahu, temuin aja. Dia masih ada di luar, kok," ucapku.
Mama langsung menuruti kata-kataku. Ia segera berjalan keluar rumah, aku pun mengikutinya dari belakang. Ada harapan untuk nantinya Mama bisa memandang Daniel dengan sudut pandang yang sama dengan sudut pandangku. Semoga saja seperti itu. Tapi jika memang aku adalah reinkarnasi dari Mamaku, mungkin pandangan Mama ke Daniel juga sama denganku.
Ketika kami sudah keluar dari pintu rumah, mata ini langsung menangkap keberadaan Daniel di depan sana. Dia berdiri dengan santainya di sebelah motorku. Lelaki itu benar-benar bisa dipercaya. Kubilang ke ia untuk menunggu, ia masih menunggu dan tak pulang saja. Padahal sang waktu harusnya akan memaksanya untuk sesegera mungkin meninggalkan tempat ini. Anehnya, ia malah terlihat begitu santai, seolah-olah tak memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
"Itu, Ma," tunjukku ke Daniel untuk memberitahunya pada Mama.
"Itu?" tanya Mama.
"Iya," jawabku.
Mama langsung berjalan lagi. Perlahan demi perlahan jaraknya ke Daniel sudah semakin dekat. Aku semakin deg-degan dengan apa yang akan terjadi. Kembali harapan ini muncul agar Mama dapat melihat Daniel seperti apa yang aku lihat. Semoga Mama tidak mempermasalahkan penampilan Daniel yang kurang rapi. Semoga Mama juga bisa memaklumi penampilan Daniel seperti aku yang juga memakluminya. Daniel butuh proses untuk mengubah penampilannya. Setelah ia bisa keluar dari semua masalah yang ia hadapi selama ini, mungkin penampilannya pun akan berubah drastis menjadi lebih baik, dan di saat itu terjadi, aku yakin dunia dan seisinya akan terkejut ketika melihat wujud Daniel yang sesungguhnya.
"Kamu Daniel?" Mamaku langsung melontarkan sebuah pertanyaan tepat ketika dirinya sampai di tempat Daniel berada.
"Iya Tan," jawab Daniel sambil mencium punggung tangan Mamaku, dan tak kusangka Mama juga mempersilahkan Daniel melakukannya.
"Jadi kamu yang nemenin Shela ngambil tas yang dia tinggal di sekolahan, tadi?" tanya Mamaku lagi sambil menatap Daniel dengan tatapannya yang tajam.
"Hadeh, Ma. Kan udah Shela bilangin, tadi, kok masih nanya, sih," sahutku sebelum Daniel menjawab.
"Heh, Shela, diam dulu!" ucap Mamaku. Aku diam.
Daniel masih terlihat begitu santai ketika berhadapan dengan Mamaku. Padahal bisa dibilang, Mamaku itu termasuk orang asing di kehidupannya karena biar bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya ia dan Mama bertemu. Harusnya, ketika dua orang yang baru saling bertemu, tentunya akan ada perasaan sedikit grogi di diri mereka, apalagi untuk seseorang seusia Daniel. Memang harus aku akui. Sungguh menakjubkan sifat lelaki yang satu ini.
"Iya, Tan, saya yang nganterin dia, tadi," ucap Daniel sopan.
Tapi yang kukesalkan dari dia adalah ketika dirinya menyebut aku dengan sebutan "Dia". Sebenarnya tak ada salahnya juga, akan tetapi tidak bisakah ia menyebutku dengan namaku? Dan di saat ini pula baru kusadari bahwa ternyata selama ini Daniel tak pernah memanggilku sekalipun. Dalam arti memanggilku dengan namaku.
"Oh, jadi benar, ya? Terima kasih, ya, Daniel, karena telah mau repot-repot," ucap Mama.
"Sama-sama, Tan," ucap Daniel.
"Eh, wajah kamu, kenapa, kok luka-luka gitu?" tanya Mama.
"Gak apa-apa, Tan, cuma luka kecil aja, kok," jawab Daniel.
"Gitu, ya?" tanya Mamaku.
"Iya," jawab Daniel.
"Saya pamit pulang dulu, Tan, udah senja," lanjut Daniel.
Dia memang terlihat sopan di depan Mamaku. Tapi aku merasa, di dalam hatinya tersimpan sebuah kebencian yang tak bisa kulihat. Bukan kepada Mama, tapi lebih tepatnya kepada posisi Mama sebagai orang kaya. Bukankah ia memang membenci para orang kaya? Tapi, aku juga tak tahu apa ini cuma perasaanku saja atau apa. Sebenci apapun Daniel kepada orang kaya, apa mungkin jika si kaya itu bersikap baik kepadanya, ia masih harus membencinya? Aku bingung dengan pemikiranku. Kini ada dua hal yang berbeda dan juga berlawanan. Daniel membenci orang kaya, dan mungkin itu juga termasuk kepada Mamaku. Tapi Daniel juga orang yang akan membalas setiap kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih besar. Untuk itulah kenapa aku jadi ragu dengan perasaan Daniel saat ini.
"Ma, anterin Daniel pulang, kasihan," bisikku ke Mama.
Mama tak menjawab. Ia langsung menoleh ke arah Daniel yang bersiap untuk mencium punggung tangannya lagi sebagai tanda bahwa ia akan segera pergi dari tempat ini.
"Daniel, Tante anterin kamu pulang aja," ucap Mamaku yang akhirnya menuruti permintaanku.
"Sudah jam segini. Pasti sudah tidak ada angkot yang lewat. Tukang ojek juga," lanjut Mama.
"Nah, betul tuh, Niel. Sebaiknya Lo dianterin Mama aja, pulangnya." Aku ikut-ikutan bicara.
Daniel tiba-tiba tersenyum. Kali ini tak bisa kupastikan apa arti senyumannya itu. Entah itu senyum tulus atau apa, aku tidak tahu. Ia kemudian menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih kepada Mamaku.
"Terima kasih atas tawarannya," ucap Daniel.
"Tapi, maaf, saya tidak bisa menerima tawaran Tante," lanjut Daniel.
"Lah, kenapa, Niel?" Aku bertanya padanya tentang alasan kenapa ia menolak.
"Nggak kenapa-napa. Hanya saja, gue yang berinisiatif untuk nganterin Lo, jadi, gue juga yang harus tanggung jawab atas apa yang terjadi nantinya. Entah itu kepada Lo ataupun diri gue sendiri," jawab Daniel panjang lebar.
"Gitu, ya?" tanyaku. Daniel hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekali lagi terima kasih, Tan," ucap Daniel yang ditujukan kepada Mama.
"Hmmm.... Kalau memang itu keputusan kamu, ya Tante gak bisa maksa," ucap Mama.
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu," ucap Daniel. Kemudian ia mencium punggung tangan Mamaku, kemudian menatapku sebentar sebelum pandangannya ia arahkan ke sisi lain.
"Iya, hati-hati, ya," ucap Mamaku.
Daniel kemudian mengucapkan salam kepada kami sebelum ia akhirnya berjalan untuk menembus jingganya sang senja. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa lagi ke Daniel. Aku mengkhawatirkannya, tapi apa boleh buat. Dia sendiri yang memutuskan hal itu. Lagipula, Mama juga sudah menerima keputusan dari Daniel.
"Anak yang sopan dan baik," ucap Mama ketika raga Daniel sudah tak terlihat oleh mata.
"Iya," jawabku.
"Kalau seandainya Mama masih remaja, apa mama akan suka dengan laki-laki seperti itu?" tanyaku kemudian.
"Mungkin," jawab Mama.
"Kalau Shela juga suka, boleh?" tanyaku mencoba untuk jujur dengan apa yang aku rasa.
"Husss.... Masih kecil jangan cinta-cintaan dulu," ucap Mama.
"Cuma suka, Ma, belum cinta," jawabku.
"Hmmm.... Nggak tahu lah, Shel. Ayo masuk!" ajak Mamaku.
Ia kemudian berjalan mendahuluiku. Aku yang berada di belakangnya hanya senyum-senyum sendiri. Ternyata apa yang aku harapkan jadi kenyataan. Mama ternyata juga melihat Daniel dari sudut pandang yang sama denganku. Mama bahkan tak mempersalahkan baju Daniel yang lusuh dan rambutnya yang acak-acakan. Tidak, tidak sama sekali.
Ketika kami masuk rumah, Mama kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menonton TV lagi, sedangkan aku juga berinisiatif duduk di sampingnya. Kau tahu mengapa? Bukan karena aku juga ingin menonton TV bersamanya, melainkan karena aku ingin menanyakan sesuatu tentang Daniel kepada Mamaku.
"Ma," panggilku.
"Hmmm." Ia menjawab. Pandangannya masih terfokus pada layar televisi.
"Kenapa tadi Mama tidak memaksa untuk nganterin Daniel pulang? Kan kasihan, Ma. Dia harus repot-repot cari cara untuk pulang," tanyaku.
"Kamu tahu, Shel, saat mama melihat Daniel, Mama jadi teringat dengan papa kamu waktu kuliah dulu. Saat Papa kamu dengan percaya dirinya ganti penampilan jadi seperti seorang gelandangan," ucap Mamaku. Kali ini ia memandangku.
"Jadi?"
"Jadi, menurut mama, sifat Daniel itu juga ada kesamaannya dengan sifat Papa kamu dulu, biarpun sedikit," kata Mama.
"Maksudnya?" Aku benar-benar tak paham dengan apa yang mama maksud.
"Daniel itu orang yang teguh pendirian. Kalau dia menolak suatu tawaran, maka ia tetap akan menolak walau dipaksa seperti apapun juga. Jika tadi Mama terus memaksanya untuk mengantarkan dia pulang, tentu itu akan membuatnya tidak suka dengan Mama," ucap Mama.
"Ooo.... Jadi gitu ya, Ma?" tanyaku yang akhirnya sedikit paham.
"Mama rasa, sikap Daniel itu jauh lebih dewasa daripada kamu," ucap Mama. Aku hanya tersenyum tidak jelas.
"Oh ya, Mama tadi juga gak menanyakan lebih lanjut tentang luka di wajah Daniel, itu kenapa?" tanyaku lagi.
Aku merasa, setiap jawaban yang diberikan Mama, suatu saat nanti akan menjadi jurus terampuh ku dalam usaha untuk menaklukan hati seorang Daniel. Oleh karena itulah aku menanyakannya. Biar bagaimanapun juga, Mama sudah berpengalaman dalam hal ini.