"Heh, ini nih. Kamu harus belajar cara menghadapi seseorang. Saat Mama bertanya kepada Daniel tentang luka-luka yang ada di wajahnya itu, Daniel lebih memilih untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Kamu tahu itu artinya apa?" tanya Mama padaku.
"Tidak," jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Pertama, itu karena ia tidak ingin seorang pun tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, ia tak mau membuat khawatir orang yang bertanya, makanya ia menjawab seolah-olah itu adalah hal biasa yang tak perlu dikhawatirkan, dan yang ketiga, ia gengsi untuk menceritakannya," jelas Mamaku.
"Maka dari itu, jika kamu menemui seseorang seperti Daniel tadi, dia jangan dipaksa untuk menjawab. Bisa-bisa nanti dia malah marah. Kalau kamu tetap penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tanyakan pada orang terdekat dari orang itu. Mungkin dia tahu," lanjut Mama.
"Ooo.... Jadi harus gitu, ya, Ma?" tanyaku ke Mama.
"Iya, dan sekarang Mama mau tanya kepada kamu. Kenapa tuh dengan wajah si Daniel? Dia bukan berandalan yang suka berkelahi, kan?" tanya Mama balik.
Mama yang hebat. Perempuan yang mewarisi sikap sang pahlawan nasional, siapa lagi kalau bukan ibu kita, Ibu Kartini. Dia dengan segala upayanya memaksaku untuk takluk atas pertanyaanku sendiri dan mau tidak mau harus berakhir dengan jawaban tentang Daniel.
"Huffff.... Mama memang hebat dalam berkata-kata," pujiku.
"Ah, tidak usah memuji Mama kayak gitu," ucap Mama.
"Hmmm.... Baiklah, kalau begitu, Shela akan menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi sehingga Daniel bisa luka-luka seperti itu," ucapku.
Aku pun menceritakan dengan detail semua kejadian yang menimpa Daniel tadi. Mulai dari saat ia dihampiri tiga lelaki b******k itu dan dibuang ke tempat sampah. Lalu kalung berharganya yang juga ikut dibuang, sampai pada saat ia dipukuli habis-habisan sama mereka. Kalau soal aku yang membantu menemukan kalung milik Daniel, itu tak kuceritakan ke Mama, karena menurutku itu juga tidak terlalu penting.
"Apa-apaan itu." Mama berkata seolah-olah dia sedang marah besar.
"Entahlah, Ma. Shela juga gak tahu secara pasti tentang ada masalah apa sehingga mereka melakukan hal semacam itu pada Daniel. Tapi Shela percaya, Daniel tidak bersalah, karena...." Aku menggantung ucapanku.
"Karena apa, Shel?" tanya Mama santai.
"Karena bukan sekali saja Daniel diperlakukan seperti itu. Tapi sudah beberapa kali, bahkan mungkin setiap hari. Dan setiap kejadian yang terjadi itu, yang Shela tahu, Daniel tak sedikitpun melakukan kesalahan," lanjutku.
"Kasihan, Ma, dia. Dia harus selalu mengalah. Satu-satunya hal yang bisa membuat emosinya bangkit ya cuma itu tadi. Ketika ia merasa ada yang menghina orang tuanya," ucapku lagi.
"Mama gak nyangka, ternyata sekolahan kamu sampai segitunya, ya. Kasihan Daniel," ucap Mama. Aku tersenyum.
"Iya, Ma, kasihan. Shela sangat ingin membantunya, tapi tak tahu cara untuk melakukannya," ucapku.
Mamaku sepertinya hanya ingin mendengarkan apa yang aku bicarakan. Bahkan ia tak menjawab dengan kata sedikitpun ucapanku yang terakhir itu. Mama mungkin memikirkan sesuatu, tapi entah apalah yang ia pikirkan.
"Jangan dibantu apa-apa! Maksud Mama, kamu jangan membantu Daniel secara terang-terangan. Setelah Mama mendengarkan cerita kamu tadi, Mama jadi tahu tentang beberapa sifat yang dimiliki oleh Daniel. Tanpa kamu beritahu pun, Mama tahu kenapa kamu memilih untuk diam ketika Daniel dihajar oleh tiga orang itu. Kamu gak mungkin lah, takut sama mereka. Kamu pasti gak mau membuat Daniel malu. Masa cowok ditolong sama cewek?" ucap Mamaku.
Apa yang dikatakan Mama memang ada benarnya, tapi juga tak sepenuhnya benar. Aku memang diam ketika Daniel dihajar oleh mereka, tapi alasan utama kenapa aku tidak menolong, berbeda dari apa yang Mama tebak. Meski itu juga salah satu alasannya, tapi itu bukan yang utama.
"Jika kamu ingin tetap menolongnya, tolong saja secara diam-diam, karena menurut Mama, dia itu orang yang gengsinya besar. Eh, tidak, Mama rasa, bukan gengsi, melainkan rasa tanggung jawab yang begitu besar. Dia ingin bertanggung jawab atas dirinya sendiri tanpa mau menerima bantuan dari orang lain. Ya, mungkin seperti itulah," ucap Mama panjang lebar.
Ah, iya, sebelum pulang tadi, Daniel sempat bilang bahwa dia mengantarkan aku pulang itu karena keinginannya sendiri. Jadi, dia harus tanggung jawab atas apa yang ia inginkan itu. Oleh karena itulah tadi ia tak mau diantarkan Mama pulang ke rumahnya. Itu adalah bukti dari tanggung jawabnya yang teramat besar. Ya, hari ini aku akhirnya tahu tentang sifat-sifat dari seorang Daniel.
"Oh ya, Ma. Daniel itu juga pintar lho, Ma. Dia selalu dapat peringkat satu di kelasnya," ucapku.
"Oh ya?" tanya Mama.
"Oh tidak," jawabku.
"Ha?" Mama bingung dengan jawaban yang aku berikan.
"Hahaha.... Iya Ma. Daniel itu pintar," jawabku membanggakan Daniel.
"Wih, hebat dong kalau gitu," ucap Mama antusias.
"Iya lah, Ma. Jadi, jika guru lesnya diganti sama Daniel aja gimana, Ma? Si Dio pecat aja tuh," usulku.
"Hmmm.... Kalau soal itu gak bisa, Shel," ucap Mama.
"Lah, kok gak bisa, Ma. Kalau Daniel jadi guru les Shela, kan juga hitung-hitung bisa bantu dia dalam masalah ekonominya. Bisa dapat pahala juga, Ma," ucapku.
"Bukannya gitu," ucap Mama.
"Lalu apa?" tanyaku penasaran.
"Daniel itu masih orang baru buat Mama. Mama belum bisa percaya dia sepenuhnya," jawab Mama.
Itulah Mama. Selain kecerdasannya dalam berbicara, ia juga tipe orang yang sangat berhati-hati, apalagi kepada orang-orang baru, bahkan meskipun ia menyukai atau mengagumi orang baru itu.
"Kalau begitu, Dio juga masih tergolong orang baru buat Shela. Shela juga belum bisa percaya ke dia," bantahku.
"Eh, anak Mama, pandai sekali menjawabnya," ucap Mama sambil mengacak-acak rambutku. Bahkan ketika aku membalikkan ucapannya pun, ia masih bisa tenang untuk menjawab ucapanku.
"Tapi masalahnya, sudah terlanjur Dio yang jadi guru les kamu. Gak boleh lah, kalau diganti-ganti," lanjut Mama.
"Pecat aja lah, Ma. Mama tahu nggak, kalau diajar sama Dio, Shela gak bisa paham sedikitpun apa yang dia ajarkan," ucapku.
"Itu emang kamu aja yang malas belajar, Shel," ucap Mamaku. Aku tersenyum tipis.
"Ngomong-ngomong, kamu manggil Dio kok Dia Dio aja dari tadi. Gak ada embel-embelnya, 'Kak'?" tanya Mama.
"Halah, Ma, ribet, pakai gituan segala. Lagian Dio bukan kakak Shela. Ngapain harus manggil kayak gitu?" ucapku.
Mama memperlihatkan senyumnya kepadaku. Terkadang bahkan aku berharap dia bisa marah besar ke aku supaya aku bisa sedikit tega untuk mengecewakannya. Akan tetapi yang kudapat tetaplah senyumannya ini meski dalam beberapa hal ia juga bisa marah.
"Jangan seperti itu. Dio itu lebih tua dari kamu, lho. Memang sudah seharusnya kamu memanggilnya kakak," ucap Mama dengan lemah lembutnya.
"Hmmm.... Iya deh, iya, terserah Mama aja. Shela mau ke atas dulu, ya, Ma," ucapku ke Mama. Maksudku ke atas adalah ke kamarku.
"Iya," jawab Mama singkat.
Obrolanku dengan Mama menjadi tidak asyik ketika tiba-tiba kami membahas tentang Dio. Memang sih, aku yang mengawalinya, akan tetapi yang ingin aku bahas bukanlah soal caraku memanggil Dio, melainkan soal aku yang mengusulkan supaya Dio diganti dengan Daniel saja sebagai guru lesku. Tapi ternyata itu ditolak oleh Mamaku.
Aku berjalan masuk ke dalam kamar. Saat ini pikiranku benar-benar dipenuhi oleh sosok Daniel. Hari ini, dia sudah berperan seperti Icha di dalam kehidupanku, yaitu sebagai sahabat yang selalu siap untuk diajak menghadapi kesulitan, bahkan saat aku tidak memintanya pun, ia akan menawarkan dirinya.
Aku belum berani menyebut dan menganggap bahwa hal yang terjadi sore tadi adalah kami yang sedang berpacaran. Karena menurutku, yang tadi itu memang tak bisa memperlihatkan bahwa kami adalah sepasang kekasih. Sikapnya memang hangat padaku, tapi kehangatan itu baginya adalah karena aku temannya. Tidak masalah bagiku mengenai hal itu, Karena aku pun tahu bahwa cinta itu tumbuh melalui proses yang panjang. Cinta tidak bisa tumbuh hanya dengan sekali lihat. Jika ada yang mengatakan bahwa cinta bisa datang pada pandangan pertama, aku tidak setuju. Bagiku itu hanyalah omong kosong. Bahkan aku sendiri pun juga melalui proses dalam mencintai seorang Daniel. Rasa ini berawal dari rasa kasihan, kemudian dan seterusnya, aku semakin tertarik dengan apa yang ada di dalam diri Daniel hingga pada akhirnya aku bisa mencintainya.
Di dalam heningku, aku memikirkan apa yang dikatakan Daniel di atas motor tadi. Dia berkata bahwa kenapa aku berbeda? Aku masih belum begitu paham dengan apa yang ia maksud, tapi aku yakin, maksud dari perkataan itu adalah tentang aku yang berbeda dari kebanyakan anak orang kaya lainnya. Kira-kira begitulah yang aku yakini.
***
Pagi ini di hari Rabu. Sang mentari pagi bersinar dengan cerahnya, seakan sedang memberikan semangat kepadaku untuk menjadi sang malaikat penyelamat untuk Daniel nantinya. Daniel percaya bahwa di hari ini, akan ada sebuah kejadian buruk yang akan menimpanya. Tentu hal itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Para makhluk manja yang kemarin menghajar Daniel habis-habisan dengan cara mengeroyoknya, pastilah saat ditanya oleh orang tuanya tentang luka-lukanya, mereka akan membalikkan fakta, dan saat itulah Daniel akan berada dalam bahaya.
Dengan perbedaan harkat dan martabat antara keluarga Daniel dan keluarga 3 lelaki itu, pihak sekolah pasti juga tidak bisa berbuat banyak dan nantinya akan berakhir dengan menyalahkan Daniel. Kupikir sekolahan itu sangat payah. Ketika ada orang besar yang menuntut dan mengancam, mereka sudah tidak berani lagi mengungkap kebenaran.
Tugasku adalah untuk menjadi sang pembawa kebenaran itu sekaligus untuk menjadi sang malaikat penyelamat bagi Daniel. Dengan bukti sekuat ini, maka aku bisa membungkam mulut mereka. Mulut orang-orang yang selalu membuat Daniel tertekan. Kita lihat saja nanti.
Akan tetapi masalahnya adalah tentang bagaimana caraku untuk menyampaikan bukti itu supaya tidak ada satupun yang tahu bahwa itu dariku. Mengingat kata-kata Mama kemarin sore, aku tidak boleh membantu Daniel secara terang-terangan.
"Shel," bisik Icha ketika ia baru balik dari toilet. Saat ini di kelas sedang ada pelajarannya Pak Gunawan.
"Apa?" tanyaku.
"Tadi waktu gue habis dari toilet, gue lihat Daniel, Dito dan dua orang lainnya yang gak gue kenal dipanggil sama Pak Handoko ke ruang guru," bisik Icha.
"Dan gue juga sempat lihat ada papanya si Dito di sekolahan ini," lanjut Icha.
Dalam benakku berkata, "Oh jadi salah satu dari laki-laki pengecut itu namanya Dito?"
"Heh, ternyata benar apa yang dikatakan Daniel," ucapku pelan.
"Apanya yang benar? Daniel ngomong apa? Sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya Icha berbondong-bondong.
"Nanti gue ceritain. Sekarang gue mau lihat mereka dulu," ucapku.
Aku langsung bangkit dari kursi tempatku duduk dan berjalan dengan santainya ke arah Pak Gun berada. Aku meminta izin kepadanya untuk ke luar kelas terlebih dahulu dengan alasan pergi ke toilet, padahal sebenarnya untuk memantau keadaan Daniel. Untungnya, Pak Gun menerima alasan itu dan mengizinkan aku pergi.
Sial, ini lebih cepat dari apa yang aku perkirakan. Beruntungnya Icha memberitahukan kepadaku tentang hal ini. Kalau saja tidak, mungkin aku gagal menjadi sang malaikat penyelamat bagi Daniel ketika dirinya diserang habis-habisan oleh para manusia laknat itu dengan kata-kata yang menyakitkan.
Aku setengah berlari untuk menuju ruang guru. Sesampainya di sana, kulihat ada Daniel, Dito dan dua lelaki lainnya, serta ada seorang lelaki setengah baya yang kuyakini adalah papanya si Dito. Pak kepala sekolah dan juga Pak Handoko juga sedang berada di sana.
Mereka memulai pembicaraan. Pak Kepala Sekolah meminta penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan benar saja, ternyata papanya si Dito memberikan penjelasan palsu tentang hal yang sebenarnya terjadi.
"Anak ini telah menghajar Dito dan dua temannya ini satu persatu secara diam-diam, Pak. Saya minta anak ini dihukum dengan hukuman seberat-beratnya. Kalau perlu, keluarkan saja dari sekolahan," ucap lelaki paruh baya itu.
"Apa benar seperti itu, Daniel?" tanya Pak Kepala Sekolah kepada Daniel.
Daniel terdiam sebentar. Raut wajah yang tidak menunjukkan ketakutan sama sekali ia perlihatkan pada dunia, membuat dia seolah-olah terlihat sebagai orang yang sangat tenang dalam menghadapi situasi apapun.
"Heh." Dia tersenyum meremehkan.
"Sekarang, menurut logika saja. Apa hal seperti itu masuk akal? Mana ada satu orang yang bisa menghajar tiga orang, yang ada adalah tiga orang menghajar satu orang. Sekarang coba lihat, saya juga terluka, bahkan lebih parah dari mereka bertiga," ucap Daniel. Aku senyum.
Ya, bagus, Daniel. Akhirnya kamu menuruti apa yang aku minta kemarin. Berikan terus perlawananmu, jangan selalu mengalah, atau kau akan selalu ditindas.
Seiring dengan pikiranku yang bangga atas apa yang dilakukan Daniel, aku pun mulai memainkan jemari indahku di layar ponsel ini. Sudah kubilang bahwa aku akan menjadi malaikat penyelamat untuk Daniel, dan itu akan kulakukan secara diam-diam. Perlahan namun pasti, segera kukirimkan video tentang pembullyan tiga lelaki itu ke Daniel kepada Pak kepala sekolah. Aku sengaja menggunakan nomor yang berbeda agar tidak dikenali oleh siapapun. Ketika video itu sudah terkirim, aku langsung melanjutkan aktivitasku untuk mengintip pembicaraan mereka lagi.
"Tenanglah Niel, semuanya akan baik-baik saja," batinku.