Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama. Tugasku sudah selesai, maka kini saatnya aku harus kembali ke kelas. Hal terakhir yang aku lihat sebelum kembali ke kelas adalah ketika pak kepala sekolah membuka ponselnya dan seperti melihat sesuatu yang menakjubkan. Ia menatap layar ponselnya itu dengan seksama, dan setelah itu, aku tidak tahu lagi karena aku sudah pergi dari sana.
Kurasa apa yang ia lihat itu adalah video tentang Daniel yang dibully habis-habisan oleh mereka bertiga. Tentang kelanjutan dari masalah di ruang guru tadi, nanti aku tinggal bertanya pada Daniel, dan berharap ia mau menjawab dengan jujur tanpa sedikitpun merasa curiga bahwa sang pengirim video itu adalah aku. Bukannya apa-apa. Kata-kata Mamaku kemarin, mau tidak mau harus selalu kujadikan pedoman.
"Shel, bagaimana?" tanya Icha dengan berbisik ketika aku baru saja duduk.
"Nanti aja gue ceritain," jawabku. Ia mendecak sebal.
Ketika bel istirahat pertama berbunyi, perasaanku langsung membawaku untuk ingin segera menemui Daniel dan menanyakan tentang kelanjutan dari hal tadi kepadanya. Aku ingat, ingat sekali bahwa aku masih punya janji pada Icha. Sebuah janji untuk menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Daniel dan ketiga orang itu. Akan tetapi sepertinya, hal itu bisa kutunda dulu. Lagipula Icha juga tak menanyakannya lagi.
Tempat pertama yang kutuju tentu saja perpustakaan. Di sana itu ibarat tempat persemayamannya. Hampir setiap hari ia pasti akan berada di sana. Dia si kutu buku yang pandai bergulat. Jika kau berpikir para lelaki kutu buku itu hanyalah si manusia culun yang lemah, aku akan menyangkalnya. Karena Daniel, benar-benar sangat kuat.
Seperti hari kemarin, di kala aku memasuki ruangan beraneka buku itu, pandangan orang-orang langsung tertuju padaku, seolah-olah adalah suatu keanehan besar ketika aku mau masuk ke dalam ruangan ini. Mereka akan mengalihkan pandangannya ketika aku berbalik menatap. Sepertinya mereka takut, atau apalah itu aku tidak tahu.
Fokusku bukan ke mereka. Jika saja Daniel tidak selalu ada di tempat ini, aku pastikan tidak akan pernah memasukinya dengan niatku sendiri. Jujur saja, aku ke sini karena Daniel. Tapi aneh, dari banyaknya manusia di ruangan ini, tak satupun kutemukan wujud seorang Daniel.
"Woi," ucapku ke seorang anak perempuan yang sedang membaca. Aku tak tahu siapa namanya, dan aku juga tidak kenal dengannya.
"Iya," jawabnya. Ia menatapku dengan sedikit keraguan.
"Lo lihat Daniel, nggak?" tanyaku.
"Dia belum ke sini," jawabnya. Nada bicaranya terdengar ia buat sesopan mungkin.
Sebenarnya apa yang salah dengan diriku? Mereka seperti sangat takut kepadaku. Apa gara-gara masalah waktu itu? Sekarang perempuan itu sudah keluar dari sekolahan ini karenaku. Ah, bodoh amat tentang itu. Aku tidak peduli lagi.
"Oke, terima kasih," ucapku dan kemudian pergi.
Daniel ternyata belum datang ke perpustakaan. Aku bingung harus mencarinya ke mana. Ke rooftop? Tidak mungkin. Di jam segini rooftop sangat ramai, dan Daniel pasti tidak akan menyukainya. Lalu ke mana?
Semesta seakan tak berpihak padaku. Kuingin langsung mendengar jawaban Daniel tentang hal yang tadi, tapi aku tidak juga melihat keberadaannya. Rasa penasaran yang begitu besar membuatku ingin terus menemukannya tanpa bertanya pada siapapun juga.
Merasa tak mampu lagi untuk menemukannya, aku pun terpaksa harus menyerah. Dengan rasa penasaran yang masih menggelora, kakiku melangkah menuju kantin. Icha dan yang lain juga pasti sudah ada di sana.
"Lah, baru ke sini?"
Dugaanku ternyata benar. Icha dan Nita ada di kantin, tapi mereka sepertinya sudah selesai dengan urusan perutnya dan akan meninggalkan kantin.
"Lo menghina gue. Gue baru nyampai Lo berdua mau pergi?" tanyaku ngegas.
"Lah, salah Lo sendiri baru datang," jawab Icha.
"Bener gak, Nit?" tanyanya ke Nita.
"Ya bener lah," jawab Nita yang nampak kompak dengan Icha.
"Padahal gue baru saja mau nraktir kalian berdua makan, tapi ya udah deh, gak jadi, kan kalian sudah makan," ucapku.
"Hahaha.... Kebanyakan gaya lo," ucap Icha.
Sementara itu, Nita nampak tergoda dengan apa yang aku ucapkan tadi. Maklum lah, siapa yang tidak kenal Nita, si cewek doyan traktiran.
"Gue tadi cuma nganterin Icha aja kok, Shel, belum sempet makan. Kalau mau nraktir, gue gak keberatan," ucap Nita.
"Gak, Lo pasti udah makan, kan?" tanyaku ke Nita.
"Belum, Shel," jawab Nita.
"Gak percaya, gue," ucapku.
Icha yang mendengar menjadi semakin kesal dengan tingkah Nita yang menunjukkan bahwa dirinya sangat suka gratisan. Setelah menghembuskan napasnya, Icha pun langsung menegur Nita.
"Woi, Nit. Jangan bodoh bisa nggak, sih? Si Shela aja masih suka ngutang di kantin. Ya kali mau nraktir Lo," ucap Icha.
"Ehem, ehem."
"Hari ini panas banget, ya," ucapku sambil mengibaskan uang senilai dua ratus ribu rupiah. Aku bermaksud memamerkannya kepada mereka berdua.
Icha dan Nita melongo melihatku, entah teman-teman yang lain, aku tidak begitu memperhatikannya. Nita semakin tergoda, sedangkan Icha masih berusaha tetap menyangkalnya.
"Tuh kan, Cha, dia bawa banyak duit," ucap Nita.
"Duit palsu tuh, ayo ke kelas aja!" ajak Icha kepada Nita.
"Yakin kalau duit palsu?" tanyaku ke mereka.
"Asli pasti tuh, Cha," sahut Nita.
"Kalaupun asli, palingan buat bayar SPP," ucap Icha masih mencoba untuk tetap dalam pendiriannya.
Aku puas mempermainkan mereka, terutama mempermainkan si Nita yang hobi dalam menguras duit teman-temannya.
"Hah, ya sudahlah kalau gak mau gue traktir. Gue makan dulu, Lo berdua ke kelas aja," ucapku sambil memasukkan kembali uang itu dan kemudian mulai melangkah untuk memesan sesuatu ke Mbak Ika.
Mereka berdua benar-benar pergi dari kantin ini. Sebenarnya Nita cukup berat untuk melakukannya. Akan tetapi atas paksaan dari Icha, akhirnya Nita menuruti apa yang Icha minta, yaitu langsung menuju ke kelas.
Aku memesan semangkok bakso dan duduk sendirian di sebuah kursi yang tersedia di kantin Mbak Ika tanpa ada yang menemani. Kulihat ada Pasha di antara kumpulan pelajar itu, dan ia lebih memilih untuk sesekali melirikku daripada harus langsung mendekatiku. Satu hal yang aku ketahui, setiap kali ada seorang Pasha di sini, rasanya aku terbebas dari godaan para lelaki genit itu. Aku tak tahu apakah Pasha yang melarang, atau mereka sendiri yang sungkan untuk melakukannya ketika ada Pasha.
Pasha itu baik, aku akui. Tapi sekali lagi yang menjadi masalah adalah tentang kata hati. Biarpun dia menyukaiku dan selalu baik kepadaku, bukan berarti aku bisa menyukainya balik. Maksudku, kalau tentang suka, aku juga suka dia, dalam arti sebagai seorang teman. Namun, kalau harus membalas cintanya, maaf, aku tidak bisa.
***
Daniel, dia ke mana? Seiring dengan mulutku yang sedang menyantap bakso itu, pikiranku melayang memikirkan keberadaan sosok Daniel. Aku tiba-tiba menjadi takut jikalau apa yang kulakukan tadi belum bisa menyelamatkan Daniel dari neraka dunia ini. Banyak sekali pertanyaan yang aku ingin tahu jawabannya. Dia tidak mungkin kan, kalau langsung dikeluarkan dari sekolah pada hari ini juga? Dengan bukti yang kurasa lebih dari cukup, apa mungkin, seseorang sekelas kepala sekolah dengan gegabahnya mengeluarkan muridnya yang tidak bersalah dari sekolahan ini?
Pikiranku menjejajahi kembali waktu di saat Daniel di sidang di ruang guru tadi. Saat aku pergi meninggalkan tempat itu setelah mengirimkan sebuah video bukti bahwa Daniel tidak bersalah, bukankah Pak Kepala Sekolah langsung membuka ponselnya dan melihat ke layar ponsel itu dengan seksama? Tapi masalahnya, aku menjadi tidak yakin jika yang dilihat kepala sekolah itu bukan video yang kukirimkan. Kalaupun iya, bisa saja si tua bangka yang berkedok sebagai ayah dari si Dito menyangkal dengan menyebut bahwa video itu tidak benar. Ah entahlah, semua asumsi menyebalkanku ini membuatku muak untuk tetap mempertahankannya di dalam pikiranku.
"Sendirian?" Seseorang tiba-tiba bertanya kepadaku ketika aku asyik makan dan memikirkan Daniel.
Ketika aku menoleh ke arah suara, barulah aku mengetahui bahwa sosok di balik suara itu adalah si Pasha. Akhirnya tertarik juga ia untuk mendekat ke arahku.
"Iya," jawabku singkat.
"Gue boleh ikut duduk?" tanyanya.
"Boleh," jawabku.
Dia pun duduk di kursi yang berada di hadapanku. Kini jarak kami hanya terhalang oleh meja.
"Mikirin apa? Daniel, ya?" tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut, kemudian tak kujawab pertanyaannya itu.
"Lo tahu nggak, Lo tuh cewek yang unik," ucap Pasha.
"Unik? Unik gimana?" tanyaku sembari tertawa kecil. Entah apa arti dari tawaku itu.
"Di samping sifat Lo yang berandalan...."
"Cih." Aku langsung mendecak ketika dia belum sempat mengakhiri pembicaraannya.
"Dengerin dulu!" ucapnya.
"Iya," jawabku.
"Di samping sifat Lo yang berandalan, ternyata Lo punya sifat yang sangat berbeda dari para cewek lainnya," ucapnya.
"Berbeda gimana?" tanyaku masih tak paham.
"Apakah Lo gak ngerasain sendiri?" tanya Pasha balik.
"Ngerasain? Ngerasain apa?" balasku. Aku betul-betul tidak paham dengan apa yang ia maksud. Maklum, IQ ku terlalu tinggi.
"Hmmm.... Ya udahlah, gak usah dibahas," ucap Pasha. Nampaknya dia menyerah dan tidak mau menjelaskan lagi.
Aku masih dibuat berpikir atas apa yang ia maksud. Sungguh, otakku sama sekali tak mampu menangkap sedikitpun maksudnya. Berbeda? Apanya yang berbeda? Ngerasain? Ngerasain apa? Si pria dingin yang sifatnya terkadang mendadak berubah menjadi hangat ini benar-benar membuatku bingung.
"Oh ya, gue boleh nanya sesuatu?" tanyaku ke Pasha.
"Nanya apa?" tanyanya balik.
"Gue merasa, sikap Lo ke gue itu berubah-ubah. Terkadang cuek, dan seakan gak peduli, dan terkadang juga jadi hangat seperti ini. Lo punya dua kepribadian, kah?" tanyaku penuh selidik.
"Hahaha...." Dia tertawa.
"Apanya yang lucu?" tanyaku serius.
"Pertanyaan Lo yang lucu," jawabnya. Aku diam masih dalam mode serius.
Aku memandangnya terus-terusan. Lambat laun, wajahnya yang tadi dihiasi dengan senyuman, tiba-tiba kini menjadi datar, seolah dia juga sudah mulai serius.
"Mana ada lelaki yang akan terus mengejar-ngejar seorang gadis ketika ia tahu gadis itu sudah menyukai lelaki lain. Kalaupun ada, itu hanyalah lelaki egois yang selalu ingin mendapatkan apa yang ia inginkan," ucap Pasha.
"Lagipula, cinta itu tidak boleh dipaksakan, kan? Kalau dipaksakan malah akan membuat yang bersangkutan tersakiti," lanjutnya. Aku diam.
Untuk yang satu ini, aku mengerti maksudnya. Dia mencintaiku, tapi aku mencintai Daniel. Maka dari itu ia memilih untuk menyerah dalam upaya mendapatkan cinta dariku karena dia tidak mau dianggap sebagai lelaki yang egois. Lelaki yang hebat. Mungkin di dunia yang kejam ini hanya ada satu dari 10 laki-laki yang bisa seperti dirinya. Bahkan untuk seorang Daniel sekalipun, aku belum bisa memastikannya.
"Maaf," ucapku merasa bersalah.
"Maaf? Maaf untuk apa?" tanyanya.
Dia sedang berpura-pura, aku tahu itu. Dan seperti kata Mamaku, ketika seseorang sudah melakukan hal semacam yang Pasha lakukan, aku tidak boleh melanjutkan topik pembicaraan itu dan harus menggantinya dengan topik lain.
"Lupakan saja," ucapku.
"Oke," jawabnya singkat.
"Kalau gitu, gue ke kelas dulu, ya," ucapnya.
"Iya," jawabku.
Dia pun pergi. Sebenarnya aku merasa kasihan sekaligus takjub kepadanya. Bagaimana mungkin ada orang yang rela melepas cintanya hanya karena orang yang dicintainya itu telah mencintai orang lain. Banyak dari kaum manusia pasti akan terus berjuang sampai dirinya bisa mendapatkan cinta itu. Sebelum janur kuning melengkung, mereka tidak akan menyerah, tapi Pasha berbeda. Ia menganggap apa yang dilakukan kebanyakan orang itu adalah sebagai bentuk keegoisan, dan ia tidak mau melakukan hal yang demikian.
Aku juga tidak tahu secara pasti apa sebenarnya arti di balik kata-kata Pasha yang tadi. Apa itu hanya sekedar kata-kata yang berkebalikan dengan apa yang ia lakukan, atau itu memanglah kenyataan, aku tidak tahu. Aku bahkan sempat berpikir bahwa ia tidak benar-benar mencintaiku, karena itu ia tidak berminat untuk memperjuangkannya. Tapi entahlah, apapun yang sebenarnya terjadi, kuakui bahwa Pasha adalah lelaki yang hebat, yang bisa menerima kenyataan meski kenyataan itu terasa pahit di hidupnya.
"Mbak, baksonya ngutang dulu, ya," ucapku ke Mbak Ika setelah selesai makan bakso. Sontak hal itu disambut dengan tawa para lelaki yang masih setia berada di sana. Maklum lah, Pasha menghilang, keberanian mereka pun muncul.
"Apa Lo!" gertakku pada mereka. Mereka diam, tapi masih ada sisa-sisa tawanya.
"Hadeh, ngutang lagi? Kalau kamu terus-terusan ngutang, ya bisa bangkrut dong kantin ini," ucap Mbak Ika.
"Halah, Mbak Ika lebay. Masa ngutang bakso aja bisa buat kantin ini bangkrut?" sangkalku.
"Tadi kan kamu punya duit, kenapa gak bayar pakai itu aja," usul Mbak Ika.
"Syuttt!" Aku menyuruh Mbak Ika diam. Telunjukku kutaruh di depan bibirku sebagai sebuah isyarat untuk diam.
Kemudian, kudekati si penjaga kantin yang tak lain adalah Mbak Ika. Kulihat mata para lelaki itu mengikuti arah gerakanku seakan-akan mereka sangat ingin tahu tentang apa yang akan aku bicarakan.
"Aku kasih tahu, tapi Mbak Ika jangan bilang siapa-siapa, ya," pintaku ketika posisiku sudah dekat dengan Mbak Ika sambil berbisik.
"Kasih tahu apa?" tanya Mbak Ika. Ia juga melakukan hal yang sama denganku, yaitu berbicara dengan nada pelan.
"Sebenarnya...." Aku sengaja menggantung ucapanku.
"Sebenarnya apa?" tanyanya.
"Sebenarnya, duit dua ratus ribu yang tadi itu adalah duit palsu," jawabku.