Bab 49

2000 Kata
"Hah? Yang bener?" tanya Mbak Ika agak heboh. "Makanya itu. Kalau duit ini aku pakai buat bayar bakso yang tadi, terus nanti duitnya Mbak Ika buat belanja di pasar, bisa-bisa dituduh jadi pengedar uang palsu, entar," ucapku. "Kok gitu? Kan Mbak gak tahu kalau itu duit palsu," ucap Mbak Ika. "Kan sekarang udah aku kasih tahu, hayo," jawabku. "Makanya, aku ngutang dulu aja. Besok aku bayar. Daripada Mbak Ika terjerat kasus pengedaran uang palsu, kan mending terjerat kasus utang-piutang," lanjutku. "Benar juga ya. Ya udah, kali ini boleh ngutang lagi, tapi janji ya, besok harus bayar," ucap Mbak Ika. "Waduh, Mbak. Jangan pakai janji, lah! Mbak kan tahu kalau janji adalah hutang. Masa kita udah terjerat kasus utang-piutang, masih aja ditambah hutang lagi," ucapku. "Hadeh Shel. Ribet banget sih. Ya sudah, pokoknya besok harus bayar," ucap Mbak Ika. "Iya Mbak, kalau ingat," jawabku. "Bilang apa?" tanyanya. "Nggak apa-apa, Mbak, aku mau ke kelas dulu. Thank you so much karena telah diperbolehkan ngutang," ucapku dan kemudian pergi. Kalau masalah pelajaran, aku memang tidak bisa apa-apa, tapi kalau masalah kelicikan, boleh lah diadu. Orang sepertiku ini memang perlu punya sifat yang licik. Aku yakin sifatku ini suatu saat nanti juga pasti akan berguna. Sekarang saja sudah berguna untuk membodohi Mbak Ika selaku penjaga kantin. Mana tahu suatu saat nanti aku bisa menggunakan sifat ini untuk membodohi Bos besar perusahaan dan akhirnya aku bisa menggantikan posisinya itu. Tentang mengutang, sebenarnya aku bisa saja membayarnya langsung tanpa adanya hutang. Kalau cuma bakso, itu mungkin cuma satu per sepuluh dari uang jajanku sehari. Akan tetapi, kau harus tahu, apapun yang didapat secara gratis, itu rasanya jauh lebih enak. Karena itulah, mengutang sudah menjadi hobiku. Aku tahu hobiku ini terlalu keren, jadi kumohon dengan sangat, jangan ada yang memujiku secara berlebihan. *** Aku kembali ke kelas dengan perasaan penuh kemenangan karena telah berhasil memperbanyak hutangku di kantin Mbak Ika. Kulihat di kelas ada Icha seorang diri yang sedang sibuk membaca buku. Sungguh dia gadis yang sangat rajin. Si kutu buku tanpa kacamata yang melawan takdir dengan tidak menjadi gadis yang culun. Itulah Icha. "Mana yang lain?" tanyaku langsung ketika sampai di sampingnya. "Nggak tahu," jawab Icha. "Oh, kalau si Nita?" tanyaku lagi. "Ke toilet, tapi gak balik-balik tuh," jawab Icha. "Oh," ucapku. Aku sebenarnya juga ingin menanyakan tentang si Pasha. Bukankah setelah berbincang-bincang denganku tadi dia izin untuk pergi ke kelas? Tapi, daripada harus menimbulkan kesalahpahaman, mending gak usah kutanyakan. "Eh, soal Daniel tadi gimana?" tanya Icha. Ia meletakkan buku yang sedari tadi ia baca. "Yang mana?" tanyaku balik. "Yang dipanggil ke ruang guru itulah," jawab Icha. "Oh, sebenarnya itu masalah kemarin," ucapku. "Kemarin? Kemarin ada masalah apa?" Tanya Icha. "Biasalah. Daniel dibully lagi," jawabku. Aku langsung menceritakan semuanya dengan detail kepada Icha, termasuk saat aku membantu Daniel dalam mencari kalungnya dan akhirnya aku yang menemukannya. Akan tetapi aku tidak bilang kepadanya tentang aku yang diantar pulang oleh Daniel. "Wih, pahlawan kesorean nih, ceritanya," ucap Icha. "Mana ada julukan pahlawan kesorean, yang ada ya pahlawan kesiangan, Cha," sangkalku. "Kan kejadiannya tadi sore, ya nggak sesuai dong kalau disebut pahlawan kesiangan," ucap Icha. "Ya, ya, terserah deh," kataku. "Hahaha, terus tadi gimana?" tanya Icha. "Gak tahu, gue," jawabku. "Lah, bukannya Lo tadi ngintip?" ucap Icha. "Iya sih, tapi belum tahu secara jelas, mana yang dinyatakan bersalah. Lagian gue juga belum ketemu Daniel," jawabku. "Oh, gitu, ya?" ucap Icha. "Iya," jawabku. "Lo tahu nggak sih, semenjak Lo kenal sama Daniel, sifat Lo berubah drastis?" tanya Icha berganti topik walau masih tetap tentang Daniel. "Berubah gimana?" tanyaku balik. "Ya misal aja, Lo yang dulu itu sering banget bolos, kabur dari sekolah, dan juga gak ikut pelajaran. Lo juga sering berantem sama anak-anak kelas sebelah. Tapi sekarang, gue perhatiin Lo udah agak berubah, gak kayak gitu lagi. Masih sih sebenarnya, tapi gak sesering dulu," ucap Icha panjang lebar. "Hufff.... Jadi itu? Gue udah duga kalau Lo juga ngerasain hal itu. Nggak gue sangka Lo merhatiin gue, hahaha," ucapku yang kuakhiri dengan tawa. "Cih, semuanya juga ngerasain kali, Shel, walau gak merhatiin," sahut Icha. Aku masih tertawa. Tepat seperti dugaanku di jauh-jauh hari, ternyata praduga itu terbukti pada hari ini. Semua orang di sekolahan ini, merasakan bahwa sikap seorang Shelania alias diriku ini berubah drastis, dan aku akui, salah satu faktor pemicu perubahan itu adalah karena Daniel. Memang bukan karena Daniel saja sebenarnya, karena akhir-akhir ini faktor perubahan itu juga datang dari diriku sendiri yang prihatin dengan nasib bangsaku ini. Ditambah lagi dengan karya-karya sastra Mamaku yang ia tulis di buku yang sering aku baca. Itu semua sungguh membuat tekadku semakin bulat untuk melakukan perubahan. Ini adalah revolusi bagi diriku sendiri. Kuharap suatu saat nanti bisa menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Aku tahu ini susah, tapi setiap hal yang belum pernah dikerjakan bukannya memang terasa susah? Bahkan waktu masih bayi dulu, berbicara saja pun itu terasa susah dan bahkan tidak bisa. Butuh waktu yang lumayan lama hingga akhirnya dapat berbicara. Sama dengan perubahan yang akan kulakukan. Ini juga butuh proses, tak mungkin dalam waktu semenit saja aku bisa mengubah diri menjadi lebih baik dengan sangat sempurna. Itulah yang disebut dengan kemustahilan. *** Ketika ingatan ini kembali kepada saat-saat seseorang yang bilang bahwa sifatku berbeda, ingatan ini juga membawaku kepada seseorang yang juga pernah mengucapkan bahwa aku ini berbeda. Orang itu adalah Daniel. Berbeda dengan Pasha, Daniel mengucapkan hal itu dengan sangat ambigu. Pasalnya aku benar-benar tak paham dengan maksud dari kata-kata, "kenapa Lo berbeda?" Daniel yang dingin. Daniel yang sangat misterius. Pasti kata-katanya juga akan susah untuk dipahami. Di saat Pasha juga mengucap kata-kata yang hampir sama tentangku, saat itulah aku yakin bahwa apa yang dimaksud oleh Daniel juga sama dengan apa yang dimaksud oleh Pasha. Cuma masalahnya, aku nggak tahu tentang sifatku yang mana yang menurut mereka berbeda dari orang lain. Otakku tak dapat menjelajah sampai ke titik itu. "Cha, gue mau ke perpustakaan dulu," ucapku ke Icha waktu jam istirahat kedua. "Daniel?" tanyanya. Aku langsung bisa menangkap apa maksudnya. "Hahaha.... Iya," jawabku. "Hufff.... Oke, oke, semoga sukses," ucapnya. "Apanya yang sukses?" tanyaku. "Hahaha.... Nggak, nggak. Udah sono!" usir Icha. "Heh." Aku tersenyum meremehkan. Merupakan sebuah keberuntungan yang sangat tidak aku sangka, di mana dari tajamnya pengelihatanku ini nampak di depan ruang perpustakaan sana seseorang yang akan berjalan masuk ke dalamnya. Dia adalah Daniel. Meski tak terlihat wajahnya, tapi aku masih sangat mengenalinya. Perawakannya, gaya berjalannya yang cukup tenang, dan rambutnya yang sedikit acak-acakan itu membuatku yakin bahwa orang itu adalah Daniel. Dari kejadian ini, aku bisa bersyukur, bersyukur karena sang kuasa tidak membetikan gangguan mata kepadaku, contohnya rabun jauh. Jadi dengan begitu aku bisa melihat sesuatu yang berada jauh dari tempatku berada dengan jelas. Sayangnya di saat sang kuasa tidak memberikanku cobaan seperti itu, diriku sendiri malah menciptakan sebuah penyakit mata, yaitu mata malas. Mata yang sangat malas jika aku pergunakan untuk memandang tulisan di papan tulis. Tak mau berlama-lama lagi, segera kukejar si Daniel yang kini sudah berada di dalam perpustakaan. Aku tak memikirkan tentang bagaimana reaksi para manusia di dalam perpustakaan sana ketika mereka melihatku yang semakin hari semakin dekat dengan Daniel. Aku tak peduli dengan mereka jika seandainya mereka bergosip tentang hubunganku dan Daniel ketika aku tidak ada. Jika mereka ingin menyebarkannya sekalipun, aku juga masih tidak akan peduli. Terserah mereka jika ingin menyebarkannya. Kalau perlu sampai seluruh isi dunia ini tahu bahwa seorang Shelania, sang anak dari donatur terbesar di sekolahan ini, menjalin hubungan sedekat ini dengan seorang anak dari keluarga yang jauh dari kata berada, yaitu Daniel. "Hufff.... Akhirnya gue menemukan Lo," ucapku ke Daniel. Saat ini Daniel duduk di sebuah kursi yang agak jauh dari yang lain. "Menemukan gue?" tanyanya. "Iya," jawabku sembari duduk di hadapannya. "Nyariin gue?" tanya Daniel lagi. "Iya, lah," jawabnya. "Ada apa?" tanyanya untuk ketiga kalinya. "Ada apa? Tentu saja mau bertanya soal masalah yang kemarin, lah. Bagaimana?" jawab dan tanyaku balik. "Kan Lo kemarin udah lihat sendiri," jawabnya. Ah, dia sudah semakin hangat saja, pikirku. "Ih, maksud gue tuh, jadi ada peristiwa yang Lo takutin nggak di hari ini?" tanyaku lagi. Kata-kata Mama tentang tata cara untuk menaklukkan hati seseorang masih terus terngiang-ngiang di kepalaku. Oleh sebab itulah aku berpura-pura tidak tahu tentang dia yang tadi pagi baru saja disidang. Biarkan dia sendiri saja yang mengakui tanpa aku berbicara seolah-olah aku sudah mengetahuinya. "Iya," jawabnya singkat. "Iya?" tanyaku tak paham. "Tadi papanya Dito ke sini," ucapnya. "Dito? Siapa tuh?" tanyaku pura-pura gak tahu. "Yang kemarin ada masalah sama gue," jawabnya. "Oh, terus?" tanyaku. "Terus gue dituduh mukulin anaknya," jawabnya. "Hah? Gak salah, tuh? Bukannya dia dan teman-temannya yang mukulin Lo?" tanyaku kepadanya. "Heh, apa ini aneh, menurut Lo?" tanyanya balik. "Iya lah," jawabku cepat. "Hal semacam ini sudah biasa terjadi," ucap Daniel. Aku diam. Aku jadi tahu, ternyata selama ini, cara yang dipakai oleh para pembully Daniel untuk memojokkannya adalah dengan cara memfitnahnya. Mendengar itu aku tiba-tiba merinding. Kurasa hari kiamat akan datang sebentar lagi. Sudah banyak fitnah yang bermunculan, bahkan oleh orang yang usianya masih seumur jagung. Mungkin, mereka itu adalah anak buah Dajjal. "Terus, Lo dihukum?" tanyaku. "Enggak," jawabnya. "Nggak dihukum?" tanyaku. "Pak Kepala Sekolah tiba-tiba dapat kiriman video dari nomor yang tidak dikenal. Di dalam video itu ada bukti tentang kejadian yang sebenarnya. Jadi gue lolos dari hukuman," jawab Daniel panjang lebar, tapi nada bicaranya tetaplah nada bicara khas seorang Daniel. "Hufff syukurlah kalau begitu. Terus reaksi papanya Dito gimana?" tanyaku. "Dia minta maaf ke gue," jawabnya. "Hahaha...." Aku tertawa. Aku membayangkan ketika papanya si Dito yang awalnya marah-marah tidak jelas ke Daniel dan akhirnya malah meminta maaf. Hah, betapa lucunya hal itu. "Pasti malu banget tuh," lanjutku. "Iya," ucap Daniel. "Lalu, soal mereka bertiga, mereka dihukum, nggak?" tanyaku. "Enggak," jawab Daniel. "Kok enggak? Nggak adil dong," protesku. "Biarin aja," ucap Daniel. "Hufff.... Ya sudahlah kalau Lo bilang gitu," ucapku. Biar kutebak. Di balik kata-kata Daniel yang seolah-olah ia mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, di dalam lubuk hatinya pasti tersimpan sebuah perasaan tidak terima yang begitu besar. Siapa yang tahan dengan ketidak adilan. Bahkan orang yang sangat sabar pun pasti tidak akan bisa menerima ketidak adilan semacam itu. Begitupun dengan Daniel. Mulutnya mengatakan begitu, tapi hati dan pikirannya aku yakin sedang mengatakan hal yang lain, yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh mulut. "Gue lega kalau semuanya baik-baik saja. Kalau gitu, gue balik ke kelas dulu," ucapku, kemudian berdiri, bermaksud untuk meninggalkan Daniel di perpustakaan ini. "Iya," jawabnya. Aku pun tersenyum ke dia sebagai bentuk ucapan sampai jumpa. Lalu, kubalikkan tubuh ini dan mulai melangkah dari tempat semula. Akan tetapi, baru juga satu langkah aku berjalan, kudengar lagi suara Daniel. "Terima kasih," ucapnya. Aku langsung berbalik. "Terima kasih buat apa?" tanyaku. Terima kasih atas kiriman video itu," jawabnya. Aku senyum lagi. *** Tujuanku membantu secara sembunyi-sembunyi ternyata gagal. Daniel telah mengetahui bahwa sang pengirim video itu adalah aku. Memang, IQ lelaki itu sungguh sangat tinggi, aku akui itu. Dibandingkan denganku, mungkin perbedaannya seperti jarak antara langit dan bumi. Dia langitnya, dan aku buminya. Walau dengan usaha seperti apapun juga, bumi tak akan pernah bisa menggapai sang langit. Akan tetapi yang perlu diingat adalah, tanpa bumi, langit akan kehilangan sesuatu yang sangat penting baginya. Begitu pula dengan bumi. Tanpa langit, bumi akan terasa menyeramkan dan tak punya tempat perlindungan. "Ma, tadi Shela berhasil jadi pahlawan untuk Daniel, lho," ucapku di kala sedang berdua dengan mamaku di teras rumah pada malam hari. Papa sedang berada di ruang kerjanya, sedangkan Bi Darmi, aku tidak tahu. Mungkin sibuk di dapur. "Oh ya, jadi pahlawan gimana?" tanya Mama. "Kan kemarin Shela sempat bilang kalau Daniel habis dikeroyok sama tiga orang temannya. Eh, tadi pagi si bapak dari salah satu tiga orang itu datang ke sekolahan dan meminta pertanggungjawaban atas kejadian yang menimpa anaknya kepada Pak Kepala Sekolah," ucapku panjang lebar. "Hah? Kok bisa? Bukannya mereka yang mukulin Daniel, kok mereka juga yang minta pertanggungjawaban?" tanya Mama terheran. "Ya begitulah. Ternyata, si anak dari bapak yang datang ke sekolah itu bilang yang tidak benar tentang kejadian kemarin. Dia memfitnah Daniel. Katanya Daniel yang mukulin dia. Kan aslinya sebaliknya," jawabku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN