"Wah, terus?" tanya Mama lebih antusias.
"Terus bapak itu marah-marah ke Daniel, dan di saat yang hampir bersamaan, tiba-tiba ada sebuah suara ledakan bom yang sangat keras," jawabku.
"Hah? Bom? Jangan bercanda deh, Shel?" tanya Mama lebih heboh.
"Iya Ma, beneran, ada suara bom," jawabku.
"Ada teroris, kah?" tanya Mama.
"Bukan," jawabku.
"Terus?" tanya Mama.
"Nada dering notifikasi pesan di ponselnya Pak Kepala Sekolah itu yang suaranya kayak ledakan bom," jawabku. Kali ini aku berbohong, pasalnya nada dering notifikasi di ponsel milik Pak Kepala Sekolah tidak benar-benar suara ledakan bom. Aku cuma iseng tentang hal itu.
"Hufff.... Kamu ini, Shel. Mama kira bom apaan," ucap Mama.
"Hahaha.... Sengaja, Ma. Seru sih, ngerjain Mama," ucapku.
"Seru, seru. Dosa tuh yang ada, ngerjain orang tua," ucap Mama.
"Lah, Mama kan masih muda, jadi gak dosa lah. Kan ngerjain orang muda diperbolehkan," bantahku. Mama menghembuskan napas pelan, pasrah dengan jawabanku.
Seorang guru ternyata bukan hanya pandai mendidik murid-muridnya waktu di sekolahan, tapi seorang guru juga pandai mendidik anaknya sendiri untuk tumbuh dan berkembang jadi lebih baik. Mamaku, dia seorang guru sekaligus orang yang sangat cocok untuk aku ajak curhat. Dia mempunyai selera humor yang tinggi. Dia juga mempunyai keseriusan tingkat tinggi. Selera humor dan keseriusannya seolah-olah berada di posisi setingkat, dan itulah yang kusukai dari Mama. Aku jadi ingin curhat lebih banyak dengannya, terutama tentang seorang Daniel.
"Nggak diterusin, ceritanya?" tanya Mama. Maksud mamaku adalah cerita tentang si Daniel.
"Oh, iya, Ma, diterusin kok," jawabku. Aku mengingat kembali tentang sampai mana aku bercerita tadi.
"Jadi, suara bom yang meledak itukan ternyata datang dari ponselnya Pak Kepala Sekolah. Nah, Mama tahu? Itu adalah notifikasi pesan dari Shela. Shela ngirimin video tentang Daniel yang dipukuli oleh mereka bertiga. Untung kemarin sempat Shela rekam. Jadi bisa jadi bukti lah, sekarang," ucapku panjang lebar.
"Jadi, kamu ngirimin video bukti bahwa Daniel tidak bersalah kepada Pak Kepala Sekolah tanpa sepengetahuan siapapun?" tanya Mama. Aku mengangguk-anggukan kepalaku beberapa kali seperti anak kecil.
"Anak Mama memang hebat," puji Mamaku.
"Tapi ternyata Daniel tahu, Ma," ucapku.
"Kok bisa tahu? Kamu kasih tahu?" tanya Mama.
"Eh, ya enggak lah. Mana mungkin," sangkalku.
"Terus?" tanya Mama.
"Daniel kan pintar, Ma. Dia pasti tahu lah, walau gak ada yang ngasih tahu. Kan IQ nya tinggi," jawabku.
"Daniel sepintar itukah?" tanya Mama sambil mengelus dagunya.
Kalau boleh jujur, sebenarnya pun aku tak tahu tentang sepintar apa Daniel itu. Akan tetapi, ia bisa masuk sekolahan se terkenal itu dengan jalur beasiswa. Sekolahan yang bisa dibilang hanya khusus untuk anak-anak orang kaya, dan Daniel bisa masuk ke dalamnya, padahal ia bukan dari anak orang kaya. Selain itu, yang lebih menakjubkannya lagi adalah tentang dia yang bisa masuk ke sekolahan itu lewat jalur beasiswa. Bukankah itu sudah menunjukkan tentang seberapa pintarnya dia?
"Kalau gak pintar, gak mungkin bisa masuk sekolahan itu, Ma. Sekolahan itu kan khusus untuk anak-anak orang kaya, dan Daniel adalah anak dari seorang yang jauh dari kata berada. Ia bisa masuk karena beasiswa. Itu kan sudah menunjukkan seberapa pintarnya dia," ucapku panjang lebar.
"Hmmm gitu, ya? Mama jadi pengen tahu, sepintar apa si Daniel itu," ucap Mama. Maklum, naluri seorang guru yang tentu akan sangat penasaran ketika mendengar ada seorang murid yang sangat pintar.
"Kalau Mama ingin tahu, makanya, Si Dio diganti aja sama si Daniel," pintaku.
"Hmmm, Shela, Mama bilangin lagi, ya. Mama gak mungkin ganti-ganti si Dio gitu aja. Bukan masalah dia yang akan kehilangan mata pencaharian, bukan itu. Akan tetapi Mama takut jika dia merasa terhina dan menimbulkan perpecahan antara keluarga kita dengan keluarga dia," jelas Mama.
"Ah, Mama nih. Lagian kenapa sih dulu itu Mama maksa banget supaya si Dio bisa jadi guru les Shela?" tanyaku.
"Ya itu karena nilai kamu banyak yang merah," jawab Mama. Aku garuk-garuk kepala karena merasa apa yang diucapkan Mama itu adalah suatu kebenaran.
"Sebenarnya Mama itu sudah membuat perjanjian sama Dio dan Mamanya. Dio juga gak bisa terus-terusan jadi guru les kamu. Makanya kita sepakat, Dio akan berhenti jadi guru les kamu dengan syarat kamu bisa dapat peringkat minimal 12 besar. Kalau kamu tidak bisa, ya otomatis Dio akan tetap jadi guru les kamu," lanjut Mama.
"Kenapa harus 12 besar, Ma?" protesku. Aku merasa persyaratan itu cukup berat untukku.
"Karena setelah angka 12 adalah angka 13. Konon katanya angka 13 itu merupakan angka kesialan. Angka 13 aja membawa kesialan, apalagi angka-angka yang di belakang angka 13, kan malah tambah sial. Makanya kamu harus dapat peringkat 12," jawab Mamaku.
Sungguh jawaban yang aneh dari Mamaku. Apa hubungannya dengan angka 13? Kesialan? Kesialan apaan? Ah, aku tahu itu hanya jawaban asal yang mama ucapkan saja. Akan tetapi tentang persyaratan itu, jika aku bisa melakukannya, mungkin aku akan terbebas dari si guru les bernama Dio itu. Ya, aku akan mencobanya, walau itu terasa mustahil untukku.
Bagaimana tidak, seorang murid langganan peringkat lima dari belakang dari total 23 murid di kelas itu diharuskan untuk naik peringkat sejauh itu. Bisa dibilang, dari peringkat 18 harus naik menjadi peringkat 12. Kalau dihitung-hitung, aku harus mengalahkan 6 murid yang berada di tingkat atasku untuk bisa mendapatkan posisi itu. Sulit, sangat sulit, mengingat kemampuanku yang tak seberapa ini.
"Oke, Ma, Shela setuju. Malam Minggu ini pasti akan menjadi malam terakhir bagi Dio dalam menjadi guru les Shela," ucapku yakin meski belum tentu bisa mewujudkannya.
"Tapi ada syarat lain. Kalau kamu dapat nilai bagus karena hasil nyontek atau cara curang yang lain, maka perjanjian yang Mama buat bersama Dio dan Mamanya itu mau tidak mau juga harus dibatalkan," ucap Mamaku.
Aku mendecak. Mamaku ini sepertinya bisa membaca hati dan pikiran seseorang. Memang, aku sudah mempunyai pemikiran untuk menyontek teman-temanku di ujian yang akan datang, tapi ternyata Mama sudah menyadari hal itu.
"Kalau Shela bohong, bilang gak nyontek, boleh, kan?" tanyaku sambil senyum-senyum.
"Boleh saja," jawab Mama santai.
"Yes." Aku langsung mengepalkan tangan kananku sebagai tanda rasa senangku.
"Kalau gak ketawan," ucap Mama.
"Yes lagi," ucapku.
"Kok yes?" tanya Mama.
"Lah, kan Mama bilang kalau gak ketahuan. Jika seandainya di ujian nanti Shela nyontek dan gak ada yang tahu kalau Shela nyontek, kan gak masalah," jawabku.
Mama lagi-lagi tersenyum. Dia yang seperti itu pasti membuat siapa saja yang melihatnya langsung mempunyai pemikiran bahwa dia itu orangnya sabar, gak gampang emosi, penyayang dan juga mempunyai ketenangan yang tinggi. Tapi memang, sebenarnya itulah sifat Mamaku. Aku beruntung punya Mama seperti itu.
"Shel, ingat! Semua yang kamu perbuat, pasti akan ketahuan," ucap Mama. Aku mengangkat sebelah alisku, bingung dengan apa yang ia katakan.
"Mama ataupun yang lain mungkin tidak bisa tahu kalau kamu menyontek, akan tetapi Tuhan tahu. Sebaik dan secerdik apapun cara kamu dalam menyontek, itu tidak akan pernah bisa lepas dari pengelihatan sang kuasa. Lalu jika saat Mama bertanya tentang apakah kamu menyontek atau tidak, dan kamu menjawab tidak, itu berarti kamu sudah berbohong, kan? Dosa besar kalau sudah membohongi orang tua. Kamu tidak mau seperti itu, kan? lanjut Mamaku.
Entah kenapa aku merasa pilu ketika Mamaku sudah berceramah seperti itu. Aku tak mempunyai kemampuan sedikitpun untuk melawan. Rasanya setiap kata yang ia ucapkan itu menancap tepat di hati, dan juga memberikan sayatan-sayatan kecil yang menciptakan rasa perih di hatiku. Itu bukan sekedar kata-kata, menurutku. Itu adalah suatu pengajaran dan nasihat yang Mama berikan dari cara dia mendidik aku.
"Iya Ma, Shela paham. Shela akan berusaha sendiri untuk mendapatkan nilai yang bagus, tanpa harus mencontek," ucapku.
"Bagus. Itu baru namanya anak Mama," ucap Mamaku sambil mengacak-acak rambutku.
"Jadi selama ini bukan anak Mama?" tanyaku iseng.
"Kalau yang biasanya sih anak Papa. Hahaha," jawab Mama sambil tertawa.
Itulah Mamaku. Tiada kata yang pantas kuucapkan kepadanya selain ucapan terima kasih. Terima kasih karena telah mengandungku selama 9 bulan. Terima kasih karena telah melahirkan aku walau dengan taruhan nyawa. Terima kasih juga karena telah merawatku dan juga memberikan didikan yang mungkin tak pernah kudapatkan dari orang lain. Terima kasih, terima kasih atas segalanya. Sungguh, aku masih sangat membutuhkannya. Kuharap ia bisa masih ada di bumi, sampai aku berumur 200 tahun nanti.
***
Esok hari pun tiba. Ketika aku berada di sekolahan, kuingat selalu kata-kata Mama tadi malam. Aku benar-benar mendengarkan penjelasan dari sang guru dengan sungguh-sungguh. Apa yang tidak aku pahami pun aku tanyakan, dan di saat itu pula orang-orang yang melihat tingkahku langsung merasa aneh, tak terkecuali sang guru pengajar.
"Lah, tumben minta dijelasin." Itu adalah Bu Mirna, sang guru fisika.
"Emmm.... Maaf, Bu. Tolong dijelasin aja," pintaku serius.
Sungguh aku sendiri pun merasa sedang menjelma sebagai siswa paling pintar di kelas ini, yang akan bertanya ketika tidak paham dengan apa yang disampaikan oleh sang guru. Padahal biasanya, sikapku di kelas jauh dari yang akhir-akhir ini terjadi. Bu Mirna yang sebelumnya kuanggap sebagai musuh, pada hari ini aku malah meminta bantuan pada musuhku itu. Dalam arti lain, pada hari ini aku menganggap Bu Mirna benar-benar sebagai guruku.
Pada waktu istirahat pun sama. Aku yang biasanya mondar-mandir tidak jelas, kini aku hanya berada di kelas dengan buku yang berada di depanku. Icha dan Rosa juga ada. Mereka kuminta untuk mengajari aku matematika, karena menurutku, pelajaran itulah yang paling tidak aku bisa.
"Lo kesambet apa sih, Shel?" tanya Icha penasaran.
"Gak kesambet apa-apa. Cuma pengen dapat nilai bagus waktu ujian nanti," jawabku.
"Wih, tumben mikirin ujian." Kali ini Rosa yang berbicara. Tapi ingat, dia Rosa temanku, bukan Rosa Mamaku.
"Ya mau bagaimana lagi.... Eee.... Ah, gue males sebut nama Lo. Lagian, buat nama kenapa sih pakai sama sama nama Mama gue?" ucapku.
"Ya mana gue tahu. Kan yang buat orang tua gue," ucap Rosa.
"Eh, udah, udah, malah ngributin soal nama," ucap Icha melerai.
"Shel, gue ulangi pertanyaan Rosa. Rosa dia, ya, bukan Rosa Mama Lo. Tumben Lo mikirin ujian?" tanya Icha.
"Ya gimana lagi, Cha. Mengharapkan kerasukan arwah Albert Einstein waktu ujian nanti juga percuma. Mustahil itu akan terjadi," jawabku.
"Ya iyalah. Albert Einstein juga pilih-pilih kali, Shel, kalau mau merasuki. Mana mungkin dia mau merasuki orang yang kapasitas otaknya di bawah standar. Hahaha," ejek Icha. Rosa malah ketawa.
"Cih, emang sialan Lo. Lo juga, nama aja yang kayak ibu gue, tapi kelakuan beda jauh," ucapku ke mereka berdua. Mereka tertawa lagi.