Bab 51

1338 Kata
Aku meneruskan belajarku sambil banyak kali bertanya kepada Icha maupun Rosa tentang sesuatu yang tak kupahami dari materi yang aku pelajari kali ini. Memang, semua penghuni kelas saat ini sudah keluar dari kelas. Ada yang ke kantin, ke rooftop, atau cuma jalan-jalan tidak jelas. Kini di kelas tinggal menyisakan aku, Icha dan Rosa karena aku lah yang meminta mereka untuk tetap berada di kelas. Bukan tanpa maksud. Aku tahu dari segi peringkat, mereka berdua menduduki peringkat yang sangat baik meski masih belum bisa mengalahkan sang peringkat pertama, yaitu Pasha. Oleh karena itulah kuminta mereka untuk mengajarkan aku tentang matematika. Tak peduli jika hal itu akan menyita waktunya. Aku belajar dengan sungguh-sungguh. Ah, memang banyak sekali yang belum aku pahami tentang matematika. Tidak, mungkin semuanya belum bisa aku pahami. Bagiku matematika itu sangat sulit. Dulu, ketika di dalamnya hanya membahas soal perkalian, pembagian, pertambahan dan pengurangan, itu bagiku masih sangat mudah. Akan tetapi ketika x dan y menyerang, di situlah aku seperti menjadi orang terbodoh sedunia, yang tidak sedikitpun paham tentangnya. "Jadi gitu, Shel. Paham?" tanya Icha setelah menjelaskan. "Paham lah, masa enggak," jawabku. "Jangan kebanyakan gaya lo. Gue serius," kata Icha. "Iya, iya. Gue lumayan paham, sih. Nanti di rumah gue ulas lagi," kataku. "Nah, bagus," kata Icha. Mungkin benar. Tak ada yang sia-sia dari orang yang sungguh-sungguh berjuang. Buktinya aku. Tadi itu, bahkan sedikitpun tentang pelajaran itu aku tak memahaminya. Akan tetapi setelah menjalani sedikit les dadakan bersama sang sahabat, aku sudah mulai mengerti tentang mata pelajaran itu. Ah, sungguh ini tak sesulit apa yang aku kira. *** Waktu demi waktu silih berganti. Hingga waktuku sudah sampai di penghujung hari yang disebut akhir pekan. Ya, ini adalah hari Sabtu. Hari di mana nanti malam adalah waktu di mana aku kembali harus menjalani les bersama dengan Dio. Itu sungguh memuakkan, tapi kupastikan bahwa ini akan menjadi les terakhirku bersama dia. Itu juga kalau aku sanggup. Aku tak keluar rumah seharian. Memang, seminggu ini aku lebih suka menghabiskan waktuku di rumah hanya untuk sekedar belajar dan membaca tulisan-tulisan mamaku yang tercantum indah di buku tulisnya itu. Ada satu paragraf di buku tulis mamaku yang sungguh menyentuh hatiku. Lagi-lagi itu adalah kata-kata tentang keadaan negeri tercinta ini. "Hai, Bung Tomo. Banteng-banteng Indonesia yang dulu kau bangga-banggakan, kini telah berubah menjadi anak sapi penakut yang selalu butuh perlindungan. Banteng-banteng baru telah muncul, tapi bukan dari negerimu. Hai Bung Tomo, lihatlah para pemuda yang dulu kau kobarkan semangatnya lewat pidatomu. Sekarang ini, pemuda-pemudamu itu malah bermalas-malasan dengan memainkan produk buatan penjajah negerimu. Semoga di alam sana kau tidak bersedih, Bung. Maafkan kami yang telah gagal menjaga negeri yang telah kau perjuangkan bersama para pahlawan lain, dulu." Sekali membacanya, aku langsung paham dengan maksud mamaku. Aku akui, itu indah sekali. Andai saja ku bisa membuat kata-kata sebagus itu, mungkin aku sudah tidak akan lagi menjadi seorang Shelania yang nakal, yang tak peduli dengan mata pelajaran, ataupun kabur saat mata pelajaran sudah berlangsung. Bersyukurnya, hanya tentang sekolah aku bertingkah senakal itu, selebihnya tidak. Aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat maksiat. Aku akan langsung menghajar lelaki yang dengan beraninya menyentuhku, walaupun dia tampan. Itulah yang harus kalian ketahui tentang diriku. Bukannya aku membanggakan diri ini, hanya saja itulah kenyataannya. Aku selalu ingat dengan R.A Kartini yang memperjuangkan hak wanita agar bisa setingkat dengan laki-laki. Oleh karena itulah, mana mungkin aku mau menjadikan diriku ini menjadi w************n. Nakal memanglah hal yang wajar untuk remaja seusiaku, tapi tentang menjual harga diri, jangan. Kembali k****a kata-kata indah yang ditulis mamaku di dalam bukunya itu lagi. Ada sebuah kutipan yang membuatku tertarik, yang berisi.... "Candamu tidak akan dianggap lucu oleh orang-orang yang tidak menyukaimu." Ah, itu. Jika ada orang yang ingin membenarkan apa yang mamaku tulis, mungkin akulah orang pertama yang akan melakukan itu. Faktanya, selucu apapun seseorang dalam bercanda, ketika yang dihadapinya adalah orang yang tidak menyukainya, maka itu tidak akan dianggap lucu. Berbeda dengan yang menyukainya. Bahkan mungkin sekalipun candaan itu tak begitu lucu, maka orang itu bisa saja menganggap bahwa itu lucu. Itulah kehidupan. Butuh waktu yang sangat lama untuk memahaminya. Itupun belum tentu bisa memahami sepenuhnya. *** Sabtu ini, adalah Sabtu pertama aku seharian hanya berada di rumah. Hingga malam harinya pun tiba. Dio sudah datang ke rumahku dengan naik motor kesayangannya. Mamaku menyambutnya dengan baik dan langsung mempersilahkannya masuk serta menyuruhnya duduk di sofa ruang tamu. Aku juga ikut duduk, dan seperti biasa mamaku pergi ke dapur, membuatkan minuman untuk Dio. "Kak, Kak Dio merasa ada yang aneh gak, kenapa mamaku dan mama Kak Dio menyuruh Kak Dio agar menjadi guru lesku?" tanyaku ke dia. "Aneh apanya?" tanya Dio balik. "Ya aneh aja. Semacam ingin menjodohkan kita, gitu," jawabku tanpa ragu. "Hahahaha...." Si Dio malah tertawa mendengar ucapanku. "Kenapa, Kak? Jangan-jangan, kamu sudah tahu bahwa memang kita mau dijodohin?" tebakku. Dia masih tertawa. Tak lama kemudian, mamaku datang. Satu hal lagi yang kusuka dari mamaku, di saat ia membuatkan minuman untuk Dio, dia juga sekalian membuatkannya untukku. Sungguh mama yang baik. Akan tetapi kali ini, jujur kedatangannya agak sedikit mengganggu. "Eh, ada apa ini? Kayaknya seru banget," ucap Mama ketika mendengar dan melihat Dio tertawa. "Enggak, Ma. Enggak apa-apa," sahutku. Takutnya jika Dio yang menjawab, ia akan mengatakan apa yang sebenarnya. "Mama gak boleh tahu, nih?" tanya Mamaku. "Enggak, ini urusan anak muda. Mama kan udah tua," jawabku. Mama tertawa kecil mendengar ucapanku. "Ya udah, kalau begitu mama ke kamar dulu. Takutnya ganggu kalian belajar, nanti," ucap mama. "Iya, Tan," jawab Dio. Akhirnya mama mau meninggalkan kami berdua di ruang tamu ini. Bukannya aku senang karena bisa berduaan dengan Dio, tapi aku senang karena bisa membahas hal yang sangat ingin kubahas tanpa adanya mama yang mendengar. Aku memandang Dio sejenak sebelum mengutarakan niatku untuk yang kedua kalinya itu. Setelah itu langsung kubuka pembicaraan dengannya lagi. "Hei, Kak. Jangan bilang kamu suka sama aku, lalu kamu tahu kalau kita mau dijodohin dan kamu menerimanya dengan senang hati," ucapku. "Kenapa berpemikiran sampai situ, sih?" tanya Dio. "Ya.... Ya karena memang kayak gitu," jawabku. Dio lagi-lagi tertawa, padahal tidak ada hal yang lucu. Dia tertawa, dan aku memasang raut wajah penuh keseriusan. Kurasa ada yang aneh dengan dirinya. Dia mengalami gangguan jiwa, mungkin. "Dengar, ya! Aku sedikitpun tidak mempunyai rasa ke kamu. Bagiku kamu itu masihlah seorang anak kecil. Mana mungkin aku suka sama kamu. Soal kata kamu yang mengatakan bahwa orang tua kita mau menjodohkan kita, jika itu benar adanya, aku pasti juga menolaknya. Makanya jangan berpikir kejauhan! Pikirkan dulu sekolahmu! Kejar dulu cita-citamu! Baru setelah itu kamu berpikir tentang jodoh," ucap Dio panjang lebar. Jujur aku malu, sangat malu malahan, ketika mendengar pengakuan dari dia yang begitu jelas bahwa dia tidak sedikitpun ada rasa denganku. Di sisi lain aku juga senang. Kalau dia tidak ada rasa denganku, aku tidak perlu khawatir lagi dengan dia yang bisa menghabiskan banyak waktu bersamaku di malam Minggu ini. Dan jika seandainya rasa itu mendadak muncul di dalam hatinya, tinggal kuanggap dia sebagai orang yang tidak teguh pada pendiriannya. Dia mungkin akan malu dengan sendirinya dan akan mengurungkan perasaannya itu. "Begitu, ya? Baguslah," ucapku kemudian. "Jadi semuanya sudah jelas, kan?" tanyanya. "Iya," jawabku. "Oke, kalau begitu, kita mulai belajarnya," ucapnya lagi. "Eh, sebentar!" cegahku. "Apa lagi?" tanyanya. "Aku mau bilang, kalau nanti aku bisa mendapatkan peringkat 12 besar, maka kamu sudah tidak perlu lagi les aku," ucapku. "Iya, sudah tahu," katanya. "Sudah tahu?" tanyaku. "Iya, mama yang bilang," kata Dio. "Mamaku?" tanyaku. "Mamaku, lah," jawabnya. "Ooo.... Ya sudahlah," kataku. "Ya sudah. Kita mulai belajarnya," ucap Dio lagi. "Iya," jawabku. Kami pun mulai belajar, dengan Dio yang bertugas sebagai guru pembimbingku. Aku tak pernah menyangka, bahwa ternyata Dio juga lumayan asyik ketika diajak bicara. Ya, malam ini, aku baru tahu semua itu. Tentang perasaannya dia yang sebenarnya kepadaku juga aku baru tahu. Malam ini Dio mengajarkan aku tentang fisika. Ini juga sebuah pelajaran yang sangat tidak aku sukai. Pasalnya sang guru yang mengajar fisika juga orang yang tidak aku sukai, siapa lagi kalau bukan Bu Mirna alias musuh besarku. Jika dibandingkan dengan matematika, mungkin bagiku fisika jauh lebih sulit darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN