Bab 52

1353 Kata
Entah kenapa aku tiba-tiba merasa bersalah karena telah memutuskan bahwa malam ini akan menjadi malam terakhir bagi Dio untuk menjadi guru lesku. Aku juga tidak tahu mengapa. Setelah ia menjawab apa yang ingin kutahu selama ini, saat itulah aku langsung merasa bahwa tidak masalah jika Dio akan tetap menjadi guru lesku. Namun ini sudah terlanjur menjadi sebuah perjanjian. Dio juga sudah menyetujuinya, terlalu lucu jika harus dibatalkan. Ah, apakah ini yang disebut jiwa kemanusiaan? Jika sesuatu itu ada, ia tidak menghargainya, akan tetapi saat sesuatu itu pergi atau mau pergi, barulah ia mengerti apa yang disebut kehilangan. Itu yang kurasakan saat ini meski hasilnya nanti belum tentu sesuai dengan apa yang aku bayangkan. Aku tidak menyukai Dio. Dalam arti aku tidak menyukai dia dalam hal percintaan. Akan tetapi hatiku mengatakan bahwa dia tidak boleh pergi jauh dariku. Ah, sial! Aku seperti terjebak dalam kebimbangan. Seharusnya aku tidak menanyakan tentang hal itu, tadi. Kalaulah aku tidak menanyakannya, mungkin aku tidak perlu ragu lagi untuk lepas hubungan dari dia. *** Bumiku kembali terang, di saat sang penerang dengan nama sucinya, matahari, mulai terbit dari ufuk timur sana. Udara sejuk khas sang pagi membuat diri ini teringin tetap berbaring di kasur empuk ini bagai sang ratu yang tak boleh diganggu. Namun ada satu yang kurang. Aku rindu suara kicauan burung. Aku juga rindu suara kokokan ayam jantan yang lama tidak kudengar ketika aku bangun pagi-pagi. Itulah yang kurang dari semesta yang kini kuhuni. Kota metropolitan memang telah menghadirkan banyak cerita, termasuk suara kokokan ayam jantan dan kicauan burung di sekitar rumahku yang kini hanya tinggal kenangan. Kuharap mereka bisa kembali mengisi pagiku, dengan suara-suara indahnya yang membuatku terus ingin selalu mendengarnya. Sungguh, itu sangat mengasyikan. Bahkan jauh lebih mengasyikan dari musik yang berasal dari lagu-lagu zaman sekarang. Ah, ya sudahlah. Mungkin ini sudah menjadi bagian dari takdirku yang hidup di zaman modern seperti ini. Aku yakin Jakarta 100 tahun yang lalu tidak seperti Jakarta yang saat ini. Tidak, tidak sampai 100 tahun, mungkin. Jakarta 50 tahun yang lalu saja, pasti suasananya sangat berbeda dari yang sekarang. Ya, sekarang ini, aku seperti membenci tempat kelahiranku itu. Namun entah kenapa aku juga tidak ingin meninggalkannya. Aku seperti ingin mengubah keadaan kota metropolitanku yang sekarang ini menjadi metropolitan yang jauh lebih baik lagi. Lalu setelah itu, biar perlahan kuubah dunia ini. Kuingin dunia ini menjadi damai, tanpa adanya kebencian dari satu pihak dengan pihak yang lain. Aku ingin menjadikannya seperti itu. Ah, entahlah. Kurasa aku tidak akan pernah bisa melakukannya. Itu hanyalah suatu keinginanku belaka tanpa bisa aku jadikan sebuah kenyataan. Jadi, lupakan saja tentang keinginanku itu. Kembali pada hariku yang masih menjadi misteri, entah nantinya akan indah atau malah akan buruk. Kini kucoba bangun lebih pagi, bersamaan dengan munculnya sang mentari pagi. Minggu pagi, ini waktunya aku joging sembari menikmati sejuknya udara pagi yang tak bisa kudapatkan saat siang, sore maupun malam hari. "Ma, aku keluar dulu, ya," teriakku sambil memakai sepatu. "Mau ke mana?" tanya Mama sambil berteriak pula. Nampaknya ia masih berada di kamarnya. Sedang berdandan, mungkin. "Sekolah," jawabku asal. "Sekolah? Kan ini hari Minggu," ucap Mama lagi masih dengan berteriak. "Eh, iya, Ma. Shela lupa. Kirain bukan Minggu. Hahaha...." ucapku bersamaan dengan berakhirnya kegiatan mengenakan sesuatu. "Ah, kamu ini, Shel," ucap Mama. "Hufff." Kuhembuskan napasku dalam-dalam. "Aku mau joging, Ma. Bukan mau sekolah. Ya sudah, pergi dulu, ya. Assalamualaikum," ucapku. Tanpa kutunggu jawaban salam dari mamaku, segera kulangkahkan kakiku menuju jalanan depan rumah besarku ini. Sekali lagi perlu diketahui. Aku memanglah anak yang nakal, tapi senakal-nakalnya aku, aku tetap bilang dulu ke orang tua jika ingin keluar rumah, kecuali jika aku sedang khilaf. Suasana pagi yang cukup sepi. Hanya ada satu dua orang yang kutemui di sepanjang jalan. Mereka juga melakukan hal yang sama sepertiku, yaitu berjoging. Suasana semacam ini terkadang juga sangat mengasyikan buatku, walau sejatinya aku lebih cinta keramaian. Namun meski begitu, ada kalanya aku juga cinta kesunyian. Ku berlari kecil menyusuri gang-gang kompleks perumahanku. Tak ada teman, hanya sendirian. Andai aku punya teman terbaik di kompleks perumahanku ini, mungkin di saat aku ingin berjoging seperti ini, ada dia yang menemani. Akan tetapi sayangnya, kebanyakan dari mereka hanyalah si gadis sombong yang selalu memilih-milih teman dalam pergaulannya, hanya karena mereka anak dari orang yang kaya raya. Maksudku, bukan aku yang tidak mereka pilih. Mereka jelas memilihku dalam pergaulan mereka karena akupun juga bagian dari anak orang kaya, dan bahkan bisa dibilang beberapa tingkat di atas mereka. Kutahu para gadis sombong itu akan lebih memilih berada sendirian di dalam rumah daripada harus bergaul dengan teman sebaya mereka yang cuma hidup sederhana, apalagi miskin. Itulah yang sangat kubenci dari mereka, dan itu jugalah alasan kenapa aku tidak bisa berteman dekat dengan mereka. Padahal cuma tercipta dari tanah. Ya, tanah. Tanah yang bahkan sering diinjak-injak oleh banyak makhluk, tapi kenapa kesombongannya melebihi tingginya langit? "Hufff.... Capek juga ternyata," ucapku sambil menghentikan langkah kakiku. Segera kuatur napasku agar bisa normal kembali. Sungguh di luar dugaanku bahwa dalam jarak yang tak begitu jauh ini sudah bisa membuat diriku kelelahan. Iya, aku benar-benar sangat kelelahan. "Sudah lama gak joging, sekali joging langsung kayak gini rasanya," ucapku kemudian. Ini mungkin juga efek karena aku yang sudah lama tidak berjoging seperti ini. Sepertinya tubuh ini kaget setelah sekian lama berdiam, dan kini malah dibuat untuk bergerak yang agak berat. Ah, aku jadi merasa menyesal kalau selama ini di hari Mingguku malah memilih untuk bermalas-malasan daripada melakukan hal yang berguna seperti ini. *** Aku akhirnya kembali ke rumah dengan membawa rasa lelah yang teramat sangat. Keringat ini menjadi bukti kesungguh-sungguhanku dalam melakukan joging. Ketika baru kusampai di ambang pintu rumahku, aku melihat ada sebuah sandal yang asing di mataku. Sepertinya ada tamu di rumah. Segera kubuka pintu tanpa mengucapkan salam atupun permisi, karena kurasa di rumah sendiri tak perlu aku melakukan hal yang semacam itu. Entah itu suatu kebenaran atau malah salah, aku tidak tahu. Ketika pintu terbuka dan aku masuk ke dalam rumah, terpampang jelas sosok tamu itu dari indra pengelihatanku. "Habis mandi, Lo?" tanyanya. Dia adalah Icha. Ya, Alicha Saraswati, si gadis blasteran Indo-Prancis yang sering muncul dalam kisah hidupku, karena memang dia adalah sahabat terbaikku. "Pagi-pagi Lo sudah ke sini. Mau numpang sarapan, ya?" tanyaku tidak sopan. "Enak aja, Lo. Gue cuma mau main," jawab Icha. "Hahaha.... Oke, oke. Gue mau bersihin badan dulu. Lo tunggu di sini," ucapku yang kemudian berjalan ke arah dalam rumahku. *** Setelah membersihkan diri, aku pun langsung kembali ke ruang tamu untuk menemui Icha. Sebenarnya aku juga heran, di manakah Papa dan Mamaku kini berada? Di dapur hanya ada Bi Darmi, lalu Mama ke mana? Papa juga. Tak begitu kupikirkan hal itu. Aku langsung bergegas untuk menemui Icha. Biar bagaimanapun juga, posisiku sekarang adalah sebagai tuan rumah, dan tuan rumah yang baik haruslah menyambut sang tamu dengan baik juga. "Sorry, lama ya, nunggunya?" tanyaku kepada Icha sesaat setelah aku sampai di ruang tamu. "Nggak kok, cuma sebentar. Gue belum sampai lumutan, kok," ucap Icha yang membuatku tertawa kecil. "Hahaha.... Ada apa, tumben Lo ke sini?" tanyaku. "Haruskah gue menjawab untuk yang kedua kalinya?" tanya Icha balik. "Emang Lo udah jawab untuk yang pertama kalinya?" balasku. "Ya kan tadi gue udah bilang kalau gue ke sini cuma mau main," jawab Icha. Aku manggut-manggut mengerti. Setelah itu kududuk di sebelah Icha untuk mengintrogasinya lebih lanjut lagi. Bukannya apa-apa. Menurutku hal yang demikian itu sungguh sangat menyenangkan untuk dijalani. "Lo sendirian aja, ke sininya?" tanyaku memulai introgasi. "Ya iyalah, kan Lo juga lihat sendiri, sekarang," jawabnya. "Ooo.... Naik apaan?" tanyaku lagi. "Tadi minta dianterin Pak Seno," jawabnya. "Pakai mobil?" tanyaku. "Becak," jawab Icha cepat serta dengan nada yang kurang enak didengar. "Keluarga Lo punya becak, sekarang?" tanyaku lagi entah untuk yang ke berapa kalinya. "Jangankan becak, tank aja sekarang punya," jawab Icha asal. "Mau buat apa tank nya?" tanyaku. "Buat ngehancurin rumah orang yang kalau diajak bicara bawaannya bikin emosi mulu," jawab Icha. Kutahu yang dimaksud itu adalah aku. "Hahaha.... Dasar kejam," ucapku. Kuhentikan dulu sejenak acara introgasi yang kulakukan terhadap Icha. Aku ingin memberinya napas terlebih dahulu dengan cara tidak melontarkan pertanyaan lagi kepadanya. "Lo dari mana aja tadi? Gue tungguin gak nongol-nongol," tanya Icha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN