"Bukan itu maksud gue. Maksudnya waktu Lo keluar rumah tadi, Lo ke mana?" tanyanya lagi.
"Ya ke luar," jawabku.
"Iya. Ke luarnya itu ke mana?" tanya Icha yang lagi-lagi jadi semakin kesal.
"Yang namanya keluar ya ke luar lah, Cha. Mana ada keluar ke dalam," jawabku.
"Ah, sudahlah! Pusing gue ngomong sama makhluk mars," ucap Icha.
"Gue juga pusing kalau ngomong sama makhluk Pluto," balasku.
"Cih." Dia mendecak sebal lagi.
Andai dia dapat mendengar suara hatiku yang sedang tertawa terbahak-bahak karena telah sukses membuatnya kesal semacam itu. Ah, mungkin itu akan menjadi sangat seru.
"Lo sendirian aja ke sininya?" tanyaku. Sengaja aku bertanya seperti itu lagi untuk membuatnya tambah kesal.
"Li sindiriin iji ki sininyi?" balasnya menirukan suaraku dengan suara yang dibuat-buat.
Aku langsung mengarahkan punggung tanganku menuju ke arah dahinya dengan alasan untuk mengecek apakah ia sedang demam atau baik-baik saja.
"Lo sakit?" tanyaku kemudian.
"Tapi gak panas," lanjutku.
Dengan segera dia langsung menyingkirkan tanganku dari dahinya. Sumpah, kini kulihat dirinya yang semakin kesal. Itu nampak dengan jelas dari raut wajahnya itu.
"Gue gak hanya sakit. Kalau gue terus-terusan bicara sama orang gila kayak Lo, bisa-bisa gue nanti darah tinggi, lalu mati," ucap Icha.
"Aamiin," ucapku mengaminkan apa yang ia katakan, tadi.
"Kok Lo aminin," protesnya.
"Lah, Lo kan berdoa. Ya gue aminin, lah," jawabku.
"Gue cuma berucap, bukan berdoa," sangkalnya.
"Wah, ini nih, kalau waktu pelajaran agama malah ditinggal kabur. Jadinya gak tahu apa-apa," ucapku.
"Lah, bukannya Lo yang sering kabur?" ucap Icha.
"Syuttt.... Diamlah dulu!" perintahku.
"Lo pernah dengar gak, kalau ucapan adalah doa? Jadi, waktu Lo berucap tadi, itu sama aja Lo juga sedang berdoa. Lalu, apa salahnya gue aminin doa seseorang?" tanyaku.
"Hmmm.... Iya juga, sih," kata Icha.
"Nah, kan? Jadi sudah jelas, kan? Sekarang gue mau nanya sama Lo. Yang berucap tentang mati tadi siapa?" tanyaku kemudian.
"Gue," jawab Icha dengan polosnya.
"Jadi yang harusnya disalahkan?" tanyaku lagi.
"Ya, gue sih," jawab Icha mengaku.
"Kan? Jadi gue ya gak salah," ucapku.
Kulihat raut wajah Icha yang menandakan kebingungannya. Ia tak berbicara sepatah katapun lagi untuk membalas ucapanku yang barusan. Ternyata seorang Icha pun bisa kalah dalam berdebat.
Cukup lama di antara kami tidak ada pembicaraan apapun. Aku yang menunggu Icha agar mengucap sebuah kata, ternyata hanya seperti menunggu adanya hujan uang, alias tidak mungkin terjadi. Jujur saja, lama-kelamaan aku muak dengan kesunyian ini. Ingin sekali rasanya aku segera mengakhirinya, tapi hati ini seakan melarangnya, dan mengatakan bahwa aku harus diam untuk menunggu Icha mau membuka pembicaraan.
"Tadi Mama Lo bilang, dia mau pergi ke rumah temannya," ucap Icha membuka pembicaraan.
"Oh." Aku manggut-manggut mengerti. Akhirnya terjawab sudah pertanyaanku tentang keberadaan mama di hari Minggu pagi seperti ini.
"Kalau Papa?" tanyaku kemudian.
"Nggak tahu. Dari tadi cuma Mama Lo aja yang muncul, itupun las sekali. Gue datang, dan Mama Lo mau pergi keluar. Jadinya gue disuruh nungguin Lo di sini," jawab Icha panjang lebar.
"Oh, pasti Mama gue males bicara sama Lo. Makanya saat Lo datang, Mama gue pergi. Hahaha," ucapku sambil tertawa.
"Dasar kawan sialan!" umpat Icha. Ia nampak begitu kesal kepadaku.
"Gue niatnya ke sini untuk melepas kesepian, malah Lo bikin kesal," ucapnya kemudian.
"Lah, katanya ke sini cuma untuk main. Kok tiba-tiba berubah untuk melepas kesepian?" tanyaku kepadanya.
"Eee.... Ya emang mau main sekaligus melepas kesepian," jawab Icha.
"Wah, salah Lo. Harusnya Lo bilang dari awal kalau alasan Lo datang ke sini karena itu," ucapku.
Icha menggeram karena kesal. Entah sudah berapa kali di hari yang sama ini aku berhasil membuat seorang Alicha Saraswati merasakan apa yang namanya kesal. Aku sangat bangga karenanya. Kapan lagi aku bisa membuat dia kesal?
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang. Ya Allah, tolong sabarkanlah hambamu ini dalam menghadapi teman bodoh seperti dia, Ya Allah. Hamba benar-benar tak sanggup menghadapi kebodohannya itu ya, Allah," ucap Icha sambil menengadahkan kedua tangan di depan dadanya persis seperti orang yang sedang berdoa.
"Dan jika hambamu ini sudah tak bisa bersabar lagi, hamba mohon jauhkanlah hambamu ini dari teman bodoh seperti ini, ya Allah. Aamiin," lanjutnya seraya mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
Ada-ada saja tingkah sahabatku yang satu ini. Lucu, aneh dan juga keren. Itulah yang kulihat di saat Icha memposisikan dirinya seperti orang yang sedang berdoa, tadi. Ya, lucu. Lucu karena nada doa yang ia ucapkan dibuat-buat menurut keinginannya sendiri. Aneh karena kata-kata dari doa yang ia ucapkan, dan keren karena orang yang tidak begitu mengerti tentang agama seperti dia pun juga masih ingat dengan yang namanya berdoa.
"Aamiin, semoga tidak dikabulkan," ucapku merespon doa yang diucapkan oleh Icha, tadi.
"Doa orang yang teraniaya pasti terkabulkan," ucap Icha, dan saat itu jugalah aku mendadak teringat dengan ajaran guru ngajiku dulu yang pernah membahas tentang doa orang yang teraniaya.
"Emang Lo teraniaya?" tanyaku.
"Ya iyalah," jawab Icha.
"Hahaha, lebay Lo," kataku. Ia diam.
Aku suka dengan persahabatan ini. Dulu kukira di saat teman-temanku tahu bahwa aku adalah anak dari orang yang sangat kaya raya, mereka akan mikir dua kali untuk berteman dekat denganku, atau yang lebih parahnya lagi berteman karena ingin memanfaatkan aku, entah dalam hal apapun itu.
Tapi, seorang Alicha Saraswati berbeda dengan apa yang aku perkirakan. Dia juga memang anak dari orang kaya, tapi dirinya mempunyai sifat yang hampir sama sepertiku. Ia jarang sekali belanja ke mall, apalagi kalau hanya untuk gaya-gayaan. Terkadang dirinya juga menganggap remeh orang-orang yang jauh berada di bawahnya, tapi tak butuh waktu lama ia akan tersadar dari kesalahannya itu, dan satu lagi, rasa simpati itu akan tetap ada di dalam dirinya walau ia sempat meremehkan orang itu.
Aku jadi yakin. Jika seandainya suatu saat nanti keluargaku jatuh miskin, mungkin Icha akan tetap menjadi teman terbaik bagiku yang selalu siap sedia untuk membantu. Itulah yang kutahu dari dia. Dia, Alicha Saraswati. Si gadis keturunan Indo-Prancis. Kuharap sampai mati pun aku tidak terpisahkan dengannya.
"Non, sarapannya udah siap." Bi Darmi berteriak dari dapur, memberitahukan bahwa sarapannya sudah siap.
"Iya, Bi," jawabku sambil berteriak pula.
"Eh, Cha. Lo kan ke sini mau numpang sarapan. Yuk lah!" ajakku.
"Wah, wah. Seenaknya aja Lo kalau ngomong," protes Icha.
"Lah. Di manakah letak kesalahannya? Kan bener, Lo mau numpang makan," ucapku.
"Cih, Lo lama-lama ngeselin, ya," kata Icha.
"Gue emang ngeselin," ucapku bangga.
"Ngeselin kok bangga," ucap Icha.
"Ya daripada bangga jadi pemakan duit rakyat, ya mending bangga karena jadi orang yang ngeselin," jawabku.
"Hufff.... Terserah Lo deh, Shel," kata Icha pasrah. Aku tertawa pelan.
Setelah itu kuajak Icha pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama. Kusuruh Icha untuk duduk, sedangkan aku pergi untuk mengajak papaku sarapan. Aku pergi ke kamarnya, dan sepertinya pintunya tidak dikunci. Segera lah kubuka pintu kamar itu lebar-lebar, dan sebuah hal yang menakjubkan langsung nampak di depan mataku.
Di ranjang tempat tidur sana terdapat seseorang yang masih tertidur dengan pulas. Seseorang itulah yang selalu kupanggil dengan sebutan 'papa' tiap harinya. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Memang, seperti itulah papaku. Saat hari Minggu, ia mempergunakan pagi setelah subuhnya itu untuk tidur kembali.
"Papa, papa," ucapku pelan. Setelah itu kututup pintu kamar itu lagi, tak tega rasanya jika harus membangunkannya.
Mungkin papa lelah. Hanya akhir pekan seperti inilah yang bisa dia pergunakan untuk bersantai seraya memanjakan diri. Jadi kubiarkan saja dia menikmati liburnya. Aku tak mau mengganggunya. Aku tahu seberapa melelahkannya pekerjaan yang papa kerjakan. Meski tidak tahu secara pasti, tapi aku tahu bahwa itu memang sangat melelahkan.
Aku kembali ke ruang makan lagi. Di sana, Icha sudah menantiku. Bi Darmi masih sibuk menyiapkan piring, sendok dan segala macamnya.
"Loh, kok sendirian aja Lo. Mana papa Lo?" tanya Icha.
"Masih tidur. Gak enak kalau gue bangunin," jawabku.
"Owww." Icha manggut-manggut mengerti.
Aku segera mengambil duduk di samping Icha. Kulihat Bi Darmi datang dengan membawa beberapa piring dan kawan-kawannya.
"Ikut sarapan bareng aja, Bi, biar rame," tawarku.
Kenapa aku menawarkan hal itu? Tentu jawabannya karena setelah sekian lama Bi Darmi bekerja di rumahku, dia selalu menolak dengan halus setiap kali kami menawarkan untuk makan bersama.
"Bibi nanti aja, Non. Gampang," tolaknya.
Sudah kuduga bahwa Bi Darmi akan menolak lagi. Itu memang sudah biasa terjadi.
"Gak apa-apa, Bi. Sekali-kali ikut sarapan bareng. Lagian papa juga masih tidur, mama keluar rumah. Kan jadinya sepi kalau cuma sarapan berdua sama Icha doang," ucapku. Bi Darmi diam, memikirkan apa yang harus ia putuskan.
"Hmmm.... Iya deh, Non," kata Bi Darmi.
Kami akhirnya makan bersama, maksudnya sarapan. Setelah sarapan, aku dan Icha dengan isengnya menanyakan kehidupan Bi Darmi waktu masih muda. Tentang kisah cintanya bersama almarhum suaminya yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Tentang bagaimana serunya kehidupan masa remajanya, dan sebagainya.
"Bi, ceritain dong, kehidupan Bi Darmi dulu waktu masih remaja kayak kita-kita ini," pinta Icha.
"Ah, Non Icha. Malu atuh, Bibi," jawab Bi Darmi.
"Hahaha.... Gak apa-apa, Bi. Kan kita cuma mau denger aja," ucapku.
"Non Shela.... Gak ah, Bibi malu," tolak Bi Darmi lagi.
"Gak mau ya, Bi?" tanyaku.
"Jangan-jangan...." Icha menggantung ucapannya.
"Jangan-jangan Bi Darmi gak pernah muda. Makanya gak mau cerita, soalnya gak punya masa muda. Hahahaha," ucap Icha sambil ketawa. Aku pun juga ikut tertawa, tapi cuma tawa kecil.
"Eh, ya pernah atuh. Masa Bibi begitu lahir udah tua seperti ini," ucap Bi Darmi membela diri.
"Ya, bisa aja langsung jadi tua, Bi. Soalnya gak ada bukti kalau Bi Darmi pernah muda. Lha disuruh cerita aja gak mau," ucapku.
Bi Darmi sepertinya terpancing dengan apa yang aku dan Icha ucapkan. Buktinya setelah itu ia mau menceritakan tentang masa-masa remajanya. Katanya, masa remajanya dulu dengan masa remajaku kini sangat berbeda jauh. Dulu, gak ada yang namanya kumpul, lalu semuanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Ketika berkumpul, maka ada saja keseruan yang tercipta. Kata Bi Darmi, seandainya masa-masa remajanya ada di zaman ini, mungkin ia akan menyesal dan memproteskannya kepada sang pencipta kenapa ia tidak dilahirkan di zaman dulu. Dari apa yang dikatakannya itu bisa kusimpulkan bahwa kehidupan di zaman dulu jauh lebih spesial daripada kehidupan di zaman sekarang. Karena apa? Karena teknologi ini telah mengubah segalanya.