Bab 54

1301 Kata
Aku tahu pendapat mungkin berbeda. Bi Darmi bilang kehidupan di zaman dulu baginya lebih indah daripada di zaman sekarang, akan tetapi mungkin bagiku zaman dulu itu sangat menyusahkan, karena segalanya belum bisa terpenuhi. Hanya saja aku benar-benar mengakui bahwa keseruannya itu jauh lebih besar daripada sekarang. Itulah. Terkadang aku menginginkan ketika aku dan teman-temanku berkumpul, itu seperti perkumpulan pada zaman dulu. Tak masalah dengan adanya ponsel, yang penting ketika berkumpul, mereka tidak sibuk dengan benda kotak itu. Iya, aku tahu itu sulit, tapi bukan tidak mungkin. "Kayaknya seru banget tuh, Bi, masa kecil Bi Darmi," ucapku setelah Bi Darmi selesai bercerita. "Memang seru, Non. Apalagi dulu kan Bibi tinggalnya masih di pedesaan," ucap Bi Darmi. Ah, iya, sebenarnya kampung halaman Bi Darmi itu berada di sebuah desa yang belum pernah aku kunjungi sampai saat ini. "Ah, iya ya, Bi. Bi Darmi asalnya dari desa, ya? Desa apa, Bi, namanya? Shela lupa," tanyaku. "Desa Bakung, Non," jawab Bi Darmi. "Ah, iya. Bakung. Kapan-kapan Shela boleh ikut ke sana nggak, Bi?" tanyaku. "Ya boleh, lah," jawab Bi Darmi. "Hmmm.... Ngomong-ngomong soal desa, kalau sekarang keadaan di desa itu kayak gimana, Bi? Apa masih sama seperti zaman Bi Darmi kecil dulu?" tanya Icha. "Tentu sudah banyak berbeda dari zaman dulu. Tapi tidak seperti di kota-kota, Non. Apalagi di ibukota," jawab Bi Darmi. Icha manggut-manggut mengerti. Aku bahkan sampai membayangkan tentang betapa serunya jika aku bisa pergi ke pedesaan. Suasana persawahan yang aku idam-idamkan dengan sungai kecil yang airnya masih sangat jernih, serta suara kicauan burung yang bernyanyi ria di ranting pepohonan hijau, dan juga suara kokokan ayam jantan yang akan menjadi alarm alami di setiap bangun pagiku nanti. Ah, kurasa itu sangat menyenangkan. "Oh ya, Bi. Cerita dong, tentang kisah percintaan Bi Darmi waktu remaja," pintaku. "Iya Bi. Ayo, Bi, cerita!" tambah Icha. Entah karena apa, tanpa memberikan penolakan sedikitpun, Bi Darmi bersedia menceritakan kisah cinta masa remajanya kepada aku dan juga Icha. Katanya, waktu dia masih muda dulu, dia gak secantik aku maupun Icha. Ya, aku maklumi. Biar bagaimanapun juga, Bi Darmi adalah seorang gadis desa yang mungkin minim menggunakan produk kecantikan seperti apa yang biasa aku dan Icha pakai. Lagipula, hidupnya juga di zaman dulu. Jadi wajar saja kalau Bi Darmi merasa dirinya kurang cantik. "Pernah nih, Bibi ngedeketin laki-laki yang sangat ganteng, namanya...." Bi Darmi sepertinya agak lupa dengan nama seseorang yang ia maksud itu. Ia mencoba mengingatnya. "Ah, iya, Sumanto," lanjutnya. "Sumanto? Sumanto si kanibal itu ya, Bi?" tanyaku. "Eh, bukan. Ini Sumanto yang lain," jawab Bi Darmi. "Ooo.... Lalu, gimana, Bi?" tanyaku. Bi Darmi mulai bercerita lagi, tentang si Sumanto yang ia maksud itu. Katanya dulu dia sangat suka sama Sumanto, tapi Bi Darmi nggak berani mengungkapkannya. Wajar, karena dia adalah gadis zaman dulu yang tentu sangat menjaga harga dirinya. Ia tentu merasa bahwa yang harusnya menyatakan cinta itu adalah si laki-laki, bukan yang perempuan. "Lalu gimana, Bi? Apa akhirnya Bi Darmi berani mengungkapkan cinta?" tanya Icha. "Hampir berani, eh malah keduluan sama yang lain. Dia lebih cantik dan juga lebih kaya dari Bibi," jawab Bi Darmi. "Hahaha.... Makanya, Bi. Kalau udah cinta itu langsung diungkapin, jangan dipendam terus. Jadinya keduluan deh sama yang lain," ucapku. "Ya, nggak apa-apa lah, Non. Itu tandanya bukan jodoh," ucap Bi Darmi. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Satu pelajaran penting lagi yang kudapat dari cerita kehidupan Bi Darmi waktu dulu. Itu adalah tentang kisah cintanya yang kandas hanya karena tak berani untuk mengungkapkan perasaan. Memang, itu juga karena Bi Darmi yang menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang perempuan yang kodratnya adalah untuk dipilih, akan tetapi jika sudah seperti itu, aku yakin dulu Bi Darmi juga butuh waktu yang lama untuk mengobati luka hatinya itu, sebelum pada akhirnya bertemu dengan seseorang yang akhirnya menjadi suaminya. Ternyata, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah kehidupan seseorang. Tidak peduli seseorang itu berasal dari belahan bumi bagian mana. Tidak peduli seseorang itu terlahir dari keluarga yang miskin maupun kaya. Tidak peduli seseorang itu terlahir dengan rupa yang bagaimana, pasti mereka mempunyai kisah hidup yang dapat dijadikan pelajaran oleh orang lain. Itulah hidup. Aku juga punya kisah yang tentu bisa dijadikan pelajaran baik untuk diriku maupun untuk orang lain. Sangat banyak, memang. Ya, kisah hidupku sudah sangat banyak. *** Selepas sarapan, aku dan Icha memutuskan untuk pergi ke cafe. Bersamaan dengan itu, mamaku pulang. Akupun langsung berpamitan kepadanya dan bilang bahwa ingin ke cafe. Mama tentu saja mengizinkan. Memang, dia tak pernah mengekangku dari dulu. Dia membiarkan kehidupanku berjalan seperti apa yang aku mau tanpa harus menuruti segala aturan yang ia buat. Asal aku tidak terjerumus ke jalan yang salah, tentu Mama tidak mempermasalahkannya. "Kayaknya gue benar, deh. Mama itu males bicara sama Lo. Buktinya waktu Lo datang, mama gue pergi, dan waktu Lo mau pergi, mama pulang," ucapku ketika kami berdua sudah berada di atas motor. "Halah, emang kebetulan aja, itu," jawab Icha. "Kalau bener gitu?" tanyaku lagi. "Ya berarti gak salah," jawab Icha gak jelas. "Wah, emang parah Lo. Lo apain Mama gue sampai dia jadi males bicara sama Lo?" tanyaku untuk yang ke sekian kalinya. "Halah, ngomong mulu Lo. Ini jadi ke cafe gak, sih?" tanyanya balik. Nampaknya ia sudah mulai kesal lagi. "Hahaha.... Jangan marah-marah terus, Cha. Cepat tua baru tahu rasa Lo," kataku. Dia diam. Entah kenapa aku sangat suka membuat kesal sahabatku yang satu ini. Menurutku, itu sangat mengasyikan. "Eh, ini kunci motornya mana, nih?" tanyaku entah ke siapa. "Ya mana saya tahu," jawab Icha yang ada di belakangku. "Oh iya, gue lupa," ucapku tak menanggapi ucapan Icha. Aku langsung merogoh kantong celanaku dan mengambil kunci motor kesayanganku itu. Kali ini aku tak berniat untuk membuat Icha kesal, karena pada dasarnya aku memang lupa tentang di mana aku menaruh kunci motorku itu. "Nih, Lo yang bawa motornya," ucapku sambil menyodorkan kunci itu ke Icha. "Lo menghina gue?" tanya Icha. "Menghina gimana?" tanyaku balik. Icha diam, tak mau menjawab. Aku menunggu sampai dia mau memberikan jawabannya, tapi ternyata setelah sekian lama aku menunggu, Icha tak juga memberikan jawabannya. "Oh, iya, lupa. Lo kan gak bisa nyetir motor, ya," ucapku sambil menepuk jidat. "Cih, jangan ngeledek Lo!" ucap Icha kesal. "Ngeledek gimana lagi sih, Cha? Perasaan kalau gue bicara salah mulu dari tadi," kataku. "Ya emang Lo salah," ucap Icha. "Terus gimana biar gue gak salah?" tanyaku. "Lo diem aja," jawab Icha. "Ya udah, iya," ucapku menuruti permintaan dari Icha. "Hari gini gak bisa naik motor. Hahahaha," ucapku kemudian dengan sangat pelan. "Apa Lo bilang?" tanya Icha. "Bilang apa?" tanyaku balik. "Yang barusan Lo bilang itu, apa?" kata Icha. "Yang mana?" balasku. "Nggak, nggak jadi. Lupakan aja! Buruan berangkat!" ucap Icha seraya menghela napas pelan. Dalam hati aku tertawa. Sumpah, seru sekali membuat seorang sahabat menjadi kesal. Dalam arti bukan kesal karena marah, tapi kesal karena sebal. Menurutku itulah yang menjadikan sebuah persahabatan menjadi lebih berwarna. "Cha, kapan?" tanyaku ambigu sebelum aku menstarter motorku. "Kapan apanya?" tanya Icha balik karena tak paham. "Kapan bisa naik motor? Hahaha," ucapku diiringi dengan tawa. Setelah itu langsung kustarter motorku dan kulajukan dengan kecepatan sedang. *** Singkat cerita, tak butuh waktu lama untuk kami sampai di cafe yang kami tuju. Sebuah cafe yang menjadi langganan bagiku dan Icha selama ini. Sebuah cafe yang menghadirkan banyak cerita antara aku bersama sang sahabat. Suatu saat nanti, mungkin cafe itu akan menjadi tempat kenangan bagi kami berdua jika kami sudah sama-sama menua. "Tumben Lo nggak ngajak ke warung kopinya si Daniel," kata Icha sesaat setelah kami turun dari motor. "Pagi gini sepertinya belum giliran Daniel yang jaga," jawabku. "Ooo.... Jadi Lo ke sana cuma kalau ada Daniel doang?" tanya Icha. "Iya lah," jawabku yakin. "Heh." Icha tersenyum. Aku tak dapat menyimpulkan tentang arti senyumannya itu. "Kenapa Lo?" tanyaku. "Enggak. Cuma aneh aja. Ternyata Lo bisa jatuh cinta juga," jawabnya. "Heh, gue juga masih normal kali, Cha," ucapku. "Yuk lah, masuk!" ajakku kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN