Bab 55

1700 Kata
Kami pun langsung masuk ke dalam cafe yang mewah itu. Seperti biasa setelah memesan, aku memilih duduk di bangku paling ujung demi menghindari keramaian. Bukannya apa-apa. Terkadang seorang yang cinta keramaian pun tetap saja butuh ketenangan di dalam kesepiannya. Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Icha memesan ice lemon tea, sedangkan aku memesan cappucino. Ponsel kami taruh di meja. Untuk sejenak kami mengabaikan benda kotak pembawa masalah sosial bagi peradaban manusia di muka bumi ini. Dan itulah detik-detik yang sangat kuinginkan selama ini. Sayangnya hal itu tidak selalu terjadi. Mungkin hanya ketika aku dan Icha saja yang berkumpul, selebihnya tidak. "Gue pengen tahu deh, Lo bisa suka sama Daniel itu karena apa, sih?" Icha tiba-tiba menanyakan sebuah hal yang tentu membuatku kaget. "Ah, itu? Bukankah gue udah pernah jawab?" tanyaku balik. "Kapan?" balas Icha. "Hufff." Aku menghembuskan napas pelan. "Oh, Lo suka sama Daniel sejak pandangan pertama, ya? Jadi gak karena apa-apa?" tebak Icha. "Gak ada sejarahnya cinta pada pandangan pertama. Kalaupun ada, itu bukan cinta namanya, tapi nafsu," jawabku. "Lalu?" tanya Icha. "Gue juga butuh proses dalam menyukai Daniel. Entah kenapa gue seperti gak begitu memperdulikan tentang penampilan. Ya, gue tahu Daniel ya gitu orangnya, tapi yang gue lihat itu tentang kuatnya dia dalam menjalani kerasnya hidup yang ia jalani itu," jawabku panjang lebar. "Emmm.... Menarik sekali. Berarti Lo tipe orang yang nggak mandang fisik, ya?" tanya Icha kepadaku. "Ya mandang fisik juga sih. Gue percaya kalau Daniel itu sebenarnya tampan, sangat tampan malahan. Cuma sekarang belum waktunya aja dia menunjukkan dirinya yang sebenarnya," jawabku jujur. "Setelah nanti waktunya tiba, mungkin akan banyak cewek yang suka sama dia," lanjutku. "Oh, itu karena sekarang dia belum sempat mengurus penampilannya, ya, karena dia masih sibuk mengurus keluarganya?" tanya Icha lagi. Entah kenapa aku merasa kalau Icha jadi semakin tertarik dengan kisah hidup Daniel. "Yap, betul sekali. Pasti akan ada saatnya di mana dia bisa membuat orang-orang yang sekarang ini meremehkannya jadi bertekuk lutut di hadapannya, terlebih lagi bagi para cewek. Gue yakin hal itu pasti akan terjadi," ucapku. Icha memandangku dengan penuh arti, seakan tak percaya bahwa yang tadi bicara itu adalah aku. Tentu ia berpemikiran seperti demikian, karena dialah teman yang paling mengerti tentang diriku. "Kenapa Lo bisa seyakin itu?" tanya Icha kepadaku. "Yakin aja, gitu," jawabku sambil membayangkan tentang papa yang pernah melakukan hal yang hampir sama seperti Daniel. "Ngomong-ngomong, soal ulang tahun papa Lo, gimana?" tanyaku kemudian. Aku ingat bahwa kemarin itu adalah hari ulang tahun papanya Icha. Aku memang tidak tahu bagaimana keluarga Icha merayakannya, tapi kutahu bahwa kemarin itu adalah hari yang cukup spesial untuk Icha, karena pada saat itu dirinya memberikan sebuah hadiah untuk sang papa, dan itulah yang ingin kuketahui. "Papa suka banget sama hadiah yang gue kasih," jawab Icha sambil tersenyum penuh dengan kebahagiaan. "Hadiah cokelat harga 500 -an itu?" tanyaku. "Bukan, yang lukisan wajah Benzema, lah," jawab Icha. "Lagian ngapain juga gue ngasih hadiah cokelat harga 500 -an?" lanjutnya. "Oh, yang lukisan itu, ya? Kok papa Lo bisa suka, sih?" tanyaku. "Kenapa emang?" tanya Icha balik. "Kan jelek. Hahaha," jawabku sambil tertawa. Icha diam seakan tak suka. "Bercanda. Lo gitu doang marah," ucapku kemudian. "Siapa yang marah? Marah ke Lo itu sama aja dengan nggak ada kerjaan," ucap Icha. "Ah, iyakah?" godaku. "Heh, pantes aja si Daniel selalu menjauh dari Lo. Lo aja kayak gini, males tuh dia deket sama Lo," ucap Icha. "Ah, apa iya?" tanyaku sambil senyum-senyum tak jelas. "Tahu, ah." Icha terlihat tak mampu menanggapi ucapanku lagi. "Tempe aja, ah," balasku dengan tujuan membuat dia semakin kesal. Aku tahu bagaimana perasaan Icha saat ini. Pastilah dia sangat kesal, dan itu semua karena aku. Pada dasarnya, wajar saja hal semacam ini hadir di dalam sebuah ikatan persahabatan, akan tetapi sewajar apapun itu tetap saja yang menjadi korban pasti akan kesal. "Lo tahu, nggak? Di dunia ini ada tiga hal yang sangat gue benci tapi tidak bisa gue jauhi," ucap Icha. "Apaan tuh?" tanyaku. Sungguh aku tak paham dengan maksud dia yang tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. Saat kulihat wajahnya, sepertinya ia sangat serius. Aku merasa bahwa apa yang ingin ia ucapkan kemudian jugalah hal yang sangat serius. Entah itu apa, aku pun tak tahu, karena ia belum memberitahu aku. "Yang pertama adalah dosa. Gue sangat membenci dosa, tapi gue tidak bisa menjauhinya," ucapnya. "Wajar, lah. Lo kan nenek moyangnya para syaiton," ucapku, namun tidak ia tanggapi. "Yang kedua adalah bumi ini. Gue sangat membenci keadaan bumi yang sudah menua ini, tapi tentu gue nggak bisa menjauhinya juga," ucap Icha. "Ya tinggal di mars aja sono! Tenang aja! Mars masih muda, kok. Baru lahir tahun lalu," ocehku merespon ucapan Icha. Akan tetapi lagi-lagi ia tak menanggapinya. Kurasa ia benar-benar sedang sangat serius. Bahkan aku bertekad untuk tidak merespon dengan buruk lagi ucapannya yang akan ia ucapkan. "Dan yang ketiga adalah Lo. Sungguh gue benci sama Lo, tapi mengapa gue sama Lo gak bisa menjauh, sih?" ucapnya kemudian, lalu ia akhiri dengan pertanyaan. Aku tertawa kecil. Ternyata keseriusannya ujung-ujungnya juga berakhir dengan sesuatu yang membuatku tertawa. Icha memang begitu, harusnya aku menyadarinya sejak awal. Akan tetapi dari pernyataannya itu bisa kutangkap sebuah hal yang menakjubkan. Dia mengaku bahwa aku dan dirinya tak bisa berjauhan, karena apa? Tentu karena dia benar-benar telah menganggapku sebagai seorang sahabat. Bukankah sepasang sahabat itu akan sulit untuk berjauhan? "Hahaha.... Jangan-jangan, Lo suka sama gue? Lah, nggak normal. Pantas aja Lo gak punya pacar sampai sekarang," ejekku ke dia. "Enak aja Lo bilang gue gak normal. Dengar, ya! Gue gak punya pacar bukan berarti gue gak normal. Itu karena gue males pacaran aja," ucap Icha. "Lagian apa sih yang dibanggakan dari mempunyai seorang pacar? Malah menjerumuskan ke dalam kemaksiatan saja. Maksiat kok bangga," ucap Icha kemudian. "Hmmm.... Bener juga sih, Lo. Tapi tetep, Lo itu gak punya pacar. Hahahaha," ucapku sambil tertawa. "Cih, dasar makhluk sesat," ucap Icha. "Terimakasih atas pujiannya," kataku. "Udah sesat, gila pula," ejek Icha lagi. "Terimakasih lagi," ucapku. Icha tak mau membalas lagi. Ia segera menghabiskan minumannya dengan sangat cepat, seperti orang yang belum minum selama bertahun-tahun. "Haus, Cha?" tanyaku kepadanya. "Haus, haus darah. Pengen ngehabisin darah Lo," jawab Icha yang masih kesal. "Udah kayak nyamuk aja Lo," ucapku. Icha diam. "Oh, ya, besok udah mulai ujian, ya? Ngomong-ngomong jadwal untuk besok pelajaran apa, ya?" tanyaku kemudian mengalihkan topik pembicaraan. "Emang Lo gak mantau grup?" tanya Icha balik. "Enggak, males," jawabku sambil cengengesan. "Cih, gini nih yang bikin Indonesia gak maju-maju," ucap Icha pelan, tapi masih bisa kudengar. "Apa, Cha?" tanyaku pura-pura tidak mendengar. "Haaa? Enggak. Itu.... Besok MTK, fisika dan yang satunya entah apa, gue lupa," jawab Icha. "MTK? Fisika? Wah, sialan! Sengaja banget mereka naruh MTK sama fisika di hari yang sama. Hari pertama pula," kataku. Bagaimana tidak kesal, secara matematika dan fisika adalah dua pelajaran yang paling sulit buatku. Parahnya kedua pelajaran itu di taruh pada hari yang sama dan lebih parahnya adalah pada hari pertama ujian akhir semester diadakan. Sumpah, aku baru tahu setelah Icha memberitahu aku. "Oh ya, Lo bukannya gak boleh ikut ujian pelajaran fisika ya, besok?" tanya Icha. "Siapa yang gak ngebolehin?" tanyaku balik. "Bu Mirna, lah," jawab Icha cepat. "Oh, si Mirna? Ah, gampang lah tuh, bisa diatur," kataku santai. "Tapi aturan supaya bisa ikut mata pelajaran ujian akhir semester nanti kan sudah jelas, Shel. Lo pasti gak boleh ikut," ucap Icha. "Peduli amat sama aturan bodoh kayak gitu," ucapku masih dengan santainya. Terkadang aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri. Kenapa denganku? Kenapa seolah-olah tak peduli dengan aturan-aturan di sekolahan? Tapi setelah itu, aku segera mendapat jawaban dari pertanyaan yang kubuat sendiri. Aku berkuasa atas diriku sendiri. Orang lain tak berhak untuk mengaturku, apalagi kalau sampai menguasai diriku. Dalam kisah hidupku, akulah tokoh utamanya. Kenapa juga aku harus menuruti mereka yang hanya seorang tokoh pembantu? Di mana-mana, tokoh utama lah yang nampak paling mencolok, dengan sang kuasa sebagai sutradaranya. Jika ada yang merasa tidak setuju dengan pendapatku, ya tidak apa-apa, aku tidak akan memaksanya untuk setuju. Karena sekali lagi, seseorang itu berkuasa atas dirinya sendiri. Ah, sudahlah. Kembali lagi ke cerita yang sesungguhnya. Tentang dua orang sahabat yang kini duduk berhadap-hadapan di kursi sebuah cafe. Ya, itu adalah aku dan Icha. "Pasha itu suka banget lho, sama Lo," ucap Icha. "Apa yang dia suka dari gue?" tanyaku. "Ya nggak tahu. Lo tanya aja sendiri, sama dia," jawab Icha. Aku diam. "Harusnya dia itu sukanya sama Lo aja," kataku kemudian. "Lah, kok jadi gue," protes Icha. "Lo sama dia emang cocok. Langganan peringkat satu dan dua di kelas. Ditambah lagi dengan jabatan dia yang menjadi ketua kelas serta Lo yang menjadi sekertaris kelas. Pokoknya kalau gue lihat-lihat, Lo sama dia itu cocok banget," ucapku panjang lebar. "Ah, ngaco Lo. Cocok apanya? Gue sama dia gak ada kecocokan sama sekali," kata Icha. "Itu menurut Lo, kalau menurut gue ya beda," ucapku. "Pasha itu baik, ganteng, anak orang kaya pula. Bobot, bibit dan bebetnya semuanya terpenuhi. Apa Lo gak mau kelak punya suami kayak dia?" tanyaku kemudian. "Ah, tambah ngaco Lo. Pasha itu sukanya sama Lo, bukan sama gue," kata Icha. "Iya, gue tahu. Gue sadar kalau gue ini terlalu cantik sehingga seorang Pasha pun sampai suka sama gue. Hahaha," ucapku dengan kepercayaan diri tingkat tinggi. "Cih, kepedean Lo," sahut Icha. "Hahahaha.... Gue merasa aneh deh sama Lo," ucapku. "Aneh apanya?" tanya Icha. "Ya aneh," jawabku. "Ya apa?" tanya Icha lagi. "Entah kenapa gue merasa Lo itu suka banget ngebicarain tentang Pasha ke gue. Soal dia suka sama gue, lah. Apa lah, seakan-akan kesannya malah Lo yang suka sama dia," kataku. "Hah? Mana ada. Gue cuma mengingatkan Lo kalau Pasha itu memang suka sama Lo, nggak lebih," ucap Icha. "Kenapa harus Pasha yang Lo bicarain? Kenapa gak yang lain aja?" tanyaku semakin menekan Icha. Ya, aku memang merasa agak aneh dengan apa yang Icha lakukan. Ia seolah-olah ingin selalu ikut campur tentang hubunganku dengan Pasha. Aku tak tahu alasan dia yang sebenarnya itu apa. Karena kami sahabat, kah? Tidak, kukira bukan itu alasannya. Aku merasa bahwa sebenarnya Icha itu menyukai Pasha. Entah itu benar atau tidak, aku tidak tahu, atau lebih tepatnya belum tahu. Yang kutahu, Icha itu tipe perempuan yang mencintai dalam diam. Yang kutahu, Icha adalah seorang sahabat yang lebih memilih untuk menyakiti perasaannya sendiri daripada menyakiti perasaan sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN