Mungkin karena itu pula dirinya lebih merelakan Pasha untuk tetap menyukaiku. Dia tak mau merebut seseorang dari sahabatnya yang tak lain adalah. Tapi apapun itu, entahlah, aku cuma mengira-ngira saja.
"Sudahlah! Kalau begitu gak usah bahas dia lagi," ucap Icha kemudian.
"Dia siapa?" tanyaku.
"Pasha," jawab Icha.
"Pasha kenapa?" tanyaku lagi.
Icha mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan sangat kasar. Ia nampak kesal lagi dengan sikapku yang menurutnya tak pernah berubah.
"Cha, jangan pendam perasaan Lo! Itu bisa saja menciptakan luka yang sulit untuk disembuhkan. Jika Lo suka, ungkapkan saja! Itu mungkin bisa membuat Lo lebih tenang. Tentang diterima atau tidaknya, itu urusan belakangan," ucapku panjang lebar. Icha diam.
Kurasa apa yang aku kira memang benar. Icha itu suka dengan Pasha. Itu bisa kulihat dari ekspresinya setelah aku mengucapkan kata-kata itu. Ini kisah yang rumit. Jika bisa bertanya langsung ke orangnya, yaitu Pasha, aku ingin menanyakan sebuah hal kepadanya. Tentang mengapa dirinya malah lebih menyukai aku daripada Icha. Tentang apa kelebihan yang kupunya sehingga dia mau menyukaiku, dan juga tentang apakah selama ini ia tidak peka bahwa sebenarnya ada gadis yang menyukainya di saat dirinya sedang menyukai sahabat dari gadis itu. Semuanya ingin kutanyakan, akan tetapi mungkin aku tak berani mengatakannya langsung ke Pasha.
Entahlah, kisah cinta anak SMA memang sangat rumit. Pasalnya kisah itu bisa terhalang oleh ikatan yang disebut persahabatan maupun pertemanan, seperti apa yang aku dan Icha alami. Kalau boleh jujur, aku lebih menginginkan dia berjuang untuk mendapatkan apa yang ia mau, tanpa memikirkan dulu tentang sahabatnya yang tak lain adalah aku. Padahal dia tahu, aku tidak menyukai lelaki yang ia suka, tapi dia malah selalu menyuruhku untuk belajar menyukai lelaki itu.
***
Tak terasa sudah sangat lama kami berada di cafe itu. Sang waktu akhirnya memaksa kami untuk segera pulang. Sudah cukup untuk hari ini. Hari Minggu yang indah, dengan segala hal yang baru aku tahu.
Beginilah nasib para kaum tanpa pacar seperti kami, hanya bisa pergi keluar rumah dengan dampingan teman maupun sahabat. Tapi asal semua tahu aja, dengan itu aku merasa menjadi gadis paling mahal di dunia ini, yang tidak mudah terhasut oleh rayuan maut para lelaki yang tidak jelas asal-usulnya.
Berlian tidak akan terjual dengan mudah, karena hanya orang khusus saja yang bisa membelinya. Dan ketika sudah terbeli, sang pembeli berlian itu tidak akan melepaskannya. Ia akan menjaganya supaya tidak ada satu orang pun yang bisa menyentuhnya. Ia akan selalu menjaganya agar berlian itu tidak hilang.
Berbeda dengan besi, yang hampir semua orang bisa mendapatkannya dengan mudah. Akan tetapi karena itu pula, orang yang mendapatkannya tidak akan menjaganya dengan benar. Ketika besi itu sudah berkarat, ia bisa saja membuangnya. Kalaupun besi itu hilang sebelum berkarat, maka sang pemilik akan lebih memilih untuk mencari yang baru daripada berjuang untuk mendapatkan besi yang hilang itu kembali.
Jika besi saja bisa terbuang dengan mudah, lalu bagaimana dengan para wanita yang ibarat seperti pakaian yang dijual obral? Tentu itu akan jauh lebih parah lagi. Tentang kenapa banyak yang menyukai dan membelinya, jawabnya adalah karena murah. Namun akhirannya tentu akan sangat menyakitkan. Pakaian itu bisa dipakai oleh siapa saja, dan setelah terpakai, ia akan terbuang dengan hina. Ia mungkin bisa menyelimuti banyak orang dari hawa panas maupun dingin, tapi tak ada jaminan untuk orang yang memakainya itu bisa terus memakainya sampai kapanpun juga.
Aku mungkin belum bisa menjadi bagian dari berlian, tapi setidaknya menjadi emas pun sudah cukup bagiku. Dengan begitu, tugasku hanyalah tinggal mencari pembeli yang tepat bagi diriku. Apakah aku harus terbeli oleh para pejabat tinggi, karyawan ataupun pengangguran. Ah, tidak. Aku tidak ingin jatuh ke tangan salah satu dari ketiganya. Pejabat tinggi biasanya punya banyak emas, itu berarti aku hanya akan menjadi salah satunya saja, bukan satu-satunya. Sang karyawan biasanya hanya akan menggunakan emas sebagai bahan pamer, dan pengangguran, ketika uangnya habis, emas yang dia punya itu pasti akan dijualnya.
Kalau aku emas, aku ingin jatuh ke tangan orang yang benar-benar menghargai nilai suatu barang. Dengan begitu aku akan dijaganya dengan sepenuh hatinya, dan tidak akan direlakan dengan mudah ketika aku menghilang. Ia tidak akan mencari yang baru, dan lebih memilih untuk mencari ku sampai ketemu. Karena apa? Karena dia sangat menghargai nilai yang ada di dalam diriku.
Begitulah. Aku cuma ingin dicintai dengan sungguh-sungguh. Aku cuma ingin dijaga dengan taruhan nyawa. Aku cuma ingin dilindungi ketika ada bahaya yang mengintai. Aku cuma ingin dicari jika diriku tidak ada ataupun hilang. Begitu banyak keinginanku tentang percintaan di usiaku yang masih belia ini. Masa di mana harusnya aku masih memikirkan sekolah, tapi malah terbersit sebuah pikiran aneh tentang masa depan.
***
Aku dan Icha sudah sampai rumah, dalam arti adalah rumahku. Segera ku memasuki kamarku dan tiduran di singgasana suciku. Icha juga ikut-ikutan. Lalu kuambil laptop yang tergeletak di meja dekat singgasana suci itu.
"Eh, ya. Gue punya film bagus. Mungkin Lo belum pernah lihat," ucapku sambil menyalakan laptopku.
"Film apa?" tanya Icha.
"Lihat aja, entar," jawabku.
Segera kuputar film yang kumaksud itu dan menontonnya bersama Icha. Dia sepertinya juga belum pernah menontonnya. Syukurlah, aku lega kalau seperti itu.
Lama kami menonton, kira-kira sekitar hampir dua jam. Hingga pada akhirnya film itupun berakhir. Fokus kami pada layar laptop pun teralihkan, dan tak lama kemudian, hanya pembicaraan manual lah yang tercipta.
"Lo punya rekomendasi film, gak?" tanyaku ke Icha.
"Oh, tentu. Banyak banget," jawab Icha.
"Apa aja, Cha?" tanyaku.
"Upin Ipin, Shaun the Sheep, Spongebob. Emmm.... Apa lagi, ya?" ucap Icha sambil mengelus-elus dagunya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Kayaknya gue salah deh nanya sama Lo. Okelah, lupakan saja!" ucapku setelahnya. Icha tertawa pelan.
"Gue mau tidur," lanjutku.
Segera ku posisikan tubuhku seperti orang yang akan menjalani rutinitasnya tiap hari, yaitu tidur. Kupejamkan mataku di Minggu pagi menjelang siang ini.
"Simpanlah begitu?" Icha tiba-tiba bersuara. Sontak mataku pun langsung kubuka kembali.
"Kenapa, Cha?" tanyaku polos.
Ia menghembuskan napasnya pelan dengan tatapan matanya yang nampak sangat malas. Malas untuk menghadapi aku. Malas untuk berbicara denganku, dan malas dengan segala hal tentangku. Wajar saja, dia mungkin kesal terhadapku.
"Ada tamu di sini, dan Lo mau tidur? Sungguh tuan rumah yang sangat sopan," ucap Icha sambil bertepuk tangan.
"Makanya kalau jadi tamu itu jangan manja. Ditinggal tidur aja gak mau," kataku tanpa melihatnya.
"Tuan rumah sialan! Ya udah kalau mau tidur, setidaknya Lo anterin gue pulang dulu," pinta Icha.
"Anterin Lo pulang?" tanyaku sambil melihatnya.
"Iya," jawabnya.
"Sekarang gue nanya sama Lo. Lo ke sini tadi sama siapa?" tanyaku kemudian.
"Nanya lagi. Kan gue udah bilang kalau dianterin sama Pak Seno.
"Lalu kenapa pulangnya juga gak dijemput Pak Seno aja?" tanyaku.
"Ya.... Ya karena.... Karena dia tadi udah pulang duluan. Masa gue suruh dia jemput, sekarang?" tanyanya balik.
"Ide bagus, tuh. Suruh jemput aja! Gue mau tidur," ucapku.
"Cih, dasar tuan rumah sialan! Gue sumpahin Lo mimpi dikejar pocong, nanti," ucap Icha.
"Wow, diriku sangat ketakutan," ucapku dengan nada suara yang kubuat-buat.
Icha mendecak lagi, entah untuk yang ke berapa. Kuhiraukan decakannya itu dan terus menikmati berbaring di pulau kapuk. Ah, tidak, maksudku pulau busa. Ah, entahlah, aku tak tahu apa isi dari kasurku itu, yang pasti sangat empuk.
"Woi!" teriak Icha sambil menggoyang-goyangkan tubuhku ke sana ke mari.
"Apa sih, Cha?" tanyaku sambil menepis tangannya.
"Gue gak mungkin nelpon Pak Seno supaya datang ke mari," kata Icha.
"Kenapa? Lo gak punya pulsa? Hadeh.... Pakai aja tuh HP gue. Gue baru isi pulsa. Unlimited tuh pulsanya. Lo pakai nelpon setahun tanpa jeda juga gak bakalan habis," ocehku.
"Cih, bukan itu. Ah, pokoknya gak mungkin lah gue minta Pak Seno supaya datang ke sini," ucap Icha.
"Oh, Pak Seno nya yang gak punya pulsa? Kan kalau cuma Nerima telepon gak butuh pulsa, Cha," ucapku.
"Pulsa, pulsa aja Lo. Ini gak ada hubungannya sama pulsa," ucap Icha yang mulai kesal.
"Kalau gak ada hubungannya sama pulsa, terus hubungannya sama apa, dong?" tanyaku.
"Sama otak Lo yang kosong itu," jawab Icha.
"Terima kasih atas pujiannya," kataku.
Icha nampak begitu bimbang saat aku bilang tak mau mengantarkan dia pulang. Aku tahu alasannya. Rumahku tidak sama dengan sekolahan. Maksudnya, kalau di sekolahan, selangkah keluar dari pintu gerbang saja pasti sudah bisa cari kendaraan buat pulang. Akan tetapi untuk rumahku, itu harus berjalan ratusan atau bahkan ribuan langkah menuju ke arah jalan raya untuk mendapatkan kendaraan. Itulah yang Icha bimbangkan. Mana mungkin dirinya yang biasanya dimanjakan dengan kemewahan mau berjalan kaki sejauh itu.
Dia tentu bukan Daniel yang memiliki kaki sekuat baja, yang jikalaupun dibuat jalan ribuan kilo pun tak akan patah. Dia hanyalah seorang perempuan yang sudah terbiasa dengan kemewahan.
"Lo tega ngebiarin gue jalan kaki sejauh itu? Setidaknya kalau nggak mau anterin gue sampai rumah, Lo anterin gue sampai jalan raya dong," pintanya.
"Oh, tega banget, lah. Ngapain gue gak tega?" ucapku.
"Emang parah banget sih, Lo. Nyesel gue datang ke sini," kata Icha.
"Suruh siapa datang. Udah kayak jelangkung aja. Datang tak diantar pulang tak diundang," ucapku.
"Kebalik, bodoh! Harusnya datang tak diundang pulang tak diantar," ucap Icha.
"Oh. Ya wajar lah gue gak tahu. Kan gue bukan bagian dari mereka. Lo yang bagian dari mereka ya pasti tahu," kataku.
"Cih, awas aja Lo kalau besok sampai nyontek gue," ancam Icha.
"Hahaha.... Kurang kerjaan banget gue nyontek Lo. Kayak gak bisa ngerjain sendiri aja," balasku.
"Oh, begitu, ya? Oke. Gue gak akan sedikitpun ngasih contekan ke Lo untuk besok dan hari-hari setelahnya," ancam Icha lagi.
"Jangan ngancam kayak gitu, dong," ucapku.
"Hahahaha.... Lo takut?" tanya Icha.
"Gue kan jadi pengen ketawa kalau Lo ngancam kayak gitu. Hahahaha," ucapku sambil tertawa.
Bagaimana tidak? Bahkan selama ini, Icha memang tak pernah memberikan contekan kepada siapapun setiap kali ada ulangan di sekolahan. Entah itu ke aku ataupun ke teman-teman yang lain. Dan sekarang dia dengan gayanya mengancamku untuk tidak memberikan contekan. Sungguh lucu sekali si gadis blasteran itu.
Lagipula, aku sudah berjanji kepada Mamaku untuk tidak menyontek di ujian akhir semester nanti. Aku tidak mungkin mengingkarinya. Aku juga tidak ingin berbohong jika Mama menanyaiku tentang apakah aku menyontek atau tidak. Aku takut kualat, sungguh.
"Woi, Cha. Kayak Lo biasanya ngasih contekan aja, pakai ngancam kayak gitu segala," ucapku sambil terus tertawa.
"Iya, besok gue contekin, tapi anterin gue pulang dulu," katanya mencoba merayuku.
"Hahahaha.... Gak perlu. Gue gak mau nyontek," tolakku tegas.
"Cih, sok Lo," ucap Icha.
"Heh, lagian Lo yang inisiatif datang ke sini, eh ujung-ujungnya malah merepotkan. Hufff.... Dasar aneh," kataku kemudian.
"Anterin, lah! Beneran deh, besok gue contekin. Janji," rayu Icha lagi.
"Kalau gue gak mau?" tanyaku.
"Ya pokoknya harus mau," jawabnya memaksa.
"Hufff.... Oke deh, oke. Ini karena gue kasihan sama Lo aja, ya, bukan karena ingin mendapatkan contekan, besok. Ya, gue anterin Lo pulang," ucapku.
"Nah, gitu dong," katanya.
"Tapi setelah gue bangun tidur nanti," ucapku kemudian sambil memposisikan tubuh dalam posisi tengkurap, bersiap untuk tertidur.
Icha diam. Dalam bayanganku, dia pasti sedang menahan rasa kesalnya kepadaku, dan rasa kesalnya itu bisa meledak kapan saja seperti sebuah bom waktu yang sudah diaktifkan.
"Shelaaa!" teriaknya. Sungguh teriakan yang sangat keras. Hingga membuat telingaku merasakan sensasi mendengar yang luar biasa.
***
Gadis sialan blasteran Indo-Prancis itu telah memaksaku untuk mengantarkan dia pulang. Dia juga telah menganggu aku yang sangat teringin untuk memejamkan mata. Sungguh dia benar-benar gadis yang merepotkan. Bukannya apa-apa, selain menyita waktuku, secara langsung dia juga telah membuat bensin motorku berkurang drastis hanya dalam waktu satu hari. Ah, ia benar-benar sangat menyebalkan.
"Terimakasih," ucap Icha di kala dirinya sudah sampai di ambang pintu gerbang rumahnya.
"Terimakasih apanya? Bayar!" ucapku.
"Iya, besok," katanya.
"Gak mau mampir dulu, Lo?" tanyanya kemudian.
"Males, mending gue tidur di rumah," jawabku.
"Alhamdulillah. Ya udah, silahkan pulang," ucapnya mempersilahkan. Tak kusangka aku yang sedari tadi membuat dia kesal, kini malah aku yang dibuat kesal oleh dia.
"Terimakasih atas pengusirannya," ucapku.
"Sama-sama," jawabnya sambil cengar-cengir.
Kemudian segera kustarter motorku dan bersiap untuk pulang ke rumah. Tanpa ada kata-kata lagi yang terucap, aku langsung melajukan motorku dengan kecepatan sedang untuk segera pergi meninggalkan rumah si gadis sialan itu. Seorang gadis yang sudah membuatku gagal tidur, dan juga seorang gadis yang telah menguras bensin motorku. Ah, kuharap motor ini masih bisa melaju hingga sampai ke tempat tujuan yang tak lain adalah rumahku.