Daratan yang luas sedang menanti perjalanan panjangku menuju ke arah rumah. Bersama kuda besiku kususuri daratan itu dengan penuh harap. Harapan agar segera sampai ke tempat tujuan. Kucoba menghilangkan penat. Kucoba pula untuk menghentikan rasa kantuk yang terasa. Belum separuhnya aku melewati daratan yang penuh dengan lautan kendaraan ini.
Aku terus berkendara. Tak ada lawan bicara kuputuskan untuk berbicara pada diriku sendiri lewat perantara sang hati. Angin semesta menerjang lembut rambut indahku hingga berkibar layaknya sang bendera pusaka. Bersyukur, setidaknya metropolitan ku masih menghadirkan angin sejuk seperti ini walau tak banyak.
Telingaku terasa bising mendengar banyaknya suara mesin kendaraan bermotor yang berlalu di sekitarku. Terkadang aku iri dengan Jepang. Ya, Jepang, sebuah negara kecil di Asia yang pada satu sisinya sangat aku kagumi. Bukan bunga sakuranya yang paling aku kagumi, melainkan tentang bagaimana orang-orang di sana yang lebih memilih untuk berjalan kaki ataupun bersepeda daripada menggunakan kendaraan bermotor yang bisa menyebabkan polusi serta suara bising. Aku tak tahu apa itu sistem dari pemerintahan di sana ataupun memang keinginan para manusianya sendiri, yang pasti aku sangat mengagumi hal itu. Berbeda dengan kota metropolitanku yang tiap harinya selalu bising dengan suara mesin kendaraan bermotor serta polusi yang ditimbulkannya.
Aku tak bisa membenci kotaku sendiri, apalagi negeriku. Walau keadaannya yang seperti ini, yang aku harus lakukan adalah mengubahnya, bukan malah membiarkannya, apalagi malah meninggalkan di saat sang tempat kelahiran ini butuh bantuan. Akan tetapi aku sadar, aku masih terlalu muda untuk melakukan perubahan. Aku masih belum bisa berkuasa atas kota tempat kelahiran ku. Aku juga masih tak mampu mengulurkan tanganku untuk menolong kota sebesar ini.
Hanya keinginan yang terhalang oleh kemampuan. Hanya angan yang belum bisa menjadi kenyataan. Hanya sebuah tekad yang tak dapat dikatakan hebat. Sebab aku merasa belum bisa memulai untuk mewujudkannya.
Jalan Jenderal Soedirman. Sepanjang jalan itu aku selalu terbayang wajah sang panglima besar, yakni Panglima Besar Jenderal Soedirman yang sering kulihat di buku sejarah. Wajahnya selalu terngiang-ngiang di kepalaku hingga terbayang tentang bagaimana perjuangannya melawan penjajah pada waktu itu.
Aku suka nama jalan yang demikian. Karena dengan begitu, biarpun zaman silih berganti, biarpun peradaban telah berubah, nama sang pahlawan akan terus terkenang selamanya. Sejarah pun tak akan pernah hilang. Suatu saat nanti pun aku juga ingin dikenang sebagai sejarah penting dalam kehidupan seseorang.
Motorku terus melaju menyusuri jalanan ini. Masih dengan harapan yang sama, yaitu ingin segera sampai ke tempat tujuan. Jujur aku muak dengan situasi jalanan ini. Suara bising itu, polusi yang ditimbulkan, dan panasnya sengatan sang matahari di pagi menjelang siang ini. Satu lagi, yaitu rasa kantuk ini. Semua itu seperti sengaja menyerang jiwa dan ragaku dalam waktu yang bersamaan.
"Loh, kenapa dengan motor ini?" tanyaku pada diri sendiri ketika tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada motorku.
Kutepikan motor kesayanganku itu untuk memeriksa keanehan yang aku rasakan. Aku segera turun dan memeriksanya. Ah, sial! Ternyata ban belakangnya kempes. Entahlah, mungkin bocor.
"Ah, Icha sialan!" umpatku.
Mendapat musibah yang demikian, aku malah memilih untuk mengumpati sahabatku itu. Bagaimana tidak? Kalau saja dia tak memintaku untuk mengantarkan dia pulang, pastilah aku tidak mendapatkan musibah seperti ini. Sekarang bagaimana? Dengan kondisi tubuh yang lelah serta rasa kantuk yang tak bisa kutahan, aku diharuskan untuk menuntun motorku menuju tukang tambal ban terdekat. Beruntungnya aku tahu letak tempat tukang tambal ban tersebut. Hanya saja masalahnya, posisi tempat itu sangat jauh dari posisiku saat ini.
"Ya Allah, begitu berat cobaan hambamu ini," keluhku.
"Andai gue nguasain jurus teleportasi, gak perlu gue susah-susah dorong motor kayak gini," ucapku lagi.
Andai ku sadar dari awal bahwa musibah bisa datang kapan saja, pastilah tak akan kutinggal ponselku di rumah. Sekarang, tentu aku tak bisa bergantung pada benda kotak itu untuk menghubungi seseorang, karena aku tak membawanya.
Aku cukup kesal berada di posisi ini, karena pada dasarnya aku dan Icha tidak memiliki banyak perbedaan. Kami berdua hanyalah gadis yang terbiasa dengan hal menyenangkan, tanpa tahu rasanya hal menyakitkan seperti ini. Ditambah lagi dengan posisiku yang hanya sendirian.
Kekesalanku bertambah dengan tindakan luar biasa dari para manusia di sekitarku yang tak mau memberikan bantuan kepadaku. Dengan luar biasanya, mereka seolah mengabaikan diriku yang sedang mengalami musibah ini. Sungguh, mereka benar-benar sangat keren.
Di depan sana, tiba-tiba sebuah angkot menepi menghalangi jalanku. Itu tentu membuat kekesalanku bertambah berkali-kali lipat. Aku bahkan hampir sampai berteriak-teriak menyuruh sang sopir agar segera menyingkirkan kendaraan bututnya itu dari menghalangi jalanku, tapi segera kuurungkan karena kurasa itu malah akan menguras tenagaku saja. Aku hanya bisa bergumam pada diriku sendiri.
"Haduuhh! Nih angkot bikin tambah kesel aja," gumamku.
Angkot itu ternyata sedang menurunkan seseorang. Pertama-tama, kukira itu hanyalah penumpang biasa yang tak kukenal. Akan tetapi setelah penumpang itu sepenuhnya turun, barulah aku melihat dengan jelas sosoknya. Sosok manusia yang berhasil membuatku tersenyum dalam rasa kesalku.
"Daniel," panggilku sedikit berteriak sambil melambaikan tanganku.
Seperti biasa, respon Daniel kepadaku masih tetap lambat. Ia seperti tak memperdulikan panggilanku. Ah, tidak. Mungkin karena dia yang masih sibuk berkomunikasi dengan sang kenek angkot dalam rangka membayar jasa angkot yang ia naiki.
Tak ingin membuang tenaga lagi, aku segera berjalan beberapa langkah, masih dengan posisi menuntun motorku beriringan dengan berjalannya angkot itu.
"Kenapa?" tanya Daniel ketika aku sampai di sana.
"Kenapa apanya?" tanyaku balik. Seperti biasa pula, pertanyaan Daniel yang singkat itu memang cukup membingungkan bagiku.
"Motor Lo kenapa?" tanyanya memperjelas.
"Gak tahu nih. Tiba-tiba kempes. Mungkin kena paku, dan bocor, deh," jawabku.
"Oh," ucap Daniel super singkat.
"Lo gak kerja?" tanyaku.
"Enggak," jawabnya singkat, jelas dan padat.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
Dia diam, tak menjawab. Wajahnya masih saja kaku, seolah-olah tak punya ekspresi lain selain itu.
"Tukang tambal ban masih jauh," katanya kemudian.
"Ya, gue tahu," jawabku.
Dia lalu lebih mendekat ke arahku. Jujur aku bingung tentang apa yang akan dia lakukan, dan ternyata apa yang dia lakukan cukup mengejutkan. Ia berniat mengambil alih tugasku dalam upaya mendorong motor kesayanganku itu.
"Biar gue aja yang bawa," katanya.
Jujur aku senang, tapi di sisi lain aku merasa tidak enak dengannya. Aku tak ingin merepotkannya lagi, sungguh. Kejadian tempo hari itu sudah cukup bagiku bisa lebih dekat dengannya.
Kalau boleh mengaku, aku sangat senang ketika Daniel tiba-tiba datang. Sepertinya juga aku harus berterimakasih pada angkot yang telah membawanya datang ke mari. Namun aku merasa, setiap kali dirinya datang, itu terjadi pada waktu yang sangat tidak tepat. Aku bertanya-tanya entah ke siapa. Kenapa setiap kali Daniel datang, itu dalam kondisiku yang sedang kesusahan?
Bukannya apa-apa. Aku cuma tidak mau melibatkannya dalam susahku. Aku tak ingin membuatnya ikut memikul bebanku. Dia sudah banyak mengalami kesusahan selama ini, dan aku merasa hanya menambah susahnya saja.
Ah, rasa ini membuatku bingung. Antara aku senang dengan hadirnya, dan tak mau menyusahkannya. Tapi tetap, sedingin apapun sifat seorang Daniel, ia adalah sang manusia penolong yang tak akan pernah bisa mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuan. Ditambah lagi dengan dirinya yang masih merasa berhutang budi sama aku akibat masalah kalung tempo hari.
"Eh, Niel. Sudah, biar gue aja," tolakku seraya ingin merebut posisi mendorong motor dari Daniel.
"Gak usah protes!" ucap Daniel menolak.
"Hmmm.... I-iya deh," jawabku pasrah.
Daniel benar-benar mau mendorong motorku. Jelas ini sudah untuk ke sekian kalinya aku merepotkannya. Namun yang aku rasa aneh adalah tentang ekspresinya yang menurutku sangat sulit untuk berubah. Senyum itu, kurasa dia cuma menunjukkan senyum itu kepada orang-orang pilihan, bukan sembarang orang bisa mendapatkannya.
"Besok udah mulai ujian akhir semester," kataku memecah keheningan sambil terus berjalan.
"Iya," jawabnya singkat.
"Lo gak belajar, kah?" tanyaku.
"Enggak," jawabnya.
"Kenapa?" tanyaku lagi.
"Karena gue ada di sini," jawabnya.
"Hahahaha." Aku tertawa.
"Kenapa?" tanya Daniel.
"Hah? Enggak. Ngerasa lucu aja dengan jawaban Lo tadi," jawabku. Daniel memandangku dengan aneh.
"Sudah, lupakan saja!" kataku kemudian.
Setelah itu kami berdua kembali melakukan perjalanan panjang hingga pada akhirnya sampai ke tempat tujuan. Ada sebuah bangunan kecil di pinggir jalan yang menjadi tempat bagi sang tukang tambal ban untuk mengais rezekinya tiap hari. Daniel langsung mendorong motorku ke sana dan memberitahukan ke si tukang tambal ban tersebut bahwa ban motorku sedang bocor, dan hebatnya tanpa kuberitahu mana yang bocor, Daniel sudah tahu bahwa ban belakang lah yang mengalami kebocoran itu.
Selepas itu kami duduk di kursi yang sudah tersedia sembari menunggu sang tukang tambal ban selesai melaksanakan tugasnya. Kuminta Daniel supaya tidak perlu menunggui aku, tapi ia menolak dengan caranya yang sedemikian rupa. Ia tetap ingin berada di sini untuk menemani aku.
"Niel, gue boleh nanya sesuatu, nggak?" tanyaku.