Pembicaraan kami terus berlanjut. Terkadang juga diselingi dengan canda tawa. Salsa sudah semakin akrab denganku, dan bahkan mungkin dia sudah merasa nyaman bersamaku. Dia bisa berbaur denganku yang notabenenya adalah teman kakaknya. Ah tidak, maksudku pacar. Namun, setelah sekian lama pembicaraan panjang itu terjadi, aku mendadak teringat akan suatu hal. Suatu hal yang sedari tadi kami tunggu. "Kok bapak Lo belum pulang ya, Niel?" tanyaku. "Nggak tahu, ya. Dik, emang bapak ke warung mau beli apa, sih?" jawab Daniel atas pertanyaanku sekaligus tanyanya kepada adiknya. "Beli telur, Kak, ya Allah, masih nanya lagi," jawab Salsa tak santai. "Tapi kok lama, ya," kata Daniel. Dan saat itulah kulihat raut wajah Salsa langsung berubah. Maksudku, ia mendadak terdiam. Tatapannya kosong seakan

