Melanggar Janji

1808 Kata
Di Kafe Alba, selepas Zuhur Lubna membuat janji dengan seseorang. Selebgram asal tanah Sunda itu duduk dengan perasaan gusar. Tidak hentinya dia melirik arloji di pergelangan tangan. Sudah lebih dari lima menit dia sampai, yang ditunggunya belum juga datang. Dia kemudian meraih ponsel dari dalam tas hitam. Jemarinya bergerak mencari nama seseorang yang telah membuat janji dengannya untuk bertemu siang ini. Baru saja benda pipih itu menempel di telinga, seorang yang ditunggu sudah datang. “Aku di depanmu,” ujarnya seraya mengulas senyum. Lubna tertawa kecil. Perlahan menurunkan benda pipih itu dan dia simpan kembali ke dalam tas. Gadis yang memiliki bisnis di bidang fashion bersama kedua sahabatnya itu, merasakan ketenangan setelah bertemu dengan sosok tampan yang mengenakan kemeja navy di depannya. “Kenapa melihatku seperti itu? Rindu?” Pria berjambul itu menggodanya. “Aku tidak mengganggumu, ‘kan?” balas Lubna bertanya serius. “Sejak kapan pertemuan kita membuatku terganggu?” Pria itu pun balas bertanya. “Ada hal serius yang ingin aku bicarakan, Mas.” “Ada apa? Kamu baik-baik saja, Na?” Air muka pria berkumis tipis itu berubah cemas saat Lubna menatapnya dengan sangat dalam. Bersamaan dengan itu, makanan yang dipesan Lubna untuk mereka berdua pun datang. “Terima kasih, Mbak,” ujar pria itu dengan ramah. Lubna masih bergeming. Tatapannya semakin dalam menatap sosok di hadapannya. Pria yang telah menjadi kekasihnya sejak lima tahun yang lalu. Arka Febriansyah Priatama, pria berdarah Jawa yang berhasil membuatnya terkesan pada pertemuan pertama, ketika pria itu menolong seorang ayah dan anak kecil yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat itu Lubna bersama kedua sahabatnya baru saja pulang dari kampus. “Na ... ada apa?” Suara Arka kembali mengemuka, membuat Lubna sedikit tersentak. Perempuan berjilbab pastel itu mulai berkeringat dingin dengan d**a bergejolak. Lubna tetap diam sembari memikirkan kalimat yang harus diucapkan, untuk menyampaikan pesan dari abahnya. Arka lalu geserkan gelas berisi jus alpukat yang telah dipesan kekasihnya sebelum dia datang. “Minum dulu, lalu tarik napas dan buang perlahan. Setelah itu katakan apa yang ingin kamu sampaikan.” Gelas jangkung itu telah berpindah tangan. Lubna meminumnya sedikit, lalu kembali menyimpannya. Berulang kali dia menghela dan membuang napas, sesuai yang dikatakan Arka. Tatapannya penuh harap tertuju kepada pria tersebut. “Sebenarnya ada apa, Na? Kamu sepertinya cemas sekali.” Pandangan sepasang insan itu saling bertemu. Begitu dalam Lubna menatapnya. Sementara itu hati dan pikiran Arka dipenuhi tanda tanya. “A-bah ... memintamu untuk melamarku, Mas …!” Akhirnya Lubna berhasil mengatakannya dengan suara bergetar. Mendengar itu, Arka mengubah posisi duduknya menjadi bersandar. Tubuhnya mendadak lemas. Hal yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Lubna menatapnya, menunggu tanggapan pria tersebut. Namun, pria itu masih saja diam. “Bagaimana, Mas? Kamu bersedia bukan untuk menikah denganku?” “Kamu lupa dengan janji kita?” Arka balas bertanya dengan nada dan tatapan dingin. “Kita sudah sepakat bukan untuk tidak membahas pernikahan sampai aku menyelesaikan pendidikanku. Tunggu setidaknya tiga tahun lagi sampai aku lulus, Na. Aku butuh dukungan dan juga pengertianmu dalam hal ini,” sambungnya lagi. “Lalu, bagaimana dengan mereka yang meminta kepastian hubungan kita? Aku harus apa?” Satu tetes cairan bening dari sepasang netranya terjatuh. Arka terdiam, frustrasi. Ada mimpi yang harus dia wujudkan. Ada sesuatu yang sedang dia perjuangkan setelah menempuh jalan panjang. Ada janji kepada mendiang sang ayah yang harus dia tepati. Namun, di sisi lain dia sangat mencintai Lubna dan tidak ingin kehilangannya. “Mas ...!” lirih Lubna kembali memanggilnya. Pria itu menoleh; menatap Lubna dengan sangat dalam. “Tolong, jangan buat aku berada di posisi serba salah, Na.” “Lalu, bagaimana dengan aku? Apa kamu tidak sedikit pun memikirkanku, Mas?” Lagi, Arka bergeming. Begitu juga dengan Lubna. Perempuan itu masih setia menunggu jawaban sang kekasih. Setelah beberapa menit berlalu, pria itu tak juga bersuara. Dia hanya terduduk dengan kepala menunduk ditopang kedua tangan. “Kamu mau, ‘kan, Mas?” Lubna kembali memastikan, menepis rasa takut dalam hatinya. Perlahan kepala Arka bergerak. Ditatapnya kembali Lubna yang juga menatapnya. “Aku tidak bisa, Na ... saat ini aku benar-benar belum siap.” Seperti jatuh dari ketinggian, hati Lubna hancur seketika. Perempuan itu mematung, menatap pria yang dia cintai dengan berlinang air mata. Keduanya memang telah berkomitmen untuk tidak membahas pernikahan sampai Arka mendapat gelar sebagai Dokter Spesialis Anak dan Lubna telah berjanji untuk mendampinginya sampai laki-laki yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu berhasil meraih mimpi. Hari ini Lubna berharap itu semua hanyalah mimpi buruk; dia akan terbangun dan semua baik-baik saja. Namun, dia sadar ini bukan mimpi. “Bawa laki-laki itu ke hadapan Abah. Pastikan dia akan melamarmu. Abah, beri kamu waktu tiga bulan untuk membawanya,” ujar Sulaiman memberikan syarat. “Bah ... tolong untuk kali ini mengertilah. Lubna sudah katakan ... dia akan datang menemui Abah setelah pendidikan dokternya selesai.” “Berapa lama lagi Abah harus menunggu?” “Setidaknya beri dia waktu tiga tahun lagi, Bah.” “Tiga tahun? Apa kamu yakin dia akan menikahimu? Dan apa kamu yakin saat itu Abah dan Ummi masih hidup?” Lubna terdiam beberapa saat, menatap nanar kepada abahnya. “Kenapa Abah bicara seperti itu?” “Laki-laki itu harus berani mengambil keputusan! Dari tindakannya bisa dilihat kalau benar dia serius kepadamu!” “Dia serius, Bah!” “Laki-laki serius itu mengajak menikah, bukan mengajak untuk berpacaran yang tidak ada dalam syariat agama kita! Sudah cukup kamu mengorbankan waktumu demi laki-laki tidak jelas itu!” tegasnya dengan emosi yang meluap. “Abah, egois! Sekali saja mengerti, apa Abah tidak bisa?” “Terserah kamu mau bilang apa! Abah, beri kamu waktu tiga bulan! Halalkan atau tinggalkan!” tegasnya, lalu pergi. Ucapan Sulaiman kembali terngiang jelas di telinga Lubna. Badai kecewa menghantam dadanya. Harapan untuk bersama dengan pria yang dicintainya itu pun musnah. Dalam hati dia mengutuk takdir. Tak berselang lama perempuan itu meraih tas hitamnnya, lalu bangkit; bergerak dengan langkah sendu dan pandangan kosong. Arka turut bangkit dan mengejarnya. Dia berteriak memanggilnya. Namun, selebgram sekaligus beauty and fashion influencer hijab itu sama sekali tidak mau mendengar. Perempuan itu benar-benar hancur. Kapalnya karam sebelum berlayar. Setengah dirinya seperti mati. Akhirnya Arka berhasil menghalau jalan perempuan itu. Keduanya berdiri saling berhadapan, di pinggir jalan yang ramai oleh orang yang berlalu-lalang. Lubna masih berurai air mata. Keduanya tidak pedulikan pandangan orang-orang yang melintas. Sama seperti perempuan itu, berat pula untuk Arka mengambil keputusan. Kali ini dia hanya bisa pasrah. Sering kali memang hidup memaksa seseorang untuk memilih. Meski enggan, tidak ada pilihan lain selain memilih satu dari yang lain. “Maafkan aku, Na ...!” lirihnya, seraya memandangi Lubna yang wajahnya diselimuti luka dan kecewa. Lubna tersenyum getir mendengar permintaan maafnya, lantas kembali lanjutkan langkah. Hari ini dia harus menelan pahitnya kekecewaan. Hidup memang penuh dengan misteri. Kisah indah yang selalu dia jaga pada akhirnya harus berakhir penuh luka dan menyisakan kecewa dalam d**a. *** Selepas makan malam Lubna langsung pergi, masuk kamar. Nusa dan Maria mempertanyakan sikap aneh sahabatnya. Sejak pulang dari kampung halaman, dia berubah; sering melamun dan banyak diam. Sudah beberapa hari dia juga tidak melakukan pekerjaannya, padahal ada beberapa produk baru yang siap launching dan harusnya sudah mulai dipromosikan. Ketiga sahabat itu membangun bisnis bersama sejak masih berstatus sebagai mahasiswa. Mereka saling membagi tugas, Nusa sebagai fashion desainer; Maria, bertugas mengatur keuangan dan pengiriman barang; sedangkan Lubna, yang memiliki jutaan pengikut di sosial media, bertugas sebagai marketing sekaligus brand ambasador dari produk-produk mereka. “Mar, mau ke mana?” tanya Nusa saat Maria tiba-tiba beranjak. “Ke kamar Lubna. Aku harus mencari tahu ada apa dengan dia.” “Tunggu, aku ikut.” Lekas Nusa bangkit dan menyusul Maria yang sudah pergi lebih dulu. Pintu kamar Lubna ternyata tidak dikunci, keduanya kemudian masuk. Di dalam kamar sekali lagi mereka dapati sang sahabat tengah melamun, duduk di kursi menghadap jendela. Dua perempuan berbeda agama itu saling melempar tanya dengan isyarat. Mereka pun bergerak, mendekat. “Na,” panggil Maria, meletakkan tangan di bahu sang sahabat. Lubna menoleh; pipinya basah dengan mata merah; kemudian menghambur dalam pelukan Maria. Terisak dia dalam dekapan perempuan berdarah Batak tersebut. Jemari Maria kemudian bergerak mengelus punggung sang sahabat, seraya beradu pandang dengan Nusa. Sampai beberapa menit berlalu, Lubna hanya menangis. Baik Nusa maupun Maria, membiarkan dia meluapkan emosinya; berharap tangisan itu mampu mengurangi beban dalam hatinya. Setelah sedikit tenang, barulah dia mulai menceritakan semua. “Sudah sering aku ingatkan kamu, Na ... jangan terlalu berlebihan mencintai makhluk, apalagi kepada dia yang belum halal.” “Sa ...!” Maria kontan langsung menegur sahabatnya. Bukan waktu yang tepat untuk menceramahi Lubna saat ini. Nusa langsung diam; mengembuskan napas kasar seraya memutar bola mata, jengah. Lubna kembali terisak dan Maria terus berusaha untuk menenangkan. “Sudahlah ... tenangkan pikiranmu, Na. Beri Mas Arka jeda untuk berpikir.” “Tidak, Mar!” Nusa kembali menyambung, “tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari laki-laki itu, setelah dia menolaknya.” Maria embuskan napas kasar. Dilepasnya Lubna dan dia tarik Nusa untuk sedikit menjauh. “Kamu bisa gak, sih. Jangan buat dia semakin sedih. Harusnya kita itu menguatkan dia, bukan malah buat dia semakin jatuh, Sa.” “Tunggu dia lebih tenang dulu ... baru sampaikan pendapatmu.” “Jika dia tidak bisa memberikan kepastian, untuk apa dipertahankan?” “Kalau kalian ingin berdebat ... sebaiknya tinggalkan aku sendiri!” Lubna menyambung, bangkit dan duduk di tepi ranjang. Nusa kembali menghampiri Lubna dan meminta maaf. Maria turut menyusulnya. Keduanya duduk di antara Lubna. “Na ... ketegasan itu bukan hanya harus ditunjukkan oleh laki-laki. Perempuan juga memerlukannya. Jika memang dia enggan untuk menghalalkan hubungan kalian dengan apa pun alasannya, seharusnya kamu sadar ... tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti itu.” Kini Nusa lebih hati-hati menyampaikan pendapatnya. Bukan tidak ingin memahami situasi dan kondisi sahabatnya, dia hanya tidak ingin sahabatnya itu terus membuang waktu dalam penantian yang tak pasti. Lubna hanya diam. Sementara itu Maria berusaha untuk menahan diri dengan hanya menatap Nusa dan Lubna bergantian. “Aku sudah berjuang sampai sejauh ini. Lalu aku harus melepasnya begitu saja? Apa ini adil?” Lubna akhirnya bersuara dan kembali emosional. Maria genggam tangan sahabat yang dia kenal sejak duduk di bangku kuliah. “Na ... setiap apa yang kita jalani itu selalu memiliki risiko. Menurutku untuk saat ini, dinginkan kepalamu. Masih ada waktu untuk kalian menimbang semuanya. Siapa tahu Mas Arka berubah pikiran .. iya, ‘kan?” “Jika dia tetap tidak berubah pikiran ... aku harap kamu bisa lebih ikhlas, Na. Persiapkan ruang untuk laki-laki sejati yang berani menemui walimu.” Lubna tidak menanggapi. Pikirannya dipenuhi dengan segala kemungkinan buruk yang bisa terjadi, salah satunya yang dikatakan Nusa. Itu yang sangat dia takutkan. Dia tidak pernah bisa hidup dengan seseorang yang tidak dicintai. Perempuan itu hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan laki-laki yang mencintai dan juga dicintai olehnya, Arka adalah orangnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN