Di teras rumah, Sulaiman duduk seorang diri; ditemani rintik hujan yang mengguyur Tasikmalaya sejak sore. Udara dingin tidak lantas membuat pria empat orang anak itu beranjak. Selepas mengajar para santri, dirinya berdiam diri di sana. Tak berselang lama, Fatimah datang dengan membawa segelas teh panas untuk pria yang dia panggil abah; asapnya masih mengepul di udara.
“Tehnya, Bah.” Ditaruhnya minuman tersebut di meja.
Sulaiman menoleh, lalu tersenyum. “Terima kasih, Nak. Sini duduk ... temani, Abah.”
Fatimah lekas duduk di samping abahnya. Diam-diam dia perhatikan raut gelisah pada wajah cinta pertamanya. Pria itu lebih banyak melamun, pasca pertengkarannya dengan sang putri bungsu. Sebagai seorang putri, dirinya sedih melihat Sulaiman seperti itu. Namun, sebagai seorang kakak dirinya pun sangat memahami adik kesayangannya.
“Abah, masih memikirkan Lubna?” tanya Fatimah dengan hati-hati.
Perempuan berjilbab hitam itu menatap Sulaiman begitu lekat. Kesedihan tampak jelas tergambar dari sorot mata pria yang sangat dia cintai. Pria bersorban putih itu masih belum memberikan jawaban. Dia hanya terdiam, menatap air hujan yang berjatuhan di tanah.
“Bah, apa tidak sebaiknya kita bicarakan semuanya lagi dengan kepala dingin?” Fatimah kembali bersuara.
“Apa lagi yang harus dibicarakan? Keinginan Abah sudah jelas ... ingin melihat putra dan putri Abah bahagia,” jawabnya menatap Fatimah dalam sekilas.
“Tapi, Bah ... sampai kapan hubungan kalian akan seperti ini?”
Sulaiman menghela napas dalam-dalam. Beberapa tahun terakhir sejak putri bungsunya beranjak dewasa, hubungan ayah dan anak itu memang kurang baik; keinginan keduanya tidak pernah sejalan, sehingga membuat mereka kerap kali berselisih paham. Lubna kecil, dulu sangat manis. Setelah beranjak dewasa perlahan dia berubah dan Sulaiman tidak menyukai perubahan itu.
“Bah, Fatimah tahu ... Lubna sudah banyak membuat Abah kecewa, tapi apa tidak sebaiknya kita coba berikan dia kesempatan untuk menentukan pilihannya?”
Pria berkumis hitam putih itu lantas menoleh. “Abah, sudah pernah melakukan itu dan akhirnya menyesal. Kalau saja dulu Abah tidak izinkan dia kuliah di luar kota, mungkin semua tidak akan seperti ini; Lubna tidak akan berani berpacaran, karena Abah tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.”
“Fatimah, juga kecewa saat tahu Lubna memiliki pacar ... tapi sekarang nasi sudah menjadi bubur, Bah. Semakin dilarang justru Lubna semakin menentang.”
Putri ketiga dari empat bersaudara itu raih tangan Sulaiman dan menggenggamnya, lalu mulai melanjutkan kalimatnya dengan sangat hati-hati. “Sekarang lebih baik kita coba ikuti keinginan Lubna. Abah, dekati hatinya lagi dan coba untuk mengenal laki-laki pilihannya. Bukankah kita tidak pernah tahu bagaimana orang itu, kalau tidak mengenalnya.”
“Dia bukan laki-laki yang baik, Fatimah.” Sulaiman mengatakannya tanpa ragu, membuat dahi Fatimah mengernyit.
“Bagaimana bisa Abah menyimpulkan itu tanpa mengenalnya lebih dulu?”
Sulaiman menghela napas berat seraya mengubah posisi duduk menjadi bersandar, dengan jari jemari saling bertaut. “Kamu lupa dulu kita pernah bertemu dengannya, saat menengok Lubna di Jakarta.”
Kepala pria itu bergerak menoleh kepada putrinya dan otomatis pandangan keduanya saling bertemu. Fatimah sendiri mulai mengingat momen itu.
“Dia laki-laki yang tidak memiliki pendirian, tidak tulus, dan penuh tipu daya.”
“Astagfirullah ... apa yang Abah katakan? Bukannya Abah selalu bilang, kalau kita tidak boleh berprasangka buruk kepada orang lain.”
“Hati seorang ayah itu tidak akan pernah salah. Abah, tidak rela putri kesayangan Abah jatuh kepada orang yang salah.”
“Apa yang membuat Abah yakin kalau dia bukan laki-laki yang baik untuk Lubna?”
Obrolan itu tiba-tiba terhenti. Sulaiman memilih tidak menjawab, membuat Fatimah kebingungan. Pria itu lantas menyesap teh buatan putrinya, setelah itu beranjak dari tempat duduk; tidak lupa turut membawa minumannya.
“Di sini dingin. Masuklah! Ini juga sudah malam ... Abah, lelah ingin istirahat,” ujarnya, kemudian masuk rumah.
Fatimah masih belum beranjak. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa abahnya bisa memiliki pandangan seperti itu? Dalam benaknya mencuat tanya. Dia yakin, abahnya memiliki alasan kuat.
“Kamu ngapain berdiri di sini sendiri?”
Terenyak Fatimah dengan kedatangan Winda saat dirinya tengah melamun. Kakak iparnya itu menatap dia dengan dahi mengerut.
“Kamu baik-baik saja, ‘kan?”
Fatimah tersenyum. “Tidak apa-apa, Teh. Aku hanya bingung dengan sikap Abah. Dia seperti menyembunyikan sesuatu.”
Winda menariknya untuk duduk. Fatimah kemudian mengatakan semuanya. Ibu dua orang anak itu juga adalah salah satu yang selalu mencemaskan Lubna. Meski dia hanya berstatus sebagai kakak ipar. Namun, rasa sayangnya kepada Lubna sudah seperti kakak kandung.
“Abah itu terlalu mencintai anak-anaknya. Meski terkadang dia terlampau keras. Namun, itu semua demi kebaikan anak-anaknya. Sama seperti padamu ... Abah, berharap Lubna mendapatkan imam yang bisa menuntunnya sampai ke surga. Dia juga tidak akan tenang sampai pria itu berani untuk menemuinya.”
Hening. Obrolan terputus. Keduanya kembali diam. Hanya suara rintik hujan yang mengiringi.
“Ya, sudah. Kamu masuk, Fa. Ini sudah malam. Bawa ini masukkan kulkas, besok tinggal goreng untuk sarapan.” Wadah persegi panjang merah berisi potongan daging ayam yang sudah diberi bumbu, Winda serahkan kepada Fatimah. Perempuan itu pun bangkit.
“Sudah jangan dipikirkan lagi. Kita doakan saja yang terbaik untuk Lubna,” pungkasnya sebelum pergi.
***
Dua bulan berlalu terasa begitu cepat. Lubna merasa jalannya kian buntu. Antara dirinya dan juga Arka tidak pernah lagi ada komunikasi, semenjak obrolan di Alba Kafe. Setiap malam, dirinya selalu berdoa untuk dipertemukan dengan laki-laki itu dan meminta satu kesempatan untuk bisa berbicara dengannya. Perempuan kelahiran 1995 itu berharap ada harapan dan titik terang untuk hubungan keduanya.
Tidak disangka selepas makan malam di Samudra Resto, usai acara launching produk terbaru, doa itu akhirnya terkabul. Lubna dan kedua sahabatnya menghentikan langkah di teras restoran, pun dengan laki-laki yang selama lima tahun menjadi pelangi dalam hidupnya. Arka tidak datang sendiri, ditemani seorang perempuan berkacamata dengan rambut cokelat yang diikat satu. Perempuan itu lantas mengumbar senyum, tetapi Lubna sama sekali tidak membalasnya.
“Aku masuk duluan, ya,” ujarnya kepada Arka, lalu pandangannya beralih kepada Lubna, “duluan, Na.”
Lubna mengangguk. Kepalanya bergerak pelan, menatap kepergian perempuan berpakaian formal dengan sepatu hitam ber-hak tinggi. Sesaat kemudian dia kembali menatap laki-laki yang sejak tadi tidak lepas memandanginya.
“Bisa kita bicara sebentar, Mas?” tanyanya, meminta izin.
Arka hanya mengangguk, lalu melangkah menuju samping restoran; mencari tempat yang tidak begitu ramai. Sementara itu Nusa dan Maria memilih menunggu di mobil. Bersamaan dengan itu Lubna lekas menyusul Arka. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan tatapan sendu. Selama lima tahun berpacaran, mereka termasuk pasangan yang nyaris tidak pernah bertengkar hebat; selalu harmonis dan bisa mengimbangi satu sama lain. Mereka pun kerap membagikan momen romantis di sosial media masing-masing yang selalu dibanjiri pujian dari pengikutnya. Tidak jarang hubungan mereka membuat iri yang melihat.
Sudah dua bulan ini mereka tidak pernah lagi membagikan momen indah tersebut. Lubna lebih sering memosting kalimat patah hati yang membuat pengikutnya bertanya-tanya. Ribuan DM dikirim mereka kepadanya. Namun, tidak ada satu pun yang mendapatkan balasan.
Sementara itu, laki-laki itu memilih menghapus semua momen kebersamaan keduanya. Kemudian dia memosting satu foto siluet dirinya yang menghadap laut lepas dengan caption ‘Selesai dan Terima kasih.’ Kontan postingan itu menuai reaksi para pengikut yang dibuat terkejut, hingga meluapkan reaksinya di kolom komentar.
“Bagaimana kabarmu, Mas ... setelah tidak denganku?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Lubna.
“Apa aku terlihat baik-baik saja?” Arka membalas dengan balik bertanya.
“Lalu apa keputusan terakhirmu? Apa masih mungkin untuk kita tetap bersama?”
“Aku sangat menginginkannya, Na ... tapi syarat dari abahmu berat untukku.”
Lubna tersenyum sinis dengan menarik satu sudut bibir seraya palingkan muka. Dua bulan berlalu, dia pikir laki-laki itu akan berubah pikiran. Ternyata dugaannya salah.
“Lima tahun itu ternyata tidak berarti apa-apa untukmu, Mas. Semudah itu kamu melepaskan semuanya. Melupakan semua perjuangan kita,” ungkap Lubna, dipenuhi kecewa.
“Kamu salah, Na! Aku pun bersusah payah melewati semuanya tanpamu.”
Perempuan dua puluh empat tahun itu kembali membuang muka dengan satu tangan menutupi sebagian wajah. Deras air matanya mengalir basahi pipi. Sementara itu Arka tak lepas menatapnya, dengan mata yang berkaca-kaca.
“Na ... hidup ini tidak selalu berjalan seperti yang kita mau. Kenyataannya kita tidak akan bisa meneruskan ini. Aku ingin kamu selalu bahagia, meski bukan aku yang membahagiakanmu. Jaga dirimu baik-baik, Na. Jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Aku mohon, belajarlah untuk menerima semuanya.”
Semakin deras saja air mata Lubna mendengar ucapan laki-laki yang teramat dicintainya. Tidak pernah terbayangkan olehnya, kisah cinta yang indah itu akan berakhir penuh luka. Apa yang telah terjadi pada cinta mereka, berhasil merenggut mimpi indah yang telah dirancang keduanya.
“Tolong, berhentilah menangis. Jadilah Lubna yang aku kenal selama ini. Lubna yang ceria, yang selalu memberikan energi positif untuk orang-orang di sekitarnya. Lubna yang selalu optimis dan ambisius dalam meraih mimpi. Aku mencintaimu, Na ... aku sangat mencintaimu. Sungguh ... aku terluka melihatmu seperti ini.”
“Berhenti mengatakan kamu mencintaiku, Mas. Semua kalimat manis itu tidak berarti apa-apa tanpa adanya pembuktian. Terima kasih untuk akhir yang menyakitkan ini.”
Lubna pergi. Semua telah resmi berakhir. 2019 menjadi tahun yang tidak akan pernah dia lupakan. Bersanding di pelaminan dengan laki-laki yang dicintainya, kini hanya akan menjadi mimpi. Arka menatap kepergiannya. Sementara itu seseorang diam-diam memperhatikan keduanya dari jauh.
***
“Ganti gaya!”
“Senyum!”
“Senyumnya lebih lepas, Na!”
Seorang fotografer terus memberikan arahan kepada Lubna yang sedang melakukan sesi pemotretan saat dirinya menjadi model HMR Hijab, salah satu brand hijab terkenal di Indonesia.
“Posenya lebih luwes lagi, Na!”
Dibantu beberapa orang yang memegangi hijabnya, Lubna berpose dengan berbagai gaya. Namun, kali ini tidak seperti biasanya. Perempuan itu tampak kurang bersemangat. Pengambilan gambar pun sampai harus diulang beberapa kali untuk satu gaya dan memerlukan waktu lebih dari satu jam untuk satu hijab.
“Kamu sakit, Na? Tumben tidak bersemangat seperti itu,” ujar seorang yang berprofesi sebagai make-up artist.
“Aku hanya sedang lelah, Mbak.”
“Kalau lelah sebaiknya kamu istirahat dulu, Na. Jangan dipaksakan,” ujarnya seraya membantu melepaskan hijab yang dikenakan Lubna dan menggantinya dengan motif lain.
“Kamu itu beruntung, Na. Tidak semua model memiliki kesempatan untuk bekerja sama dengan HMR.”
Lubna hanya diam tak merespons. Dia memang beruntung dalam urusan pekerjaan. Setiap bulannya selalu saja banjir tawaran kerja, di luar bisnis bersama kedua sahabatnya. Belum lama ini dia menandatangani kontrak sebagai brand ambassador salah satu produk kecantikan. Setelah perpisahannya dengan Arka, dia kehilangan semangat kerjanya. Bahkan beberapa waktu lalu, dia terkena teguran dari salah satu pemilik produk yang memintanya untuk mempromosikan produknya, karena tidak kunjung memosting foto dan video di sosial medianya.
Berulang kali Lubna berusaha melupakan, tetapi justru semua kenangan itu semakin pekat dalam ingatan. Semua momen bahagia seolah terputar secara otomatis. Pada akhirnya dia kembali larut dalam kehilangan.
Kehadiran Arka telah berhasil mengubah banyak hal dalam hidup Lubna. Dia yang dulu tidak pernah berani mengeluarkan pendapat, kini menjadi sosok yang berani bersuara. Dia yang dulu tidak pernah bisa menolak, kini menjadi sosok yang berani mengatakan tidak saat sesuatu tak sejalan dengan hatinya. Dia yang dulu tidak pernah berani tampil di depan publik, kini menjadi sosok yang begitu percaya diri.
Kini Lubna kembali lemah dan Arka pula yang menjadi alasannya. Cinta memang sesuatu hal yang luar biasa; bisa mengubah hidup seseorang dengan begitu mudahnya. Seseorang bisa melakukan apa pun demi dan karena cinta, termasuk hal yang melumpuhkan logika.
Sesi pemotretan masih berlangsung, hingga tanpa terasa azan Magrib telah berkumandang. Gradasi warna jingga di langit barat membawa malam datang. Pekerjaan Lubna untuk hari ini selesai. Usai sesi pemotretan tersebut, dia lakukan kewajibannya. Setelah itu langsung pulang. Begitu sampai, mojang Sunda itu dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang menunggunya ditemani Maria.