Cinta Tanpa Restu

2180 Kata
Tiba saatnya untuk Lubna memberikan keputusan kepada keluarga. Sulaiman sudah memintanya untuk pulang sejak tiga hari yang lalu. Pagi ini hari Sabtu di minggu pertama bulan Juli 2019, gadis penyuka bakso itu akhirnya memutuskan untuk pulang, ditemani Maria dan Nusa. Dari Terminal Kampung Rambutan bus tujuan Jakarta-Tasikmalaya mulai melaju, tepat pukul 08.00 WIB. Lubna memilih duduk di dekat jendela, kursi ke tiga sejajar dengan sopir. Nusa turut di sampingnya. Sementara itu Maria di barisan yang sejajar dengan kedua sahabatnya. Pandangan Lubna sejak awal tertuju ke arah jendela. Dia melamun, tidak sedikit pun bicara. Selama dalam perjalanan, Nusa terlelap dengan tangan memeluk tas kecil yang tertutup jilbab; pun dengan Maria. Telinganya tersumpal earphone dan sebagian wajah tertutup masker. “Jadi aku benar-benar pacar pertamamu?” tanya Arka ketika keduanya belum lama menjalin kasih. Lubna mengangguk. “Abah, melarang semua anaknya untuk pacaran. Itu sebabnya untuk sementara waktu kita jalani semuanya diam-diam.” “Lalu kenapa kamu melanggar? Mereka pasti kecewa, Na.” “Kalau begitu ... ayo, temui mereka. Nanti kamu diminta buat nikahi aku, Mas. Sudah siap?” Arka terkekeh. “Kamu sendiri yakin sudah siap untuk menikah?” “Belumlah. Aku masih ingin menyelesaikan pendidikan, sukses dan meraih mimpi.” “Aku juga.” Arka menyambung, dia menatap Lubna tersenyum, “kalau begitu apa kamu bersedia untuk menunggu sampai aku meraih gelar Dokter Spesialis? Setelah itu aku akan melamarmu.” Lagi, ingatan tentang Arka muncul dan menghantui Lubna. Perih tak terkira kembali harus dia rasakan. Perempuan itu merasa Allah tidak adil, karena telah merenggut paksa seseorang yang dia cintai dengan cara yang begitu menyakitkan. Bus terus melaju membelah jalanan. Nusa dan sebagian penumpang masih terlelap. Perjalanan panjang semakin pendek. Lubna lirik benda perak di pergelangan tangan, sudah setengah perjalanan mereka lalui. Tak lama dari itu, laju mobil memelan. Cesss .... Sopir mengerem dan bus berhenti untuk istirahat. Satu per satu dari mata penumpang mulai terbuka. Pintu bus dibuka, satu per satu dari mereka turun untuk mencari angin; mencari makanan; dan merokok untuk penumpang laki-laki. Adapun beberapa penumpang yang memilih tetap berada di dalam bus. “Na, kita salat saja dulu,” ajak Nusa; Lubna mengangguk. Nusa bangkit, menghampiri Maria yang masih menutup mata dan mengguncangkan tubuhnya. “Mar ...!” “Mar, bangun ...!” Sekali lagi Nusa berusaha untuk membangunkan gadis berkulit sawo matang itu. Maria akhirnya bangun dan sedikit terperanjat. Setengah alam bawah sadarnya masih melayang jauh. Dia tatap sahabatnya bergantian, lalu tangannya bergerak mengucek mata. “Sudah sampai?” “Belum. Aku dan Lubna mau salat dulu. Kamu enggak mau turun? Mau makan mungkin?” “Ya, sudah. Duluan saja nanti aku menyusul.” Kedua perempuan berjilbab itu pun turun lebih dulu. Langkahnya bergerak menuju musala. Usai menunaikan kewajiban mereka lekas mencari Maria yang menunggu di warung. Dia baru saja selesai makan. Di meja sudah ada dua piring nasi lengkap dengan lauknya. “Makan dulu ... keburu busnya jalan lagi.” “Terima kasih, ya, Mar,” ujar Nusa. Lekas Nusa melahap makanan yang sudah dipesankan perempuan Batak tersebut, sedangkan Lubna dia menyantap tidak berselera. Perempuan berkulit sawo matang yang duduk di depannya, melempar isyarat kepada perempuan berjilbab cokelat di samping Lubna. Dia pun langsung menoleh. “Makan yang betul, Na. Tadi kamu tidak sarapan, setidaknya sekarang kamu harus makan banyak.” Lubna hanya mengembuskan napas kasar tanpa menjawab. Nusa dan Maria tidak menyangka, jika patah hati mampu mengubah sosok sang sahabat yang semula selalu ceria dan penuh dengan energi positif, menjadi sosok yang tak b*******h seperti itu. Nusa geleng-geleng, ternyata dampak dari jatuh cinta sebelum halal akan sedahsyat itu. Benar yang dikatakan umminya, bahwa seorang perempuan itu harus pandai menjaga hati agar tidak mudah terluka dan jangan mudah jatuh cinta sebelum mendapat rida dari-Nya. Hati itu mudah patah dan hancur, saat terluka akan sulit untuk menemukan kembali obatnya. Namun, dia yakin Allah memiliki alasan lain atas patah hati sahabatnya. Dia begitu yakin Allah tahu, jika Arka bukanlah laki-laki yang tepat untuk Lubna. Tak hentinya perempuan itu perhatikan sahabatnya yang dia kenal saat dirinya menjadi salah satu santri di pondok milik Sulaiman. Lubna menoleh saat merasakan sentuhan pada bahu kirinya. “Aku harap kamu bijak dalam mengambil keputusan, Na. Jangan buat Aang marah.” “Iya, Na. Mas Arka sudah tidak bisa diharapkan lagi. Sudah cukup kamu berharap kepada manusia, karena hanya akan berbuah kecewa.” Maria turut menyambung. Lubna tidak menanggapi, dia beranjak dan kembali ke dalam bus lebih dulu. Maria menyusulnya, sedangkan Nusa menghabiskan dulu sisa makanan di piring. Setelah selesai dia kembali ke dalam bus dengan membawa roti dan makanan ringan lainnya, berharap sahabatnya itu mau memakannya. *** Usai pulang dari mengajar para santri, Sulaiman menunggu putri bungsunya di ruang makan. Bukan untuk makan malam, melainkan untuk membahas tentang pernikahan. Lubna datang seorang diri, kedua sahabatnya menunggu di kamar. Saat menghampiri abahnya, hanya ada pria paruh baya itu seorang diri. Ditariknya satu kursi sebelah kanan. Tidak berselang lama, umminya datang dengan segelas teh hijau hangat. “Duduk, Mi,” pinta Sulaiman kepada sang istri saat wanita itu hendak pergi. Suasana semakin mencekam setelah Lubna mendengar suara dingin abahnya. Jemari gadis itu saling bertaut, basah oleh keringat dingin. Berulang kali Rukayah melirik putrinya yang duduk dengan wajah diselimuti gelisah. Sejak tiba di kediaman orang tuanya, Lubna tidak sedikit pun bicara baik kepada abah maupun umminya. “Kamu sudah siap?” Lubna mengangkat wajah, menatap abahnya sedikit bingung. Wajah Sulaiman masih saja datar. Namun, tatapannya serius dan tajam. Pria berpeci putih itu meraih gelas di hadapannya, kemudian menyesapnya perlahan. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut putrinya. Pria paruh baya itu lalu embuskan napas berat. “Abah, sudah menduga ... dia tidak akan ikut bersamamu. Karena itu Abah yang akan memilihkan jodoh untukmu.” “Kenapa Abah selalu memutuskan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu? Lubna sudah besar, Bah. Bisa memilih sendiri apa yang terbaik untuk Lubna. Lagi pula pernikahan itu bukan sesuatu yang harus dan bisa dipaksakan. Sudah cukup Abah bersikap otoriter selama ini!” jawab Lubna dengan nada tinggi, menatap tajam dan berani kepada sosok abahnya. “Na, turunkan nada suaramu.” Rukayah menegurnya. “Kalau kamu bisa memilih sendiri calon suamimu ... seharusnya kamu bisa membawanya menemui Abah.” Sulaiman menyambung dengan tetap terlihat tenang. “Kamu sudah berjanji untuk setuju dengan keputusan Abah, jika kamu tidak bisa membawanya menemui Abah,” imbuhnya kembali mengingatkan. Lubna pun tertawa sumbang. “Bukan Lubna yang berjanji, Bah ... tapi Abah yang memaksa Lubna untuk setuju.” Sulaiman menghela napas berat. Ditatapnya sangat serius sang putri yang mulai berlinang air mata. Rukayah hanya diam tidak ikut menanggapi. Sesekali dia menatap Lubna. Melihat wajah gadis itu, hatinya terluka. “Jadi apa maumu?” Suara Sulaiman kembali mengemuka. “Berhenti merenggut kebebasanku, Bah. Lubna memiliki cara sendiri untuk bahagia. Lubna hanya akan menikah dengan laki-laki yang mencintai dan Lubna cintai!” tegasnya. “Abah, sudah memberimu waktu untuk membawa pria itu. Abah, juga sudah memberi pria itu waktu selama bertahun-tahun. Apa itu tidak cukup, Lubna?” Bulu kuduk Lubna berdiri ketika Sulaiman menyerukan namanya dengan begitu lantang. Dia terdiam, memikirkan jawaban yang pas untuk mematahkan ucapan abahnya. Sementara itu Sulaiman menatapnya dingin dan tajam, dengan tangan saling menyilang. “Demi laki-laki itu kamu menolak laki-laki sebaik Badar. Suatu saat kamu akan menyesal, Lubna.” “Lubna, menunggunya karena dia memang layak untuk ditunggu, Bah! Dan Lubna tidak akan pernah menyesal telah menolak lamaran laki-laki asing itu!” “Dengar, Lubna! Laki-laki sejati pantang meminta untuk wanitanya menanti. Apa yang kamu harapkan dari laki-laki seperti itu?” Tak sedikit pun Lubna merasa takut. Ditatapnya dengan berani wajah sang ayah yang berusaha menahan emosinya. Pria itu berusaha untuk kembali tenang dan meredam semua amarah yang nyaris meluap. “Apa pun pendapatmu ... waktu untukmu dan laki-laki itu sudah habis. Abah, yang akan mencarikan calon untuk menjadi suamimu. Laki-laki yang bertanggung jawab, paham agama dan pastinya takut kepada Allah,” ujarnya kembali, mengambil keputusan sepihak. “Sampai kapan pun, Lubna tidak akan menikah dengan laki-laki pilihan Abah!” ujarnya penuh penekanan. “Abah, ingat? Kalimat itu juga yang Abah katakan kepada Teh Fatimah, tapi kenyataannya laki-laki pilihan Abah itu hanya seorang pengecut,” sambungnya dengan nada menusuk. “Lubna, jaga ucapanmu! Kamu tidak tahu apa-apa tentang mereka,” bentak Sulaiman dengan emosi yang mulai tak terkendali. “Kenapa, Bah? Dia memang pengecut. Katanya berilmu, tapi tidak tahu hakikat dari pernikahan itu apa. Dia menikah hanya untuk menghasilkan anak.” Lubna tertawa mengejek, “saat Teh Fatimah tidak bisa memberikan itu, mereka mengembalikan dia pada kalian.” Sulaiman bangkit, tangannya terkepal dengan mata merah dan rahang mengeras. Satu tamparan melayang di pipi putri bungsunya; Rukayah bangkit dan menjerit. Dipeluknya sang putri yang mengelus pipi. Perlahan kepala Lubna bergerak, menatap abahnya tajam dan berurai air mata. “Jaga ucapanmu, Lubna! Apa seperti ini cara kamu berbicara pada orang tua?” Lubna tertawa getir dalam pelukan sang ibu. Netranya menatap penuh kecewa kepada sosok cinta pertamanya; Sulaiman menatapnya dengan netra berkaca-kaca; sementara itu Rukayah terisak mendekapnya erat putrinya. “Terima kasih, Bah ... satu tamparan Abah akan abadi dalam ingatan Lubna,” lirihnya dengan suara bergetar, lalu pergi. “Abah, kenapa lakukan itu?” tanya Rukayah berteriak dan suaminya tak mendengar. Pandangan Sulaiman tak lepas dari kepergian putrinya. Napasnya tak beraturan dengan d**a yang naik turun. Pria itu meneteskan air mata. Namun, tetap diam tak menjawab sampai akhirnya Rukayah meluapkan emosi yang semula tertahan. “Semarah apa pun Abah pada Lubna ... tidak seharusnya Abah melakukan itu. Bagaimanapun dia adalah darah dagingmu, Bah!” Sulaiman terduduk lemas; melepas peci; jemarinya mulai bergerak memijat pelipis; menghiraukan ucapan sang istri. Dalam hati pria itu pun menyimpan sesal. Namun, amarahnya tidak bisa lagi terkendali mendengar ucapan Lubna. Fatimah yang sejak tadi mengintip percakapan mereka, lekas menyusul umminya. Sementara Hasan dan Husen menghampiri Sulaiman dan menenangkannya. Di dalam kamar, Nusa dan Maria langsung menyambut Lubna dengan pelukan. Tersedu perempuan itu dalam pelukan mereka. Tangisnya pecah tak terelakkan. Hatinya benar-benar sakit. Orang bilang, ayah adalah cinta pertama seorang putri. Namun, sejak kecil kesan pertama yang Lubna dapat dari sang ayah hanyalah kebencian. Dia selalu dituntut untuk menjadi sempurna dan tidak boleh melakukan sesuatu tanpa seizinnya.Sampai beranjak dewasa, dia mulai berani menentang. Hingga saat ini label pembangkang melekat dalam dirinya. Maria dan Nusa tak berkomentar apapun. Mereka pun bingung harus melakukan dan mengatakan apa. Diajaknya Lubna menuju tempat tidur dan mereka meminta gadis itu untuk istirahat. Sampai fajar menyingsing, Lubna masih membalut tubuhnya yang meringkuk dengan selimut tebal. Semalaman dia terjaga. Sepasang netranya membengkak, setelah menangis semalaman. Nusa yang berbaring di antara Lubna dan Maria baru saja membuka mata. Sementara itu si gadis Batak masih hanyut dalam mimpinya, meski suara ayam berkokok terdengar begitu nyaring sejak sebelum azan Subuh berkumandang. Perempuan yang tetap berhijab, meski sedang tidur itu kemudian bangkit dan mendapati sahabatnya masih terisak. “Kamu tidak tidur, Na?” tanyanya dan Lubna langsung membalikkan badan. “Salat dulu, yuk. Biar hatimu lebih tenang, Na.” “Kamu duluan saja, Sa,” jawabnya. Pagi harinya saat jam sarapan Lubna sudah rapi dan berkemas, pun dengan kedua sahabatnya. Mereka kemudian keluar, menghampiri orang tua Lubna untuk pamit. Di meja makan suasana begitu tegang. Hanya ada Fatimah, ummi dan juga abahnya, karena kedua kakak laki-laki Lubna tinggal terpisah dari mereka. Namun, masih berada di lingkungan pesantren. “Mau ke mana kamu?’ tanya Sulaiman dingin. “Pulang! Tempat Lubna bukan di sini. Urusan Lubna dengan Abah pun sudah selesai.” “Kamu benar-benar menentang Abah, Lubna?” “Iya! Kenapa, Bah?” tanyanya begitu berani. “Sulit untukmu lepas dari laki-laki itu? Apa yang sudah dia renggut darimu? Sampai-sampai kamu memilih menentang Abah dibanding kehilangannya?” Pedang tajam seperti merobek hati; pedih dan perih yang Lubna rasakan. Tangisnya jatuh dalam sekejap. “Sehina itu Lubna di pikiran Abah? Serendah itu Lubna menurut Abah? Dia memang tidak terlahir dari keluarga yang agamis, Bah ... tapi bukan berarti dia tidak bisa menghormati perempuan. Lubna mencintainya, karena memang dia layak mendapatkannya.” Lubna seka air matanya. “Ayo, Mar ... Sa! Kita sudah tidak ada kepentingan lagi di sini.” “Satu langkah lagi kamu pergi, jangan berharap bisa injakkan kakimu kembali di rumah ini!” Ancaman Sulaiman tak menghentikan langkah Lubna untuk pergi. “Abah ...!” lirih Fatimah, sedangkan Rukayah diam dengan menahan tangis. “Tanpa restu Abah ... kamu tidak akan bisa menikah, Lubna!” ancamnya lagi. Maria dan Nusa saling memandang, melempar isyarat. Mereka kemudian mengikuti langkah Lubna yang seolah tuli dan tidak peduli dengan ucapan sang ayah. Dia tak sekejap pun hentikan langkah. Sementara itu, Rukayah terduduk lesu dengan berurai air mata. Pertengkaran antara suami dan putrinya seperti tidak pernah ada akhirnya. Keduanya sama-sama keras kepala. Sebagai seorang ibu, hatinya sakit melihat putri yang dia lahirkan harus mendapat perlakuan seperti itu hanya karena dia memiliki cara pandang yang berbeda. “Na ... pamit yang betul. Bagaimanapun mereka orang tuamu,” ujar Maria begitu sampai di teras rumah. “Kalian saja, aku tunggu di depan.” Lubna lanjutkan langkahnya, kerumunan santri putri kompak menatap kepergiannya. Selain mereka, seseorang yang baru saja memarkirkan motor besarnya turut menatap kepergian perempuan berjilbab oranye tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN