Persimpangan Dilema

1452 Kata
Di dalam kamar, pandangan Lubna kosong menatap kotak besar berisi barang-barang kenangannya bersama Arka. Tangannya kemudian meraih satu bingkai foto berisi potret keduanya. Ditatap foto tersebut begitu lekat, Lubna ucapkan selamat tinggal dengan suara lirihnya. “Kamu telah menanamkan harapan besar dalam hatiku, Mas ... kemudian kamu buat aku tenggelam, hingga ke dasar yang paling dalam.” Setelah resmi berpisah, semua tidak lantas selesai begitu saja. Hari-hari Lubna tak seindah saat bersama Arka dulu. Hatinya sepi, kosong tak berpenghuni. Perempuan itu harus membiasakan diri dengan ketiadaan sosok sang pujaan hati dan itu adalah hal yang sulit dan sangat menyakitkan. Jemari Lubna kemudian bergerak mengusap pipi. Dia kembali lanjutkan mengemas semua kenangan yang mengingatkannya kepada pria yang telah menggoreskan luka dalam hatinya. Sejenak Lubna terdiam. Sonia—seseorang yang sangat dekat dengan Arka—tiba-tiba datang menemuinya, memberikan sweater rajut miliknya yang tertinggal di mobil Arka. Hati yang hancur, semakin hancur. Bahkan untuk menemuinya saja pria itu enggan. “Dia juga tidak baik-baik saja, Na. Sama sepertimu, dia juga hancur.” “Kenapa, Mbak? Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Apa dia tidak mencintaiku?” “Dia sangat mencintaimu, Lubna. Dalam hal ini dia berada dalam posisi yang sulit. Percayalah, sama sepertimu Arka juga terluka.” Lubna bergeming. Tak lagi merespons. Dia bingung, siapa yang harus disalahkan dalam hal ini? “Mbak, janji ... akan berusaha untuk membujuknya. Kalian pasti bisa sama-sama lagi.” Harapan pernah kembali melambung, untuk kemudian jatuh lagi ke permukaan. Menambah luka, menjadi semakin pekat. Saat Lubna sibuk dengan kenangannya, di ruangan berbeda Nusa menemani Maria yang masih sibuk mengecek laporan keuangan dan penjualan yang membuatnya sakit kepala akhir-akhir ini. “Gara-gara Lubna galau ... penjualan kita menurun, Sa,” ujar Maria dengan pandangan yang tak lepas dari laptop. “Aku pun kesal, Mar. Semua jadwal pemotretan berantakan hanya karena dia yang terus saja meratapi patah hatinya.” “Sudah tiga bulan penjualan seperti ini, Sa. Mau sampai kapan? Bulan depan aku mau launching produk baru tidak lagi ditunda ... dengan atau tanpa bantuan Lubna,” tegasnya. Nusa melepas napas kasar, lalu bangkit; meraih kotak hijau berisi makanan ringan yang tersimpan di meja. Benda bulat yang menempel di dinding menunjukkan pukul 20.30 WIB. Di ruang TV hanya ada dirinya dan Maria, ditemani TV yang menyala. Keduanya sibuk dengan aktivitas masing-masing; Maria masih dengan laporan penjualan, sedangkan Nusa sibuk melamun sembari memeluk toples camilan favoritnya, yaitu keripik pisang. “Ada apa?” tanya Maria melenyapkan lamunan sang sahabat. “Aku tidak menyangka, Mar ... kalau kehilangan Mas Arka akan membuat Lubna menjadi seperti ini.” Maria terdiam beberapa saat. “Aku juga tidak menyangka, Lubna akan selemah ini. Aku pernah berada di posisi Lubna. Kehilangan laki-laki yang paling aku cintai. Dipaksa untuk saling melepas oleh keadaan ... itu memang menyakitkan, Sa.” “Sejak awal aku tidak suka dengan hubungan Mas Arka dan Lubna.” “Sebenarnya apa alasanmu?” Nusa menoleh sekilas. “Dia memang baik, tapi hatiku merasa Mas Arka bukan laki-laki yang tepat untuk dijadikan pendamping hidup. Dia selalu ingin dimengerti dan dipahami. Dia itu terlalu egois.” Kalimat Nusa terjeda beberapa saat. Helaan napas beratnya kemudian berembus. “Selain itu Mas Arka juga terlalu pengecut menurutku. Dia bahkan tidak berani menemui orang tua Lubna untuk sekadar meminta maaf, karena tidak bisa menerima permintaan mereka.” “Menurutku ayahnya Lubna juga salah, Sa. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Harus berdasarkan cinta dan kasih tanpa ada paksaan dalam bentuk apa pun.” “Dalam Islam ... menikah juga salah satu upaya untuk menyempurnakan agama, Mar. Mereka saling mencintai bukan? Seharusnya permintaan abahnya Lubna bukanlah suatu paksaan untuk Mas Arka.” Nusa patahkan pendapat sahabatnya. “Aku rasa alasan dia pun sudah cukup jelas. Seharusnya keluarga Lubna pun mau mengerti itu. Anggap saja ini sebagai proses mereka untuk lebih saling mengenal lagi. Menikah dengan seorang yang sudah lama kita kenal saja tidak menjamin kebahagiaan, apalagi dengan orang asing. Lagipula, kenapa jalan akhirnya harus dijodohkan, sih? Ini sudah bukan zamannya lagi. Lubna berhak memilih siapa yang akan menjadi pendampingnya, karena dia yang akan menjalani ... bukan mereka,” balasnya lagi panjang lebar. “Berdasarkan hukum Islam, Mas Arka dan Lubna itu sudah wajib untuk menikah. Mereka sudah dewasa dan mampu, baik secara fisik maupun materi. Memang sudah seharusnya pernikahan mereka untuk disegerakan, bukan malah menunda tanpa adanya kepastian. Sangat wajar kalau keluarga Lubna meragukan keseriusannya,” tegas Nusa penuh penekanan dalam setiap kalimatnya. Maria memilih tidak lagi memperpanjang obrolan. Dia sadar obrolan keduanya sudah menjurus pada hal yang sensitif, apalagi sudah bersinggungan dengan agama. Nusa kembali mengembuskan napas berat, kemudian mengubah posisi duduk dengan menyilangkan kaki pada sofa. “Aku benar-benar kecewa dengan sikap Lubna kemarin. Cinta telah menutup akal sehatnya dan aku semakin yakin, kalau Mas Arka bukan laki-laki yang layak untuk diperjuangkan. Seharusnya Lubna sadar itu sejak lama.” “Siapa pun yang ingin aku perjuangkan ... itu adalah urusanku. Jangan pernah melewati batasanmu, Sa.” Kontan saja Nusa dan Maria kompak menoleh. Mata tajam Lubna tertuju kepada keduanya. “Satu hal lagi ... jangan pernah bicara tentang cinta, jika kamu sendiri tidak pernah tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.” Lubna pergi usai mengatakan kalimat pedasnya. Kedua sahabatnya terdiam. Maria mendekat kepada Nusa dan langsung mengelus punggungnya, memberikan ketenangan. Nusa, dia memang tidak pernah tahu seperti apa jatuh cinta kepada lawan jenis. Dia selalu berusaha menjaga cinta itu hanya untuk laki-laki yang kelak menjadi imamnya. “Jangan dimasukkan hati, Sa. Lubna sedang tidak baik-baik saja ... pahami itu.” Nusa menoleh; mengukir senyum tipis. “Aku mengerti, Mar. Aku juga yang salah ... terlalu banyak berpendapat. Padahal itu bukan kapasitasku.” “Setiap orang memiliki penilaian dan cara pandang tersendiri terhadap orang lain. Kamu tidak sepenuhnya salah, Sa. Kamu hanya terlalu mencemaskan Lubna.” Di tempat berbeda Arka duduk seorang diri di kantin rumah sakit. Makanan yang dia pesan, tersisa setengahnya. Pria itu larut dalam lamunannya seraya memandangi potret Lubna. “Kamu di sini rupanya.” Arka terkejut dengan kedatangan Sonia. Ponselnya sampai terjatuh. “Kamu sendiri ngapain ke sini? Bukannya hari ini tidak ada sif?” “Kamu sepertinya lupa kalau hari ini ada janji untuk makan malam bersama Bunda.” Pria itu langsung melirik benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan. Setelah itu dia menyeka wajahnya kasar. Arka benar-benar melupakan janjinya. “Maaf, Son ... aku lupa.” Sonia—perempuan berkacamata itu—mendelik. Dia sudah menduganya. Semenjak berpisah dari Lubna, pria itu berubah. Dia kemudian palingkan wajah, dengan menahan amarah yang bergejolak dalam d**a. “Bunda tunggu kamu dari tadi. Pulang dan minta maaflah.” Perempuan berkacamata itu meninggalkan Arka. Bergegas pria itu menyusulnya dan menyejajarkan langkah dengan Sonia. “Aku benar-benar lupa, Son. Maaf ...!” lirih maaf itu terucap. Sonia menoleh beberapa saat, lalu hentikan langkah. Tubuhnya berputar, membuat mereka berdiri saling berhadapan. “Jangan jadikan patah hati membuatmu melupakan segalanya, terutama Bunda.” Arka tidak lagi merespons. Dia akui dirinya bersalah, untuk itu dia diam. Sonia kembali lanjutkan langkah. “Kalau kamu tidak siap kehilangan Lubna, kenapa kamu melepasnya? Sudah aku bilang ... perjuangkan dia, Ka. Jangan saling menyakiti seperti ini.” Sonia membuka suara, begitu keduanya sampai di dalam mobil. Arka yang hendak memasang sabuk pengaman, seketika terdiam. “Kamu tahu jawabannya. Kenapa masih saja bertanya?” “Aku tidak suka melihat kamu seperti ini, Ka.” Arka sengaja memutus obrolan dengan melajukan roda empatnya. Dari samping, Sonia tak lepas memandangi wajah pria yang sudah dia kenal lebih dari dua puluh tahun. Dia tahu seperti apa Arka mencintai Lubna. Pria itu tetap fokus pada kemudi, meski dia menyadari Sonia tengah memperhatikannya. “Sepertinya aku memang harus menemui Lubna lagi, Ka.” Kontan Arka menoleh dan langsung menepikan kendaraannya. “Untuk apa?” “Aku ingin dia tahu ... kalau kamu pun hancur. Temui dia saat kamu sudah merasa lebih tenang. Bicarakan semua dengan kepala dingin dan cari solusinya. Kalian bisa sama-sama lagi seperti semestinya.” Kalimat Sonia terjeda beberapa saat, tatapannya begitu dalam tertuju pada pria yang saat kecil memiliki cita-cita untuk menjadi pilot. Namun, takdir menuntunnya untuk menjadi seorang dokter. “Ka ... menjadi seorang dokter residen itu sudah cukup berat. Kamu harus belajar sekaligus bekerja. Aku tidak mau perpisahan kamu dan Lubna, membuat beban pikiranmu semakin berat. Kasihan Bunda ... dia terus saja bertanya, ‘ada apa denganmu?’” “Kamu tidak mengatakan ....” “Tidak, Ka.” Sonia langsung menyela. “Sudahlah ... tidak perlu membahas lagi soal Lubna. Aku sudah menentukan pilihan.” “Pikirkan sekali lagi, Ka. Jangan sampai kamu menyesal.” Arka tidak merespons. Dia kembali lajukan mobil hitamnya. Baginya tidak ada pilihan terbaik, terus bersama atau berpisah darinya sama-sama menyakitkan. Pada akhirnya dia tetap harus memilih apa yang harus dia pertahankan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN