Lubna dan Egonya

1326 Kata
Langkah Lubna tertahan di ambang pintu masuk Alba Kafe. Mendadak perempuan yang mengenakan pasmina motif abstrak itu kehilangan selera. Tubuhnya kembali berputar, hendak meninggalkan kafe dan mengurungkan niat untuk makan siang di sana. “Tunggu, Lubna!” Seseorang memanggil dan langsung menghalau jalan perempuan tersebut. Lubna memasang wajah masam begitu keduanya saling berhadapan. Dia kemudian palingkan wajah. “Ada apa lagi?” tanyanya, tidak sudi menatap pria di depannya. “Jika berkenan, saya minta waktunya. Barang kali kita bisa mengobrol sebentar,” ujarnya sopan. “Maaf ... aku sibuk! Tidak ada waktu hanya untuk melayani orang seperti kamu!” jawabnya sinis. “Sebentar saja.” “Sepuluh menit! Katakan!” jawabnya lagi-lagi sinis, wajahnya masih tidak bersahabat. Tatapannya tajam, seperti elang yang siap menerkam musuh. “Saya sudah mendengar kabar tentang kamu yang memutuskan untuk meninggalkan keluargamu, karena tidak ingin dijodohkan.” “Lalu, apa urusanmu?” “Keputusan itu keliru, Lubna. Kamu boleh menolak perjodohan, tapi tolong bijak dalam mengambil keputusan.” “Jauh-jauh kamu menyusulku hanya ingin mengatakan ini? Kamu sedang berusaha untuk membujukku agar bersedia menerimamu? Apa tidak jelas ucapanku waktu itu?” Pria berwajah kalem itu memalingkan wajah, seraya tertawa kecil. Sesaat kemudian kembali menatapnya. “Siapa yang menyusulmu, Lubna? Jangan salah paham. Sudah sejak lama saya tinggal di sini.” Lubna membuang muka, setengah menahan malu. Dia pikir pria yang nyaris dijodohkan dengannya itu sengaja diutus Sulaiman untuk menemuinya. Ternyata dia salah. “Satu lagi, Lubna ... aku sama sekali tidak berniat untuk membujukmu atau apa pun. Aku hanya ingin kamu memikirkan kembali tentang keputusanmu meninggalkan keluarga.” “Tidak perlu ikut campur!” jawabnya penuh penekanan dalam setiap kalimatnya. Pria bercambang itu menarik satu sudut bibir dengan kepala geleng-geleng. “Sebenci itu kamu terhadap saya? Bahkan kita belum sempat saling mengenal, tapi kamu sepertinya sangat membenci saya.” “Jelas, aku sangat membencimu! Kamu yang sudah membuat hidupku hancur dan harus kehilangan laki-laki yang aku cintai!” Tatapan matanya tajam dengan napas memburu. “Tidak ada sedikit pun niat saya untuk merusak kehidupanmu. Saya pun tidak pernah tahu, kalau sudah ada pria lain dalam hidupmu. Jika kamu beranggapan seperti itu ... saya minta maaf. Saya ....” “Aku gak mau dan gak akan pernah maafin kamu!” tegasnya menyela. Hening. Pria itu memberi jeda pada obrolan keduanya. Dia berusaha untuk menahan diri dan memaklumi sikap Lubna, meski dirinya merasa perempuan itu terlalu berlebihan. “Saya sama sekali tidak masalah, saat kamu menolak perjodohan itu. Hanya saja saya menyesalkan sikap kamu ini Lubna. Terlalu kekanak-kanakan,” lanjutnya setelah beberapa saat diam. Bara dalam hati Lubna semakin menyala. “Apa hakmu mengurusi seperti apa aku harus bersikap? Sudah aku katakan, jangan ikut campur! Kamu itu bukan siapa-siapa Badar! Kamu hanya laki-laki asing yang tiba-tiba datang dan menghancurkan kehidupanku ... menghancurkan mimpi dan juga masa depanku!” “Bukan saya ... tapi, diri kamu sendiri yang menghancurkannya. Dirimu sendiri yang merusaknya. Sungguh ... sekali lagi saya tegaskan! Saya tidak masalah, jika kamu menolak perjodohan itu. Setidaknya kamu bisa menyampaikan penolakan itu dengan cara yang baik dan berikan penjelasan tentang alasanmu menolak. Saya rasa Aang juga tidak akan memaksakan.” Badar jeda kalimatnya, ditatap Lubna dengan sangat lekat. “Jangan hanya karena laki-laki itu, hubunganmu dan keluarga rusak. Bagaimanapun keluarga adalah tempat kamu pulang. Aku harap kamu bisa lebih bijaksana. Pikirkan bagaimana perasaan Aang dan Ummi.” Lubna kembali tersenyum sinis. “Terima kasih untuk nasihatnya .... tapi, maaf aku tidak butuh nasihat itu. Permisi!” Langkah Lubna bergerak, pergi meninggalkan Badar. Rencana untuk makan siang dia urungkan. Masalah datang silih berganti sejak laki-laki itu hadir dalam hidupnya. Dalam hati, Lubna mengutuk Badar. Dia yang dianggap olehnya sebagai penyebab hancurnya hubungan dirinya dengan keluarga dan juga Arka. Kalau saja laki-laki itu tidak pernah hadir, mungkin semua akan baik-baik saja. Pikirnya dengan emosi yang meledak-ledak. “Cepat sekali kamu makan siangnya, Na.” Maria memutar kepala menatap kepergian Lubna, yang tak merespons pertanyaannya. Sahabatnya itu berlalu begitu saja. Berjalan menuju ruangannya. “Ya, Tuhan ... ada apa lagi ini?” Maria embuskan napas kasar, lalu lanjutkan pekerjaannya, pergi untuk mengecek kain di gudang. *** Enam bulan berlalu, Lubna benar-benar tidak pernah menginjakkan kaki di rumah masa kecilnya. Bukan hanya itu, dia juga memutus semua akses komunikasi dengan keluarganya. Rupanya Lubna serius dengan keputusannya meninggalkan keluarga dan itu membuat sang ibu sangat terpukul. Beberapa kali wanita paruh baya itu jatuh sakit, tubuhnya semakin kurus. “Ummi ... Abah dan semuanya sudah menunggu.” Fatimah hampiri Rukayah di kamarnya. Wanita yang tengah melantunkan ayat suci dengan tubuh berbalut mukena putih, sejenak menghentikan bacaannya. “Ummi, tidak lapar. Kalian saja yang makan.” Rukayah lanjutkan bacaannya. Sejak pertengkaran Lubna dan suaminya, wanita itu banyak berubah. Hatinya hancur memikirkan sang putri bungsu. “Ummi mana, Fa?” tanya Husen. Fatimah menggeleng. Sulaiman terdiam dengan pandangan kosong. Pria itu pun kehilangan sebagian semangatnya. “Anak itu selalu saja menjadi sumber masalah!” Hasan geram. Di samping pria itu, sang istri langsung menenangkan dengan mengelus lembut lengannya. Sulaiman duduk dengan pandangan kosong. Sementara itu yang lain tidak berkutik. Fatimah pun hanya melamun. Belum lama keluarganya harus merasakan pilu, akibat keputusannya dengan sang suami. Kini, masalah Lubna menambah daftar luka di hati kedua orang tuanya. “Kamu mau makan sama apa, Fa? Biar Teteh ambilkan.” Diana sang kakak ipar, menyadarkan Fatimah dari lamunannya. Fatimah lantas mengulas senyum singkat. “Tidak usah, Teh. Biar aku sendiri saja.” Sisi lain, Husen menyantap makan malamnya dengan tidak bersemangat. Biasanya, suasana hangat selalu tercipta saat dirinya dan keluarga makan malam. Obrolan ringan antara anggota keluarga, menambah kehangatan keluarga tersebut. Kini, dingin menjalari mereka. Tidak ada obrolan satu sama lain. Kursi Rukayah kosong, sedangkan kursi Lubna sudah sejak lama tidak pernah terisi. Sama seperti anggota tubuh. Tanpa anggota yang lain, keluarga terasa tak sempurna. Keluarga sudah sejak lama kehilangan Lubna, entah kapan gadis itu akan bisa kembali dalam dekapan mereka. Di tempat lain, Maria dan Nusa pergi makan malam tanpa Lubna yang memilih pulang lebih dulu. Keduanya memutuskan untuk makan malam di luar. “Mas Parjo, biasa!” pesan Maria kepada pemilik angkringan langganannya. “Siap! Berdua aja, nih. Mbak Lubna ke mana?” tanyanya, sembari menyiapkan pesanan. “Lubna pulang duluan tadi, Mas.” “Wes, tunggu sebentar. Pesanannya saya buatkan dulu,” ujarnya dengan logat Jawa yang kental. “Oke!” Maria lekas kembali menghampiri Nusa yang duduk lesehan menghadap jalanan ibu kota yang selalu ramai. Perempuan itu sedang sibuk menelepon dengan abinya saat Maria kembali. Tidak lama dari itu, Parjo datang mengantarkan pesanan. “Nasi kucing lengkap dengan ayam goreng punya Mbak Nusa. Yang ayamnya di bakar punya Mbak Maria. Ini minumannya wedang jahe buat Mbak Maria dan teh panas buat Mbak Nusa,” ujarnya menyebutkan pesanan. “Sate telurnya mana, Mas?” tanya Nusa saat tidak mendapati makanan favoritnya. “Eh, iya. Lupa saya, Mbak. Maaf ... maaf. Sebentar saya ambilkan.” Sesaat kemudian Parjo kembali dengan membawa sepuluh tusuk sate telur puyuh favorit pelanggan setianya. “Selamat menikmati, Mbak-mbak yang cantik.” “Eh, Mas ... nanti bungkus satu, ya. Buat Lubna,” pesan Maria. “Siap, Mbak.” Usai Parjo pergi, Maria dan Nusa segera mengeksekusi makanan favoritnya sejak zaman kuliah, terutama saat akhir bulan. Makan murah dan kenyang, angkringan Mas Parjo solusinya. “Kemarin malam Lubna gak makan. Siapa tahu kalau dibelikan ini dia mau makan.” “Terserah kamu, deh, Mar. Aku capek ngadepin sikapnya dia. Hanya karena patah hati dia sampai hilang akal seperti itu,” kesal Nusa, sembari menghabiskan makan malamnya. “Saat jatuh, butuh waktu untuk hati bisa kembali pulih dan sembuh. Saat itu juga, yang dibutuhkan Lubna adalah dukungan, Sa.” Nusa tak lagi menanggapi. Dirinya memilih fokus pada makanannya. Apa yang dikatakan Maria memang benar. Dia pun hanya bisa mendoakan, semoga sahabatnya itu bisa segera dipertemukan dengan cinta sejatinya; laki-laki yang Allah takdirkan untuknya; laki-laki yang bersedia mencintainya dengan jalan halal dan Lubna bersedia untuk membuka hati serta belajar untuk mencintainya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN